Memecahkan Misi Dalam 100 Tahun

Memecahkan Misi Dalam 100 Tahun
2. Warisan


__ADS_3

..


2000


.


.


Rintik hujan yang jatuh di atap yang terbuat dari rapak , merembes kedalam gubuk sederhana yang berdiri tegak di persimpangan jalan desa. Dapur, kamar, dan gudang penyimpanan sudah dipastikan langganan bocor . Tersisa satu tempat yang aman, ruang mbale untuk berlindung. Buru-buru Arya  dan putra sulungnya  menadahkan tetes air yang bergantian jatuh pada kendi tanah liat , sembari ia mengamankan kotak kecil yang terbuat dari perak putih di sebalik bajunya, sedang Mudia,  istrinya sibuk menenangkan putri bungsunya yang merengek, atau sesekali menangis tanpa sebab sedari siang sampai hampir menuju malam.


Disela penghuni rumah sibuk karena rembesan hujan, tiba-tiba ada suara orang menggedor pintu depan rumahnya. Semua orang kaget, kecuali putrinya yang tak henti merengek. Siapa gerangan yang nekat berkunjung  padahal diluar hujan deras begini. Dibukanya pintu yang  digedor itu oleh si Sulung.


Yang tampak, seorang wanita bertudung merah marun yang hampir tidak kelihatan wajahnya, kecuali dua buah bibir yang pucat dan tangan kanan  terbungkus kasa  yang memegangi dadanya.


"Bibi Sarah?, hmm, mengapa harus hujan-hujan begini, masuklah bi.." si Sulung sambil menuntun wanita itu ke mbale.


Arya yang baru muncul dari gudang penyimpanan terhenyak melihat adik perempuannya yang pucat kehujanan.


"Buk, tolong ambilkan selimut sama teh anget, Putri biar sini."


Arya duduk disamping wanita itu, yang tak lain adalah adik perempuannya.


"Mengapa hujan begini sendirian, kemana Dehaan.?"


" Jangan tanyakan saat sekarang ini kak, aku sedang tidak ingin mengingat dia", kata perempuan itu dengan terbata-bata.


"Kamu bertengkar seperti apa, sampai minggat hujan-hujan begini?." tanya Arya.


Sarah menunduk, ia mengambil secangkir teh panas didepannya, menghirup dalam-dalam, meminumnya pelan.


"Aku hendak dibawa ke negaranya, untuk membuka segel gerbang hujan."


Arya terperangah. Ia memegangi kotak perak di sebalik bajunya.

__ADS_1


" Bukankah dia berjanji tidak akan menggunakan kekuatanmu?. Bagaimana bisa dia mengabaikan keselamatan istrinya sendiri?!"


"Penyegel gerbang sebelumnya, Avos, tidak tau pergi kemana, seperti di telan bumi. Dan orang-orangnya membutuhkan tetes darah garis tanganku untuk membukanya".


Sedetik setelah berucap, telapak tangan Sarah mengeluarkan cahaya biru keabu-abuan. Karena, bila seorang  penyegel gerbang elemen sudah tidak mampu mengatur sandi pada garis tangannya, elemen alam yang dijatahkan padanya akan tak beraturan, hujan akan turun sewaktu-waktu, ini sangat mengganggu penyegel gerbang elemen cuaca.


Arya memandangi telapak tangan  Sarah yang di perban, darah segar timbul hampir memenuhi permukaan kain kasa yang basah terkena air hujan. Sudah dipastikan, Dehaan, suaminya pasti memaksanya untuk menyerahkan darah garis tangan adiknya.


Arya mengambil tangan kanan Sarah, melepaskan perban lama, digantinya dengan 3 ikat sepotong kain putih dan di tali simpul kuat.


"Ah, sakit kak", ringkih Sarah.


"Kalau sakit, mengapa masih diteruskan?", tukas Arya.


Sarah terdiam.


Di umur pernikahan Sarah yang 3 tahun dengan seorang expratriat Belanda memang tidak mendapat sambutan yang baik dari Arya. Sebagai kakak, dia mempunyai insting yang kurang baik saat berhadapan dengan Dehaan, suami Sarah. Ada kisah pertemuan masa lalu yang kelit yang terjadi diantara Arya dan kakak perempuan Dehaan saat menempuh sekolah tinggi di negara kincir angin tujuh tahun yang lalu.


.


.


.


"Aku tidak ingin, keluargaku tahu dan pada akhirnya akan memanfaatkan kelebihan mu untuk kepentingan pribadi. Arya, saya melepasmu, karena saya mencintaimu setulusnya.."


