Melodi Patah Hati

Melodi Patah Hati
Chapter 4 - Terhubung dalam Kejauhan


__ADS_3

Saat Verlin memasuki rumah dan menutup pintu, dia disambut oleh adik tirinya yang berdiri di hadapannya menggunakan hoodie putih dan rok pendek.


“Eh, kau pulang terlambat,” ujar adik tirinya.


“Apa kau pulang bersama Kayla?” tambahnya.


Setelah mendengar ucapan itu, Verlin berpikir dalam hati, “Dia mengawasiku dengan kamera pengintai, ya.”


“Dia baru saja pulang. Maaf, boleh aku masuk?” ujar Verlin dengan lembut.


Adik tirinya menatap Verlin dengan senyuman hangat. “Berhenti bersikap formal begitu. Aku ingin kita menjadi akrab,” ucap adik tirinya dengan tulus.


Adik tirinya menambahkan dengan serius, “Selain itu, Kakak juga mencari teman sana. Padahal dulu Kakak sangat periang.”


Verlin mengangguk pelan, mencoba memahami perkataan adik tirinya. “Aku permisi, Evi,” ujar Verlin dengan tetap mempertahankan sikap formalnya. Dia melangkah maju, tanpa memperdulikan Evi yang masih berdiri di depan pintu.


“Oh, selamat datang kembali.”


Verlin menoleh ke arah suara yang terdengar di ruang sebelah, dan melihat ibu tirinya sedang berdiri di sana dengan pakaian yang rapi. Nampaknya ibu tirinya hendak pergi keluar.


“Kau pulang terlambat. Cepat siap-siap sana,” ucap ibu tiri dengan senyum hangat di wajahnya.


“Ini mungkin terlambat akibat urusan pekerjaanku, tapi hari ini kita akan pergi makan untuk merayakan kalian masuk SMA, tahu?” lanjut ibu tiri Verlin dengan nada penuh kegembiraan.


Verlin merasa agak terkejut mendengar rencana itu. “Aku sama sekali tidak mendengar rencana itu,” pikir Verlin dalam hati.


“Tidak, aku tidak ikut. Kalian saja yang pergi,” ujar Verlin dengan tegas, membuat kedua orang itu terlihat sedih dan kecewa.


Setelah kejadian dengan Kayla, suasana keluarga Verlin akan memburuk jika Verlin ikut pergi keluar bersama mereka. Oleh karena itu, Verlin memutuskan untuk tidak ikut. Bagi Verlin, membaca buku dan belajar sendiri jauh lebih menyenangkan dan memberikan kepuasan yang lebih besar.


“Jangan terus ngambek. Ayah juga tidak ada karena dipindahkan tugas ke luar kota. Kita adalah keluarga, jadi kita harus lebih dekat lagi...” ujar Ibu tiri Verlin dengan suara penuh harapannya, berusaha membangun kembali kehangatan dalam keluarga mereka.


“Ngambek? Aku sama sekali tidak merasa begitu,” pikir Verlin setelah mendengar ucapan ibu tirinya.

__ADS_1


“Maaf, selanjutnya aku akan lebih berhati-hati lagi," ujar Verlin dengan tetap mempertahankan sikap formalnya. Setelah itu, dia pergi meninggalkan mereka berdua, naik ke lantai dua, dan berdiam diri di dalam kamar.


Saat berada di dalam kamar, Verlin menemukan kedamaian dalam hobinya, yaitu menulis novel. Dengan hati dan pikiran yang tenang, dia membenamkan dirinya ke dalam cerita yang sedang ditulis. Dengan setiap kata yang terbentuk di halaman kosong, Verlin merasakan kebebasan dan kreativitas yang mengalir dalam dirinya. Melalui tulisannya, ia dapat mengungkapkan perasaan, pikiran, dan imajinasinya dengan cara yang tak terbatas. Hal itu memberikan kesempatan baginya untuk menjelajahi dunia baru dan menghadirkan karakter-karakter yang hidup di dalam ceritanya. Dalam proses menulisnya, Verlin merasa bahwa ia dapat melupakan sejenak segala masalah dan konflik yang terjadi di sekitarnya, dan ia benar-benar menikmati momen ini sebagai pelarian yang membawanya ke dunia imajinasinya sendiri.


Tidak ada hobi yang lebih baik baginya daripada menulis, karena itu menjadi jalan bagi Verlin yang tidak memiliki banyak hal dalam hidupnya.


Saat Verlin membuka tabletnya untuk melanjutkan menulis novel, dia melihat ada dua notifikasi pesan masuk.


Pesan pertama adalah tanggapan hangat untuk novel Dinding Gaib (Baca juga Novel ku yang ini ya😁) yang Verlin tulis, “Terima kasih,” ucap Verlin dengan rasa syukur.


