Memory Lane [Sudah Dibukukan]

Memory Lane [Sudah Dibukukan]
5 - Sutōkā


__ADS_3

Aneh. Ada yang aneh dengan semua orang yang mendadak menengok ke arahnya ketika dia berjalan ke sekolah. Kurumi sebisa mungkin tidak berbuat menarik perhatian.


Tetapi pagi ini dirinya seperti selebriti yang selalu menjadi buah bibir. Ia tidak tahu apakah penampilannya terlihat aneh? Malu rasanya dipandang banyak mata. Dan dia terus menundukan wajah dengan membiarkan rambutnya terjuntai menutupi.


"Kurumi!" seru Risa tergopoh-gopoh menghampirinya di meja. "Fotomu dengan Rui sudah tersebar di internet! Apa yang terjadi sebenarnya?" selorohnya, benar-benar terlihat tidak sabaran memberikan pertanyaan. "Tenang dulu. Aku tidak mengerti yang kau bicarakan ini." Kemudian Risa menunjukan layar ponsel miliknya di depan wajah Kurumi.


Seketika saja matanya memelotot melihat gambar tersebut. "Ya ampun! Ini kesalahpahaman..." Menggeleng-geleng tidak percaya, Kurumi melanjutkan, "kebenarannya tidak demikian. Dia hanya membantuku meniupkan debu di mataku yang kelilipan. Tapi kenapa di foto ini seakan kami terlihat sedang berciuman? Oh astaga..." Kurumi meletakan tangan di dahi dan rambut panjangnya menjuntai. Ah, pantas saja hari ini ada yang aneh. Ternyata berakar dari gosip murahan mereka berdua.


Tiba-tiba Kurumi bangkit dari tempat duduknya. "Kau mau kemana?" Risa bertanya. "Rui pasti sedang kerepotan. Aku harus menemuinya sekarang." Sedetik kemudian langkah Kurumi sudah beranjak cepat meninggalkan meja tanpa sempat Risa menghentikannya.


"Dimana dia?" gusar hati Kurumi mencari-cari kehadiran si model terkenal Rui di koridor karena dia tidak menemukannya di kelas.


Sret!


Terhenyak benaknya ketika merasakan tangannya ditarik secara tiba-tiba oleh seseorang sehingga dia kini berada di sebuah ruangan luas nan asing bernuansa kemewahan. Memiliki banyak jendela. Tirainya kelihatan berat dan terbuat dari bahan terbaik. Lantai pualam yang mengilat, beberapa sofa, bahkan terdapat grand piano putih di sisi ruangan. Ruangan apa ini?


"Ren..., kalian... ada di sini?"


"Ttaku, benar-benar menghebohkan," desah Kentaro melipat lengan. Tampak Rui meringis sambil menggaruk gugup pipinya. "Ya..., aku juga tidak tahu akan jadi seperti ini," balasnya menanggapi.


"Ku-chan. Maafkan aku... kau jadi terlibat skandal karenaku."


"Rui, bagaimana kau akan menjelaskannya pada fansmu yang menggila itu?" tambah Ren. "Mereka mengejar-ngejarmu seperti zombie," komentar Rione mengejek.


"Karenamu, nama Kurumi-san jadi tercemar." Kalimat yang diucapkan Shion dengan face poker sekaligus teman sekelasnya membuat Rui tertohok.


"Waah Rui membuat Kurumi dirisaki penggemarmu," tambah Jiro mencibir bernada malas sambil memakan camilan keripik kentangnya.


"Kalian jahat!" Rui nangis bombay. Kealayannya timbul lagi. Sedetik kemudian dia meraih ponsel dari sakunya. "Baiklah, aku akan ke sana," tutupnya setelah mendengar pesan dari seseorang di seberang sambungan.


"Kurumi. Kau tenang saja, aku akan menyelesaikan masalah ini. Sekarang aku harus pergi ke gerbang sekolah. Di sana sudah ada manajerku, tapi bagaimana? Banyak sekali orang yang menungguku di luar."


"Kusarankan lewat koridor timur," tukas Kentaro. Berikut Rui yang mulai membuka pintu dengan hati-hati, menengok kanan-kiri, kemudian menyelinap keluar bak pencuri.


"Kurumi, mulai sekarang kau jangan sungkan lagi terhadap kami. Bagaimana pun kau bagian dari keluarga ini." Ditatapnya Ren yang berkata demikian lembut. Senyuman mautnya menenangkan kegelisahan Kurumi. Mereka semua berdiri mengelilinginya dengan gaya masing-masing.


Sungguh tak dapat dipercaya jika nyatanya dia terlibat dengan orang-orang eksentrik ini. Sepertinya Tuhan tidak mengabulkan doanya.


***


"Ha!!! Ternyata di situ!!" tunjuk Kurumi ke atas, dimana tasnya terlihat tersangkut di dahan pohon.


Sementara di jendela lantai dua itu, sorot simpati Risa tidak mampu berbuat apa-apa terhadap Kurumi yang sedang berusaha meraih tas di luar. Hatinya memberat, dipenuhi sedikit rasa bersalah.


