![Memory Lane [Sudah Dibukukan]](https://asset.asean.biz.id/memory-lane--sudah-dibukukan-.webp)
***
"Kuuu-chan! Aitakatta~!" Hendak saja pria setengah baya itu menghambur ke pelukan Kurumi seandainya tidak ada seorang pemuda yang cepat merentangkan sebelah lengannya untuk menahan di depan tubuh. "Dia pasti ingin mengambil pesanan kuenya," kata lelaki asing itu kemudian mendesah kesal akan tingkah ayahnya yang tak tahu malu di depan para karyawan toko.
"Kalau begitu ambilkan di belakang, Jiro." Pemuda bernama Jiro itu berbalik dan menghilang dibalik ruangan lain. Beberapa menit lalu Kurumi mendapat telepon dari ibunya untuk mengambil pesanan bolu di toko kue ujung jalan.
"Kurumi, bagaimana kabarmu? Yaa sudah lama sekali kau tidak berkunjung ke toko kami." Kurumi masih ingat dengan pria tua ini. Paman yang ramah dan ceria. "Aku baik, ji-san. Apa paman dan keluarga sehat-sehat saja?"
"Mochiron! Jiro sebenarnya sangat menantikan kehadiranmu lho. Kau pergi tidak memberitahu dia."
Kurumi meringis canggung, tidak tahu harus berkata apa mengenai topik ini. "Maaf," cicitnya. Tuan Hiroyuki tergelak. "Haha! Daijoubu, daijoubu. Kau pasti punya alasan."
Melihat Jiro keluar dari ruangan lain, ketika itu Kurumi seolah melihat gambaran nyaris serupa. Sekelebat saja, namun Kurumi sudah dapat mengetahuinya. "Hiroyuki Jiro," sebutnya dan Jiro tertegun sekilas. "Sudah lama kita tidak bertemu, bukan?" lanjut Kurumi mengulas senyum simpul.
***
Sesuai yang direncanakan minggu lalu, kini Kurumi dan beberapa anak lain telah berada di ruang karaoke. Dua di antaranya adalah lelaki bernama Yoshio dan Kiga. Nyanyian mereka kelihatan heboh, sampai tidak memedulikan seberapa falsnya suara mereka.
Sementara itu Rui terlihat duduk mengobrol dengan Naomi. Menurut yang dia dengar dari Risa, kalau Naomi merupakan satu di antara ratusan penggemar yang paling dekat dengan Rui. Bahkan mereka digosipkan berpacaran. Terlepas dari kabar burung itu, nyatanya Naomi pernah ditolak Rui.
Dua jam kemudian mereka keluar dan berpisah di depan gedung karaoke. "Kurumi, matte!" teriak Rui dan Kurumi berbalik. Dia berlari menghampirinya yang belum pergi jauh. "Ada apa, Rui-san?"
"Kita pulang bersama." Rui menyengir polos. "Apa rumahmu di daerah ini?" Kurumi bertanya sambil mereka berjalan beriringan. Tetapi Rui tidak merasa heran mendengar pertanyaannya. Ingat? Gadis itu amnesia. "Tidak, aku tinggal di Urayasu."
Ketika itu Kurumi menyadari dua wanita sedang berbisik seraya mengarahkan tatapan kepada mereka. Kurumi bisa mendengarnya walau agak samar saat mereka berlalu. "Bukankah itu si model Rui? Apa itu pacarnya?"
Kurumi menunduk, melihat jalanan yang masih nampak lembab. "Nee, Kurumi. Tahu tidak kalau aku sangat merindukanmu?" Lagi, gaya bicara Rui yang blak-blakan membuat Kurumi terhenyak mendadak. "Kau mempermainkanku? Memang dulu kita sedekat apa?"
Tampak Rui menatap langit malam, berpikir. "Mm, kita pernah mandi bareng." Perkataan Rui sentak saja membuat Kurumi tersedak saliva sendiri.
