
di teras belakang rumah, fiona duduk sendiri bergulad dengan pikirannya.
"bagaimana jika aku hamil anak pria itu? bagaimana pernikahan ku dengan rey? aku tidak mungkin menghianati ayah yang sakit parah" batinnya kemudian memikirkan hal itu lagi
"ohh ayo lah fiona. berdoa saja kau tidak hamil anak pria itu, kau hanya melakukannya sekali tidak mungkin membuatmu langsung hamil." batinnya lagi sambil menggelengkan kepalanya.
"kau kenapa?"ucap rey dari belakang yang mengagetkan fiona.
"ahh tidak, bukan apa apa" jawabnya dengan senyum.
"kau ada pikiran? katakan saja padaku" rey merangkul fiona dan membawa kepala gadis itu bersandar di dadanya.
"aku tidak apa apa"
tanpa sadar sepasang mata mengamati mereka dari dalam rumah.
"dasar wanita ******" ucap wanita itu "lihat saja, cepat atau lambat aku akan merebut rey dari mu" lanjutnya, kebencian itu semakin menjadi jadi saat melihat fiona dan rey tertawa bersama.
ditempat lain hanzol sibuk dengn pikirannya.
"siapa wanita itu?" ucapnya sambil melihat kartu kredit di tangannya.
"50 juta?" ucapnya dengan senyum menyeringai.
"hanzol, keluarga besar YANG akan mengadakan rapat"
"apa mereka tidak bosan setiap minggu bertatap muka, " ucal hanzol
"mereka pasti akan membahas hal yang sama seperti kemarin" ucap remon.
"yah kau tau itu, aku sangat bosan mendengar mereka mendesak ku untuk menikah. ucapan mereka seperti kaset rusak di telinga ku"
"itu sudah taqdir mu, kau tidak bisa membantah keputusan keluarga yang"
hanzol menghela nafasnya kasar,
"suruh seseorang untuk membelikan ku bunga dan beberapa buah. aku ingin menjenguk lusi"
"baik" ucap remon kemudian berlalu pergi meninggalkan ruangan hanzol.
~sore hari
"aku ingin kau mendapat kan foto ****** itu sedang bersama pria kemarin. "perintah hayana berbisik dari telfon.
"mmmm, sebenarnya wanita yang bos suruh tidak masuk di kamar yang sudah kita siapkan" ucap seorang pria
"apa kau bilang? "
"kakak ipar? " sahut rey dari belakang.
sontak suara rey membuat hayana kanget
"ah, re.. rey" ucap hayana gelagapan
"kakak ipar menelfon dengan siapa?"
"ah, in.. ini teman lama ku, sudah lama tidak saling bicara" bohong hayana,
__ADS_1
"kamu mau teh? "
"boleh"
"tunggu lah diluar, aku akan membawakannya" ucap hayana beralasan, ia hanya tidak ingin rey segera pergi agar ia dapat melanjutkan pembicaraan di telfon
"kita ketemu di cafe biasa, aku akan datang 15 menit lagi" ucap hayana sebelum memutuskan telfonnya.
"tidak bisa di andalkan" ucapnya dengan mengepalkan tangannya kuat
fiona tengah berbaring di atas ranjang. suara pintu yang terbuka membuatnya spontan melihat ke arahnya
"apa kau baik baik saja?" tanya rey setelah duduk di sisi fiona.
"yah, aku hanya sedikit tidak enak badan"jawab fiona. ia memang sudah tidak enak badan sejak tadi siang
"mau ku buatkan sup udang? "
"tidan usah, aku hanya perlu istirahat" balas fiona dengan senyum.
"kau sangat baik rey. maaf aku mengecewakanmu"batin fiona
"kenapa kau melihat ku seperti itu?" tanya rey dengan senyum malu malu
"tidak apa apa. mmm rey, aku sudah lama tidak pulang ke rumah ibu kandung ku. aku pikir aku ingin pergi ke sana besok lusa dan tinggal di sana untuk beberapa hari" tutur fiona
"dan bagaimana dengan pekerjaan mu? "
"aku akan mengambil izin dulu"
"baiklah, ingin aku temani? "
"tidak perlu, kau juga kan harus mengurus perusahaan mu" jawab fiona
"iya sudah"
sebuah kamar dengan cat serba putih dengan suara dari pendeteksi detak jantung yang ada di ruangan itu.
