Memecahkan Misi Dalam 100 Tahun

Memecahkan Misi Dalam 100 Tahun
5. Surat lama yang baru muncul.


__ADS_3

20:05 WIB


Meja kayu lipat rumah Anton.


" Buruan di makan nak Deksa, nggak enak rasanya kalo udah dingin.."


Dua buah mangkuk di edarkan oleh Mama Anton, di hadapannya dan di hadapan Anton, berisi dua buah pangsit putih, tiga butir bakso, dan beberapa tetelan tulang dada krem pucat beredam di dalam kuah yang berkecipuk daun bawang potong dan umbinya yang digoreng setengah gosong, mengepul, menepuk penciuman Deksa. Sendok bebek melamin mencari celah diantara potongan bakso yang memutari benak Deksa, -halal nggak yaa , tapi sungkan mau bertanya, begitu batinnya.


Mama Anton yang faham, menjebol sumbatan penasaran Deksa yang menyumpal mulut nya untuk bersuap.


" Ini bakso ayam kok, beli dari pasar Minggu kemarin pas pulang dari kebaktian, kedengeran daging ayam lagi turun harga, mama langsung lari ke lapak pak Slamet.. lumayan lah, bisa dibikin buat obat nya si Anton kalo lagi susah makan.."


Deksa celingukan, malu. Matanya berhenti dari yang sedari tadi memburu urat merah muda dalam potongan bakso.


"Iya ma, tadi pas saya lihat-lihat, kok seperti bakso, tapi bukan seperti bakso,"


"Memang bukan bakso, ini namanya Wonton soup, kayak bakso ya, tapi coba in kuahnya beda rasa dia punya,"


"Ati-ati ke asinan Sa!", suara Anton menyelip.


" Ehh, kamu aja yang gak suka asin. Makanan udah punya rasa pas, seimbang, dia orang aja suka yang hambar-hambar..", Mama yang tidak mau kalah dari sebaris ledek anaknya.


Deksa tertawa cekikikan, lalu menyantap semangkuk Wonton soup, ujung lidahnya mengecap-ecap ekstrak condiment yang bercampur pada kuah makanan yang pertama kali ia tiliki dalam sembilan belas tahun umurnya, sambil memandangi Anton mengambil dua butir bakso dalam sekali sumpitnya.


"Eh ton, kita udah temenan tiga tahun, tapi baru kali ini aku tahu kamu se-semangat ini sama bulet-bulet itu. Setahuku itu


, kamu gak sedoyan ini sama bakso. " kata Deksa sambil menunjuk bola bakso yang di kunyah-kunyah dalam rongga mulut Anton, lalu menggelincir turun perlahan di eksofagus.


Anton mengambil minum, ******* bakso yang ada dalam eksofagus perlu pelumas agar bisa melanjutkan perjalanannya.


"Bakso yang di pinggir pager sekolah yang orang jual tu, rasanya kebanyakan tepung sama mecin, jadi rasa daging nya itu terperdaya sama butir-butir mecin yang membabi buta ke dalam adonannya. Lagi pula, sering ke asinan kuahnya, eeehhh. Hehehe" , jawab Anton sambil nyengir muka.


" Ya kali tonn.... mang Soleh udah menyediakan bakso dadakan lengkap murah meriah seharga -goceng aja udah bersyukur buat kaum saku di bawah standar kayak aku gini, rasa ayam mecin pun gak masalah lah asal ada gorengannya, terus asin juga enggak hambar," jelas Deksa.


Anton cekikikan.


"Makanya, gue sekali nyoba itu bakso, udah wes. Gak enak. Mending soto punya mbak Ranti, slruuuuuup. mantap" , sambung Anton sambil mengacungkan ibu jarinya ke atas.


Deksa melengos , mendengus kesal.


"Percaya, iya faham. Sama semua laki juga gitu kalo ada yang sedikit bohay aja, dibilangnya enak aja walaupun punya masakannya hambar"


"Tapi gue emang dasarnya gak suka makanan yang flavor nya terlalu kuat, apalagi asin," jawab Anton membela diri.


