
Keesokan harinya, Verlin keluar dari rumah dengan perasaan yang cerah. “Aku berangkat,” ujarnya sambil meninggalkan rumah menuju sekolah.
Dia berjalan dengan langkah ringan, sambil sesekali memainkan handphone-nya. Rasa penasaran membuatnya ingin segera melihat apakah ada pesan baru dari Elara Elise.
Dengan cepat, Verlin membuka aplikasi pesan dan memeriksa kotak masuknya. Namun, ternyata belum ada pesan baru dari Elara Elise.
"Belum ada pesan baru, ya," gumam Verlin dengan wajah datar.
"Hm?" ujar Verlin Saat tiba di gerbang sekolah, pandangannya tertuju pada Kayla yang berdiri di sana bersama seorang teman perempuannya. Namun, dia memutuskan untuk tetap melanjutkan langkahnya, berharap tidak terjebak dalam situasi yang tidak diinginkan.
"Tunggu Verlin!" ujar Kayla dengan suara terengah-engah, mencoba mengejar Verlin yang sudah beberapa langkah lebih maju.
"Aku ingin berbicara denganmu. Aku ingin kita saling mengerti perasaan satu sama lain," ujar Kayla dengan raut wajah serius, mencoba menarik perhatian Verlin.
Verlin tidak berniat membalas ucapannya ia lebih memilih untuk memberikan senyuman palsu kepada Kayla, mencoba menyembunyikan perasaan yang rumit di dalam dirinya.
Namun, sebelum Verlin bisa melanjutkan langkahnya, suara seorang gadis lain berbicara padanya, "Oh, namamu Verlin ya? Aku sahabat nya Kayla, Adinda" ujar Adinda dengan nada tinggi, memperkenalkan dirinya secara tegas.
"Tapi, sebelum itu... Apa yang kau tertawakan? Kayla Itu serius," ujar Adinda dengan nada marah mempertanyakan sikap Verlin.
Mendengar ucapan tegas dari Adinda, Verlin merasa terkejut. Di dalam pikirannya, dia berpikir, "Senyuman palsu tidak dapat membodohinya, ya..."
Kayla, dengan wajah yang sedih dan air mata mengalir di pipinya, berkata, "Pernyataan cinta yang aku katakan padamu itu tidaklah bohong."
Sambil menahan tangisnya, Kayla melanjutkan, "Aku tahu telah banyak hal yang terjadi, tapi itu terjadi di masa lalu, tidak bisakah kita menatap masa depan?"
Kayla mencoba mengubah suasana dengan penuh harapan, "Ayo, kita bisa nonton film bersama. Aku yakin itu akan membuat perasaanmu menjadi lebih baik."
"Ya ampun, Kayla, kau gadis yang sangat baik! Kau imut sekali!" ujar Adinda dengan penuh kegembiraan, memeluk Kayla dengan erat. Setelah melepas pelukan, Adinda berdiri di hadapan Verlin.
"Dan juga... Kau pikir kau itu siapa?! Aku sama sekali tidak mengerti dengan pemikiranmu. Apa yang terjadi di masa lalu biarlah berlalu," ujar Adinda dengan marah, ekspresinya penuh ketidakpuasan.
Adinda melanjutkan, semakin marah, "Meski dulu, kau pernah melakukan kekerasan dan bahkan mencoba memperkosa seseorang! Tapi Kayla tetap bilang kalau dia menyukaimu, kau tahu?!"
Dengan suara yang membara, Adinda mengungkapkan kekesalannya, "Pernyataan cinta palsu? Apa kau gila?!"
"Sudah, Adinda, aku tidak apa-apa," ujar Kayla dengan suara lembut, mencoba menenangkan Adinda.
Mendengar itu, Verlin merasa bingung. Tidak tahu apakah ini bisa dikategorikan sebagai kebaikan atau tidak. Pada akhirnya, Verlin menyadari bahwa Kayla juga tidak mencoba membantah tuduhan yang Adinda sampaikan kepadanya.
"Verlin, apa kau benar-benar tidak apa-apa? Wajahmu terlihat pucat," ujar Kayla dengan keprihatinan.
"Kayla, kau benar-benar gadis yang baik dibandingkan dengan laki-laki ini," ujar Adinda dengan nada kesal.
Verlin merasa perlu menggunakan perkataan yang lebih tegas daripada sebelumnya agar dapat membuatnya benar-benar mengerti.
