
Saat pulang sekolah, Verlin bersama Evi (adik tiri Verlin) baru selesai berbelanja untuk membeli barang makanan yang disuruh oleh ibu tiri.
“Tunggu, biar aku bantu satu, itu pasti berat, kan?” seru Evi, tak tega melihat kakaknya membawa kedua kantong keresek yang lumayan besar.
“Tak perlu. Aku akan kena marah oleh ibu jika membuatmu membawanya, Evi,” ujar Verlin, masih menjaga jarak dengan adik tirinya itu.
Di dalam pikirannya, Verlin bertanya-tanya mengapa ia mengajak Ellia berbicara. Mengapa dia melakukan sesuatu yang tidak biasa baginya?
“Tidak seperti diriku saja,” pikir Verlin, merenungkan keputusannya.
Kemudian, Ellia tiba-tiba muncul di hadapannya saat Verlin sedang memikirkan hal itu. Dia berjalan sambil sibuk dengan ponselnya dan membawa barang belanjaan.
“Uwaah, si berandalan berjalan,” ucap Evi, memberikan komentar sinis.
“Senyumnya aneh, tunggu? Bukankah itu seragam sekolah kita?” ujar Evi dengan keheranan saat melihat Ellia yang ternyata juga seorang siswa di sekolah mereka.
Saat Verlin dan Ellia berpapasan, Ellia menyipitkan matanya sedikit. Verlin berpikir, “Barusan dia menyipitkan matanya, apakah mungkin dia rabun jauh?”
Verlin secara tidak sengaja terjebak dalam pemikiran tersebut, mencoba mencari alasan atau penjelasan untuk tindakan kecil yang dilakukan oleh Ellia. Dia merasa penasaran dengan apa yang ada di balik tindakan itu. Apakah itu hanya sebuah kebetulan atau mungkin ada alasan lain yang tidak diketahuinya?
“Dia itu gadis berandalan dengan tampang menyeramkan yang dibicarakan oleh semua orang di sekolah...” ujar Evi dengan nada menghina setelah mereka berpapasan.
“Selain itu, menjadi berandalan di zaman sekarang itu sangat payah. Tidak ada yang keren atau mengagumi orang seperti itu,” sambung Evi dengan pandangan sinis.
Mendengar perkataan adiknya itu, Verlin merasa marah dan ingin mengungkapkan kata-kata yang tajam sebagai respons. Namun, ingatan masa lalunya segera melintas di pikirannya, mengingatkannya akan pengalaman-pengalaman pahit yang membuatnya lebih bijaksana dalam menghadapi situasi seperti ini. Verlin memilih untuk menahan amarahnya dan tidak memarahi adiknya.
“Eh? Apa? Kakak bilang sesuatu?” tanya Evi, terkejut dengan sikap diam Verlin.
Verlin pura-pura tidak mendengar ucapannya, seolah-olah tidak terpengaruh oleh komentarnya. Sebaliknya, dia mempercepat langkah kakinya, meninggalkan Evi yang semakin keheranan dengan sikap kakaknya yang tiba-tiba berubah.
“Hei, Kak, menurutmu kenapa kita berdua jadi tidak dekat lagi?” tanya Evi dengan raut wajah yang penuh kebingungan.
__ADS_1
“Hah?” Verlin terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia terhenti dari langkahnya dan menatap adiknya dengan perasaan campur aduk.
“Dulu, kamu selalu bermain dengan Kayla dan tidak pernah bermain bersamaku. Makanya, waktu kecil, aku selalu menindas mu," ungkap Evi dengan jujur, mencoba mengungkapkan perasaannya yang selama ini terpendam.
Mendengar itu, Verlin berkata dalam hati, “Perbedaan kesadaran dalam hal baik dan buruk. Kau percaya pada rumor, dan berbohong pada ibu yang membuatku sampai dimarahi.”
“Apakah kau tidak pernah berpikir bahwa tindakan yang kau lakukan itu menyakiti orang lain?” Verlin bertanya dalam hati, terdorong untuk mengungkapkan rasa kesal dan kekecewaannya pada adiknya.
“Semua ini salah kakak karena kurang perhatian padaku, tahu? Tapi, yah...” ujar Evi dengan nada kecewa.
