
9 Februari 2019, 02:00 WIB
.
Deksa terbangun dari tidurnya. Kedua pupil matanya mengikuti kedipan lampu tumblr warna warm white yang baru dipasangnya sore tadi. Lalu ia mengedarkan pandangan penuh di setiap pojok sudut kamar. "Masih di kamar, huft, untung cuma mimpi", katanya lirih. Lalu ia menarik selimut , menutupi semua tubuh nya dan kembali melanjutkan tidurnya.
..
12:00
"Kriiiiinggg....".
2 gelas cappucino boba dingin di edarkan ke atas meja kantin. Tangan Deksa mengambil satu, lalu meminumnya.
"Pake sedotan sa, kebiasaan", kata Via sambil menyodorkan sebuah sedotan.
"Haus gak tertahankan, Vi, hehe", jawab Deksa.
Via melirik tangan kanan Deksa yang dibungkus perban, lalu ia mengambil tangannya.
"Abis berantem lagi ya lu?" Tanya Via.
Deksa menggeleng. Ia tersenyum kecut. Lalu disembunyikan tangannya yang di perban di bawah meja.
Tiba-tiba, ada yang menepuk pundak Deksa dari belakang. Saat ia menoleh, ada sesosok manusia yang tersenyum cengir, Anton.
Sepersekian detik setelah membalas ejekan Anton, Deksa teringat akan sesuatu.
__ADS_1
"Vi, aku tadi malem mimpi aneh, aneh nya lagi, Anton muncul di mimpi aku. Dan itu dua hari berturut-turut vii..", tutur Deksa.
"Hah, yang bener? Rindu kali. Wkwj?" , Ledek Via.
Deksa menggeleng. "Mana ada, ogah ih, banyak saingan. Hahaha", jawab Deksa.
Deksa laku mengeluarkan gadget dari saku bajunya, lalu diletakkan nya di meja. Lalu, Deksa menunjukkan telapak tangan kanannya kepada Via. Seketika, Via terkejut.
"Tangan lu kenapa ihh,? Lebam? Eh bentar-bentar, tangan lu kenapa bi..", belum selesai Via bertanya, Deksa langsung membungkam mulut temannya itu.
"Lu, bisa pelan-pelan?, Please, bisa jaga rahasia?, tukas Deksa.
Via mengangguk pelan. Ia tak percaya apa yang dia lihat. Pola di garis tangan Deksa menjadi berwarna biru, seperti pembuluh darah menjelar dari pergelangan mengikuti bentuk garis tangan Deksa.
" Jadi gini, denger baik-baik. Aku tu mimpi, di dalam mimpi itu, aku tu kaya ada di luar negeri gitu, di pekarangan rumah klasik Eropa , yang sekelilingnya banyak tumbuh bunga tulip merah, trus di samping rumah itu ada kincir angin yang lebih tinggian dari rumah itu. Dan anehnya , aku melihat Anton di depan pintu itu sambil senyum cengir persis kaya pas dia nepuk pundak aku tadi".
Via mendengarkan dengan takzim
"Anton kaya yang menyambut aku gitu Vi, dia tiba-tiba jalan ke arahku, terus nggandeng tanganku yang sebelah kanan ini. Aku diajaknya ke sebuah tempat , mempunyai gerbang yang tinggi dan warnanya biru tosca. Gerbang itu digembok. Tapi gemboknya kaya rada berkarat gitu. Kaya lama gak ada yang buka
Aku gak pasti liatnya, tapi kayaknya ada ornamen-ornamen cantik semacam resin yang diwarna putih emas menyerupai tetesan air, tapi bercabang dua."
"Semacam bentuk gini?", tanya Via , sambil tangannya menunjukkan isyarat jari tangan tergenggam, ibu jari membuka di atas jari telunjuk. Bentuk hati.
Deksa menggeleng.
"Entahlah, aku gak begitu jelas sih. Tapi pokoknya gerbang itu terbuka begitu telapak tangan kananku ini ku tempelkan di permukaan gembok gerbang."
__ADS_1
"terus, apa yang terjadi?", tanya Via.
"Aku bangun."
Via melotot ke arah Deksa.
" Lu, kaya lagi buat cerita ala-ala di film fantasi, trus tokoh utamanya Anton pula. Tapi terus, tangan itu, kenapa bisa jadi kaya gitu?", tanya Via.
"Gak tau Vi.., tiba-tiba aja warnanya berubah, itu pun cuma pas garis tangan , aneh kan?? Makanya aku perban, biar gk kelihatan orang" jawab Deksa.
Via menggedek heran. Di ambilnya tangan Deksa , dilihat, di sentuhnya pelan-pelan.
"Asli, gila."
Lalu tiba-tiba, Anton datang sambil membawa baki berisi 3 mangkuk soto dan sebotol kecap, lalu meletakkannya satu di hadapan Via, satu dihadapan nya sendiri, dan satu di hadapan Deksa, sambil tersenyum manis.
Deksa tertegun sejenak. Ia segera menyembunyikan tangan kanannya di bawah meja.
Saat Anton mengambil botol kecap yang berada didepannya, ia terkejut. Tangan kanan Anton, garis tangannya! Lebam, biru, sama seperti tangannya.
"Tangan lu kenapa ton, kok lebam gitu?" tanya Deksa.
"Gatau, bangun tidur udah kek gini" jawab Anton.
Deksa dan Via saling melempar pandangan. Via mengedip. Deksa mengangguk pelan.
"Ton, liat,", kata Deksa sambil menyodorkan telapak tangan kanannya yang ia sembunyikan sedari tadi.
__ADS_1
Anton tersedak.
"Tangan lu.... kok sama??."