Memecahkan Misi Dalam 100 Tahun

Memecahkan Misi Dalam 100 Tahun
3. Kalung Yang Kehilangan Liontin 1


__ADS_3

Kreeekkkk, ciiiiiiitt....


.


"Assalamualaikum, aku pulang..."


"Walaikumsalam.. Deksaaa, jam berapa ini kok baru pulang, nggak ngabari ibu pula, kamu wes ditungguin ayah dua jam tadi."


Deksa mendengus, ia berjalan kearah kamar, meletakkan tas, merebahkan diri di atas pulau kasur. Lalu dia terbangun lagi, melepas perban di tangan kanannya.


" Tidak bercahaya, tapi masih terlihat jelas warnanya," batin Deksa.


Lalu dia mengambil plester rol, kain kasa dan gunting di dalam tasnya. Kemudian mulai memplester  pada tangannya.


Belum selesai dia mengerjakan, bau harum-wangi seperti kue coklat yang baru matang diangkat dari pemanggang menyelinap ke dalam kamarnya.  Ibunya masuk ke kamar membawa sebuah piring yang diatasnya terdapat sepotong lava cake yang ditengahnya kelihatan coklat cair meleleh.


"Emmmm, pantas harum banget, aaaaam"


Deksa beranjak dari tempat tidurnya dan menghampiri sepotong lava cake coklat yang disuapkan padanya.


" Untung kamu pulangnya gak kelamaan, ibu buat empat buah tadi, kan biar masing-masing dapat satu, eh kata kakakmu enak, bikin nagih,  terus memotong bagianmu," kata ibu sambil menyodorkan piringnya.


" Nih lanjut makan sendiri, ibu mau cuci piring".


Deksa reflek menerimanya dengan kedua tangannya, dan kembali menyantap lava cake yang tak lagi beraturan bentuknya. Ibunya memandangi tangan Deksa, lalu mengambilnya.


"Tangan kamu kena apa, kok plesteran gini telapaknya, kamu ngapain aja di sekolah tadi?", tanya ibunya.


Deksa yang tadinya asyik menikmati kecap demi kecap coklat leleh, seketika menarik tangannya, dan memegangi sepiring lava cake itu dengan tangan kirinya.


"Nggak papa kok Bu, itu tuh tadi kan pulang sekolah cari bambu di rumah temen, buat tugas sekolah, nggak sengaja kegores potongan bambu pas ikutan belah bambu sama temen-temen..", jawab Deksa.


Ibu mengambil piring dari tangan kiri Deksa. Lalu meletakkannya di atas springbed, disamping Deksa. Ibunya mencoba mengambil tangan kanannya, tetapi Deksa melarang.


" Nggak usah Bu, cuma luka ringan, besok juga sembuh",


"iya, tapi ibu pengen liat.."


Akhirnya Deksa mengiyakan.


Di tunjukkannya telapak kanannya yang penuh plesteran. Garis timbul biru sedikit menyeruak dari plester Deksa yang belum benar menempel.


Ibu Deksa menatap lekat-lekat pada telapak tangan Putri bungsunya itu. Diambilnya, lalu dibuka nya salah satu sisi plester yang sedikit membuka. Garis biru yang tampak samar tadi, kini terlihat jelas. Terjelujur lurus ke arah pembuluh nadi. Lalu ibu menutup lagi plester yang dibuka olehnya.  Deksa yang sedari tadi memerhatikan ekspresi ibunya, tak percaya. Ibunya tidak kaget seperti yang dibayangkan olehnya. Tampak seperti sudah mengetahui apa yang terjadi pada tangannya.


"Ibu tidak kaget?", tanya Deksa


Ibu memandang Deksa teduh, lalu membelai rambutnya. Lalu ibu mengambil selimut untuk menutupi tangan Deksa.

__ADS_1


"Kamu harus menyembunyikan ini, sa..jangan beritahu Ayah, ya.. oiya. Kalau ada apa-apa, langsung ngomong ke ibu. Ibu takut, Ayahmu kaget, terus langsung overthinking nanggepinnya.  Besok deh ibu ke toko Citra, beliin kamu sarung tangan sama plester."


Deksa mengangguk. Dalam benaknya,  ia heran saat ibunya berkata demikian. Padahal disetiap ada masalah padanya, ibu selalu meminta Deksa untuk jujur kepada Ayah. Karena Ayah adalah orang yang penuh solusi dan orang yang pemikirannya lebih rasional ketimbang ibu saat dihadapkan pada suatu masalah.


"Beneran nggak apa-apa ya kalo ayah nggak dikasi tau?" , tanya Deksa


Ibu mengangguk, dahinya mengernyit. " Nanti piringnya taruh di wastafel aja nggak usah di cuci. Tangan kananmu nggak boleh terlalu sering kena air," jawab ibu.


" Trus kalau aku mau mandi, gimana ?",


"Itu, sementara pake sarung tangan plastik yang ada di rak dapur dulu, nanti kalau ibu keluar, tak belikan sarung tangan karet safety"


"Emang, tanganku ini kenapa sih Bu,?",


Ibu terdiam, lalu menatap Deksa tajam.


