Memory Lane [Sudah Dibukukan]

Memory Lane [Sudah Dibukukan]
2 - possessive brother


__ADS_3

***


"Apa kau tidak tahu kalau naik ke atap itu melanggar aturan sekolah? Cepat turun!" perintah siswa kurus dengan tulang pipi yang tercetak.


"Melanggar aturan sekolah?" Orang itu membeo. Sampai detik ini mereka hanya bisa melihat punggung jasnya yang bidang. Akan tetapi siluetnya seolah membuat Kurumi tidak asing melihat laki-laki itu.


"Kalau begitu, yang merokok di atap dan melakukan pemerasan, itu semua diperbolehkan dalam peraturan sekolah?" kata laki-laki itu terkekeh sinis, kemudian melompat turun. "Tentu saja kalau kau mau bayar lima ratus yen untuk uang tutup mulut, aku juga bisa tidak menganggap melihatnya," ujarnya dengan tatapan merendahkan.


"Kau!" geram si ketua dengan tangan mengepal. "Tunggu, Mori!" cegah si lelaki kurus memegang bahunya. "Kalau tidak salah, tiga bulan lalu bocah dari tim basket ini lah yang membuat Nashika masuk rumah sakit. Kita mungkin bukan lawannya," bisiknya.


"Cih. Ayo kita pergi!" Mereka serentak berbalik menuju pintu. "Kali ini kubiarkan kalian!" Kalimat yang Mori katakan mengandung ancaman.


"Siapa yang mengijinkan kalian pergi sebelum minta maaf?" tegur Rione. "Kalian sudah mengganggu dan mengotori bukunya, hal seperti itu apa tidak perlu minta maaf?" lanjutnya dan berhasil membuat Mori berhenti. Pelipis Mori berkedut kesal. "Kau jangan keterlaluan!" geram Mori menepalkan tangan. Melihat sikap Rione yang menurutnya telah menyulut api emosi itu sudah mencapai pada batas kesabaran Mori. Dari dulu dia sudah tidak suka terhadap laki-laki itu, entah karena sifatnya atau mungkin keirian hati hal lain yang tak ingin diakuinya.


"Apa? Mau berkelahi? Berhubung hari ini suasana hatiku sedang buruk, akan kuladeni kalian semua," kata Rione yang melihat ancang-ancang mereka.


Kurumi memundurkan diri ketika merasakan tanda buruk dari mereka. Benar saja, ketiga siswa itu mengeroyok Rione sehingga perkelahian pun tidak dapat terhindarkan. Apalagi Rione membalas serangan mereka.


Dua menit kemudian, lutut yang terjatuh lemah dengan memar dimuka menjadi akhir perkelahian mereka berempat. Sementara Kurumi terbengong di tempatnya menyaksikan Rione membuat mereka tak bisa berkutik lagi.


"Maaf kami sudah salah. Kumohon maafkan kami!" Mori dan kedua temannya mengatupkan tangan di bawah Rione dengan wajah memelas.


"Sudah sana pergi!" usir Rione. Tergesa-gesa mereka meninggalkan atap. "Anoo, terimakasih sudah menolongku." Ungkapan Kurumi membuat laki-laki itu menoleh terheran. "Sejak kapan kau begitu formal padaku?" Sebelah alisnya terangkat.


"Eh?" Kurumi tercengang. "Apa maksudmu? Apa sebelumnya kita pernah bertemu?" Sikap yang ditunjukkan Kurumi tak hanya membuat Rione merasakan keganjilan yang sulit dijelaskan, tetapi pertanyaan tanpa terduga ini menarik punggung Rione untuk berbalik sepenuhnya, sehingga mereka sekarang saling bertatap muka.


Wajah polos Kurumi diamati Rione lekat-lekat, sampai kernyitan dalam di kening laki-laki itu jelas terlihat, mengindikasikan pikirannya tengah berotasi keras.


"Shimizu Kurumi." Rione mulai angkat bicara setelah bergulat dengan benaknya. "Aku masih mengenalmu. Kau teman masa kecilku yang menghilang tanpa kabar saat kelulusan SMP. Namun sekarang kau tiba-tiba muncul dikehidupan kami lagi. Apa yang terjadi padamu?"


Siapa yang tidak terheran-heran bahkan tanda tanya besar sudah terbentuk di kepala Kurumi ketika orang tak dikenal melontarkan pernyataan bersifat paradoks dengan santai tentang dirinya? Tak dapat dipungkiri bilamana saat ini Kurumi merasa gamam.


