
Rania pun semakin kesal kepada dirinya sendiri sudah lebih dari 15 menit dia tidak kunjung keluar dari kamar mandi, akhirnya Rania pun memberanikan diri untuk berteriak memanggil suaminya.
"tuan!!! Oh tuan" ujar Rania
Julian yang sedang duduk sambil melihat ponselnya kini menghampiri kamar mandi, karena mendengar teriakkan Rania yang memanggil dirinya.
"ya ada apa Rania, bukannya segera keluar malah teriak-teriak" ujar Julian yang kini sudah berada di depan pintu kamar mandi.
"maaf tuan,aku hanya ingin meminta bantuan dari tuan"
"meminta bantuan apa coba bilang " ujar Julian
"mmm anu tuan aku minta tolong ambilkan baju dan handuk saya, saya lupa tidak membawanya pas masuk ke dalam kamar mandi " ujar Rania sambil menggigiti bibirnya.
"aku tidak mau, dan tidak akan pernah mau menolong mu" ujar Julian sambil tersenyum
Seketika Rania pun melotot, Rania geram pasalnya sudah lebih dari 15 menit dia berada di kamar mandi.
"apakah anda tidak mempunyai hati nurani tuan, sehingga anda tega sekali membuat saya terkurung di sini" ujar Rania yang nampak memelas.
"ya sudah " Julian kini beranjak dari depan kamar mandi,dia melangkah menuju koper yang berwarna hitam untuk mengambil handuk milik Rania.
Tok!!!tok!!!tok
Julian mengetuk pintu kamar mandi, dia sudah membawakan handuk yang di pinta Rania.
"buka,nih aku sudah membawakan apa yang kamu suruh" ujar Julian
"balikan badan mu, saya akan mengambilnya awas saja jika kamu ketahuan berbalik nanti saya akan colok mata kamu" ujar Rania
Pintu kamar mandi di buka sedikit oleh Rania, nampak Julian yang sedang berdiri sambil memegang handuk yang Rania ingin kan,dan Rania melihat kalau Julian sedang membelakangi pintu kamar mandi, dengan cepat Rania mengambil handuk dan segera menutupnya kembali.
"loh kok ini cuma handuknya saja"gerutu Rania
"tuan, kok cuma handuk saja yang tuan bawakan kepada saya kan saya___" ucap Rania terpotong oleh ancaman yang Julian katakan.
__ADS_1
"sudah jangan banyak bicara, cepetan kamu pakai handuk dan keluar atau saya akan masuk dan meunboxing kamu di dalam sana" ujar Julian yang kesal akibat menunggu Rania selesai mandi, sedangkan perutnya sudah keroncongan sejak tadi.
yang berada di dalam kamar mandi tampak gemetar karena dia belum siap untuk melakukan itu.
"huuuh terpaksa deh aku harus menggunakan ini saja, dari pada arrrrghh udah lah"
Ceklek!!! Pintu pun terbuka nampak Rania berjalan menuju ruang ganti hanya dengan mengenakan handuk yang sebatas paha, Julian yang sedang fokus menatap layar laptopnya pun tiba-tiba mendadak tidak fokus dengan kedatangan Rania.
gleek!!! Julian nampak menelan Salivanya saat melihat pemandangan yang begitu indah di hadapannya.
buru-buru Rania masuk untuk segera memakai baju, karena dia tahu bahwa sejak dari tadi Julian menatap tubuhnya dengan intens.
"haduuuh, tatapan yang sangat mengerikan hiiiyy" Rania tampak di buat bergidik ngeri oleh tatapan Julian yang kini sudah menjadi suaminya.
Rania menatap dirinya di sebuah cermin, dress yang Julian belikan untuk dia kenakan menambahkan kesan yang anggun dan pas di tubuhnya,tidak lupa Rania memoleskan make up tipis agar membuat kecantikan di wajahnya yang dia miliki bertambah.
