
Malam ini aku harus mengerjakan PR ku yang banyak tapi aku takut kalau tugas ini dapat nilai jelek. Jujur saja aku kurang suka pelajaran IPA. Aduh bagaimana ini aku tidak bisa mengerjakannya. Kepalaku pusing memikirkan jawabannya soal-soal itu ku baca berulang ulang dan akhirnya aku memilih untuk mengarang saja jawabannya. Aku deg degan dan takut karena besok gurunya lumayan galak juga tapi aku berusaha untuk menenangkan diriku dan berpikir positif jawabannya benar. Aku berjalan menuju tempat tidurku yang disamping jendela. Aku tertidur dengan pulas.
Pagi itu aku bersiap untuk sekolah. Jujur saja aku malas sekolah aku malas bertemu teman-teman sekelasku dan aku juga malas pelajarannya. Tapi aku berusaha untuk tetap sekolah. Setelah sampai di sekolah mata pelajaran IPA langsung dimulai. Oke, tadi aku sarapan banyak agar aku punya energi untuk berpikir. Kami pun langsung mengumpulkan tugas yang diberikan. Semua buku dikumpulkan di atas meja guru. Hatiku berdebar-debar ketika sang guru memeriksa satu persatu tugas kami. Tanganku gemetar, aku duduk di kursi paling belakang, sendirian. Teman lain semua mempunyai teman sebangku dan aku tidak.
"Lena !!" guru memanggilku dan aku langsung mengangkat tanganku. Tanpa diduga sebuah spidol dilemparkan kearahku dan mengenai kepalaku. Aku sangat kaget dan malu rasanya aku ingin menangis.
Guruku terlihat marah setelah memeriksa PRku.
__ADS_1
"Lena, kenapa kamu menjawab soal dengan asal asalan. Kamu pakai rumus apa sih ini, bukankah bapak kemarin sudah menerangkan. Aoa kamu masih belum paham? Kalau belum jangan diam saja, kamu harus bertanya. Ini kamu ngerjain pakai rumus yang ngasal begini. Coba Len kamu belajar dengan giat dan kamu harus fokus ketika pelajaran. Kalau ada yang tidak mengerti kamu bertanya kepada guru atau temanmu yang sudah bisa jangan kamu pendam sendiri". Tegas pak guru.
aku mengangguk dan mataku berkaca-kaca menahan tangis agar air mataku tidak jatuh.
Aku sangat malu, aku terlihat sangat bodoh dan teman-temanku tidak ada yang mau berteman denganku apalagi dengan kebodohanku yang seperti ini.
"Ya, tadi aku melihatnya di kantin belakang bersana Vani dan Ivan". Jawabku dengan malas.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang Jack menyeretku, dan menarikku ke kantin belakang. Jack melihat mereka sedang asyik mengobrol dan Linda seolah mencuri pandang ke Ivan. Terlihat Linda mendekatinya. Tangannya menyentuh Ivan, namun Ivan seolah menghindarinya.
Jack melihat dari kejauhan. Dia menarikku ke meja mereka. Jack pun marah kepada Linda seolah Linda berselingkuh darinya. Jack membentak Ivan dqn hampir memukulnya. Namun Linda berusaha menghentikan Jack dan aku mencoba membela Ivan.
"Lihat Len, temanmu ini si Ivan dia mata keranjang. Dia tidak sebaik yang dipikirkan orang. Kelebihannya dia hanya pintar saja, sisanya sama saja. Linda, kamu harus tahu siapa yang terbaik buat kamu. Kamu jangan pernah dekati Ivan lagi. Dia lebih cocok dengan Lena, sama-sama cupu". Ucapnya sambil menarik pergi Linda.
Aku hanya bengong dan apa maksud dia menarikku kesini. Sungguh tanpa alasan jelas. Aku mencoba menghibur Ivan. Dia terlihat sedih dan dia juga tidak ada perlawanan ke Jack. Ada apa ini ? Apakah benar Linda berselingkuh dengan Ivan ? Pertanyaan itu memenuhi kepalaku. Aku menatap Ivan dengan peraaaan yang entah mengapa itu sangat menyakitkan. Apakah aku kasihan padanya ? Ataukah aku mulai menyukainya ?
__ADS_1