"Bagaimana caranya mencintai tapi melepaskan. Kamu percaya kepada saya, kita pergi ke tanah kelahiranku. Kamu , kita akan aman, Joanna."


Arya menggenggam erat kedua tangan Joanna. Matanya memandang wajah Joanna, kedua pipi putihnya kemerahan, menetes air mata yang tak henti mengalir dari kedua bola matanya yang mulai bengkak.


Joanna menggeleng. Dia perlahan melepaskan genggaman Arya.


"Kita akan bertemu lagi. Sebentar lagi. Tapi dengan hidup kita masing-masing. Kita harus berkorban untuk keseimbangan ini, Arya. Tidak ada cara lain."

__ADS_1


.


.


Arya kembali sadar dari ingatan masa lalunya, sejenak ia berdiri, menimang Putri yang sudah terlelap di gendongannya. Sarah tiba-tiba ikut berdiri di hadapannya.


"Bolehkah menggendongnya, kak?", tanya Sarah.


Arya mengangguk, dan menberikan Putri pelan-pelan agar tidak terbangun. Sarah menimang-nimang bayi perempuan itu, ia memandangi kelopak mata bayi itu yang pulas tertidur, tiba-tiba kedua mata Putri terbuka, menangkap sepasang mata Sarah yang sedari tadi menikmati kedamaiannya.


Reflek, tangan Sarah membelai pipi bayi itu karena gemas. Tapi, ada kejadian aneh saat tangan Sarah menyentuh tangan bayi itu. Timbul guratan merah ber alur pada telapak tangan bayi itu, begitu Sarah menggenggamnya, cahaya biru memercik dua kali, beriringan dengan hujan yang semakin mereda.


Arya memeluk istrinya yang terhenyak dan hampir pingsan melihat apa yang terjadi pada putri kecilnya. Arya mengangguk pada Sarah. Sarah tersenyum tipis, lalu melepaskan genggaman tangannya pada bayi itu, seiring cahaya biru itupun memudar.  Lalu ia memanggil Sulung yang sedari tadi takzim memandanginya dari balik pintu kamar. Sarah memberikan bayi perempuan itu kepada Sulung.


"Kakak, aku beruntung. Tenyata Putri kecilmu-lah yang mewarisi kelebihan ku. Jadi aku tak perlu khawatir lagi harus kukemanakan titipan ini." Kata Sarah dengan memandang teduh bayi mungil itu.


Arya mengeluarkan kotak kecil yang ia sembunyikan sedari berberes gudang tadi saat hujan. Ia membuka, dan mengeluarkan kalung emas putih berliontin permata berbentuk dua buah tetesan air yang disatukan berlawanan arah ujungnya, berwarna putih susu. Ia memberikan kalung itu kepada Sarah.


Kalung putih itu kini dalam genggaman Sarah. Sarah memandang lesu ke arah liontin berbentuk dua buah tetesan air itu. Kemudian, Sarah menatap sedih kakaknya.


" Maafkan aku kak. Aku selama mengabaikan nasihatmu, maka aku harus menanggung akibatnya. Dan aku juga belum bisa menyelesaikan tugasku. Aku malah memilih Dehaan , ketimbang menjaga keselamatan gerbang elemen itu. Dan sekarang, menjadi tanggung jawab putri kecilmu yang masih saja memandangiku teduh, padahal aku telah bersalah kepada dia", kata Sarah.


" Tidak apa-apa nduk. Memang sudah takdirnya begitu. Yang penting, apa yang sudah tampak adanya padamu, bila tidak baik kiranya sudah, alangkah sebaiknya untuk berhenti, dan mencari pandangan yang lebih baik", jawab Arya.


Sarah mengangguk . Lalu ia memakaikan kalung putih itu pada


Putri kecil yang sedang digendong Sulung.


Sekejap, liontin dua tetesan air berubah warna menjadi biru.


Sarah takzim untuk sesaat, lalu ia mengambil Putri dari gendongan Sulung, di timangnya dan di sentuhnya tangan Putri. Tiba-tiba garis tangan kanan bayi perempuan itu berubah warna menjadi biru muda cerah, ber alur perlahan hingga hampir mencapai nadi.


Dan bayi perempuan kecil 3 tahun mulai akan menjalani takdirnya, akan harus menemukan teka-teki dan menyelesaikan tanggung jawabnya.

__ADS_1


Mudia, istri Arya tiba-tiba mengambil Putri dari gendongan Sarah.


"Kamu tidak boleh terlalu memaksa Putri. Dia anakku, milikku, selalu begitu, dan orang lain tidak berhak terlalu menuntutnya".


__ADS_2