Memecahkan Misi Dalam 100 Tahun

Memecahkan Misi Dalam 100 Tahun
4. Hujan dan Bumi


__ADS_3

Rumah Deksa


11 Februari 2019 pukul 15.00 WIB


.


Nada panggilan khas iPhone berbunyi selama 15 detik. Lalu diangkat oleh seseorang.


" Iyaa,


" Ku jemput jam limabelas tepat.


"Iyaa, ijin dulu tapi aku..


"Di bolehin kan?,


"Yaa, nggak tau. Makanya ini minta ijin,


"Gue dah yang minta ijin ke ibu,


"Udah biar aku aja, pokoknya nanti ku kabari lah kalau di ijinkan,


"Usaha in lahh, sama njenguk Tasya."


.


-kamar ibu


"Ibuu, minta izin main bentar ya..."


Deksa menenteng tas selempang Charles&Keith cokelat karamel pada tangan kirinya, sedang tangan kanannya sibuk meraih lengan ibunya yang sibuk merapikan baju yang berserakan di kasur.


"Main kemana, sa... sama siapa aja,?"


"Kophiashop jalan Pattimura, sama temen-temen bu, tapi dari rumah, aku nebeng Anton.  Boleh kan..?"


Ibu melirik ke arah Deksa, mengernyitkan dahi.


" Bukannya rumah Anton berlawanan arah dengan rumah kita,?"


"Itu bu, kemarin malam Anton membantu om Hari memasang tebeng motor, terus sekalian menginap. Jadinya, dia nebengin aku..", jawab Deksa.


"Oooh, begitu rupanya. Lalu, pulangnya jam berapa?", tanya ibu sambil melanjutkan melipat kemeja hitam.


"Habis sholat isya', sama njenguk Tasya, ia sakit bu.." kata Deksa.


"Lah, sakit apa Tasya? Makanya kok jarang main ke rumah ya,,"


"Demam berdarah bu, tapi masih belum parah.. gejala panas tinggi sama dehidrasi bu, nggak mau makan pula,"


" Iya dah, hati-hati kalau pulang. Oh iya, berarti pulang pergi dianter Anton ya kamu?"


Deksa tertawa lirih.


"Hehe, iya bu.. "


" Yaudah, hati-hati. Jangan pulang telat."


"Iyaa siaapp laksanakan", jawab Deksa seusai mencium punggung tangan ibunya.


.


.


"Grenggrengggg.....Tinnnntinnn..."


Deksa berlari kecil ke depan rumah. Menghampiri Anton yang berdiri di samping motornya.


"Mana, ibu?"


" Di dalam, lagi sibuk. Udah ayo berangkat"


"Yaudah, ayo"


.


( Payung Teduh song )


... pra ra ra ra ra.....,

__ADS_1


" Aku ingin berjalan bersamamu


  dalam hujan dan malam gelap


  tapi aku tak bisa


  melihat matamu, "


  


Sepotong lirik lagu band indie  melenggang diantara butir hujan yang turun tahta. Hangat, sebagai lagu pengiring pertemuan hujan dan bumi. Butir demi butir air, mengecup lembut bibir tanah, lalu dengan segera meleburkan diri kedalamnya, meresapi nilai penciptaan. Molekul udara menjadi sisa nafas hujan yang beradu, menguap dan membaur bersama nafas para konsumen rahmat Tuhan. Kemudian,  mengembalikan diri pada takdirnya, bumi.


Di bangku pojok dekat jendela Kophiashop, tangan kiri Deksa mengusap- usap badan cangkir cappuccino panas bertabur cokelat parut, karena tubujnya merasa sedikit kedinginan, sedang tangan kanan Deksa dikepalnya di bawah meja.  Kakinya menjejali kaki Anton yang berada di sebelah kanannya.


"Ada apa?" , tanya Anton.


Deksa memberi isyarat dengan mengedipkan matanya. Menggeleng ma kepalanya, lalu ia memukul kecil kaki paha Anton.


Anton mengarahkan pandangannya ke tangan kanan Deksa. Percikan cahaya biru sedikit menyeruak dari balik tangannya yang terkepal. Kemudian, Anton membuka kepal tangan Deksa, lalu menggenggamnya.


Deksa terhenyak. Saat tangannya di genggam oleh Anton, seketika ada sesuatu yang menarik hawa dingin dalam tubuhnya. Hangat tangannya yang digenggam oleh Anton, menjalar mengikuti aliran darahnya, sedikit deras saat darahnya sampai di jantung, membuat jantungnya berdegup lebih cepat.


Deksa memandangi genggaman Anton, lalu beralih ke wajah Anton. Pandangan nya berpapasan dengan pandangan Anton. Kedua nya beku sesaat. Tapi, kedua tangan masih saling menggenggam.


