Melodi Patah Hati

Melodi Patah Hati
Chapter 7 - Antara Ellia dan Elara Elise


__ADS_3

Setelah kejadian itu, Verlin terus-menerus memikirkannya. Pikiran tentang maskot burung hantu, yang tampak mirip dengan Ella Wise, tak pernah meninggalkannya. Apakah mungkin bahwa nama “Elara Elise” diambil dari kata “Ella Wise?” Pertanyaan itu terus menggelitik pikirannya, mencoba mencari jawaban atas hubungan antara Ellia dan Elara Elise yang misterius.


Verlin mencoba menenangkan dirinya sendiri. Dengan menyentuh dahinya, ia berusaha meredakan kecemasan dan keraguan yang memenuhi pikirannya. “Jangan dipikirkan terlalu dalam. Aku belum bisa memastikan apakah Ellia benar-benar adalah Elara Elise,” ujar Verlin dalam hati. Meskipun ada dugaan yang kuat, ia tahu bahwa belum ada bukti yang cukup untuk mengonfirmasi identitas sebenarnya.


Kejadian tadi membuat suasana terasa canggung di antara mereka. Keduanya memilih untuk mengalihkan pandangan mereka ke arah yang berlawanan, mencoba menyembunyikan perasaan yang terbangun.


“Vi...vi,” gumam Ellia dengan wajah yang merah memerah. Matanya tidak berani menatap Verlin secara langsung.


Mendengar kata-kata itu, Verlin perlahan menoleh ke arah Ellia. Detak jantungnya berdetak begitu kencang, seakan ingin melompat keluar dari dadanya. Keringat pun mulai mengalir deras di tubuhnya, menandakan kecemasan yang melingkupinya.


“Perasaan apa ini? Mengapa tubuhku seperti ini?” Verlin bertanya dalam hati, mencoba mencari pemahaman atas gejolak emosi yang dirasakannya.


Dalam upaya untuk menenangkan diri, Verlin berusaha meyakinkan dirinya sendiri, “Tenanglah, Verlin. Ini hanyalah kebetulan. Ellia dan aku bahkan tidak dekat. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”


“Benar, tak ada yang harus dipusingkan,” ujar Verlin dengan sedikit keberanian dalam suaranya.


Namun, di balik kata-kata itu, ketidakpastian dan keraguan masih terus menghantui Verlin. Ia merasa bahwa kejadian ini tidak bisa begitu saja dilupakan. Pikirannya terus berputar, mencari cara untuk mengatasi situasi ini dengan bijaksana.


“Aku akan menghapus pesannya dan melupakan kejadian ini,” pikir Verlin, berharap bahwa dengan menghapus jejak komunikasi, ia dapat menenangkan pikiran dan mengembalikan keadaan menjadi seperti sebelumnya.


“Selamat pagi, semua!” sapaan hangat dari seorang guru terdengar saat ia memasuki ruangan melalui pintu.


“Pelajaran akan segera di mulai,” ujar Bu Guru dengan suara yang penuh semangat. Kata-katanya membuat Verlin mengurungkan niatnya untuk menghapus pesan dan menutup handphonenya.


Verlin menaruh handphone-nya dengan hati-hati di atas meja, sambil berusaha untuk memusatkan perhatiannya pada guru yang sedang memberikan penjelasan materi. Meskipun pikirannya masih dipenuhi dengan pertanyaan dan kekhawatiran, ia berusaha keras untuk tidak tergoda dengan godaan handphone atau terjebak dalam dunia pesan-pesan yang ada di dalamnya.


Dan setelah pelajaran berakhir, setelah Verlin istirahat makan siang , ia duduk di kursinya, memegang handphone-nya. Ia bolak-balik menyalakan dan mematikan perangkat tersebut, merasa dilema dengan pesan yang masih ada di dalamnya. Suara bising handphone saat dihidupkan dan mati memberikan gambaran kegelisahan yang ada dalam pikirannya.


“Aku tak bisa menghapus pesan darinya,” ujar Verlin dengan ragu dalam hati. Ia merasa terikat dengan pesan-pesan dari Elara Elise, yang memberikan semangat dan dukungan baginya dalam menulis novel. Namun, di sisi lain, ia juga merasa tidak nyaman dengan kehadiran handphone di tangannya. Perasaan tidak enak itu membayangi pikirannya setiap kali ia memegang perangkat tersebut.


Verlin merenung sejenak, berusaha untuk menemukan solusi terbaik dalam situasi ini. “Ya sudahlah, lagipula aku tidak harus menghapusnya sekarang juga,” pikir Verlin dengan memberikan sedikit kelonggaran pada dirinya sendiri. Ia menyadari bahwa menyelesaikan masalah ini membutuhkan waktu dan pertimbangan yang matang.