"Kayla-" ujar Verlin terhenti karena mendengar suara seseorang yang tiba-tiba datang dari belakang.
"Hey, kalian menghalangi jalan!" suara tersebut terdengar ketus.
__ADS_1
"Ellia, kenapa kau terlihat begitu menyeramkan?!" ujar Adinda dengan wajah terkejut saat melihat Ellia yang tampak marah.
"Hei, kita ini teman kamu, kami sama sekali tidak melakukan apa-apa kok!" ujar Adinda dengan nada lembut, berusaha meredakan emosi Ellia.
"Teman? Punya nyali juga kau berkata seperti itu!" ujar Ellia dengan semakin marah, menanggapi ucapan Adinda.
"Kau tahu, kau-" ucapan Ellia terhenti saat Adinda menginterupsi.
"Tapi dulu kita sangat dekat! Oh, aku tahu! Bagaimana kalau nanti kita bertiga pergi jalan-jalan bersama!" ujar Adinda dengan antusias.
"Hei, bisakah kau berhenti bersikap seperti berandalan begini? Soalnya..." ujar Adinda, berusaha mengekspresikan maksudnya.
"AKU PERCAYA PADAMU!" ujar Adinda tegas. Mendengar kalimat ini, perasaan Verlin dan Ellia menjadi semakin kesal.
"Brengsek-" ujar Ellia, kemudian ia mencoba menampar Adinda, namun Verlin berhasil menangkap tangannya dengan cepat.
"Maaf, Ellia, bisakah kau diam?" ujar Verlin dengan tenang, kemudian melepaskan tangan Ellia.
"Kayla, Adinda, apakah kalian pernah menjadi sasaran fitnah tak berdasar?" tanya Verlin dengan nada serius.
"Apakah kalian pernah mencoba melindungi seseorang, tapi malah berakhir dituduh melakukan sesuatu yang tidak kalian lakukan?" ujar Verlin dengan penuh emosi.
"Apakah kalian pernah dihina oleh orang yang kalian sayangi?" lanjut Verlin, suaranya terdengar penuh rasa sakit.
"Pernahkah kalian dikhianati oleh orang yang sangat kalian percaya?" tambah Verlin, suaranya penuh kekecewaan.
"Berhenti bicara seakan kau tahu segalanya, padahal kau sama sekali tidak tahu apa-apa!" tegaskan Verlin, ekspresinya mencerminkan keputusasaan.
"Jadi, tolong, tinggalkan aku sendiri," pinta Verlin dengan rasa putus asa, sembari membungkukkan badannya sebagai tanda permohonan untuk ditinggalkan.
"Dan sudah terlambat untuk memperbaiki apa yang telah terjadi," ujar Verlin dengan suara penuh penyesalan.
"Ah, Kayla!" seru Adinda ketika melihat Kayla berlari sambil menangis setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Verlin.
"...Hmph," mendengar kalimat tegas Verlin membuat Ellia memalingkan wajahnya ke samping dengan rasa kesal yang tergambar jelas di wajahnya.
Kemudian, setelah itu mereka berpisah dan pergi ke kelas masing-masing. Verlin, duduk di tempatnya dan tenggelam dalam membaca bukunya. Namun, kehadiran Ellia yang duduk di sampingnya membuat fokusnya teralihkan. Ellia terlihat begitu antusias saat sedang memainkan handphone-nya, dengan wajah yang berbinar-binar.
Verlin tidak bisa menahan pikirannya, "Dilihat darimanapun, sepertinya dia sedang membaca novel."
Melihat kegembiraan yang terpancar dari wajah Ellia, Verlin mulai membayangkan bahwa Ellia pasti sangat menyukai ceritanya.
Ellia, sambil meminum botol air yang ada di mejanya, mengatakan dengan semangat, "Yup, baiklah!"
Verlin melihat Ellia mulai menuliskan sesuatu dengan berapi-api. Ketikannya begitu cepat sehingga membuat Verlin kagum akan kecepatan dan dedikasinya.
Namun, setelah beberapa saat, Verlin berhenti memperhatikan Ellia dan beralih ke handphone miliknya. Dia membuka pesan dan melihat bahwa belum ada pesan baru.
"Belum ada pesan baru ya..." gumam Verlin dalam hati, merasa sedikit kecewa.
__ADS_1
Padahal, dalam hati, Verlin sebenarnya sangat ingin mengetahui pendapat tentang bab terbaru yang dia terbitkan kemarin.
