![Memory Lane [Sudah Dibukukan]](https://asset.asean.biz.id/memory-lane--sudah-dibukukan-.webp)
"Ku-chan, ada temanmu di depan," kata ibu. Dia terlihat dari cermin rias, muncul di pintu kamar yang terbuka lebar saat anak gadisnya sedang mengikat rambut. "Iya aku segera turun," sahut Kurumi.
Setelah kupastikan penampilannya yang sederhana: hanya sweater putih dipadu rok hitam motif kotak-kotak. Segera Kurumi menyambar tas selempang yang sudah disiapkan dengan dompet dan ponsel di dalamnya. Lalu menuruni anak tangga dengan cepat.
"Ittekimasu!" serunya berlalu keluar rumah. Samar-samar suara ibu menyahut. Tampak sosok pemuda tinggi menunggu di seberang pagar rumah. "Tak kusangka kau ke rumahku. Maaf semalam aku seenaknya saja memutuskan tanpa tahu dimana kita akan bertemu, ditambah kita tidak memiliki nomor atau alamat email apapun untuk menghubungi," ringis Kurumi menyadari betapa gegabahnya dia.
"Ya, itu memang dirimu," kata Ken datar. "Berikan ponselmu," pinta laki-laki itu sambil menadahkan tangannya. Lantas Kurumi mengorek tas, dan memberikan ponsel pada lelaki setinggi 180an yang berjalan bersisian dengannya ini.
"Itu nomor dan emailku." Kurumi menerima kembali ponselnya berikut nama kontak Miura Kentaro terpampang di layar. "Terimakasih," ucap Kurumi.
Tak terasa setelah berjalan sepuluh menitan menuju stasiun dan naik kereta selama lima belas menit berdesakan, sampai hidung mungil Kurumi harus membentur dada bidang Ken, akhirnya mereka sudah memasuki kota pusat elektronik, Akibahara.
Toko game yang mereka datangi terlihat memiliki antrean lumayan. Hari ini adalah peluncuran kaset game terbaru yang sudah ditunggu-tunggu para penggemarnya, termasuk gadis itu dan Ken.
"Apa menurutmu kita akan kebagian?" tanya Kurumi seraya menoleh ke belakang. Setahunya, lelaki sundere itu ikut mengantre, tapi kenapa sekarang menghilang? "Pergi kemana dia?" gumamnya sembari melempar pandangan ke sekeliling dalam toko. Sekelebat tatapan Kurumi menangkap perawakan Kentaro melintas dari balik rak. Kurumi mendesah lega.
Tiga puluh menit kemudian, akhirnya Kurumi berhasil mendapatkan kaset game kesukaan. Dia menghampiri Ken yang berdiri di dekat pintu toko dengan paper bag di tangan. "Aku pikir kau hilang kemana. Apa yang kau beli? Action figure?" Kurumi melongokan kepalanya agar bisa melihat ke dalam isi bingkisan milik lelaki itu.
"Stoknya terbatas jadi aku memilih membelinya dan membatalkan niatku untuk kaset game," kata Kentaro. "Ikou," ajaknya. Kurumi pun mengikuti langkah Ken di tengah lautan manusia. Dia tertawa membicarakan hal-hal kecil sampai menyerempet ke masa lalu.
"Are? Ken? Kurumi?" Panggilan bernada tanya yang terdengar, seketika saja langkah pemilik nama tersebut terhenti reflek. Tak jauh di depan mereka, seorang pria bermantel cokelat tampak duduk berpangku kaki di atas pembatas pagar trotoar, telapak tangan kirinya terbuka menyapa mereka diiringi seringaian khas.
"Rui," desis Ken kelihatan sebal. "Ahaha! Wajahmu selalu tak bersahabat. Sesekali tersenyumlah sepertiku." Rui tertawa renyah. "Ah! Kalian berdua... sedang kencan?" tebakannya yang asal membuat mereka berdua tersentak. Ken dengan elegan menaikan tungkai kacamatanya. "Chigau, kami hanya membeli kaset game bersama," sangkal Ken.
***
"Kenapa kau terus menyengir seperti kuda?" Sindiran Kentaro ditujukan pada Rui yang duduk di seberang meja tempat mereka makan siang di kafe terdekat.