"Belum waktunya kamu tau, tapi kamu harus lebih berhati-hati, jangan sampai orang lain tau soal perubahan keadaan mu saat ini"


Deksa mengernyitkan dahi. Matanya mengisyaratkan rasa penasaran yang besar, tapi terhalang oleh rasa takut untuk mengetahui yang sebenarnya, apakah itu kelebihan yang menguntungkan baginya, atau malah akan menjadi petaka bagi dirinya, dan juga ibunya yang tidak mengizinkan Deksa mengetahui sebab yang terjadi pada dirinya.


"Kamu selesaikan memplester tanganmu dahulu, ibu keluar sebentar mengambil sesuatu".


Ibu keluar kamar, sementara Deksa belum bisa keluar dari keanehan dirinya.


Deksa melihat ke arah arlojinya, menunjukkan jarum pendek di angka empat dan jarum panjang di angka 5. Lalu dia teringat akan kalung yang baru saja diberikan oleh seseorang yang dekat dengannya, ia memegangi kalung itu, kalung perak putih.


.


.


.


.


Saat hampir semua siswa sudah pulang, Anton duduk di atas Vario 125 hitam yang terparkir di depan pintu gerbang taman sekolah, karena taman sekolah itu searah dengan tempat parkir.


Dari jauh, tampak seorang gadis berlari kecil dengan kedua tangannya memegangi tali tas daypack hitam, sambil rambutnya yang di kuncir terayun ke kanan dan ke kiri, menghampiri Anton.


"Deksaaa kebiasaan lama banget di tungguin", keluh Anton dengan nada sedikit kesal.


"Maaf,ton. Tadi aku pulang , tiba-tiba ada rapat anggota PMR bentar, buat pelatihan anggota baru, hehe" jawab Deksa sambil tersenyum terkekeh.


Anton turun dari sepeda motornya, lalu memberikan kotak kecil berrwarna perak yang agak kusam. Lalu ia memberikannya kepada Deksa.


"Apaan ini?? "


" Buat elu,"

__ADS_1


"Maksudnya apa? Eh ton, ulang tahun aku masih lama, kamu lupa?"


"Bukan kado ultah,Deksaa."


Anton meraih tangan kanan Deksa.


"Eh. Kamu ngapain?",tanya Deksa


" Bentar, gue pengen liat jelasnya",


Anton membuka perban yang menutupi hampir seluruh permukaan telapak tangan kanan Deksa. Lalu ia men-sejajarkan dengan tangannya. Lalu ia mengenggam tangan Deksa.


" Anton, kenapa ini??", tanya Deksa lirih bercampur nada takut.


Muncul percikan cahaya biru kehijauan, dua detik, tiga detik, lalu cahaya itu hilang.


Deksa tak bisa berkata-kata. Dia takjub melihat apa yang terjadi pada tangannya dan tangan Anton.


Anton melepas genggamannya, lalu tersenyum teduh kepada Deksa. Lalu ia mengambik kotak perak di tangan kiri Deksa. Ia membukanya, lalu memasangkan pada leher Deksa.


Deksa gugup bercampur aneh. Gugup karena pertama kalinya ia dipasangkan kalung oleh seorang laki-laki, anehnya, bagaimana bisa sahabat yang ia anggap seperti saudara sendiri bertindak seperti di adegan romantis film Korea yang biasanya ia tonton.


Dua pasang mata saling beradu. Anton mengedip, segera Deksa sadar, lalu memalingkan pandangannya karena malu.


" Kok gak ada liontin ya?" ,tanya Deksa sambil memegangi kalung yang kini sudah bersemayam pada lehernya.


"Liontinnya hilang, kita cari bareng-bareng, gimana?", jawab Anton


"Maksud kamu?"


Anton naik ke atas sepeda motornya, menghidupi starter, dan memegangi gas .


" Besok deh, gue jemput di rumah lu jam 9 pagi, kita ngopi romantis, lalu gue kasih tau hubungannya liontin yang hilang sama elu,"


"Haaaaahhh...",


belum selesai Deksa menjawab, Anton sudah melenggang dengan mengedip genit, meninggalkan Deksa yang terheran-heran.


-


Deksa tersadar dari ingatannya, tak lama kemudian, ibunya datang membawa sepasang deker tangan berwarna krem, yang hampir serupa dengar warna kulit. Buru-buru Deksa menyembunyikan kalung di sebalik Krah bajunya.


"Jadi, aku harus memakai ini saat di rumah juga, Bu?", tanya Deksa


"Iya,"


"Sampai kapan,Bu? Ayah juga harus tau, kan??"

__ADS_1


"Waktunya belum tepat Deksa sayang, hmm. Ada yang sesuatu yang seharusnya belum di izinkan untuk dipergunakan, tapi mengapa bisa terjadi lebih awal?"


__ADS_2