"Hey! Apa yang akan kalian lakukan pada tas Kurumi?!" tegur Risa mendapati ketiga gadis dibawah pohon rindang dengan memegang tas yang sangat dikenalinya. Gantungan boneka beruang merah menjadi ciri khas dari tas Kurumi.

__ADS_1


"Kembalikan, Naomi!" Risa tahu akar permasalahan ini. Foto yang sedang hangat jadi perbincangan itu! Tapi siapa sangka bahwa Naomi, menjahili teman sekelasnya sendiri?


"Risa, ya?" Naomi memutar tumit dengan gaya angkuh. "Sawaguchi Risa... seorang gadis malang karena tidak bisa mengatakan perasaannya kepada sang ace, Rione."


Tertegun benak Risa mendengarnya. "Kau--!" Risa meremas kedua sisi roknya dengan perasaan geram. "Mau kukatakan pada Rione?" Nada bicara maupun mata Naomi tampak merendahkannya.


"Jangan!"


"Eh? Jangan? Kau ini pengecut sekali. Kalau suka ya tinggal bilang suka. Nanti keburu diambil loh."


Risa tidak segera membalas. Hatinya bagai dua sisi pedang, dan dia harus memilih antara membiarkan tas Kurumi atau membiarkan mereka mengatakan perasaan terpendamnya pada Rione.


Keduanya sama-sama tidak menguntungkan. Karena ia belum siap menerima penolakan sebelum ada pendekatan terlebih dahulu. Singkatnya, Risa sudah mengatur soal percintaannya terhadap salah satu anggota tim basket tersebut.


Saat itu bibir Naomi menyeringai melihat adanya keraguan pada Risa. Sedetik kemudian dia mengayunkan tangan dan tas tersangkut di bantang pohon besar.


Dia menepuk-nepuk tangannya seakan beres melakukan sesuatu. Bersama Shinoya, dengan congkak mereka melewati bahu Risa yang masih mematung di tempat.


Lalu dia meluruskan pandangan untuk kembali mendengarkan penjelasan guru.


"Apa aku harus memanjat pohon ini?" Ditatapnya ngeri pohon di depan. Membayangkan bagaimana ia menaikinya dengan susah payah.


"Kau ini berisik sekali~ bisa tidak biarkan aku tidur sebentar saja, Kurumi." Suara berat berasal dari atas pohon. Dan ketika sosok itu bangun terduduk, kelopak mata Kurumi terkuak mengenali siapa gerangan yang tengah bersantai di saat jam pelajaran berlangsung.


***


"Rione...." Benar, pemilik suara di atas pohon adalah Rione. "Bisa lemparkan tasku?"


"Tidak," tegas Rione. "Ambil sendiri."


"Tapi..." Melihat wajah nampak memelas Kurumi dari atas, Rione mencebik. "Tsk! Ada satu syarat."


"Syarat apa itu?"


"Cukup mudah. Hanya temani aku belanja sepatu untuk turnamen minggu depan."


"Baiklah. Kapan kita akan pergi?"


"Nanti kuberi tahu."


Pada saat itu tiga pasang langkah siswa memasuki ruang kelas. Gaya angkuh terlihat pada siswa yang berjalan ditengah. Sebelah tangannya dijejalkan ke dalam saku celana. "Aku penasaran dengan gadis yang sedang hangat dibicarakan anak sekolah." Karena mendengar penuturan yang terkesan menyindir itu terdengar milik suara laki-laki, tubuh Kurumi membeku diam.


"Ternyata jauh lebih cantik daripada di foto," kata Nashika seraya dengan anggunnya meraih helaian rambut Kurumi dari sisi telinga dimana ia dan kedua kawannya berdiri saat ini.


Lalu Nashika melangkah duduk di kursi depan meja Kurumi yang kebetulan kosong. "Kudengar kau anak baru. Pulang sekolah kita main yuk," ajaknya. Namun sedetik setelah itu waktu seakan melambat ketika dia terkejut menerima tamparan di tangannya yang masih membawa rambut panjang gadis itu.

__ADS_1


Tidak Nashika sangka bahwa dia mendapat perlawanan dari sang pemilik. Dengan menahan kesal, Kurumi berani menyentak tangan lelaki tak dikenal di hadapannya ini yang dianggap kurang ajar.


"Wah, wah, ada juga gadis jual mahal sepertimu, huh?" komentar Nashika. Sementara keseriusan tatapan tajam nampak di mimik Kurumi.


"Na-nashika!" panggil Mori kaget.


"Huh?"


"Di-dia gadis yang pernah kami ceritakan waktu itu!" ujarnya bersamaan dengan siswa bertubuh kurus bernama Akira.


Nashika bergumam berpikir. "Heh? Rione? Jadi kau Shimizu Kurumi?"


"Aku tidak takut padanya," tukas Nashika. "Hei nona Shimizu, maukah kau menjadi pacarku?" pintanya, sebelah tangannya yang kembali terulur hendak membelai rambut Kurumi lagi harus terhenti diudara ketika dicengkram oleh tangan lain. Tatapan Nashika pun bergulir naik dan menemukan sepasang mata tajam menusuknya dibalik kacamata.