Kurumi mengerjap sekali, sebagai reaksi keterkejutannya. "Maafkan aku. Aku sungguh tidak mengingat siapa dirimu. Tapi perkataanmu memang benar," jawabnya. Mimik ketidakpahaman Rione semakin tercetak jelas. Dan dia terlihat hendak membuka mulut sebelum suara pintu yang terdengar dibuka memenjarakan rentetan kalimat di dalam otaknya.


"Oh..." Risa muncul dibalik pintu, dengan bingung menatap mereka bergantian.


***


"Cut!" teriak sutradara, pada sepasang artis yang sedang melakoni peran di depan kamera.


"Tidak biasanya Rui melakukan kesalahan berulang kali," bisik salah satu staff yang mengelompok sembari mengarahkan tatapan mereka kepada pemuda yang tertunduk lesu di kursi.


Rui menyadari betul ketidakfokusan pikirannya terhadap syuting hari ini. "Apa gosip itu mengganggumu? Kau kelihatan menggebu-gebu sekali di adegan tadi." Ungkapan itu terdengar tiba-tiba dari samping. Sang manajer berkomentar, dan Rui menerima botol mineral yang disodorkannya.


"Aku ingin segera ke sekolah," timpal Rui dengan pandangan lurus tanpa berkedip setelah meneguk sekilas air mineralnya.


"Tapi jadwalmu padat untuk hari ini hingga pemotretan nanti malam. Besok kau sudah mulai sekolah lagi."


***


Jalan-jalan sendiri di sekolah baru rasanya seperti anak hilang, tidak tahu harus pergi ke arah mana, tanpa tujuan. Ya, saat Risa sedang memperkenalkan setiap ruangan, tiba-tiba dia dipanggil untuk menemui guru di ruangannya. Entah untuk urusan apa, yang jelas sekarang Kurumi jadi tersesat di koridor sepi.


Kurumi bertolak-pinggang, pipinya digembungkan, kemudian dia mendongak tepat di atas kepalanya menemukan papan nama di atas pintu di dekatnya bertuliskan Klub Majalah. Apakah ini koridor ekstrakurikuler?

__ADS_1


"Apa ada yang perlu kubantu?" Terperanjat kaget Kurumi mendengar suara yang terdengar dekat dari belakang. Dilihatnya seorang laki-laki yang tingginya sedikit sejajar.


"Kurumi?" sebut laki-laki itu dengan nada bertanya. Sedangkan Kurumi menelengkan kepalanya bingung. "Kau mengenalku?"


***


Bidak shogi diletakan oleh tangan kanan seorang laki-laki yang nampak duduk di sofa single. Sementara di seberangnya, Kentaro terdiam mengamati permainan shogi mereka dengan cermat. Lawannya bukan sembarangan, bahkan belum pernah sekali pun dia memenangkan permainan ini ketika melawan lelaki monster di hadapannya.


Kentaro mengakui kecerdasan lelaki yang telah dua tahun menjabat sebagai ketua OSIS ini terbilang mengerikan. Sempurna adalah satu kata yang mampu mewakili sosoknya. Dia tak terbantahkan dan selalu benar perkataannya. Namun, tidak ada manusia sempurna di dunia ini.


Lelaki yang diketahui bernama Ren itu bangkit, berdiri memandang pemandangan luar jendela besar. "Dia tersesat, tapi Shion membantunya mengenalkan setiap ruangan di sekolah ini," ucapnya. Bibirnya menyeringai tipis bersamaan ketika iris tajamnya menangkap sepasang murid berbeda gender tengah mengobrol sambil berjalan perlahan di taman itu.


"Bagaimana kau bisa tahu itu?" Kentaro menimpali.


"Aku mengenal kepribadiannya. Akan tetapi aku tidak menduga kalau kita semua akan bersama lagi," sahut Ren tenang. "Ngomong-ngomong Ken---" Ucapan Ren seketika dipotong cepat oleh Kentaro yang menekuk wajahnya. "Urusai! Aku mengaku kalah!"


***


"Sepertinya aku mendengar decitan sepatu dan kibasan ring dari arah pintu itu. Apa kau juga mendengarnya, Shion-san?" tunjuk Kurumi ke depan. Persis dimana mereka berada di luar ruangan setelah melewati lapangan baseball dan sepak bola. Lelaki bernama Shion itu berbaik hati menawarkan jadi pemandu Kurumi untuk memperkenalkan sekolah ini.


