
Namaku Elena, sebagian dari teman-temanku menganggapku orang yang aneh. Mungkin karena sikapku yang pendiam dan tidak percaya diri terkadang aku selalu diam ketika temanku menjahiliku ketika sekolah SMA dulu. Bahkan ketika kelas 1 SMA aku tak punya teman satupun. Aku mencari teman yang sekiranya cocok denganku di kelas tapi tidak ada yang cocok. Mereka orang yang bertolak belakang denganku, entahlah aku merasa semua temanku di kelas tidak ada yang cocok bermain denganku. Mereka punya kelompoknya masing-masing. Mungkin mereka merasa mereka lebih pintar jadi mereka memiliki kelompok yang anggotanya pintar-pintar, sebagian besar dari mereka orang yang pintar matematika dan IPA dan sebagian mereka juga pintar dalam berdebat di kelas dengan suara lantang dan berani. Aku masih sangat ingat temanku yang aku dekati untuk bisa bermain denganku, namanya Dini, dia orang yang pintar dalam matematika tapi dia orang yang pemalu sama sepetiku jadi mungkin aku merasa agak cocok dengannya. Dan lalu aku juga terkadang bermain dengan Sonya, aku merasa agak cocok mungkin karena dia berasal dari desa dan kost di dekat sekolah dia juga bukan orang yang terlalu pintar. Tapi seiring berjalannya waktu aku tidak cocok juga dengan mereka. Aku merasa sangat tidak betah untuk sekolah disana. Aku sering tidak masuk sekolah karena aku merasa tertekan dengan lingkungan yang sangat naif. Aku memang orang yang tidak terlalu pintar, nilai matematikaku apalagi sangat rendah. Aku membenci pelajaran itu sungguh sangat memuakkan. Setiap hari aku merasa sangat tertekan dan selalu menangis di sela jam pelajaranku. Aku merasa menjadi orang yang paling bodoh di kelasku. Dini dan Sonya, aku tahu mereka orang yang baik, hanya saja aku tidak merasa dia sungguh-sungguh ingin berteman denganku. Hubungan kami sangatlah kaku, aku pun tak berani bercerita apapun kepada mereka. Aku memang orang yang tertutup. Aku duduk sendiri di kelasku, setiap hari aku membawa bekal ke sekolah dan aku makan sendirian di depan kelas karena ketika jam istirahat, kami tidak diperkenankan masuk kelas, kelas ditutup. Aku duduk di kursi tembok sambil memakan bekal makan siangku. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh sesuatu yang mengenai kepalaku. Awww.. Teriaku kesakitan. Segera aku menoleh untuk mengetahui siapa yang telah melemparkan batu ke kepalaku. Dia berdiri jauh dibelakangku, tanpa meminta maaf dia cuek pura-pura tidak tahu sambil tertawa cekikikan bersama Cipta teman sebangkunya. Ya, dia Jack teman sekelasku yang terkenal sangat jahil dan sok ganteng. Sungguh rasanya aku ingin marah, tapi aku hanya diam dan memendam amarahku. Aku berusaha menyelesaikan makan siangku sendirian. Aku duduk sendiri sambil melihat orang-orang sekelilingku. Mereka semua punya teman, sedangkan aku hanya sendirian dan merasa terasing.
Jam istirahatpun usai, kami semua masuk kelas. ketika aku sedang berjalan menuju kelas tiba-tiba Jack mendorongku dan aku terjatuh. Teman-teman lain tidak ada yang berusaha menolongku, bahkan beberapa orang dari mereka menertawaiku. Lagi-lagi dia tidak meminta maaf padaku. Aku bangkit sendiri dan duduk di kursiku. Rasanya aku ingin menangis, tapi aku tahan dan mencoba untuk tetap tenang. Pelajaranpun dimulai, ya kali ini adalah matematika, mata pelajaran yang aku benci karena menurutku sangat sulit dan gurunya galak dan dingin.
__ADS_1
"Siapa yang berani maju kedepan untuk menyelesaikan soal ini ?" tanya guru matematika.
Suasana kelas hening, dan salah satu murid maju kedepan untuk menyelesaukan soal sulit itu. Namanya Ayu, dia memang anak yang pintar dan aktif. Dia juga cantik dan disukai banyak orang. Bahkan guru matematika yang terkenal sangat dingin ini juga terlihat mengaguminya. Ayu memang pintar dan cantik tapi dia juga orang yang sombong dan judes.
__ADS_1
jujur aku tidak menyukainya. Aku tidak menyukai teman-teman sekelasku. Aku benci mereka karena mereka seolah memandangku orang yang bodoh dan kurang pergaulan. Setiap kali aku mencoba untuk mengajak ngobrol salah satu dari mereka, mereka tidak menanggapiku dengan serius, seolah aku orang yang sangat menggelikan. Ketika aku bertanya kepada mereka, tanggapan mereka sangat acuh, seolah tidak ingin memberi kesempatan padaku.
Aku duduk bersama teman sebangkuku, namanya Yati dia memang orang yang cukup cantik tapi tidak terlalu pintar, menurutku dia adalah orang yang penuh drama. Segala macam dia dramatisir agar menjadi perhatian. Dia mengaku padaku, dia adalah orang yang pintar dalam bernyanyi, tapi yang kuingatbsuaranya sama sekali tidak menyentuh hatiku. Ya, kami teman sebangku tapi kami tidak memiliki hubungan yang baik. Dia selalu mencari perhatian dari teman-teman sekelas kami yang naif. Dia berusaha untuk bisa menjadi kelompok diantara mereka. Dan terkadang dia juga sering meremehkanku dan memfitnahku. Ditambah lagi dia suka membicarakanku dibelakang kepada teman-teman.
__ADS_1
Aku sangat muak dengan semua itu. Aku memvenci semua teman-temanku. Aku selalu bersedih karena aku tidak punya teman, aku tidak punya orang yang sungguh-sungguh ingin menemaniku. Aku terbiasa jajan sendirian, dan pulang sekolah sendirian. Aku terbiasa melihat tatapan-tatapan aneh dari mereka, terkadang seolah mentertawakanku, seolah mereka terlihat membenciku, seolah mereka menganggapku tidak ada, seolah mereka menganggapku orang yang lemah. Aku sedih, apa salahku ? Aku hanya bisa diam, dan berhenti menyapa mereka. Aku tidak pernah lagi berbicara dengan mereka, kecuali mereka menyapaku duluan.
sungguh, aku tidak menyukai keadaan seperti itu.
__ADS_1