"Jangan sentuh Kurumi," tekan Kentaro serius. Cengkramannya yang dirasakan Nashika bisa meremukan tulang seandainya kekuatannya ditingkatkan sekali lagi. "Sialan," kesal Nashika menghempaskan, dan Kentaro tidak mencekalnya lagi.


"Ayo." Kali ini pemuda berkacamata itu menarik tangan kecil Kurumi. Membawanya pergi keluar kelas.


"Tatap aku dan makanan di depanmu, jangan lihat ke sekitar," perintah Ken langsung memalingkan pandangan Kurumi dari puluhan pasang mata yang sedang menggunjingkannya di kantin.


Kurumi mengerjap melongo akan sikap Kentaro hari ini.


***


Ketidaknyamanan dirasakan Kurumi di sepanjang langkahnya menuju rumah ketika semua orang memperhatikannya, baik itu saat di bus hingga turun di halte berikutnya. Ia terus mencoba menutupi wajahnya dengan juntaian rambut ketika tatapan-tatapan dan tunjuk menunjuk itu diarahkan kepadanya.


Tarikan tangan seseorang tiba-tiba menyentak Kurumi dan sedetik kemudian dia sudah ada di dalam mobil van. "Hey ada apa ini?" protes Kurumi tetapi disambung cepat oleh wanita dewasa yang duduk di sebelahnya. "Kau Kurumi kan? Dengar, jangan pernah sekali pun terlihat berbicara atau pun berdekatan dengan Rui jika kau tidak ingin menjadi pusat perhatian lagi." Kata-kata bersifat ancaman namun ada benarnya juga itu tidak segera dibalas Kurumi yang tengah mencerna siapa wanita berbibir merah dengan riasan tebal di hadapannya ini.


"Itu benar, Ku-chan." Suara tak asing menimpali dan Kurumi baru bisa mengetahuinya ketika melihat wajah Rui menengok dibalik kursi dekat kemudi. "Untuk sementara ini aku tidak akan mengikuti kelas sampai berita ini hilang dengan sendirinya. Ini demi kebaikanmu juga. Karenaku, kau jadi dibuli teman-teman sekolah bukan?" Kepala Kurumi menggeleng pelan memahami sesuatu. "Bagaimana kalau kau tinggal kelas? Ini gara-gara aku. Kau harus tetap sekolah, Rui." Melihat guratan menyalahkan diri gadis itu, senyuman tipis terbit di bibir Rui. "Kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Yang perlu kau cemaskan hanya dirimu. Wajahmu ada di mana-mana berkat gosip ini. Aku akan menambah jadwal syutingku." Rui menjeda kalimatnya sejenak. "Berjanji lah."


"Tidak mau." Seketika bahunya disinggung paksa dan dia kini beralih menatap wanita itu. "Aku sebagai manajernya, tidak mengizinkan orang-orang sepertimu menganggu pekerjaan Rui," hardiknya sembari dagunya sedikit diangkat congkak dan mata tajamnya menyiutkan nyali Kurumi untuk membantah. "Tapi..." bisiknya. Dia melirik Rui yang menunggunya. "Aku tidak berwenang atas apapun." Kemudian Kurumi menggeser pintu mobil terbuka dan melangkahkan kakinya keluar hingga punggungnya tak terlihat lagi saat pintu bergerak tertutup. Sekilas Rui menangkap air muka murung pada gadis itu. Dia menatap nanar kepergian Kurumi. Diam-diam pun Rui merasakan rasa bersalah yang lebih kepada gadis yang telah memberinya suntikan semangat tanpa gadis itu sadari.


Sementara itu Kurumi tidak akan membiarkan masalah ini membuat Rui harus absen.


***


Indahnya siluet senja kian meredup tatkala matahari tergelincir ke ufuk barat digantikan dengan gelapnya dirgantara memenuhi langit Tokyo. Di antara gemerlap lalu lintas perkotaan dan keramaian pasar malam, dua remaja berbeda gender tengah bersitegang di dalam gang remang yang diapit dua gedung game.


"Sudah kubilang! Berhenti mengikutiku! Aku tidak akan berpacaran denganmu!" Memerah wajah cantik itu karena amarah yang tengah menanjak.


"Apa karena cowok itu? Lihat aku! Aku bahkan lebih baik dari cowok letoy itu!"


"Jaga bicaramu! Sekali lagi mengatakan keburukan Rui, aku akan---" Ancaman Naomi belum selesai diucapkan ketika lelaki bernama Nashika menawan bibirnya penuh napsu.


Sementara itu dari arah lain tampak Kurumi berjalan termenung. "Tapi, apa yang harus kulakukan agar Rui bisa bersekolah lagi?" monolognya. Mendadak gerak langkah sepatu itu terhenti dan Kurumi bagaikan terpaku. Sedangkan mata Naomi memelotot merasa dipergoki oleh eksistensi gadis itu.

__ADS_1


***


__ADS_2