Memory Lane [Sudah Dibukukan]

Memory Lane [Sudah Dibukukan]
1 - New Student


__ADS_3

***


***


Jendela kamar yang tirainya telah terbuka lebar itu memperlihatkan birunya langit cerah pagi ini. Sebuah kamar bernuansa pastel, tentu saja menggambarkan sisi feminin dari sang pemilik kamar, terletak di lantai dua sebuah rumah elit. Hanya ada rak berisi penuh buku-buku dipojok, kasur bertipe single di tengah, karpet krem berbulu dengan meja lesehan menghadap televisi, dan beberapa perabot lain. Cermin tunggal di dekat meja belajar itu nampak memantulkan sosok seorang gadis berseragam.


Dia mengenakan rok rempel abu-abu tua, blazer merah maroon, serta kemeja putih sebagai dalamannya. Kedua tangan lentiknya kelihatan sibuk merapikan dasi dibalik kerah kemejanya. Sebahu panjang rambutnya itu dibiarkan tergerai tanpa tambahan aksesori di kepala. Segera setelah memastikan penampilannya rapi, dia langsung menyambar tas pundaknya di kursi. Lalu menghilang ketika pintu tertutup rapat. Tampak papan nama tergantung di depan pintu putih gading itu, bertuliskan huruf kanji.


***


"Apa tidurmu nyenyak?" Suara seorang wanita menyapa kemunculan gadis itu di ruang makan yang terhubung dengan pantry dapur. Gadis ini lantas berkata, "terimakasih kaa-san." Ketika wanita berkepala empat yang merupakan seorang ibu itu meletakan segelas susu di hadapannya, yang kini telah duduk di kursi makan.


"Kau harus membawa bentomu. Jangan lupa untuk rutin meminum vitaminmu." Shimizu Mio nama ibunya, sambil menyiapkan isi bento di meja pantry. "Tentu, kaa-san."


"Apa kau ingat alamat sekolah barumu?" Terdengar suara berat penuh wibawa, berasal dari sosok pria setengah baya yang terlihat berjalan menghampiri meja makan, seraya mengancingkan lengan kemejanya. Dia kemudian duduk di seberang Kurumi. "Aku tidak lupa, kok, ayah. Aku hanya menetap selama tiga tahun saja di luar negeri, tapi tidak membuatku lupa dengan daerah kelahiranku," jawabnya sambil menggeleng ringan.


"Bagus. Kalau begitu tidak perlu diantar?" Kali ini seorang lelaki muda menyambung percakapan mereka. Dia tampak mengenakan high neck berwarna krem yang dirangkap blazer hitam beludru. Rambutnya hitam legam, keningnya tertutupi poni yang membingkai wajah rupawannya. Lelaki bernama Ryu itu turut bergabung di meja makan untuk sarapan, dengan menarik kursi di samping si bungsu Shimizu.


Kurumi mengangguk yakin. "Aku ingin naik bus umum saja, kak. Aku benar-benar merindukan suasana di Jepang," sahutnya pada lelaki yang lebih tua lima tahun di sebelah sembari menyumpitkan ikan ke piringnya. Ryu adalah kakak kandung Kurumi yang sekarang tengah sibuk kuliah sekaligus membantu perusahaan ayah mereka.


***


Naik bus umum pada jam kerja memang beresiko untuk siap berdesakan. Apalagi di kota metropolitan seperti Tokyo ini. Kurumi berpegangan pada gantungan pegangan tangan di atas kepala. Ketika itu tatapannya menangkap logo yang terdapat pada jas alamamater maroon bagian dada kiri dihadapan, sama persis dengan logo sekolahnya. Begitu pun dengan seragamnya. Celananya panjang berwarna abu-abu tua, sama seperti warna roknya.


Kemudian, dengan perlahan Kurumi mengangkat fokusnya, dan sepasang bola mata cokelat beradu pandang tertegun dengannya. Wajah lelaki itu menunduk dan poninya jatuh. Beberapa detik mereka terpaku sebelum Kurumi memutus kontak lebih dulu karena merasa gugup ketika benak mengakui ketampanan paras lelaki itu.


Sementara di tempat lain, Rione memakaikan jas sekolahnya dengan memasukan kedua lengan sambil berdiri di depan cermin. Mengencangkan simpul dasinya lalu mengambil tas dan meninggalkan kamar bergaya minimalis namun terkesan manly, dengan sejumlah benda olahraga seperti bola basket yang tersimpan di rak sudut ruangan serta beberapa poster atlet basket juga piagam kaca menghiasi dindingnya.