"waw ternyata aku cantik juga ya kalau dandan seperti ini"
ketika Rania sedang memandangi tubuhnya di depan cermin tiba-tiba terdengar suara ketukan yang membuat Rania berjingkrak kaget.
Ceklek!!! Pintu pun terbuka lebar di sana terlihat Julian yang sedang menyilangkan tangannya di dada.
"lelet banget,buruan saya sudah lapar" ujar Julian yang tampak masam
Julian berjalan menuruni anak tangga yang di ikuti oleh Rania dari belakang,di meja makan sudah terlihat bahwa nyonya Talita Hutabarat sedang menunggu keberadaan mereka berdua.
"pengantin baru lama banget sih keluarnya, kalian tau tidak aku sudah lapar" ujar Dinda yang kesal karena menunggu kedatangan kakaknya yang terlalu lama.
"mmm maaf non,saya___"ujar Rania yang terpotong.
"sssttt sudah mari kita makan" ujar Talita yang memotong pembicaraannya Rania dengan Dinda.
Lalu mereka menyantap makanan dengan khidmat dan tanpa ada yang membuka surat satu pun.
Setelah mereka selesai makan bersama Talita mengajak Rania dan juga Julian ke taman belakang untuk membicarakan soal pernikahan kontrak yang Rania setujui.
__ADS_1
"Rania berapa lama waktu yang akan kamu sanggupi untuk pernikahan kalian" tanya Talita kepada Rania dan juga Julian.
"enam bulan mam" ujar Julian, tapi di tolak mentah-mentah oleh Rania sendiri.
"tidak aku tidak mau lama-lama, bagaimana kalau tiga bulan saja nyonya" ujar Rania yang mendapat anggukkan dari Talita Hutabarat.
"tapi aku harap kalian bisa selamanya menikah dan memberikan aku sebuah cucu" ujar Talita yang mendapatkan sebuah pelototan dari Julian dan juga Rania.
"apa mam,apa aku tidak salah dengar mama menyuruhku untuk menikah sungguhan, tidak aku tidak mau" ujar Julian yang nampak kesal
"tidak nyonya, saya juga tidak mau menjadi istri tuan Julian nanti aku bisa gila di buatnya nyonya " ujar Rania yang menatap tajam ke arahku Julian
"hey jaga bicaramu Rania, bukan kamu yang gila tapi aku,mama tahu dia sudah berani menyuruh ku untuk mengambilkan baju untuknya" ujar Julian yang nampak mengadu kepada mamanya
Rania hanya menggaruk kepalanya yang terasa tidak gatal.
"oke, oke mama tidak akan pernah memaksa kalian, sekarang berapa lama waktu yang akan kamu butuhkan Rania untuk menjadi istri kontrak Julian"
"mmm tiga bulan nyonya " ujar Rania
"oke lah kalau begitu" Talita pun pergi dari hadapan mereka berdua.
"Rania kemasi sekarang barang-barang mu nanti kita akan pindah ke villa yang ada di puncak" ujar Julian kepada Rania
"tapi kenapa harus pindah, kenapa kita tidak tinggal di sini saja "
"di sana ada beberapa restoran yang akan aku urus, jadi kemungkinan kita akan tinggal di sana dalam waktu yang cukup lama"
"oke deh, tapi kamu harus janji ya, kalau kamu tidak akan berani macam-macam sama saya tuan" ujar Rania yang memberi peringatan kepada Julian.
"tidak akan, paling hanya satu macam" lalu Julian pun pergi meninggalkan Rania yang sedang berdiri mematung.
"hiiiyy, menyebalkan sekali pantas saja non Nayla pergi meninggalkan acara pernikahan mereka berdua" ujar Rania yang kini berjalan menyusul Julian.
di lain tempat pak Firmansyah nampak terlihat sedang menunggu seseorang,dia sesekali melirik ke arah.
__ADS_1
"kenapa jam segini Rania belum juga pulang, tidak seperti biasanya dia pulang terlambat" ujar pak Firmansyah yang khawatir menunggu Rania