" Kalian berdua jadi ke rumah Tasya?"


Pertanyaan Via memecah kebekuan Anton dan Deksa.


"Eh, iya, jadi Vi.. kamu jadi ikut kan?", jawab Deksa.


Deksa berusaha melepaskan genggamannya, tapi semakin di genggam erat oleh Anton. Deksa mengernyit ke arah Anton, mengirim kode permintaannya.  Anton hanya membalas dengan mengedipkan kedua matanya, dan terus menggenggam tangan kanan Deksa.


"Eh , miscall seluler dari mamah", kata Via


"Ada apa , tumben mamahmu miscall seluler? Disuruh pulang ya?", tanya Anton


Beep, beep.


Nada pesan Via berbunyi. Via segera membukanya.


" Gue ga jadi ikut deh, ini di whatsapp mamah,  adek minta dianterin ke bimbingan belajarnya. Gimana nih, gue nitip salam aja ya.. bilangin maaf bangeet masih ada orderan dari orang tua", kata Via sambil merapikan papernote nya yang berserakan di meja.


Kerja kelompok berempat, tapi hanya tiga orang yang hadir sebab anggota satunya harus menunggu toko dirumahnya karena kedua orang tuanya sedang tidak ada di rumah.


Via beranjak dari tempat duduknya, menenteng tas laptopnya, dan bersalam jumpa pada Anton dan Deksa. Via berjalan tampak terburu-buru, karena ada notif miscall dua kali dari nomor mama nya. Via melenggang keluar pintu kafe, meninggalkan Anton dan Deksa berdua.


Deksa menarik tangannya dari genggaman Anton yang tak lagi erat. Tangannya sudah tidak memercikkan cahaya biru lagi. Lalu ia meminum cappucino nya yang berangsur dingin.


" Jadi, gimana? Apa aku wajib mencari liontin itu biar aku nggak bergantung sama kamu saat hujan begini?", tanya Deksa.


Anton mengedarkan pandangannya ke arah Deksa, lalu memutar arah tempat duduknya menghadap Deksa.


"Sekarang elu percaya, kan.. segel ditangan itu udah diaktifkan, berarti liontin itu udah jatuh ke tangan yang salah. Elu wajib mencarinya dan mengembalikannya ke tempat semula. Dan selama elu belum bisa mengendalikan segel itu, gue akan selalu di samping lu, ngeredam emosional lu punya", jawab Anton.


" Tapi kenapa harus kamu yang meredam emosional aku? Kenapa gak orang lain? Atau salah satu dari keluargaku misal?"


"Karena gue adalah bumi bagi elu. Air butuh tempat dimana ia bisa menenggelamkan dirinya. Saat debit air tidak bisa stabil, dia akan menghanyutkan dan  menenggelamkan apa saja yang ada di depannya. Tapi, selama ini bumi masih memiliki tanah dan pohon bagi air untuk bermuara dan meleburkan emosi."


"Lalu, kamu akan selalu jadi bumi untuk aku bermuara, gitu? Kamu apa sih? Nge-gombal apa gimana? Kamu ini sebena......"


Belum selesai Deksa melontarkan pertanyaannya, Anton keburu mengambil satu buah dimsum ayam yang ada di depannya, lalu menyuapkannya kepada Deksa.


"Pelan-pelan kalau makan.. kalau pengen tau juga pelan-pelan. Elu tu lebih anggun kalau ngomong pelan, lembut, gak nyerocos kayak tadi," tukas Anton sambil menyocol dimsum yang diambilnya dengan sumpit ke dalam saus.


Deksa menggeleng. Buah bibirnya maju ke depan. Dahinya mengernyit. Tangannya mengambil cappucino, lalu diseruputnya.


Anton kembali melanjutkan.


" Intinya, kalo ada apa-apa di elu, gue harus jadi orang yang pertama kali elu kabarin, minta tolong, dan gue akan selalu siap, kapanpun buat elu."


Deksa tersedak dari minumannya. Ia meletakkan kembali cangkir itu di atas meja. Kemudian tangannya di tahan oleh tangan Anton. Kedua pasang mata kembali beradu.


"Tangan aku enggak lagi kok, ton.."


"Iya, gue tau,"


"Ton.."


"Gue gak bisa nahan sa, di sini rasanya mau meledak", kata Anton sambil memegangi dada bidangnya.

__ADS_1


Deksa menyebar pandangan ke seluruh ekspresi yang tampak di wajah Anton. Sampai pada ia berhenti pada kedua bola matanya.


" Gue suka sama elu,"


Deksa menarik tangannya, lalu bersilang tangan di atas perutnya.