***


Setelah bus berhenti di halte, dan Kurumi melompat turun, tampak juga anak-anak lain berseragam serupa berjalan ke arah yang sama untuk kemudian masuk melewati gerbang. Pada saat itu, sebuah mobil sedan hitam menghentikan lajunya tidak jauh dari sisi gerbang. Seorang pemuda dengan seragamnya keluar ketika pintu belakang dibukakan oleh supir. Pria berpakaian formal tersebut membungkukan tubuhnya hormat, mengantar si pemuda yang melangkah penuh wibawa ke dalam lingkungan sekolah.


Di lain sisi, Kagamine Shion adalah nama seorang pemuda yang bertemu pandang dengan Kurumi di dalam bus itu, kini berjalan pelan sejauh dua meter di belakangnya. Menatap punggung Kurumi dengan sorot tak terbaca.


Ketika itu kebingungan mendera benak Kurumi. Dia memang tidak lupa letak sekolah barunya, tetapi pengecualian untuk ruang guru yang harus dikunjunginya agar mengetahui ruang kelasnya. Salah seorang di sekitar pun menjadi target pertanyaan Kurumi.


"Anoo, apa kau tahu dimana ruang guru?" tanyanya pada seorang murid perempuan. "Ruang guru? Mari kuantar." Kurumi yang mendapat jawaban ramah dari gadis berambut pendek setelinga ini seketika tergugah senang. "Sungguh? Terimakasih!"


***


"Perhatian semuanya. Kita kedatangan murid baru. Silakan masuk Shimizu-san!" perintah Matsumoto sensei mempersilakan. Sedetik kemudian sosok Kurumi muncul dan menjadi pusat pandangan seluruh murid di dalam kelas. "Silakan perkenalkan dirimu," ujar guru laki-laki yang diketahui mengajar sejarah.

__ADS_1


"Hajimemashite! Shimizu Kurumi desu. Yoroshiku onegaishimasu!" Senyuman menawan diukir bibir Kurumi memandang seisi kelas. Perasaannya sedang berseri-seri bagai matahari di musim panas karena akan mendapat teman baru dan suasana menjadi anak sekolahan di Jepang lagi. Kurumi sudah membayangkan hal-hal yang menyenangkan lainnya bersama teman-teman baru nanti seperti yang diimpikannya.


"Nah, bagi kalian yang ingin bertanya pada Kurumi-san, bisa setelah pelajaran ini berakhir. Sekarang, kau duduk lah di kursi belakang." Pemberitahuan Matsumoto segera dilakukan Kurumi yang sebelumnya berdiri di depan kelas kini telah menarik langkah mendekati meja kosong dekat jendela.


"Kita mulai pelajaran pagi ini! Buka halaman lima puluh lima!"


Kurumi yang baru mendaratkan bokongnya sebagai murid baru, seketika merasa gamam di tempat duduk karena belum mempunyai buku cetak seperti mereka. Tapi dia tidak bisa berdiam diri saja tanpa berusaha, meski dengan ragu-ragu mengusik seorang pemuda berkacamata yang berada di seberang kanannya untuk meminta berbagi buku. "Bolehkah aku melihat bukumu?" Kurumi bertanya dengan suara berbisik begitu berhasil membuat pemuda itu memalingkan wajah kearahnya. Si pemuda yang mengerti gerak bahasa bibir Kurumi memberi respon dengan menggeser buku ke sisi meja. Langsung saja Kurumi menarik meja dan kursinya perlahan hingga menempel ke meja pemuda itu.


"Kalian bentuk kelompok, masing-masing beranggotakan tiga orang untuk tugas minggu depan. Pelajaran saya hari ini selesai. Sampai jumpa!" Anak-anak tampak mulai berdiskusi mencari teman sekelompok sepeninggalnya guru dari kelas dan dengungan halus terdengar di dalam ruangan yang berisi sekitar tiga puluh murid ini. Kurumi mengulum bibirnya seraya menyapu pandangan ke seluruh kelas yang nampak ramai. Darimana dia harus memulai agar mendapat kelompok? Sampai kemudian irisnya yang berpendar itu berlabuh ke pemuda di sampingnya.


Sejak tadi dia belum mendengar suaranya. Bahkan laki-laki yang kelihatan memiliki ekspresi serius itu terlihat tidak tertarik akan keramaian ini selain hanya duduk. "Anoo, apa kau sudah---" Pertanyaan Kurumi tidak dilanjutkan lagi ketika ada suara seorang gadis menyapa di antara mereka. "Hai. Kita bertemu lagi," katanya. Melihat secara visual rupa gadis di hadapan yang kemudian direkam dalam otak itu, dengan cepat membuat garis wajah Kurumi tercengang dari mata yang membulat dan mulut terbuka begitu mengenalinya.