"Jangan membual! Kau pasti selalu menggoda semua gadis seperti itu!" Memerah pipi Kurumi. "Tidak kok. Aku hanya menyukai Kurumi seorang saja," balas Rui begitu ringan. Pada saat yang sama Kurumi menunduk dan poninya menjuntai menghalau pandangan, sedangkan tangan kanannya terangkat ke wajah.
"Eh? Ku-chan menangis?"
Kepala Kurumi bergerak menggeleng. "Mataku kelilipan. Aduh!"
"Jangan dikucek pakai tangan. Sini kubantu meniupnya." Rui menahan tangan Kurumi, sebelah tangannya yang lain menarik rahang gadis itu agar mendongak. Perlahan namun pasti wajah si aktor muda itu mendekat. Kurumi mengerjap beberapa kali. "Terimakasih," ucapnya.
***
Membuka loker sepatu, seketika buntalan kertas dan sampah berjatuhan dari dalamnya. Saat mengambil sepatu khusus di dalam ruangan, nasib tidak baik menyapa Kurumi pagi ini ketika tahu alas kaki berwarna putih tersebut sudah dicoreti garis abstrak spidol warna-warni.
"Jangan dekati pangeran kami!" Begitulah tulisan yang tertera di buntalan kertas.
Kurumi bingung. Mengapa ada yang merisakinya? Apa dia telah melakukan kesalahan kepada seseorang? Ketika itu Rione tampak baru datang dan membuka loker miliknya, kemudian memutari Kurumi yang masih terbengong menunduk.
"Pakai lah punyaku." Kesadaran Kurumi kembali ke permukaan ketika sepasang sepatu sewarna dilemparkan ke bawah kakinya. Lalu dia mengangkat wajah, lelaki yang pernah menolongnya di atap kini berada menjulang di hadapan.
Melihat tidak ada respon, tanpa diduga, Rione mengangkat ringan tubuh Kurumi untuk berdiri menginjak sepatunya. Lantas Rione berjongkok dan berkata, "angkat kakimu." Dengan telaten pemuda itu memasukan kaki berbalut kaus kaki putih Kurumi ke dalam sepatunya. Rione terdiam sebentar mengamati. "Wah, sepatunya kebesaran," komentarnya kemudian.
***
Minggu nanti adalah hari ulang tahunku. Maukah kau merayakannya bersamaku? -cowok tampan Rui.
Kurumi membaca sembunyi-sembunyi pesan masuk di tengah-tengah penjelasan guru. Segera dia mengerikan sesuatu: darimana kau dapatkan nomorku? Lalu mendial ikon kirim.
__ADS_1
Baru saja pesan terkirim sedetik lalu, ponselnya kembali bergetar dan melampirkan kalimat balasan: kau tidak perlu tahu. Disertai emotikon menjulurkan lidah. Helaan napas lolos dari mulut Kurumi. Tidak berniat berbalas lagi, dia menyimpan benda elektronik tersebut ke laci meja saat ketua kelas membagikan kertas ujian ke setiap meja.
Ujian harian selesai dilaksanakan minggu lalu. Dan hari ini adalah penyerahan hasil ujian. Begitu dia menerima kertas miliknya, Kurumi langsung menutup kertas itu di atas meja.
Waktu berlalu normal, mendengarkan nasihat-nasihat guru mengenai hasil ujian mereka. Pembahasan ulang dan pelajaran terus bergulir hingga bel istirahat terdengar.
Kemunculan seseorang dari arah lain menyentak keduanya saat Kurumi keluar dari kelas dan mereka nyaris bertabrakan. "Maaf," bisik Kurumi tertunduk lesu. "Apa kau sedang punya masalah dengan nilai ujianmu?" Kurumi mendongak mendengar suara pertanyaan seorang laki-laki. Seketika kelopak matanya terkuak samar mengenali wajah ramah Ren kembali menyapa pandangannya lagi. "Ren..." lirihnya berbisik.
"Kau bisa melihatnya sendiri." Kurumi berpaling menunduk. Rambut di sisi wajah menyembunyikan roman malu saat tangan kanannya yang membawa kertas ujian ditunjukan.