"Oohh, begitu rupanya...", suara mama Anton menyahut dari balik dapur, sambil membawa tiga cup eskrim cokelat dari freezer.


Anton menggedek.


"Enggak maaa, itu cuma opininya anak cewek aja, padahal masakan punya mbak Ranti emang asli pas bumbunya.."


Selesai makan , Anton membawa Deksa ke teras rumah. Tiga kursi kayu pelitur dengan meja bundar berselimut taplak rajut berwarna merah darah segar dengan rajutan bunga Mei-hwa dengan tangkainya yang menjalar cantik mengitari ujung-ujung taplak. Sambil duduk, menikmati lalu lalang kendaraan yang dikejar target dari balik pagar, Anton datang membawa kertas.

__ADS_1


Kertas putih usang seukuran sampul makalah sekolah yang dilipat persegi panjang rapi, berjarak satu senti dari tepinya membujur garis kotak perak yang sedikit kusam. Anton meletakkannya di atas meja. Lalu angin meniup ujungnya sehingga hampir membuat kertas itu terbang.


Anton mengambil pot keramik kecil yang berisi kaktus mini untuk menindih ujung kertas.


"Lucu yaaa, jenis yang apa ini?" tanya Deksa sambil bermain ujung pada batang kaktus yang terlihat seperti tumpukan jari.


"Lady finger,Sa. Ini hasil gue perbanyakan sewaktu ikut Papa ke Batu"


"Aku mau deh kalo di suruh ngerawat ini,"


Anton tersenyum kecil.


Anton mengambil lipatan kertas, lalu memberikannya kepada Deksa.


"Apa ini?" tanya Deksa


"Coba lu buka" jawab Anton.


Deksa memulai membuka lipatan kertas yang diberikan padanya.


Lipatan pertama dibuka. Pada pojok kanan atas tertulis nama kota alamat dan tanggal penulisan surat tersebut. Juga-pun tertera nama dirinya dengan dibelakang namanya terdapat embel-embel pengendali air muda.


Deksa berhenti sejenak.


Bola matanya percing-percing mengamati benar-benar nama yang ditujukan oleh surat itu,- Putri Deksa Wulandari, pengendali air muda.


"Apa-apaan ini, kok bisa sama gitu namanya", gumam Deksa.


"Buka lagi,Sa" kata Anton.


Baris yang pertama , terbaca salam selamat untuk dirinya. Baris yang kedua, pengenalan sang pengirim surat. Baris yang ketiga, adalah suatu permintaan kepada dirinya.


Deksa hanya menggedek saat membaca isi surat itu. Ia kebingungan, siapa gerangan orang yang mempunyai nama yang begitu persis seperti dirinya. Juga mempunyai gelar pengendali yang biasanya ia ketahui saat menonton film laga fantasi di aplikasi berbayar di gadgetnya.


Sampai pada penutup suratnya, tertulis,  - Salam untuk kakak Arya, untuk kakak ipar Diya, juga sehat selalu untukmu keponakan ku tersayang. Kuharap kita akan segera bertemu. -Maisarah Dehaan.


Deksa membelalak. Melempar surat ke atas meja.


"Surat apa itu? Mengapa tertulis nama orang tuaku juga?" tanya Deksa


Anton tersenyum kecil. Lalu ia mengambil secarik itu dan melipat rapi kembali. Anton mengambil kedua tangan Deksa, menelungkupkannya, lalu menyisipkan surat itu diantara kedua tangan Deksa.


Pot keramik yang berada di tengah meja, di pindahkan oleh Anton ke sudut kanan Deksa. Ia mengelus corak ikan koi pada sisi pot keramik tersebut.


"Maaf, baru ngasih surat itu sekarang. Gue kira, surat bukan buat elu, sampai apa yang gue lihat ada di elu, dan akhirnya gue percaya. Itu emang udah jadi takdir, sekaligus teka-teki yang harus dipecahin, sama elu."