"Heee? memangnya tidak boleh?" balas Rui santai kemudian memasukan kentang gorengnya. "Aku sedang ada photoshoot di sekitar sini dan ini waktunya istirahat siang. Ah ngomong-ngomong Kurumi, aku tak menyangka akan bertemu denganmu lagi. Kau sekolah di Oukirin kan?" tanyanya beralih pada gadis di samping Ken. Segera Kurumi menjauhkan sedotan jus dari bibir kemudian membalas, "benar. Tunggu, darimana kau mengetahui namaku? Dan kau siapa?"
Hening sejenak. Kelopak Rui berkedip sekali sedangkan benaknya tertegun. Seolah pertanyaan Kurumi ini terbilang aneh bagaikan mendengar kura-kura bisa berlari. Hal yang sama pun dirasakan Kentaro, tapi dia menggunakan kesempatan ini untuk menagih janjinya sewaktu di bus semalam.
"Kurumi, aku menunggumu bercerita tentang kepergianmu yang tanpa mengabari kami selama dua tahun ini. Bahkan keluargamu seakan menyembunyikan sesuatu dariku." Tuntutan yang diungkapkan Kentaro membuat Kurumi membisu beberapa detik. Sejak kemarin dia dibuat bingung oleh orang-orang asing yang sama sekali tidak ada dalam ingatan otaknya, tetapi mereka seolah mengenal dirinya dengan baik.
"Dengar, aku sungguh tidak paham. Tapi perlu kau ketahui, jika tiga bulan lalu, tepat sebelum aku kembali ke Jepang, aku mengalami kecelakaan sehingga mengakibatkan cedera pada kepalaku. Aku divonis amnesia ringan oleh dokter."
Belum ada yang ambil suara setelah mendengar penuturan Kurumi, membela diri dengan kuat. Lalu tangan kanan Kentaro di atas meja bergerak mendorong bingkai kacamatanya dengan gaya elegan. Ekspresinya sudah seperti seorang detektif yang mendapat informasi menarik atas kasusnya. Dia menyeringai.
__ADS_1
"Mereka yang telah bertemu denganmu di sekolah, pasti lah merasa bingung. Benar begitu?" Kentaro menyimpulkan rangkuman pemikirannya. "Kurasa begitu," sahut Kurumi.
"Sudah bertemu siapa saja di sekolah?" Rui menambahkan pertanyaan. "Seseorang bernama Rione dan Shion," jawab Kurumi jujur.
"Eeeh? Kau tidak ingat kami semua? Kenapa hanya Ken yang tertinggal di dalam memorimu? Ini tidak adil!" protes Rui. Wajahnya memelas nyaris dibuat menangis. Sementara Kurumi yang melihat reaksi kekanakan lelaki bermata hazel cemerlang di hadapannya merasa kikuk untuk menanggapi.
"Aku pun tidak tahu." Digaruknya pipi menggunakan telunjuk sambil meringis. "Begini saja, kita beritahu mereka tentang hal ini." Kentaro menengahi. "Dan kita mulai semuanya dari awal. Aku yakin Ren juga akan mengatakan demikian."
"Kalau begitu perkenalkan, namaku adalah Hanamiya Rui. Seorang model sekaligus aktor tampan dari sekolah Oukirin." Diangkatnya lembut tangan Kurumi di depan wajah khas blesterannya, siku lelaki itu menekan permukaan meja. "Kita sudah berteman dekat semenjak di taman kanak-kanak," ucapnya lalu mengecup punggung tangan Kurumi mesra. Dia jadi terlihat bak lelaki penggoda sekarang. Sikap yang menurut Kentaro lebay dan menjijikan, membuatnya harus mendengus muak. Lantas menarik cepat tangan Kurumi dari genggaman Rui. "Hentikan!" ucap Ken sedikit tegas. "Kurumi tidak boleh disentuh-sentuh seperti itu!"
Rui terhenyak mendapat sikap protektif yang ditunjukan lelaki berotak angka tersebut. "Hee? Aku seperti ini hanya kepada Ku-chan saja kok! Karena dia princess kita, bukan?" Garis bibir Rui mengulas senyum manis hingga matanya nyaris menghilang.