“Pesan selanjutnya... hmm, manajemen?” Verlin bertanya-tanya.


Di sana tertulis bahwa ada penerbit yang berminat untuk mengadaptasi bukunya, dan meminta untuk menghubungi mereka. Verlin membacanya dengan perasaan campur aduk. Meskipun sebenarnya dia merasa senang dengan kesempatan tersebut, tapi tampaknya hal itu akan membawa kesibukan dan tanggung jawab yang lebih besar.


“Mari pura-pura untuk tidak melihatnya,” ujar Verlin dengan sedikit kegugupan, lalu dia mematikan tabletnya untuk sementara waktu.


Di dalam kelas, saat jam istirahat tiba, Verlin merasa sangat ngantuk karena tidak bisa tidur karena terus memikirkan masalah penerbitan bukunya. Dia berpikir bahwa setelah makan siang, dia akan segera tidur sebentar untuk mengistirahatkan pikirannya.


Verlin tak bisa menahan rasa penasaran. Dia melihat gadis itu tampak begitu fokus pada bukunya, sepertinya sedang membaca sesuatu yang menarik. Mungkin itu sebuah novel atau buku pelajaran, pikirnya. Dia tertarik pada sikap gadis itu yang tampak begitu tenang dan terus-menerus terlibat dengan dunianya sendiri.


“Sepertinya dia juga makan sendirian, seperti aku,” pikir Verlin dengan rasa simpati.


Gadis itu bernama Ellia Eleonora, dan dia juga terkenal dengan rumor buruk di sekolah ini. Namun, Verlin memilih untuk tidak memperdulikan gosip-gosip tersebut. Baginya, itu bukanlah hal yang penting, karena dia sendiri juga menghadapi hal serupa.


“Verlin, bolehkah aku ikut makan bersamamu?” suara itu terdengar dari seorang gadis pirang berambut pendek yang mendekatinya.


“Siapa gadis ini? Aku sepertinya tidak mengingat namanya,” pikir Verlin.


“Berusaha mendekati, lalu menjatuhkan di akhir... modusnya sama seperti yang dilakukan Nana,” pikir Verlin, merujuk pada pengalaman buruk yang pernah dialaminya.


“Ada buku yang ingin aku baca” ujar Verlin membatalkan niat nya untuk makan dan kembali membuka buku.


“Eeeh, tadi kau sudah menutupnya  kan? Hei ayo kita ngobrol!” ujar gadis itu dengan tersenyum, mencoba mengajak Verlin berinteraksi.

__ADS_1


Verlin berpikir untuk mencari alasan yang tepat agar bisa mengusir gadis berambut pendek tersebut. Namun, setelah melihat Ellia, dia menemukan sebuah ide.


“Ellia, aku sudah selesai membaca buku ini, jadi tolong pinjamkan bukumu itu,” ujar Verlin dengan suara datar.


Ellia melihat Verlin dengan ekspresi ketus karena merasa dijadikan alat untuk mengusir gadis berambut pendek tersebut.


“Cih, ini,” ujar Ellia sambil memberikan bukunya kepada Verlin.


“Terima kasih,” ucap Verlin sambil mengambil buku dari tangan Ellia.


Verlin berpikir bahwa mungkin tidak ada satu orang pun yang mau terlibat dengan Ellia Eleonora. Sebab dia dibenci karena rumor buruk tentangnya. Mereka semua menilai seseorang dari rumor tanpa tahu benar atau tidaknya rumor tersebut. Dalam pikirannya, Verlin berkata, “Aku tak ingin terlibat dengan orang-orang seperti itu.” Dia merasa bahwa menghindari hubungan dengan mereka adalah cara terbaik untuk menjaga dirinya sendiri.


"Ehh... eum... Haha, ini pertama kalinya aku melihat Verlin berbicara pada seseorang... Ahahaha," kata gadis berambut pendek itu sambil segera pergi menjauh meninggalkan Verlin. Verlin merasa sedikit canggung dengan komentar gadis itu, namun dia tetap fokus pada buku yang dia pinjam dari Ellia.


“Pertama kalinya melihatku berbicara sama seseorang ya...” pikir Verlin, tanpa sadar menatap wajah Ellia. Saat itu, Ellia melihat ke arah berlawanan karena di tatap Verlin.


“Kalau dipikir-pikir, itu memang benar. Kenapa aku mengambil tindakan untuk tidak terlibat dengan orang lain?” pikir Verlin tentang perkataan gadis berambut pendek tadi.


“Aku sendirilah yang paling tahu alasannya,” pikir Verlin, merenung dalam-dalam. Ia menyadari bahwa dia selalu menjaga jarak dengan orang lain dan enggan terlibat dalam hubungan sosial.


Bersambung...







Jangan lupa setelah membaca tekan like dan komentar terimakasih

__ADS_1


__ADS_2