Deksa memegangi kepalanya, ia tak percaya bahwa surat itu memang ditujukan kepadanya. Bahkan, surat itu ditulis pada saat ia masih berumur tiga belas bulan. Mimpi apa Deksa sampai mempunyai gelar pengendali air, melihat hujan deras yang sampai merobohkan pohon keramat di depan sekolah saja, ia tidak berani keluar dari zona berteduhnya satu senti-pun.


"Apa hubungannya sama aku, ton. Aku nggak tau apa-apa, dan tiba-tiba tanganku seperti ini - Deksa sambil membuka telapak tangan kanannya ke arah Anton- ditambah lagi yang harus kusembunyikan dan tidak ada obatnya, kamu yang tiba-tiba mengaku seperti aku, dan juga, surat ini datang begitu saja dan ternyata sudah lama, dan berakhir padaku, ayolahhh. Betapa tidak masuk akalnya..."


Anton terdiam. Ia hanya menyodorkan pot keramik bertumbuh Lady Finger itu ke hadapan Deksa.

__ADS_1


" Ini kamu bawa,


Anton memandangi Deksa, mencoba mencari kalimat yang tepat agar pikiran Deksa tidak sekonyong-konyong tertekan dengan kenyataan yang bertentangan dengan logikanya. Ia lalu menjelaskan perlahan.


"Surat itu, intinya buat elu, dulu dititipkan ke Papa dan harus di kasihkan ke elu. Udah, mungkin elu sekarang belum bisa ngebuat pikiran lu singkron dengan kenyataan yang ada di elu. Gue bantu pelan-pelan. Kan gue sama kaya elu, punya ini.." kata Anton sambil menyodorkan telapak tangan kanannya..


Deksa tertegun. Ia memandangi tangan Anton, sekilas berbalik mengarah pada secarik surat yang berada dalam tangannya. Glek. Sekarang secarik surat itu Ia letakkan, berganti memegang pot keramik bermotif seekor koi yang menyipuk daun teratai.


" Aku butuh ngobrol banyak sama kamu ton, tapi nggak sekarang" ujar Deksa sambil menengok ke arah arlojinya.


Anton yang tadinya melulai sedang menikmati pemandangan cantik di depannya, kembali tersadar.


"Oh iya, udah setengah sepuluh. Gue antar, ayo .."


.


.


" Tante, saya pamit dulu, makasih ya tan.. sup nya ajibb" kata Deksa sambil mengacungkan dua jempolnya ke atas.


Mama Anton tertawa, lalu mengusap rambut Deksa.


" Iya, makanya sering kesini dong.. yaudah. Yang hati-hati ya, dijalani aja apa yang ada.. "


Deksa tersenyum kecil, " iya Tante" lalu bercium pipi.


.


.


.


Depan pintu rumah Deksa.


TOKTOKTOK


"Assalamualaikum, ibu.. aku pulang..."


Jeglek, suara pintu terbuka. Sosok tinggi berkopyah muncul dari balik pintu, kakak Deksa.


Anton yang masih bertengger dia tas motornya, lalu bertegur sapa dengan kakak Deksa. Berakhir saling beranggukan dengan senyum khas kakak Deksa yang terkesan memerintah Anton untuk segera pergi . Anton melengang dengan klakson motornya yang diulang dua kali.


" Kalian pacaran ya?" tanya Sulung, nama kakak Deksa


"Enggak , wong cuma temenan" balas Deksa judes


"Main kok sampe pulang larut gini, untung Ayah gak pulang ke rumah hari ini. Kalo sampai tau, hemm, -kata Sulung sambil mengernyitkan dahi- udah ngaku aja kamu"


"Udah di kasih tau enggak kak, tadi aku cuma disuruh mampir ke rumahnya sama mamanya Anton, udah ih aku mau istirahat, capek.."


Deksa menerobos gawang pintu yang dihalangi oleh pertanyaan panjang kakaknya, dan tiba-tiba ia berhenti dengan kalimat,

__ADS_1


-Gak usah main pacaran, udah, fokus belajar, lagian bukan seiman,,


Glekk- suara pintu ditutup.


__ADS_2