" Bercanda kamu ya, jangan kelewat ton.."


" Dari kelas sebelas semester 2, saat elu ngompres lengan gue yang keseleo pas kena jatuh besi gawang bola, lalu sering ketemu di perpustakaan dan elu sangat welcome banget dengan pemikiran gue dan nggak segan buat mengkritik gue tanpa mandang fisik. Dan sampai saat ini, gue udah nggakk tahan buat nyimpen ini sendirian, sa.."


Deksa menunduk, dia yang selalu suka menangkap pandangan Anton, tiba-tiba runtuh dan tak mampu mengucap sepatah kata. Deksa terdiam dengan suasana diluar yang kembali gerimis. Dari balik kaca, udara mengembun, pemandangan pohon-pohon pinus diluar tampak buram.


Anton menarik kedua tangan Deksa yang kini jatuh mengepal. Dibukanya kepalan tangan itu, lalu di genggamnya. Ia membawa nya pada maksudnya.


" Sa, liat gue,"


Deksa mendongak sedikit, menemukan sepasang bola mata yang ringan namun teduh. Seakan mencoba menyakinkan dirinya bahwa pemilik sepasang mata itu ingin selalu melindunginya.


" Beri aku waktu, ton.. "


Deksa menarik kembali tangannya dari genggaman Anton, tanpa menarik pandangannya yang terlanjur mengedari pikiran Anton.


Anton mengangguk, menyimpulkan senyum kecil. Lalu ia menepuk pundak Deksa tiga kali. Ia kembali memutar tempat duduk nya menghadap meja.


Deksa tersenyum melihat tingkah Anton yang sedikit kecewa. Lalu ia melihat ke arah arloji digitalnya, yang bertulis angka 17:20.


" Ton, ayo keluar cari masjid, habis itu pergi ke rumah Tasya.. keburu malem..", kata Deksa.


"Iyaa, ayo.. "


Keduanya melenggang dari pintu kafe, meninggalkan udara merekam jejak mereka berdua.


.


Rumah Tasya, 18:41


" Banyak banget, kebiasaan dehh Deksa.."


" Ini titipan dari ibu, Ta.. Ibu kesel, tahun ini kamu jarang main ke rumah, jarang kabar-kabar pula, eh sekalinya tau kabar, kamunya sakit..  "


"Ehehe,, aku sibuk bantuin bundaku masarin keripik sa,, makanya gak sempet mampir ke rumah ibu.. kalo aku udah sembuh dan sudah nggak begitu sibuk, aku main ke rumah kok.."


Deksa dan Tasya tertawa kecil , sambil membicarakan kepengurusan organisasi yang kian meruwet karena penggabungan satu pimpinan.


Tiba-tiba, Tasya menyeletuk.


"Udah jadian ya kalian, pasti kamu  udah lega ya ton..."


Deksa memandangi Anton. Anton membalas meringis.


" hahahaha... udahlah.. nanti luluh juga hati Deksa buat kamu ton..", ledek Tasya.


"ehh, apaan sih Tasya.. udah. Kamu harus makan buah yang banyak pokoknya, cepet sembuh, biar cepet juga kita main bareng..", jawab Deksa.


" Terus, kalian berdua habis dari sini, mau nge date?", ledek Tasya lagi.


" apaan ngedate segala. Habis dari sini nanti langsung pulang, gak boleh telat pulang sama ibu. Ini aja udah di izinin pulang agak malam udah bersyukur banyak aku, syaa",


Anton melirik ke arah Deksa. Lalu menyalami tangan Tasya.


" udah dulu ya, sya.. gue mau pulang dulu.. keburu azan isya'. "


"eh, kan kita pulangnya habis isya', ton.. entar dulu lah .. sekalian numpang sholat di rumah Tasya..", telak Deksa.


Anton mengedip ke arah Tasya. Tasya membalas dengan senyum kecil, pertanda Tasya mengerti maksud Anton.


" udahlah, cepat pulang sana. Aku mau lanjut istirahat.. sana.. cepat-cepat..",


" ih.. kamu berhianat... bisa-bisa nya bersekongkol dengan orang ini", jawab Deksa kesal sambil mencubit lengan Anton.


Anton hanya tersenyum melihat kelakuan dua orang di hadapannya yang mulai berbicara lebay.


.


.


Di pertigaan jalan, harusnya Anton belok ke arah kiri untuk sampai ke rumah Deksa. Tetapi, Anton berbelok ke arah berlawananan.


"ehh, rumah aku ke arah situu..", kata Deksa sambil menunjuk panah jalan kiri.

__ADS_1


"kerumahku dulu, di cariin mama", tukas Anton.


" Anton......!"


__ADS_2