Sementara itu, ia juga menyadari bahwa pelajaran terakhir hari ini akan segera dimulai. Ia menaruh handphone-nya dengan hati-hati di atas meja, memutuskan untuk mengalihkan perhatiannya ke pelajaran yang akan datang. Walaupun pikirannya masih dipenuhi dengan kegelisahan terkait pesan-pesan di handphone.


Meskipun begitu, Verlin tidak bisa menahan rasa penasarannya dan terus memperhatikan Ellia. Ia melihat bahwa Ellia memiliki aura yang mengancam di sekelilingnya, seakan-akan ia sengaja menjaga jarak dari orang-orang dengan cara menakutinya. Tingkah laku dan sikap Ellia membuat Verlin semakin terpukau dan terkesima.


Namun, dalam keadaan yang rumit ini, Verlin merasa bahwa lebih baik ia tidak terlibat terlalu dalam dengan siapapun, termasuk Ellia. Ia menyadari betapa pentingnya menjaga keseimbangan dan melindungi dirinya sendiri. Dalam hati, ia berkata, “Tidak, jangan berhenti memikirkannya, lebih baik aku tetap menjaga jarak dan tidak terlalu terlibat dengan siapapun.”


Verlin merasa hari ini telah penuh dengan hal-hal tak menyenangkan, sehingga ia merindukan waktu untuk pulang dan melupakan semua itu. Ia merasa lelah dan ingin segera kembali ke rumah untuk beristirahat.


Namun, sebelum dia bisa benar-benar mengistirahatkan pikirannya. Suara guru memenuhi ruangan saat ia mengumumkan pengumuman penting.


“Kita akan mengadakan perjalanan sekolah setelah ujian tengah semester nanti,” ujar guru dengan suara yang menggema.


Guru melanjutkan, “Kita akan memutuskannya dalam beberapa hari ke depan, jadi diskusikan dengan teman-teman kalian.”

__ADS_1


Verlin mendengarkan pengumuman itu dengan campuran perasaan. “Perjalanan sekolah, ya?” pikir Verlin. Selama ini, ia selalu menjalani kehidupan sekolahnya dengan sendirian, tanpa memiliki kenangan berharga saat melakukan perjalanan bersama teman-teman sekelasnya. Bagi Verlin, ide berkelompok dan melakukan perjalanan itu terasa sangat merepotkan dan menakutkan.


Setelah mengingat kembali masa lalunya yang penuh dengan kejadian yang membuatnya merasa tidak nyaman dalam kerumunan, Verlin merasa ketidaknyamanan itu kembali muncul. Tubuhnya terasa lemas, dan perasaan tidak enak menyelimuti dirinya. Rasa cemas akan interaksi sosial dan kekhawatiran akan ditinggalkan oleh teman-teman sekelasnya membuat Verlin merasa tidak enak badan lagi.


“Baiklah, waktunya pulang,” ujar Verlin dalam hati sambil bangkit dari kursinya setelah guru mengakhiri kalimatnya. Dia merasa ada ketegangan yang masih tersisa antara dirinya dan Ellia, namun dia memutuskan untuk tidak memperpanjang suasana yang canggung.


“Ah.”


“....” Ellia, dengan ekspresi yang mencerminkan rasa gugupnya, mencoba mengatakan sesuatu, namun berhenti sejenak sebelum kata-kata keluar dari bibirnya. Pipi Ellia memerah, menunjukkan kebingungan dan kekacauan yang dirasakannya di dalam hati.


“Aku duluan, permisi,” ujar Verlin dengan suara lembut, mencoba menghindari konfrontasi lebih lanjut.


Namun, sebelum Verlin bisa beranjak dari tempatnya, Ellia melepaskan kekesalannya dengan menendang bagian bawah meja dengan keras. “Sial” ujar Ellia dengan marah. Suara benturan itu menarik perhatian Verlin, dan dia menoleh ke arah Ellia dengan rasa keterkejutan.


“Apa yang kau lihat?! Jangan sok dekat denganku!” ujar Ellia dengan nada tegas, kemudian dia meninggalkan kelas dengan langkah tergesa-gesa, meninggalkan Verlin yang terkejut dan bingung di tempatnya.


“Hei, apakah kau temenan sama Ellia?” ujar gadis berambut pendek pirang yang selalu berusaha mendekati Verlin. Suaranya terdengar ramah namun terkesan sedikit skeptis.


“Rena tidak begitu suka dengannya,” tambahnya dengan ekspresi agak sinis.


Rupanya gadis itu adalah Rena Amelia. Gadis lugu berambut hitam panjang. Dia adalah orang yang terlibat dalam insiden perpustakaan saat mereka masih di SMP. Gadis itu benar-benar mengubah penampilannya sebagai debut SMA nya.


“Ya, permisi,” ucap Verlin sambil berjalan melewatinya dengan ekspresi datar.


Verlin menghentikan langkahnya dan mendengarkan ucapan Rena, “Aku tak bisa melupakan hari-hariku bersamamu di perpustakaan, Verlin. Rasanya sangat menyenangkan dan mengesankan!”