Tunggu sebentar. Jika laki-laki itu bernama Rui, menjadi aktor dan bersekolah di Oukirin, bukankah tidak menutup kemungkinan kalau 'Rui' yang pernah dibicarakan Risa di atap sekolah adalah orang di hadapannya ini? Oh tidak Kurumi... Kau sudah berjanji pada dirimu sendiri untuk tidak berhubungan dengan lelaki sejenis ini! racau benaknya ribut.
Sangkalan lain juga timbul dan terus mensugestikan pikirannya bahwa, pastilah ada nama Rui lain di sekolah selain lelaki itu. Singkatnya, Kurumi hanya dapat berharap Rui di depannya ini bukan cowok yang dimaksud Risa.
***
Lorong koridor yang tadinya tampak lengang, mendadak ramai dengan suara gemuruh para siswi. "Itu Rui!!!!" Teriakan seorang gadis dari luar kelas bagaikan lengkingan peluit wasit sampai terdengar ke telinga Kurumi yang belum lama mendudukan diri di kursinya.
"Hay, kita bertemu lagi," sapanya. Entah ini mimpi buruk atau bukan, yang jelas Kurumi bangkit dengan terpengarah melihat fakta yang tak ingin dibayangkan ini.
"Kau sekelas denganku?" Berdiri berhadapan tanpa mengetahui sorot aneh yang terpancar dari gadis-gadis di belakang Rui. "Apa kau berharap kita sekelas?" Balasan Rui cukup menyebalkan bagi Kurumi. "Hey, wajahmu jangan serius begitu... aku hanya bercanda." Ucapannya disambung dengan senyuman lima jarinya. "Kelasku ada di sebelah. Aku sekelas dengan Ren dan Shion. Sedangkan Rione dan Jiro ada di kelas C." Lelaki dengan kedua tangan di saku celana itu menginfokan.
" Ren, Jiro... aku belum pernah bertemu dengan mereka." Sambil menatap kaki meja dengan hampa, suara Kurumi bergumam rendah. Diam-diam kedua sudut bibir Rui tertarik tipis. "Sebentar lagi kau akan bertemu dengan mereka." Saat itu Kurumi dapat merasakan sentuhan sebuah telapak tangan besar di atas kepalanya. Rui mengusapnya singkat. "Aku pergi dulu," pamitnya. Dia melenggang meninggalkan kelas dengan santai. Tanpa tahu telah kepergiannya turut membawa oksigen bagi para siswi yang menyaksikan setiap momen mereka berdua di depan kelas. Sesak dada dan keirian menjadi satu. Kini, pertanyaan serupa pun tercipta di benak masing-masing. Siapa, dan ada hubungan apa mereka berdua?
***
Ramai. Bahkan sapuan pandangan Kurumi hampir tidak menemukan meja kosong di antara para murid di kantin ini. Dia mematung sambil membawa nampan berisi makanan setelah mengantre lumayan panjang. Sampai kemudian lambaian tangan seseorang menarik atensi Kurumi. Terlihat wajah semringah Risa seolah mengajaknya untuk mendekat.
Sejenak Kurumi menatap bingung ke sekitar, barangkali bukan dirinya yang dipanggil ke sana. Tapi Risa mengangguk ketika Kurumi menunjuk dirinya sendiri. Segera saja dia menarik langkah menghampiri meja gadis itu dan kelihatan sudah diisi bersama dua siswi lain, yang belum dikenalnya. "Sini, duduk di sini!" ucap Risa. Kurumi duduk di kursi sebelah Risa.
"Perkenalkan mereka ini teman-temanku," katanya. Ditatapnya mereka di hadapannya. "Aku Shinoya." Dia menyapa ramah. "Aku Naomi. Kita bertiga sekelas, Kurumi-san," jelas Naomi disertai senyuman menyenangkan. "Apa minggu depan kau mau ikut karaoke? Kami kekurangan seorang lagi."
"Kurasa itu tidak buruk. Aku akan ikut."
"Rencananya, Rui juga ikut serta loh~" tambah Shinoya.
__ADS_1
***
Menjulurkan tangan, butiran air seketika jatuh membasahinya. Gerimis bervolume sedang membuat Kurumi tertahan lebih lama di sekolah karena tidak membawa payung. Sementara hari sudah malam. Tapi ini bukan hujan, pikirnya. Jika pun dia berjalan menuju halte, bajunya tidak akan sebasah seperti habis mandi. Cukup menggunakan tas sebagai ganti payung. Maka pilihan untuk menerobos jaring-jaring air yang berjatuhan dari langit adalah niatnya.