"Aku bisa mengajarimu." Perkataan Ren kembali mengangkat wajah Kurumi untuk menatapnya tidak percaya. "Sungguh mau mengajariku?" tanya Kurumi memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.
"Malam, aku akan ke rumahmu." Ditepuknya pucuk kepala gadis itu ketika Ren menarik langkah melewatinya, melanjutkan perjalanannya di koridor. Sedangkan Kurumi yang mendapat perlakuan seperti itu hanya terdiam sambil menatap kosong lembar kertas ujian yang sudah berpindah ke tangannya lagi.
***
"Dalam beberapa minggu lagi ujian akhir. Risa, berapa nilai sejarah Jepangmu tadi?" Dimasukkannya roti ke dalam mulut. "86." Risa menjawab pendek sambil membalik halaman komik. Mereka kini duduk berhadapan di kursi kayu yang tersambung dengan meja sebuah taman sekolah.
"Ohiya, ngomong-ngomong soal peringkat, masih ingat tidak enam cowok terganteng yang pernah kuceritakan waktu lalu?"
Mengangguk. "Iya. Siapa saja mereka?"
"Mereka ini tidak hanya tampan tapi juga cerdas dan selalu masuk peringkat umum setiap kali ujian! Seolah tak ada yang bisa menggeser nama mereka dari lima besar." Ungkapan penuh semangat. "Tahun lalu peringkat keenam didapat oleh Rione pada pertengahan semester. Tetapi tahun ini Jiro yang tadinya setingkat di atasnya, sekarang bergulir menggantikan posisi Rione. Peringkat empat dipegang oleh Shion, dia terkenal pintar di pelajaran sejarah Jepang dengan nilai paling tinggi. Rui diposisi ketiga namun juga dia dan Shion sering bertukar tempat. Kau bisa menebak sisanya bukan?" Kurumi yang masih diam mendengarkan pun menggeleng. "Aku belum ada setengah tahun di sekolah ini. Malah empat bulan lagi kita akan naik kelas tiga. Jadi, siapa kedua orang selanjutnya?"
Lantas Risa meneruskan, "aku tidak yakin kau akan terkejut atau tidak. Tapi sahabatmu yang kaku itu selalu menempati posisi kedua dari seribu murid di sekolah ini, dan si tuan muda Mikazuki tak pernah lengser dari angka satu sejak tahun lalu. Semua nilainya tidak sekali pun di bawah seratus. Itu bukan rahasia umum lagi."
Terbengong Kurumi. Tidak di sangka-sangka jika dia berteman akrab dengan orang semacam mereka. "Aku tak bisa berkata apapun," bisiknya lirih.
Risa baru keluar dari bilik toilet dan mencuci tangannya di bawah kran wastafel. "Kau akrab sekali dengan anak baru itu, ya?" Sebelum berlalu dari cermin besar itu tatapan sinis Naomi ditujukan pada gadis di samping mereka yang tak lain Risa.
"Apa perlu kita memusuhinya juga?" Shinoya bertanya ketika mereka berjalan di koridor tidak ramai. "Semua gadis yang dekat dengan Rui akan menjadi musuh penggemarnya." Keangkuhan tercipta di wajah tirus Naomi.
***
"Ah, Ken, kita mampir dulu di Hot Burger yuk! Aku lapar dan malas memasak. Aku yakin jam segini ibu belum pulang."
"Terserah kau saja."
Restoran cepat saji itu terletak searah dengan jalan pulang, serta tidak jauh dari halte tempat mereka turun. Siluet warna jingga telah melukis nabastala di atas kepala mereka saat keluar restoran sambil menenteng bingkisan makanan di tangan masing-masing.
"Nee, Ken. Bagaimana menurutmu si Ren itu?" Tiba-tiba Kurumi bertanya. "Kau berteman dekat dengannya kan?" Lelaki itu terlihat terhenyak ketika Kurumi menengadahkan kepala untuk menatapnya. Apa barusan dia tengah memperhatikanku? pikir Kurumi. Ya, tanpa ia duga tatapannya tertangkap basah.