"Bukankah kau yang tadi mengantarku ke ruang guru?" tebak Kurumi walaupun sedikit skeptis. Tapi gadis itu seketika mengangguk kuat. "Aku Sawaguchi Risa." Dia memperkenalkan dirinya dengan pancaran keramahan pada wajahnya.


"Apa kau mau sekelompok denganku?" tawa Risa. "Bolehkah? Aku mau!"


"Ken, kau masuk kelompokku juga ya?" Risa mengatakannya sembari melirikkan tatapannya kepada lelaki berkacamata itu. Sejenak lelaki yang dipanggil Ken memejamkan mata sambil mendesah ringan. "Terserah kau saja," tukasnya kemudian.


Tampak Kurumi terbengong memperhatikan lelaki itu. "Maafkan aku jika salah. Apa kau Kentaro, Miura Kentaro?" tutur Kurumi merasa tidak asing saat mengamatinya lebih seksama. Hal ini yang membuat dia teringat pada seseorang bernama Miura Kentaro.


"Kau masih mengenaliku?" Kali ini lelaki itu menolehkan wajahnya yang kaku menatap Kurumi.


"Astaga! Jadi benar? Bagaimana bisa aku melupakan teman kecilku? Boneka beruang putih berpakaian karate itu pasti benda keberuntunganmu, bukan?" Objek benda yang diucapkan Kurumi terlihat ada di meja. "Awalnya aku ragu karena kau sudah tumbuh berbeda dari sewaktu kecil," tambahnya, lalu terkikik kecil sambil menutupi mulutnya, kemudian melanjutkan, "tapi Ken, tetap Ken yang dulu ya."


***


"Kurumi, kau tahu tidak kalau hasil poling cowok tertampan satu sekolah sudah keluar?" tanya Risa. Kedua tangannya kelihatan sibuk. Yang satu memegang sumpit dan yang satunya lagi menggenggam ponsel.


Langit biru seolah terasa dekat di atas kepala mereka yang sedang duduk lesehan di atap sekolah dengan menghadap pagar, sehingga lapangan menjadi pemandangan makan siang mereka. Sementara secuil dinding dibawah pagar pembatas itu menjadi tempat bento mereka diletakan.


"Cowok tertampan?" Kurumi membeo heran. "Memang ada hal semacam itu?" Dia tidak percaya.


"Tentu ada! Tahun lalu Rui berada di peringkat teratas. Tapi dia bergeser turun di nomor dua setelah Ren."


"Aku tidak mengerti, mereka itu siapa?" tanya Kurumi sembari merapikan alat makannya lalu mengeluarkan buku sketsa ke pangkuan bersama dengan pensil.


"Rui, Hanamiya Rui, dia seorang aktor sekaligus model baru. Sedangkan Ren, namanya Mikazuki Ren, adalah ketua OSIS kita. Dia pewaris tunggal konglomerat. Sekolah ini juga milik keluarganya," jelas Risa dengan pandangan menerawang sebelum memasukan sushi ke dalam mulut.


"Wow. Ada berapa kandidat seluruhnya?" Dipolesnya lembar putih di buku itu dengan coretan kasar dari gerakan pensilnya.


"Enam cowok." Suara Risa terdengar agak tidak jelas karena sedang memamah makanannya. Akan tetapi dia memalingkan wajah ke samping dan melihat Kurumi tampak tekun menggambar sesuatu di bukunya. "Kau suka menggambar?" Anggukan ringan Kurumi menjadi jawaban atas pertanyaannya.

__ADS_1


"Aku ingin menggambar pemandangan yang terlihat dari sini." Mendadak Kurumi berhenti dengan kegiatannya, menutup buku. Dia teringat sesuatu soal -berhubungan baik-dengan-teman-baru. "Tadi kau bilang kalau Rui dan Ren masuk kategori cowok tertampan kan? Apakah kau menyukai mereka berdua?" Salah satunya adalah tunjukan ketertarikanmu terhadap topik pembicaraan dengannya! Benak Kurumi mengingatkan. Hampir saja dia melakukan kebiasaannya; cuek sambil menggambar sketsa.


Hey, Kurumi tahu kalau menjalin pertemanan dengan orang baru tentunya harus menunjukan keramahan dan disusul harus mampu mengimbangi percakapan mereka. Beberapa hal demikian perihal bersosialisasi maupun tips cepat akrab dengan teman baru yang telah dipelajarinya sewaktu sekolah di Amerika. Karena dia sendiri orang yang agak sulit berinteraksi.