"Ha'i. Itu adalah gymnasium. Gedung olahraga B di sayap kanan sekolah. Biasanya digunakan ekskul basket untuk latihan." Shion menjelaskan. Kelopak mata Kurumi terkuak perlahan begitu langkahnya terhenti di bibir pintu geser yang terbuka. Aksi menggiring basket oleh seorang laki-laki berkaos hitam di dalam itu menciptakan kekaguman Kurumi terhadapnya.


"Dia terlihat keren," pujinya terpukau. "Apa dia atlet tim basket sekolah ini?" Tatapan datar Shion berkedip. "Kurumi-san tidak mengenalnya?"


"Kami sempat bertemu tadi di atap. Tapi aku belum tahu namanya," kata Kurumi masih tidak memalingkan pandangannya dari para lelaki berkeringat di lapangan basket itu.


"Ishikawa Rione," tandas Shion pendek. "Itu namanya."


***


"Jangan banyak mengeluh! Dasar maniak angka. Yang lebih penting kita fokus pada persoalan ini sekarang," sahut Risa. Buku tebal sudah bertumpuk di meja mereka untuk mengerjakan tugas kelompok di perpustakaan sekolah. Sebagai sekolah termewah, tidak heran jika memiliki ruang baca yang luas dengan dua lantai.


Sementara itu, berjinjit-jinjit kaki Kurumi untuk memanjangkan tangannya meraih buku di rak. Pada saat itu sebuah tangan lain mengambil buku yang sama. Kurumi terpengarah sembari berputar mengikuti buku itu yang telah berpindah tangan. "Ini untukmu," kata laki-laki asing. Senyuman setampan wajahnya terukir di bibir tipisnya. Sorot mata penuh kehangatan laki-laki itu -entah bagaimana- bisa membawa Kurumi pada anti gravitasi.


"Kau ingin mengambil buku ini, kan?" Barulah teguran dari lelaki itu menarik kesadaran Kurumi untuk kembali ke permukaan. Dia terhenyak. "Ah, ya. Ini buku yang ingin kuambil. Terimakasih."


Laki-laki itu tersenyum samar. "Kau masih tidak berubah, Kurumi," komentarnya pelan, akan tetapi masih bisa didengar Kurumi yang seketika saja mendongakan kepalanya, bertepatan saat laki-laki itu berjalan melewati bahunya. Lagi, kebingungan menghantui benak Kurumi. Bagaikan benang tersimpul tak beraturan, seperti itulah pikirannya ketika belum mendapat jawaban atas peristiwa sepanjang hari ini yang aneh.


Jika ini mimpi, maka bangunkan lah. Tapi jika ini kenyataan, maka berikan lah titik terang padaku!


***


Terangnya langit telah digantikan dengan lampu-lampu jalanan yang menyala di sepanjang jalan ketika ketiga remaja itu keluar dari kawasan sekolah lalu berpisah di gerbang setelah berjam-jam di perpustakaan untuk mengerjakan tugas. "Mata ashita!" Risa melambaikan tangan dengan ceria. Dia memisahkan diri dari Kurumi dan Kentaro karena berbeda arah pulang ke rumah.


"Daah!" sahut Kurumi melakukan hal serupa. "Apa rumahmu masih di lokasi yang dulu?" Menaiki bus yang kebetulan datang tak lama di halte. Kemudian duduk bersebelahan, dengan Kurumi didekat jendela. "Ya." Kentaro menjeda sejenak. Di detik itu Kurumi melihat dari jendela seseorang berlari dikejar segerombolan wanita sebelum berbelok ke tikungan lain. "Kau berhutang cerita padaku, Kurumi." Permintaan tegasnya membuat Kurumi berpaling menatap Kentaro dari samping. Terdiam sebentar. "Apa besok kau punya waktu?" katanya.


"Aku tak punya jadwal."


"Bagus! Temani aku ke Akibahara, ya!"


"Ada apa di sana?"


"Kaset game kesukaanku akan rilis!" Melihat semangat Kurumi, Ken hanya dapat menghela napas ringan.

__ADS_1


***


"Eh, bukannya itu aktor Rui?!" pekik suara seorang gadis. Tubuh Rui menegang seketika dibalik tudung jaket. Membeku di tengah langkah saat tengah jalan-jalan untuk melepas stress sebelum waktu istirahat pemotretan habis. Sampai lupa membawa masker untuk menutupi wajah agar tidak mudah dikenali. Tapi sepertinya sudah ketahuan.


Berpura-pura tidak mendengar dan berusaha berjalan senormal mungkin tanpa menoleh, bermaksud mengabaikan tudingan suara yang berasal dari arah belakangnya.


"Itu Rui! Aku melihatnya keluar dari studio D tadi!"