"Apa kau tengah memiliki masalah?" Kentaro tidak berniat menjawab. Melainkan lempar pertanyaan. Sejenak Kurumi terdiam. "Ren mengetahui nilai ujianku dan besok dia akan datang ke rumahku untuk mengajariku matematika."
"Kenapa kau tidak minta bantuanku? Rumah Ren lumayan jauh."
Kurumi terkesiap. "Benarkah? Aku tidak tahu itu. Lantas aku harus bagaimana?"
"Sebaiknya kau tidak berurusan dengannya." Itu bukan jawaban yang ia inginkan. Malah membuat dahi Kurumi mengerut penuh tanya. "Apa maksudmu? Dia berbahaya kah?"
"Apa kau tertarik mengetahui sesuatu tentang Ren?" Pertanyaannya seketika membuat Kurumi tertegun diam. "Oh? Ah tidak, ini bukan sesuatu yang penting kok." Tersenyum wajahnya, diperhatikan manik Kentaro yang tak bicara banyak.
***
Bunyi telepon dari ponsel di nakas cukup membangunkan tidur lelap Kurumi. Dia menggapai benda persegi panjang miliknya kemudian ditempelkan ke daun telinga dengan mata masih tertutup.
__ADS_1
"Moshi-moshi."
"Kuuu-chan!!!! Apa kau sudah bersiap? Aku akan menjemputmu sekarang," sembur riang suara di seberang sambungan. Di lain tempat, terlihat Rui tengah berjalan santai sambil memegang ponsel di telinganya. Kemudian tangan sebelahnya yang bebas, mengayun terangkat. "Sepuluh menit lagi aku akan sampai," tandasnya melihat jam dipergelangan tangan.
"Eeeh??!!! Ta-ta-tapi aku--baru bangun. Baiklah." Sontak saja Kurumi bergegas terburu-buru menyingkap selimut dan berlari ke kamar mandi.
Yang Kurumi tahu dengan jelas adalah bahwa Rui merupakan seorang artis muda yang belum terlalu lama berada di dunia entertainment. Singkatnya artis pendatang baru. Tetapi bakat dan fisik mungkin telah membuatnya dikenal sebagian orang khususnya gadis remaja, dimana kini mereka membuat kerumunan di depan rumahnya. Tidak banyak, terhitung lima gadis mengelu-elukan Rui.
Awalnya dia merasa bingung dengan keramaian ini, namun tak ada semut bila tak ada gula. Begitu lah Kurumi menerjemahkan pemandangan siang ini. Dia masih terdiam menunggu di pagar sampai Rui di tengah kepungan itu menyadari eksistensinya.
Pada saat yang sama kelopaknya mengerjap ketika menangkap salah seorang gadis di antara mereka. Naomi dan Shinoya. Mereka kompak mengenakan rok sepaha dan baju model bahu terbuka. Sepatu boots sebetis menutupi kakinya. Ah, Kurumi baru ingat kalau mereka penggemar Rui.
"Kalian, sudah ya. Aku mau pergi bersama temanku." Ucapan Rui membawa tatapan kelima gadis genit itu menengok ke belakang yang seketika membekukan tubuh Kurumi. Tak hanya menjadi pusat atensi mereka yang membuat ia terkesiap canggung, namun juga sorot mata tajam yang menatapinya sinis dibalik riasan cantik wajah mereka.
"Baiklah kami pergi," kata salah satu dari mereka kemudian membubarkan diri. Sementara itu Rui mendekat dan melepaskan tas gadis itu dari bahunya. "Ayo kita pergi." Tanpa banyak bicara, Kurumi hanya mengikuti langkah Rui dan membiarkannya membawakan tas miliknya.
"Aku tidak tahu kalau hari ini hari ulang tahunmu. Dan aku belum menyiapkan apa-apa untukmu."
"Kau tidak perlu repot-repot memberiku kado. Dapat berjalan berdua denganmu sudah cukup bagiku."
"Tapi bagaimana dengan para penggemarmu itu? Mereka pasti berpikiran yang tidak-tidak mengenaiku."
"Mereka sudah sering bersamaku. Jangan khawatir, mereka takan mengganggumu selama aku menjelaskan bahwa kau teman baikku."