“Aku mengerti sekarang! Rumor buruk tentang kakak itu sama sekali tidak benar!” ujar Evi dengan penuh keyakinan.
“Mana mungkin kakak kerenku akan melakukan hal seperti itu!” ujar Evi sambil mengangkat kedua tangannya ke atas, mengungkapkan rasa leganya.
Mendengar itu, Verlin berusaha menjaga ketenangan dan berkomitmen untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Dia berbicara dalam hati, “Tenang, aku tidak akan membuat kesalahan lagi.”
“Akulah satu-satunya yang tetap percaya padamu!" ujar Evi dengan senyum cerah, memperlihatkan keyakinannya yang tak tergoyahkan pada Verlin.
“Tolong, jangan panggil aku kaka. Hal-hal yang terjadi di masa lalu tidak bisa di hapuskan,” ujar Verlin dengan tegas, menegaskan bahwa masa lalu mereka tidak dapat diubah.
“Eh?” ujar Evi dengan terkejut mendengar ucapan kakaknya.
“Hmm? Maksudmu apa? Kau ingin aku memanggilmu Verlin?” ujar Evi dengan kebingungan.
“Maaf, makanan dingin yang kubawa akan meleleh, jadi aku harus pulang duluan,” ujar Verlin sambil memberikan alasan untuk pergi.
“Kaka?” ujar Evi, berdiri membeku saat melihat kakaknya meninggalkannya.
Malam hari, seperti biasa, Verlin mengurung diri di dalam kamarnya. Dia duduk di meja kerjanya, memandangi layar monitor kosong di depannya. Namun, pikirannya terasa kacau dan kurang fokus. Dia terus memikirkan percakapannya dengan Ellia tadi, yang begitu mengganggunya dan menghentikan alur pikirannya.
“Percakapan dengan Ellia tadi benar-benar menggangguku lebih dari yang aku bayangkan,” gumam Verlin dengan raut wajah yang penuh kebingungan. Dia merasa terhenti dalam melanjutkan tulisannya, karena pikirannya terus teralihkan pada interaksi dengan Ellia.
__ADS_1
“Padahal aku ingin melanjutkan tulisanku...” Verlin merenung dalam keheningan kamarnya.
“Hm?” ucap Verlin dengan keheranan saat melihat satu pesan notifikasi muncul di layar komputernya. Matanya terfokus pada pesan yang baru saja masuk, dan rasa penasaran mulai menggelitik pikirannya.
Verlin membuka email tersebut dengan hati yang berdebar. Pesan itu dikirim oleh seseorang bernama Elara Elise, dan subjeknya berbunyi “Aku Mendukungmu”. Setelah membaca isinya, Verlin merasa terharu.
Pesan itu berbunyi, "Novelmu menjadi penyelamatku akhir-akhir ini. Aku gadis yang sangat suram, tapi aku melakukan yang terbaik berkatmu. Aku selalu mendukungmu, Author!"
“OH, Elara Elise, yang selalu memberiku pesan tentang kesannya terhadap novel-ku baru-baru ini,” ujar Verlin dengan rasa terharu saat mengetahui asal pesan itu.
“Pesan darinya selalu membuatku merasa lebih baik karena aku jarang mendapatkan pesan dari pembaca,” lanjut Verlin, mengungkapkan rasa terima kasih dan kebahagiaannya.
Verlin merasa sangat berharga karena ada pembaca seperti Elara Elise yang dengan tulus memberikan dukungan dan memberikan pengaruh positif pada karya-karyanya. Dia menyadari betapa pentingnya interaksi dengan pembaca dan bagaimana hal itu dapat memotivasi dirinya untuk terus menulis dengan semangat.
“Terimakasih, Elara Elise,” balas Verlin dengan penuh penghargaan dan harapan bahwa karya-karyanya dapat terus memberikan inspirasi dan kebahagiaan bagi pembacanya.
“Baiklah,” ujar Verlin sambil meregangkan badannya, merasa semangat yang baru terpancar di dalam dirinya. Pesan dari Elara Elise memberikan dorongan yang sangat dibutuhkannya untuk melanjutkan menulis.
Bersambung...
•
•
•
•
•
Jangan lupa setelah membaca tekan like dan komentar terimakasih.
__ADS_1