Mencintaimu, Itulah Takdirku

Mencintaimu, Itulah Takdirku
sebuah foto


__ADS_3

rey turun dari mobilnya dengan tergesah gesah, ia segera masuk ke dalam rumah dan berlari menaiki tangga. langkahnya kemudian terhenti saat ia melewati kamar hayana


"aku tidak bisa membiarkan rey tahu tentang fiona, aku tidak mau pernikahan adik ku batal karna hal ini. kebahagian adik ku lebih penting dari segalanya, aku akan selalu melindungi fiona dari orang orang itu." ucap hayana. mendengar hal itu rey mengintip di cela pintu kamar hayana yang sedikit terbuka.


"aku tidak bisa menceritakan pada fiona jika hari ini aku di pukul karna__" ucapnya di depan kaca


"karna apa kak? " ucap rey tiba tiba.


"re....rey kamu kok pulang? " tanya hayana gugup melihat rey di hadapannya.


"aku tanya kakak hari ini di pukul karna apa?" tanya rey dengan suara yang tinggi membuat hayana takut.


"ka.. karna....." hayana begitu gemetar menjawab pertanyaan rey.


"jawab kak"


"oke oke aku kasih tau kamu, tapi kamu janji kamu gak boleh sakitin fiona" ucap hayana kemudian


"iya aku janji"


hayana kemudian berjalan menuju ranjangnya dan duduk di sana


"semalam saat aku di jalan pulang dari cafe, seseorang mencengat ku di jalan. orang itu menanyai ku tentang keberadaan fiona" ucap hayana mulai cerita


"orang itu bilang, fiona sudah tidur dengan bos dari orang itu. dia juga bilang pada ku, bosnya menyukai fiona namun fiona malah meninggalkan pria itu. aku awalnya tidak percaya dengan ucapannya, tapi dia memberikan ku ini" ucap hayana memperlihatkan rey sebuah amplop berisi foto foto.


"aku mengelaknya, mengatakan foto itu hanya editan dan mencoba melawan mereka. tapi, kekuatan mereka lebih besar dari ku. dia menyeretku di sebuah gudang, mendorong dan menamparku. dia juga menarik baju ku dan hampir memperk*s* ku. untung saja ada seseorang yang membuang sampah di dekat gudang itu yang mendengar teriakanku, orang itu kemudian menolong ku dan mengantar ku pulang ke sini" jelas hayana


mendengar cerita hanya rey mengepal kan kedua tangannya menahan amarahnya meluap.


"kau sudah janji untuk tidak marah pada fiona. aku mohon tepati janji mu" fiona memegang kedua tangan rey.


"ini urusan ku dengan tunanganku fiona, kakak tidak perlu ikut campur" balas rey menepis tangan hayana


"tapi rey, dia adik ku"


"kakak tidak perlu khawatir dengan dia"ucap rey meninggalkan kamar hayana dan pergi kekamarnya.


.


.


.


~sore ๐ŸŒ‡


sejak tadi rey hanya melamun di balkon kamarnya, melihat ke halaman rumahny.


/saat itu mereka sudah resmi bertunangan.


"rey, mari kita foto bersama. aku ingin nanti kita membuat album yang isinya perkembangan hubungan kita" ucap fiona tersenyum pada rey.


"mmm cantik, aku akan mengirimnya ke sns dan mengatakan....." fiona berpikir untuk menulis sesuatu tentang foto itu.


"***Just one more step and we'll be together"ucap rey kemudian


"oke" fiona tersenyum ke arah rey dan mengetik kalian tadi lalu mempostingnya di sns. rey hanya menatap fiona, menatap senyum gadis di hadapannya.


ia baru pertama kali melihat senyum semanis itu. tanpa aba aba rey mencium bibir fiona, fiona pun menerimanya.


perlahan rey berjalan maju sehingga fiona otomatis melangkah mundur mengikuti pria di depannya. hingga kaki fiona menyentuh ranjangnya membuatnya terjatuh.

__ADS_1


tanpa henti rey mencium fiona hingga tangannya mulai menaikkan bagian bawah dress wanita. fiona yang menyadari itu mendorong rey ke sampingnya


ia menghela nafasnya dalam "maaf rey mungkin itu nanti"ucap fiona pelan takut jika rey akan marah. tapi malah sebaliknya


"tidak apa, aku mengerti maksud mu, aku akan menunggu saat kau siap" balas rey tersenyum. pria itu kemudian membawa fiona kepelukannya, memberikan rasa nyaman pada gadis itu***./


rey tersenyum menyeringai mengingat kejadian setahun yang lalu.


"apa ini alasanmu tidak ingin ku sentuh?" ucapnya pelan.


jam sudah menunjukkan pukul 06 lewat, biasa fiona sudah keluar dari tempat kerjanya dan menelfon rey untuk menjemputnya.


beberapa kali ponsel pria itu berdering namun ia mengacuhkannya dan fokus menatap langit di atas.


.


.


.


"loh, apa rey sedang sibuk? "tanya fiona yang berdiri di depan kantornya.


"apa aku naik taxi saja? tapi bagaimana kalau rey datang ke sini dan tidak melihat ku? "


otak sibuk berpikir apa yang harus ia lakukan menunggu rey atau pulang dengan naik taksi.


ia kemudian memutuskan untuk menunggu sebentar lagi.