Setelah berjalan beberapa menit, kini Kurumi tahu tujuannya saat Rui berbaris mengantre di depan loket pembelian tiket sedangkan dirinya diminta untuk menunggu saja. Terlihat antriannya lebih panjang dari pada hari biasa. Wajar, hari ini akhir pekan. Keramaian pengunjung gedung pusat perbelanjaan meningkat dua kali lipat.
"Ini, kubelikan untukmu," kata Rui sambil menyodorkan sekaleng minuman dingin. "Terimakasih. Harganya berapa?" Kurumi menerima lalu tertunduk memasukan tangannya ke dalam tas yang telah terselempang di depan tubuh untuk mencari dompet. "Tidak usah. Aku mentraktirmu selama seharian ini," kata Rui menghentikan gerakan tangan Kurumi yang hendak mengeluarkan dompet, lalu dia mendongak. "Kau serius?" tanyanya memastikan.
"Simpan saja uangmu. Ayo kita masuk ke dalam." Rui mendahului. Seperkian detik mematung terbengong memandang punggung bidang lelaki itu, Kurumi segera memasukan kembali dompetnya dan menutup tasnya. Menyusul langkah Rui sampai mereka masuk ke ruang gelap dan duduk di kursi bioskop.
Dua jam kemudian mereka sudah ada di kafe untuk makan siang. Mengobrolkan film yang baru saja mereka tonton. Lalu jalan-jalan ke kebun binatang hingga lupa waktu, bahkan matahari sudah tenggelam di ufuk barat ketika mereka dalam perjalanan pulang.
"Terimakasih sudah menemaniku sepanjang hari ini, Ku-chan! Mata ne!" Lambaikan tangan dan mereka berpisah. Kurumi berbalik masuk ke dalam rumah.
"Bagus, ya. Kau orang pertama yang telah membuatku menunggu sedemikian lama."
Suara berat menyambut kedatangan Kurumi ketika baru saja menutup pintu rumahnya. Kurumi yang tertegun pun meluruskan pandangan ke sumber suara. Sesosok lelaki tampak bersandar pada dinding, kedua tangannya bersidekap.
"Ren..." bisik Kurumi terpengarah.
Ren, si ketua OSIS itu benar-benar datang ke rumahnya bahkan tanpa menghubunginya terlebih dahulu. Lagipula, sejak kapan dia ada di rumahnya? Dan bagaimana bisa masuk ke dalam rumah? Apa saja yang dia obrolkan dengan ibunya? Sayangnya Kurumi tidak dapat melontarkan semua pertanyaan itu kepada orang bersangkutan ini. Dan dia duduk manis mendengarkan penjelasan Ren mengenai rumus-rumus alogaritma.
"Aaah! Jadi begitu caranya?!! Ini jadi terlihat lebih mudah." Terkuak senang wajah Kurumi melihat hasil coretan Ren di buku.
"Asalkan kau mengingat rumus dariku," kata Ren yang duduk lesehan di sampingnya.
"Sekarang sudah hampir larut malam. Besok malam aku akan kemari lagi. Persiapkan dirimu," kata Ren sembari beranjak bangkit namun pada saat yang sama Kurumi dapat merasakan kepalanya disentuh lembut oleh telapak tangan lelaki itu pada kalimat terakhirnya.
"Eh Ren? Sudah mau pulang?" tegur nyonya Shimizu ketika melihat pemuda itu turun tangga. "Ya, okaasan," sahut Ren ramah.
"Sampaikan salamku untuk ibumu, ya."
"Akan kusampaikan. Selamat beristirahat." Dia membungkuk sekilas kemudian berlalu ke pintu dengan dibuntuti Kurumi.
"Terimakasih. Maaf sudah merepotkanmu," ujarnya ikut mengantar Ren sampai di pintu.
__ADS_1
"Tidak masalah jika itu dirimu." Senyuman dan mata teduh lelaki itu entah mengapa Kurumi menyukainya. Dan dia mengulas senyum ketika berjalan ke kamarnya kembali.
***