"Hm?" Verlin merasakan getaran dari handphone-nya, lalu segera membukanya untuk melihat notifikasi apa yang masuk ke dalam ponselnya.
Ternyata, notifikasi yang masuk adalah sebuah email dari seseorang bernama Elara Elise. Verlin langsung membuka email tersebut dengan perasaan campur aduk.
Subjek email itu adalah "Aku sangat menyukai bab terbaru" Verlin merasa lega dan penasaran sekaligus. Dia membaca email tersebut dengan hati berdebar.
"Aku akhirnya punya waktu untuk membacanya pagi ini! Bab terbaru ini sangat bagus ♡" tulis Elara dalam email tersebut.
Verlin merasa senang dan tersenyum membaca pujian Elara. Tapi Elara juga menuliskan sesuatu yang membuatnya merasa sedikit malu, "Rasanya sedikit memalukan untuk menggunakan emot hati karena aku tidak pernah menggunakannya, tapi ceritanya memang sebagus itu!"
Elara juga berbagi pengalaman tidak menyenangkan yang dialaminya pagi itu, namun berkat membaca bab terbaru Verlin, dia merasa menjadi lebih baik. Dia mengakhiri emailnya dengan semangat untuk bab berikutnya dan menandatanganinya dengan nama "Elara Elise ♡."
"Aku senang dia menyukainya," ujar Verlin dalam hati. Dia merenung sejenak, mempertimbangkan apakah seharusnya ia langsung membalas email tersebut atau menunggu agar tidak terkesan aneh seakan-akan ia sangat menanti pesan tersebut.
Namun, semangat dan keinginan Verlin untuk membalas segera semakin kuat. Ia ingin memberikan ucapan terima kasih kepada Elara dan memberitahunya tentang rencananya untuk membuat bab baru yang sedang dalam proses penyelesaian.
Verlin akhirnya memutuskan untuk membalas email Elara sekarang juga. Ia ingin menyampaikan apresiasinya dan berbagi sedikit informasi tentang proyeknya.
"Aku akan bilang terima kasih padanya dan memberitahukan rencanaku untuk membuat bab baru... selesai," ujar Verlin dalam hati, dengan semangat dan kegembiraan yang menggelora di dalamnya.
Mendengar notifikasi dari handphone Verlin, Ellia segera melirik ke arahnya. Matanya tertuju pada layar yang memancarkan cahaya kecil, menarik perhatiannya.
"Apa?" ujar Ellia, rasa penasaran tergambar jelas di wajahnya.
Verlin memperhatikan tingkah laku Ellia yang tampak sibuk mengetik tulisan di handphonenya. Dia merasa penasaran dan bertanya dalam hati, "Ada apa dengannya?"
Tiba-tiba, sebuah bunyi 'ping!' terdengar, menandakan adanya notifikasi baru. Verlin melihat nama pengirimnya: Elara Elise. Subjek email tersebut memunculkan keingintahuan di benaknya, tertulis: "jangan-jangan."
"Jangan-jangan? Apa maksud dari 'jangan-jangan'?" tanya Verlin dengan wajah keheranan, mencoba menebak apa isi pesan tersebut.
Setelah itu, tanpa sebab yang jelas, Ellia tiba-tiba terkejut. Wajahnya memerah dan ekspresi terkejut terpancar jelas dari matanya.
"Ah!!" ujar Ellia dengan suara terkejut, dan saat itulah handphonenya terjatuh dari tangannya dan jatuh ke lantai. Suara benturan ringan terdengar saat gadget tersebut mengenai permukaan keras.
"Hm?" ujar Verlin dengan keheranan saat melihat Ellia menjatuhkan handphonenya. Wajah Ellia terlihat memerah saat handphone itu terjatuh dalam keadaan terbalik dan Verlin secara tidak sengaja melihat sebuah gambar yang muncul di atas casingnya. Gambar tersebut adalah maskot Ella Wise, sebuah maskot berbentuk burung hantu kecil dengan kedua sayap terbuka.
Pikiran Verlin langsung melayang, "Elar... Jangan-jangan itu adalah Ellia Eleonara?" Terbayang di benaknya kemungkinan bahwa Ellia menggunakan nama panggilan "Elara Elise" sebagai nama samaran dalam komunikasi online.
Bersambung...
•
•
•
•
__ADS_1
•
Jangan lupa setelah membaca tekan like dan komentar terimakasih