Namun baru beberapa langkah meninggalkan lobi sekolah, Kurumi tidak merasakan gerimis lagi di kepala yang dilindungi tas. Justru dia melihat langkah sepatu yang berjalan seirama di sampingnya.
Dengan perlahan Kurumi menolehkan kepala, dan rahang tegas seorang laki-laki menjadi objek netranya. Tangan kanan lelaki itu memegang payung sehingga mereka berada di bawah payung yang sama. Tapi, siapa? Itu lah pertanyaan yang tergambar pada ekspresi polos Kurumi begitu menatap sosok pria yang terlihat dari samping wajahnya.
"Kau mudah sakit bila kehujanan," kata pemuda itu entah kepada siapa. Karena dia mengatakannya dengan wajah tetap lurus ke depan.
Tidak, dia merasa pernah melihat lelaki itu sebelumnya. Kalau tidak salah, adalah di perpustakaan. Diam-diam perasaannya berubah waspada.
"Masuk," perintahnya. Pintu mobil itu telah dibuka oleh supir yang berdiri di dekatnya. Mobil yang sudah menunggu di depan gerbang sekolah.
"Terimakasih untuk payungnya. Aku tidak akan pergi dengan orang asing," tegas Kurumi. Lalu memutar tumit berniat ke halte. Namun cekalan di pergelangan tangan berhasil menghentikan langkahnya. "Aku tidak suka dibantah. Dan kita bukan orang asing jika kau tidak amnesia, Shimizu Kurumi," tekan lelaki itu yang seketika membuat Kurumi terdiam sesaat. Dan dia membiarkan dirinya dibawa masuk ke dalam mobil. Sementara pemuda itu memberikan payungnya pada si supir lalu menyelinap duduk di samping Kurumi.
"Kau ingin membawaku kemana?" Mobil melaju halus menembus jalanan basah kota metropolitan Tokyo.
"Tentu saja ke rumah," tukasnya.
***
Mendapati rumah dalam keadaan sepi memang bukan hal aneh lagi. Pukul tujuh malam begini kedua orangtua masih mengurus pekerjaan mereka sedangkan kakak sulungnya jelas telah meninggalkan negara ini tanpa sempat Kurumi berpamitan karena harus pergi ke sekolah.
Dijatuhkannya tubuh ke ranjang tipe singlenya yang empuk. Kedua kaki menjuntai ke lantai dan tangan direntangkan. Langit-langit kamar menjadi pandangan matanya. Pikirannya terkenang kembali tentang peristiwa beberapa menit lalu bagaimana dirinya bisa tiba di rumah dengan membawa sejuta tanya di kepala.
"Kau.... tahu rumahku?" Segunung kepingan tanya diajukan satu pada lelaki di samping saat mobil berhenti tepat di pintu pagar rumah, padahal Kurumi belum pernah mengatakan alamatnya.
"Sudah kubilang, kita sudah mengenal satu sama lain dengan baik." Ucapan Ren justru menambah rantai pertanyaan di otak Kurumi dan ia menatap lelaki itu tercengang. "Kau... siapa?" Garis bibir sang pemuda mengulas senyum tipis, lalu memalingkan kepala elegan, dari tempatnya duduk Kurumi dapat melihat ada kilatan mata tak tertebak di dalam permata teduh di hadapannya. Sejenak Kurumi menahan napas.
"Sudah jelas bukan? Aku Mikazuki Ren yang kau kenal sejak kecil."
"Mikazuki Ren.... mengapa ada begitu banyak teman kecilku yang begitu misterius?" gumamnya frustasi. "Tunggu, kalau begitu, foto itu... adalah mereka?" Seketika ia bangkit, berdiri mengamati bingkai foto yang terpajang di dinding kasur. Terdapat enam orang laki-laki berpakaian yukata bersama dirinya di antara mereka, letupan kembang api tampak di belakang. Indah. Foto itu sudah ada sejak Kurumi kembali ke rumah ini setelah dua tahun di Amerika.
Dering ponsel dari meja belajar terdengar mengisi ruang kamarnya yang sunyi saat dia menekuni foto lamat-lamat.
***
__ADS_1