Rena mengekspresikan kekagumannya, “Saat itu Rena sangat menyedihkan dan  tidak bisa gobrol dengan laki-laki, tapi Verlin, itu spesial bagiku!”


“Inikah yang namanya cinta pertama itu?! Duh, aku malu sekali!” ujar Rena dengan kedua tangan yang spontan menyentuh pipinya, mencoba menutupi kemerah-merahan yang memancar dari wajahnya.


“Apakah sendirian tidak membuatmu merasa kesepian?” tanya Rena dengan rasa penasaran yang terpancar dari matanya.


“Aku tahu semua yang terjadi padamu setelah itu, loh?” ujar Rena, suaranya penuh kejutan dan penasaran.


“Mereka ada di sekolah ini juga, 'kan? Adikmu, Kayla, Nana, dan Sofie,” ujar Rena dengan suara yang membuat Verlin terkejut. Matanya membesar dan dia terdiam sejenak.


“Eh? Apa mungkin kamu tak menyadarinya?” ujar Rena dengan nada penasaran, mencoba mencari reaksi dari Verlin.


Verlin sama sekali tidak menyadari wajah mereka, karena Verlin telah menghapus mereka secara keseluruhan dari ingatannya.


“Dan yah, Rena juga salah padamu, jadi mari kita berteman lagi,” lanjut Rena dengan senyuman ramah, mencoba memulihkan hubungan mereka.


“Tidak perlu” jawab Verlin dengan datar.


“Rena mempelajarinya dari game simulasi cinta. Jika aku melakukan kesalahan, aku berusaha merenungkannya dan memperbaikinya,” ujar Rena dengan penuh semangat.

__ADS_1


“Ternyata begitu. Jadi bukan hanya adik dan teman masa kecilku saja yang memiliki pemikiran mereka sendiri,” pikir Verlin.


“Oh iya, Rena membawa sesuatu yang bagus,” ujar Rena dengan antusias, mengambil sebuah kotak dari sakunya. Dengan penuh kegembiraan, Rena hendak membuka kotak tersebut.


“Rena yakin ini akan membuatmu senang,” ujar Rena sambil hendak membuka kotak yang diambil dari sakunya.


“Bagaimana? Cocok tidak denganku?" Tanya Rena dengan wajah berbinar-binar.


“Ini kacamata rahasiaku!” ujar Rena dengan bangga, saat memakai dan memperlihatkan kacamata tersebut.


“Apakah kamu berdebar-debar setelah lama tidak melihat Rena mengenakan kacamata?” goda Rena dengan senyum nakal.


Verlin melihatnya dengan ekspresi kesal. Dia berusaha menenangkan diri sendiri dan berpikir, “Jangan diingat. Jangan terkecoh dengan ingatan masa SMP.”


“Aku tidak memiliki ingatan apapun tentang hal itu,” pikir Verlin dalam usahanya untuk menenangkan diri.


“Tenang, jangan terbawa emosi," tambah Verlin dalam pikirannya, berusaha menjaga ketenangan di tengah situasi yang memicu kenangan masa lalu.


Verlin merasakan getaran yang berirama di sakunya, mengindikasikan pesan baru yang masuk ke handphonenya. Dengan cepat, dia mengambil perangkatnya dan memeriksa layar yang menerangi wajahnya.


Sementara itu, Rena yang berdiri di dekatnya terlihat gembira dan sedikit malu. Wajahnya memancarkan keceriaan yang tak dapat disembunyikan. Ia mengalihkan pandangannya ke handphone Verlin dan dengan nada suka cita, dia berkata, “Oh, ada apa? Apakah kamu ingin mengambil fotoku dengan handphonemu? Gunakan filter yang paling bagus, ya!”


Verlin mengabaikan perkataan Rena dan fokus pada isi pesan di handphonenya. Dia terkejut saat melihat siapa yang mengirim pesan tersebut.


“Umm, ini aku Elara Elise! Ada banyak hal yang terjadi... tapi, aku sangat menantikan bab terbarumu! Boleh kedepannya aku tetap mengirim pesan dukungan padamu? Umm, kamu tidak perlu menjawabnya, sebab aku tetap akan mengirimnya. Elara Elise.”


Verlin pikir setelah kejadian tadi, dia tidak akan mendapatkan pesan dari Elara lagi. Padahal mereka sudah mengetahui identitas masing-masing. Tanpa ragu lagi, Verlin meninggalkan kelas dengan langkah yang cepat.


Sementara itu, Rena terkejut melihat Verlin meninggalkannya begitu saja. Wajahnya dipenuhi kebingungan dan kekecewaan.


"Eh?! Bagaimana dengan fotonya?!" Tanya Rena mencoba mencari jawaban atas kepergian Verlin yang mendadak.


Bersambung....







Jangan lupa setelah membaca tekan like dan komentar terimakasih

__ADS_1


__ADS_2