Menangis Kepada Bulan

Menangis Kepada Bulan
AKU MEMBENCI MEREKA


__ADS_3

Bel masuk berbunyi dan aku masih berada di diluar gerbang sekolah. Aku terburu-buru akan masuk ke kelas. Tapi ketika aku sudah sekat dengan pintu Brakkk...seketika pintu kelas ditutup oleh Jack. Dan otomatis pintu mengenai kepala kiriku.


Aku mendengar suara cekikikan dari mereka di jendela. Aku mendorong pintu dan masuk kelas. Aku duduk di kursiku, tak sengaja aku melihat Cipta. Dia melihatku seolah aku orang yang menjijikan.


Aku membuka tasku, mengambil cermin kecil dalam tasku. Aku memperhatikan wajahku di cermin. Tidak ada yamg aneh dengamku. Tapi mengapa dia seolah melihatku dengan jijik seperti itu. Apa salahku. Aku tidak pernah mengganggu mereka. aku pun tidak pernah bermain bersama mereka.


Pelajaran bahasa Indonesia dimulai, semua anak ditugaskan untuk mengerjakan tugas kelompok di kelas. 1 kelompok terdiri dari enam orang. Mereka semua terlihat sibuk mencari kelompoknya. Tanpa ada satu orangpun yang mengajakku, akhirnya aku berusaha mendekati Sonya, aku tanya "apakah aku boleh ikut kelompok disini." Dia bilang padaku kelompoknya sudah pas ada enam orang. Aku bertanya kepada teman lain yamg sekiranya mau menerimaku dan sedikut bersikap netral padaku. Tapi mereka semua menolakku. Mau tidak mau akhirnya aku mengerjakan tugas itu sendirian, meskipun instruksi dari guru harus berkelompok.

__ADS_1


"Kasian yah sendirian, gak ada temen hihihi gak ada yang mau sekelompok karena dia orang aneh hahaha."


ujar Jack sambil cekikikan bersama Cipta.


"Aku juga gamau ketularan bodohnya ah, sekelompok sama dia gak akan menguntungkan, kita gak akan dapat nilai bagus, dia juga orang yang pendiam ya pantas sih gak ada yang mau ajak dia". Ujar Cipta dengan berbisik kepada Jack.


Dan terdengar pula suara Vani dan Linda yang ikut mentertawaiku, mereka berempat satu kelompok. Linda dan Jack adalah pasangan kekasih yang menyebalkan. Mereka itu sama, bisanya hanya cekikikan sambil sindir menyindir.

__ADS_1


Jam pelajaran pun usai, waktunya untuk pulang itu adalah hal yang paling aku tunggu-tunggu. Aku pulang sendirian berjalan kaki sampai tengah kota sambil menghibur diriku sendiri. Lalu aku naik angkutan umum sampai ke rumahku.


Sesampainya dirumah adalah hal yang membuatku nyaman. Tapi ketika malam mulai datang, aku kembali gelisah, rasanya aku sangat malas untuk pergi ke sekolah dengan tekanan seperti itu. Setiap malam aku selalu menatap langit berharap ada keajaiban. Hatiku sangat gelisah, pikiranku melayang membayangkan esok hari, aku bersedih.


Saat itu aku menatap langit yang ditemani cahaya bulan yang bersinar terang, aku menatap bulan dan bergumam aku tak punya teman di sekolah dan aku ingin bulan menjadi temanku mulai saat ini. Aku mencurahkan isi hatiku pada bulan. Dan aku menangis tersedu-sedu pada bulan hingga cahayanya mulai tertutup awan hitam.


Hidup ini tidak adil, kenapa aku yang harus selalu merasakan ketidakadilan ini. Mengapa hidupku sial, aku tak punya teman, aku orang yang tidak pintar dan aku juga bukan orang yang berlimpah harta.

__ADS_1


Sejak Sekolah dasar aku selalu diperlakukan seperti ini. Diperlakukan tidak adil. Dan aku masih sangat ingat teman sekolahku saat SD merobek buku gambarku dan merobek hasil gambarku, juga aku dijuluki si tikus yang bodoh. Aku juga masih sangat ingat sepatu baruku ditempeli permen karet bekas dan nodanya terus menepel susah kubersihkan. Aku juga ingat ketika seseorang melempariku dengan bola. Dan ketika aku sakit tidak ada yang menjengukku. Hidupku penuh dengan kesulitan.


Aku memvenci mereka yang telah jahat padaku dan aku belum memaafkannya hingga saat ini. Aku berharap suatu hari akan ada keadilan untukku.


__ADS_2