Namun kali ini dia sungguh kepergok habis ketika gadis lain muncul dari tikungan sambil menunjuk kepadanya. Sedetik kemudian lelaki itu mengambil seribu langkah cepat berbelok ke kiri. Sesekali menengok ke belakang, dan entah sejak kapan satu-dua orang itu tiba-tiba menjadi segerombolan gadis yang berlari mengejar Rui.


Melihat ada gang gelap dan sempit di antara himpitan dinding rumah, Rui meloloskan diriku ke tempat itu yang membawaku keluar ke jalan besar. Diedarkan pandangan dengan waspada, sampai tidak dia temukan tanda-tanda keberadaan mereka, barulah Rui melangkah keluar.


"Hah..." desah Rui menghempaskan tubuhnya ke kursi lobi gedung D. Dia telah kembali ke tempat pemotretannya dengan selamat.


***


"Uwah! Katsudon!" pekik Kurumi. Matanya berbinar-binar seperti ada bintang di dalam irisnya ketika mendapati semangkuk katsudon kesukaan di meja makan. Kepulan asapnya menandakan makanan itu baru matang.


"Apa kecintaanmu terhadap katsudon tidak bisa berubah?" tanya ayah yang sudah duduk di kursi makan untuk makan malam.


"Aku sudah lama tidak makan katsudon, ayah..." rengekku, dan itu benar. Bahkan terakhir kali Kurumi memakannya adalah tiga bulan yang lalu saat masih di rumah sakit. "Apa menu makan malam ini katsudon?" Kurumi bertanya ketika ibu membawa satu mangkuk serupa dari dapur. "Bagaimana hari pertama sekolahmu?" kata ibu.


"Banyak hal yang terjadi. Tapi semua baik-baik saja."


"Makan yang banyak agar kau gemuk, adikku." Kurumi merasakan sentuhan sebuah telapak tangan besar di kepala saat Ryu mengatakannya. Kemudian dia menarik kursi di sebelah dan terduduk di sana. Dia sosok kakak yang begitu perhatian, Kurumi bersyukur memiliki keluarga harmonis. Walaupun dapat berkumpul makan malam seperti ini saja sebenarnya terbilang jarang.


"Bagaimana pekerjaanmu, Ryu?" tanya ayah. Selain kakak sibuk bekerja, ibu juga merupakan wanita karir yang membantu pekerjaan ayah. Sehingga hampir setiap hari Kurumi selalu sendirian di rumah. Tapi pengecualian untuk hari ini.


"Ada sedikit masalah. Aku berencana akan pergi ke Jerman, lusa siang," kata Ryu, dan Kurumi seketika menyambung. "Kenapa mendadak sekali, kak?"


"Masalahnya juga datang secara mendadak, Kurumi."


Ryu adalah penerus bisnis keluarga mereka. Seringkali dia bepergian ke luar kota hingga luar negeri untuk mengurus perusahaan cabang.


***


Mengetahui kalau kakak akan segera terbang ke daratan Eropa, Kurumi merasa harus memanfaatkan malam ini untuk menghabiskan waktu bersama pria itu. Mengetuk daun pintu dua kali lalu pintu dibuka dari dalam tidak lama kemudian. Perawakan bidang Ryu terpampang di depan mata. Kacamata yang bertengger di hidungnya, dipercaya bahwa pria itu sedang berkutat dengan keyboard laptop.


"Bolehkah aku tidur bersamamu malam ini?" tanya Kurumi menengadah kepala. "Masuklah," kata Ryu seraya membuka lebih lebar pintu kamarnya.


Kurumi merangkak di kasur dan menarik selimut untuk menutupi setengah tubuhnya. Tapi Ryu memilih duduk dan meneruskan pekerjaan di layar laptop.


"Onii ini waktunya istirahat. Tidur lah, aku tidak mau kau sakit."


"Sebentar lagi..."


Kurumi mengerang manja. "Ini permintaan adikmu."


"Ku-chan, kau membuatku tidak bisa menolak." Terlihat Ryu menutup laptopnya, melepas kacamata lalu beranjak menghampiri sang adik. Masuk ke dalam selimut yang sama, kemudian memeluk gadis itu seperti mendekap guling.


"Apa kau sudah meminum obatmu?" Suaranya terdengar berat di sisi telinga Kurumi. "Kau bisa pulih. Percaya lah," kata Ryu sebelum mengecup kepala si bungsu. "Sudah onii. Kau tak perlu khawatir, kita tidur," lirih Kurumi setengah mengantuk di depan dada Ryu yang tertutupi kaos abu-abu.


***

__ADS_1


__ADS_2