"Mmm, tidak. Aku hanya menyukai Natsume senpai. Dia kapten tim basket. Dia orang yang ramah dan baik sekali. Aku suka kepribadiannya yang seperti itu. Aku ke toilet dulu." Risa bergegas pergi.


"Rui... Ren... aku tidak akan terlibat dengan mereka dengan menjadi fansnya. Aku hanya ingin menjalani sisa setahun setengahku dengan tenang dan damai," gumamnya.


Pada saat itu beberapa langkah sepatu menghampiri lalu mereka berhenti di depan punggung Kurumi yang belum menyadari kedatangan orang lain di atap.


"Kau ini berani juga ya..."


Suara seseorang yang datang dari belakang membuat bahu Kurumi tersentak kaget dan menoleh ke sumber suara. Menaikan pandangan ke atas, tampak kemeja dikeluarkan dari celananya, jas yang tak terkancing. Sebelah tangannya dijejalkan ke saku celana. Dasi yang terikat tak rapi dengan dua kancing teratas terbuka. Sebatang rokok terselip di bibirnya. Bandana hitam bermotif menghiasi kepala siswa itu.


"Tidak tahu ya kalau murid tidak diijinkan naik ke loteng?" katanya.


"Apa kau berbohong? Mengapa temanku tidak mengatakan apapun tentang hal ini?" Kurumi bangkit dan terlihat tidak ingin meninggalkan tempat ini sebelum mendapat jawaban yang memuaskan.


"Apa sekarang kau bersama temanmu? Dia pergi karena tidak ingin ketahuan. Alhasil kau jadi terjebak di sini dan ketahuan olehku," kata siswa di tengah yang dipercaya merupakan pemimpinnya.


Mendengar perkataannya membuat Kurumi membisu sesaat untuk berpikir. "Aku baru pindah sekolah ke sini, jadi belum tahu. Aku segera turun," kata Kurumi cepat memberesi bento mereka. "Tunggu!" tahan pemuda bertubuh gempal memghadang jalan sehingga otomatis langkah Kurumi berhenti.


"Naik sendiri ke loteng, jika diketahui pihak sekolah, kau pasti dimarahi kan?" ujar pemuda di tengah. "Kalau kau bersedia membayar biaya tutup mulut, kami anggap tidak melihatnya."


Sambil menunduk memeluk sketsa, Kurumi berkata, "berapa biayanya?"


"Tidak banyak. Cukup tiga ratus ribu yen saja."


"Sebanyak itu?!" pekiknya dengan nada tidak percaya, mendengar jumlah angka yang melebihi gaji guru itu. Bahkan uang saku yang diberikan orangtua Kurumi hari ini saja tidak cukup untuk membayarnya.


"Tiga ratus itu sudah menghilangkan sebuah hukuman, dan itu sudah sangat murah. Ingat, jika kau ketahuan melanggar di Oukirin ini, bersiaplah untuk dikeluarkan." Siswa itu mendengus sambil mengayunkan tangan. "Padahal banyak anak yang ingin menjadi murid di sini," katanya seraya ujung hitam putung rokoknya ditekankan pada buku sketsa Kurumi.


"Tapi aku tidak punya uang sebanyak itu..." lirih Kurumi menatap sepatunya, diam-diam dia sedang menahan geram atas tindakannya yang mengotori buku kesayangannya.


"Tidak masalah, bisa dicicil. Tapi..." Seketika buku sketsa dipelukan disambar, dan Kurumi terkejut karenanya. "Ini bisa digadaikan," kata lelaki kurus tinggi yang bicara di sebelah ketua geng itu. Kurumi yang tidak terima, langsung merebutnya kembali, lalu memeluknya lebih erat seolah benda ini sangat berharga.


Kemudian, dengan kedua tangan di saku celana, lelaki di tengah mendekatkan wajahnya di depan Kurumi yang sedikit memundurkan kepalanya. Dia menatap lekat sepasang mata Kurumi. "Aku tertarik padamu. Bagaimana jadi pacarku saja?" ujarnya menyeringai.


"Ribut sekali... tidak bisakah kalian biarkan aku tidur siang dengan tenang?" Terdengar suara seorang laki-laki mengalihkan pembicaraan mereka. Mereka, khususnya ketiga siswa berandalan itu terkaget sekilas, dan langsung memutar tubuh ke asal suara di belakang mereka. "Siapa di sana?!" serunya sambil memandang atap di atas pintu masuk.


Mereka baru bisa melihatnya ketika orang itu bangun sambil merenggangkan ototnya disertai suara menguap lebar.

__ADS_1


***


__ADS_2