~malam๐ŸŒƒ


rey belum juga datang . sedangkan hari sudah malam


ditempat lain, rey sedang mondar mandir di kamarnya menunggu fiona datang. ia kemudian meraih ponselnya


"apa wanita ini menunggu ku? " tanyanya pada diri sendiri


suara pintu kamarnya kemudian terbuka.


"fiona" teriak rey berbalik ke arah pintu


"apa kau menunggu fiona? di belum pulang?" tanya hayana


"ah kakak ipar. aku mengira itu fiona"


"tidak apa apa, kau belum makan sejak siang tadi. jadi aku membuat makanan kesukaan mu di bawah, mari makan" ajak hayana


"kakak makan deluan saja, aku masih menunggu fiona"


"kau tidak boleh begitu, kau jugaharus memikirkan kesehatanmu. bagaimana kalau fiona terlambat pulang? apa kau juga akan terlambat makan?" ucap fiona panjang lebar "ayo makan sebelum nanti makanannya dingin "lanjutnya menarik lengan baju pria itu.


mereka kemudian keluar dari kamar rey, berjalan menuruni tangga. pintun masuk kemudian terbuka menampilkan seorang wanita


"dari mana saja kau" tanya rey seketika meledak. membuat fiona sedikit terkejut mendengar nada bicara rey. melihat hal itu hayana hanya tersenyum sinis ke arah fiona, lalu menggandeng tangan rey.


"kamu lebih baik makan dulu, setelah makan baru kau membahasnya. ayo fiona kau pasti belum makan kan?"


fiona hanya terdiam melihat kakak tirinya menggandeng lengan tunangan adiknya sendiri.


"ada apa? apa kau sudah makan?" tanya hayana yang masih tidak di jawab oleh fiona


"mungkin kau sudah makan. baiklah ayo rey, sebelum makanannya dingin" ucap hayana berjalan ke arah meja makan sedangkan fiona hanya mematung di depan pintu melihat kakak dan tunangannya.

__ADS_1


.


.


.


hanzol sedang berdiri di atas balkon kamarnya, menikmati angin malam dengan sebatang rokok di tangannya.


"remon" panggil hanzol.


"ada apa?"


"aku ingin kau mencari alamat fiona"


"baiklah" singkat remon


"aku tidak akan melepaskan mu wanita licik, kau pikir aku tidak tau malam itu pasti menjadi mata mata untuk carlos untuk menghancurkan ku" batin hanzol


pria itu kemudian menatap satu bintang, bintang itu begitu terang di antara bintang yang lain. ia merasa bintang itu begitu dekat padanya dan rasanya ia mengambil bintang itu dan menyimpannya untuk dirinya sendiri.


.


.


.


fiona sedang duduk di sudut ranjangnya, ia baru saja mencuci rambutnya. rey kemudian masuk, hawa kamar itu seketika berubah.


"dari mana saja kau?" tanya rey dengan datarnya


"aku tidak dari mana mana, aku menunggumu di depan kantor ku"jelas fiona


rey hanya tersenyum sinis, "kau pikir aku bodoh? kau mungkin saja jalan dengan laki laki lain dan mengatakan padaku bahwa kau menungguku di depan kantor".


"aku tidak mengerti maksudmu"


"kau tidak usah berpura pura fiona, aku tau kau dengan semua alasanmu"ucap rey mendekat ke arah fiona "sudah berapa lama kau dengan pria itu? berapa kali kau tidur dengannya? apa sebelum kita bertunangan kau sudah lama bersamanya? apa dia alasan mu menolak sentuhan ku? " tanya rey berkali kali sambil membungkukkan badannya tepat di wajah fiona membuat tubuh wanita itu terjatuh di atas ranjang


"kau kenapa rey? " tanya fiona yang mulai takut.


"aku hanya ingin kau adil fiona, kau bisa dengan pria lain tapi tidak bisa dengan tunangan mu sendiri." ucap rey mulai mencium fiona dengan kasar.


tanpa sadar seseorang mengintip dari cela pintu kamar mereka berdua dengan tatapan marah.


rey kemudian perlahan membuka kaos yang fiona pakai, beberapa kali fiona mencoba mendorong rey namun tenaganya tidak sebanding dengan tenaga pria itu.


fiona kemudian menggigit lidah rey dan berhasil, ia berhasil lepas dari seekor singa yang lapar.


"rey, ada apa dengan kau?" tanya fiona dengan nada tinggi, ia memperbaiki pakaiannya yang setengah terbuka.


"hah ada apa dengan ku? kau bertanya ada apa dengan ku?" balas rey "aku gila fiona, aku gila, kenapa kau selalu menolak untuk aku sentuh dan menerima sentuhan pria lain. berapa banyak uang yang mereka kasih untukmu sampai kau menjual tubuhmu di pria lain?"


prakk


satu tamparan mendarat di pipi rey, mata fiona mulai berkaca kaca mendengar perkataan rey tadi.


rey hanya menyeringai dan membuka laci di samping ranjang mereka. ia mengambil sebuah amplop putih yang kemudian melemparkannya ke arah fiona, membuat isi dari amplop itu berserakan


"ini? "


\=

__ADS_1


\=


\=


__ADS_2