Menangis Kepada Bulan

Menangis Kepada Bulan
AKU SADAR DIRI


__ADS_3

Hari senin, adalah awal hari yang menjenuhkan. Oh my God, aku harus kembali kepada rutinitasku untuk belajar di kelas yang tidak aku sukai. Hari itu kami semua upacara di sekolah, aku berbaris di barisan paling belakang karena kesiangan. Aku satu barisan dengan si Jack dan Linda juga Vani.


Huh sial pikirku dalam hati aku harus baris dekat mereka, sama sekali bukan awalan yang bagus. Aku mendengar mereka bertiga cekikikan entah apa yang mereka tertawakan. Sudah setengah jam upacara berlangsung, dan akupun merasa lapar, karena tidak sempat sarapan. Aduh, kepalaku agak pusing terkena matahari. Tapi tiba-tiba aku melihat Linda sangat pucat, aku tidak bertanya padanya sudahlah aku biarkan saja apa peduliku. Aku tetap berdiri dan berusaha bertahan hingga upacara selesai. Tapi ketika di tengah-tengah upacara, aku melihat Linda yang tadi sangat pucat tiba-tiba pingsan dan terjatuh ke tanah. Saat itu pula teman-teman sekelas repot mencari bantuan untuk dibawa ke UKS. Aku hanya diam saja pura-pura tidak tahu, Jack menatapku dengan sinis sambil ikut menggotong Linda dan aku memabalasnya dengan tatapan sinus pula. Baiklah, pikirnya aku sedang merasa puas karena dia pingsan. Hahaha biarlah aku tidak jahat, aku hanya tidak ingin membantunya saja.


Setelah hampir satu jam upacara pun usai, kami semua masuk ke dalam kelas masing-masing. Aku sendirian duduk di bangku kelas dan tanpa seorang pun yang mau menemaniku. Semua teman sekelasku mereka sibuk mengobrol satu sama lain, dan seolah tidak mempedulikanku yang duduk sendirian. Tak ada satu yang mengajakku untuk bicara. Aku hanya diam dan memperhatikan mereka. Aku tahu, keadaan ini sangatlah tidak nyaman. Jack masih belum terlihat kembali ke kelas. Karena guru belum datang, aku pergi ke kantin untuk membeli sarapan. Kantin itu letaknya di area depan dekat taman dan untuk kesana aku harus melewati kelas-kelas dan ruangan UKS.


Aku berjalan tergesa-gesa dan seseorang menarik tanganku dengan keras. Aku membalikan badanku dan berusaha melepaskan cengkraman ditanganku.

__ADS_1


"Elena, kamu puas melihat pacarku pingsan hah?" tanya Jack secara tiba-tiba


"Apa-apaan sih kamu, lepasin tangaku cepat."


"Tidak, aku tidak akan melepaskan tanganmu sebelum kamu bilang padaku kenapa kamu tidak menolongnya ketika tadi dia pingsan. Dan kenapa kamu melemparkan tatapan sinis padaku ? Kamu puas dia pingsan, kamu senang?cepat jawab aku Elena yang bodoh."


"Tidak, aku tak punya perasaan puas kalau dia pingsan. Aku biasa saja, aku hanya tidak ingin menolongnya saja. Kan sudah banyak orang yang turun untuk menolongnya termasuk kamu kan. Jadi untuk apa aku ikutan repot-repot membantunya. Aku tidak akan dianggap kok, aku di kelas saja seperti dianggap tidak ada." jawabku sambil tersenyum puas.

__ADS_1


"Jack, aku tidak akan memohon padamu, aku juga tidak akan meminta maaf padamu sampai kapanpun karena aku tidak salah. Yang harus meminta maaf itu kamu, kamu sering mencemoohku, memakiku, dan menertawaiku. Kamu sadar gak ? Sebenarnya yang aneh itu kalian semua. Kamu juga orang aneh, kamu selalu cari perhatian pada setiap orang. Dengan selera humormu yang basi itu, atau dengan sikapmu yang sama sekali tidak lucu. Sekarang kamu mau jadi pahlawan kesiangan pacarmu yang sombong itu ?! Sekarang lepaskan tanganku."


"Berani-beraninya kamu melawanku dasar orang aneh. Lihat saja aku tidak akan tinggal diam, Aku pasti akan membalasmu secepatnya" ucap Jack sambil melepaskaskan cengkramannya di tanganku


Jack melepaskan tanganku. Tanganku merah dan sakit. Namun aku tak mempedulikannya, aku terus berjalan menuju kantin sekolah dan membeli dua potong roti.


Sesampainya di kelas, hampir semua temanku sekelasku memandangiku, aku hanya tertunduk. Apa salahku, pikirku dalam hati. Aku membuka tasku dan mengeluarkan buku pelajaranku. Guru pun tiba di kelas dan seketika itu pula kelas menjadi hening. Kali ini dimulai dengan pelajaran matematika. Guruku menjelaskan materi, dan sesekali menyuruh beberapa siswa untuk maju kedepan kelas, mengerjakan soal di papan tulis.

__ADS_1


Aku melamun, tiba tiba Jack mengangkat tangannya dan berkata kepada guru matematika yang super killer itu bahwa aku akan maju kedepan mengerjakan soal.


Oh tidak, Jack mengerjaiku, aku tidak bisa mengerjakan soal itu, sungguh aku tidak tahu apa jawaban dari soal itu. Jack memandangku dengan senyuman yang sinis. Aku perlahan maju kedepan dengan gemetar rasanya aku ingin sekali menangis. Aku mengambil spidol dan melihat soal itu, aku berusaha mengerjakannya. Tapi sayang, jawabanku salah. Guruku memarahiku didepan teman-temanku dan aku sangat malu. Aku hanya tertunduk kembali ke bangkuku. Aku lihat Jack, Linda, Vani dan juga Cipta semua mentertawaiku perlahan.


__ADS_2