seorang wanita terbaring tidak sadarkan diri . sudah 5 bulan ia seperti ini dan sama sekali tidak ada tanda tanda dirinya akan sadar.
seseorang kemudian membuka pintu, memperlihatkan hanzol dengan bunga dan parsel berisikan buah. pria itu melangkah masuk menuju sisi ranjang wanita itu
"aku datang" ucapnya pelan mengelus ubun ubun wanita itu. "kau tau, aku merindukan mu. apa kau tidak lelah berbaring disini? " tambahnya dengan menggenggam tangan wanita itu seperti mengalirkan kekuatan yang ia punya.
"mereka mendesak ku untuk menikah. aku juga ingin menikah. tapi bagaimana bisa jika mempelai wanitanya terbaring disini" setitik air di sudut matanya
pintu kemudian terbuka yang menampilkan remon. segera hanzol menepis air di sudut matanya, ia tak ingin di ketahui
"hanzol. waktunya pergi untuk pergi ke pertemuan" sahut remon
"ya" singkat hanzol, ia sungguh masih ingin berlama lama di samping wanitanya. tapi, karna pertemuan itu ia harus mengurung niatnya untuk dilain waktu.
"tunggu aku di mobil, sebentar lagi aku turun" perintahnya
"baik"jawab remon
hanzol menghela nafasnya kasar. dengan berat hati ia melepas genggaman tangannya pada wanita itu.
__ADS_1
hari sudah sore, tapi entah kenapa matahari seperti sama saja saat di siang hari. cahayanya seperti membakar ujung kulit.
flora berjalan sendiri di trotoar, ia baru saja membeli sesuatu di apotik. sebelum pulang ia berniat ke kedai makanan untuk membeli makanan sebagai alasan untuk di perlihatkan pada rey.
"bukannya dia perempuan malamp itu?"batin hanzol saat melihat seorang wanita yang tidak asing baginya dari dalam mobil.
"berhenti" perintah hanzol pada remon. segara remon memberhentikan mobil
"ada apa?"tanya remon namun hanzol sudah keluar deluan.
"hei, hei" panggil hanzol sedikit berlari. mendengar itu fiona menghentikan langkahnya dan berbalik.
"kau? mau apa lagi kau? " tanya fiona dengan kagetnya
"kartu mu__"
"apa isi kartu itu kurang untuk melupakan malam itu dan tidak mengganggu ku?"potong fiona
hanzol yang tadinya ingin mengembalikan uang itu tidak jadi mengembalikannya.
"kau, kau bilang kalau uang ini kurang aku bisa mencari mu di kantor mu tapi kau sendiri tidak memberi tahu nama mu" bohong hanzol
"fiona" jawab fiona dengan juteknya. hanzol yang mendengarnya berusaha menahan senyumnya.pandangan pria itu kemudian jatuh pada benda yang berada di genggaman tangan kiri gadis itu
"itu? " ucap hanzol. mengetahui arah pandangan pria di hadapannya fiona langsung menyembunyikan tangan kirinya
"kalau tidak ada lagi aku pergi" ucap fiona kemudian berbalik meninggalkan hanzol.
"hei, hei"teriak hanzol memanggil namun tidak di gubris oleh wanita itu.
melihat itu hanzol tidak dapat menahan senyumnya, wanita itu.
braaakk
fiona membanting pintu utama,
"kau kenapa? " tanya rey yang datang dari dalam ruang tv.
"ahh, tidak apa apa. aku tadi hanya di kejar orang gila"
"ohh. kau dari mana? tidak pamit."
fiona segera menyembunyikan kontak kecil yang ia beli di apotik. "aku lihat orang di instagram makan ceker ayam pedas, aku tiba tiba juga mau makan itu. jadi aku pergi membelinya"
"kenapa tidak bilang? kau kan lagi tidak enak badan biar aku saja yang beli"
"tidak apa, aku juga sekalian olahraga"
"mmm, sini. biar aku yang menyiapkan untukmu" ucap rey merebut kantung yang berisi makanan dan berjalan menuju dapur.
fiona hanya mengikuti langkah pria di hadapannya.
\=
\=
\=
__ADS_1