Mendadak Nikah!!

Mendadak Nikah!!
Dijodohkan!


__ADS_3

Triing....


Bunyi lonceng pulang sekolah nyaring terdengar di telinga semua murid. Tak terkecuali Naura yang setiap kali pulang sekolah akan merasa sangat senang. Pasalnya selama berada di sekolah ia terus merasa terusik oleh sesosok makhluk yang tak pernah dia harapkan.


"Udah bel pulang! Minggir gak, lo nindih buku gue!" pinta Naura dengan ketus pada Arlan yang sedang tertidur santai di sampingnya.


Mata Arlan mengerjap dan ia bangkit melihat ke arah sekeliling kelas, sudah tidak ada orang di dalam ruangan dan hanya mereka berdua.


Selesai memasukkan buku ke dalam tasnya Naura bangkit dan berniat pulang cepat tapi sayang baru saja ia berjalan ia langsung terjatuh ke lantai karena tali sepatunya saling terikat.


Arlan yang melihat Naura terjatuh tersenyum puas. Mengambil tasnya dan berjalan meninggalkan Naura.


"Aaarrllaan, sialan!" teriak Naura.


Naura mengepalkan tangannya karena merasa kesal pada Arlan, ia tahu kalau semua ini ulah Arlan.


"Awas saja kau!" batin Naura.


Dengan cepat Naura melepas ikatan tali sepatunya yang saling berkaitan. Ia berjalan dengan cepat untuk mengejar Arlan tapi sudah tidak ada siapapun di luar sana.


"Awas saja, kau! Aku akan membalasmu lain kali," kesal Naura.


Naura berjalan kaki dan menunggu angkutan umum tapi tiba-tiba Arlan mengendarai motornya dengan kencang di depan Naura membuat genangan air yang ada di jalanan membasahi pakaian sekolah Naura.


"Arlaaaannnn!"


Naura hanya bisa mengepalkan tangannya karena merasa kesal setengah mati pada Arlan. Seluruh tubuhnya basah oleh genangan air bekas hujan semalam.


Hidup Naura penuh dengan kesialan saat Arlan pindah ke sekolah ini, selama 2 tahun ini hidupnya tidak pernah merasa tenang dan sekarang Naura terpaksa harus pulang dengan jalan kaki karena angkutan umum manapun tidak akan mau memberikan tumpangan padanya.


Naura bersandar di pintu depan rumahnya, kakinya terasa sangat pegal karena ia berjalan kaki sepanjang jalan. Napasnya bahkan sampai terengah-engah.


"Ini semua karena Arlan sialan! Awas saja kau! Aku akan membalasmu nanti!" batin Naura.


Saat Naura membuka pintu rumah dan masuk ke dalam Naura melihat Mamanya sedang sibuk memasak banyak sekali hidangan bahkan terlihat pembantu rumah tangganya sedang membersihkan rumah dengan terburu-buru.


"Memangnya ada acara apa? Kenapa semua orang terlihat sibuk? Mama juga tumben sekali memasak," batin Naura.

__ADS_1


"Ma, aku pulang! Aku mau ganti baju dulu," ucap Naura membuat Mamanya menatap Naura dan mengangguk sambil tersenyum.


Naura naik ke lantai atas tempat kamarnya berada, saat pintu terbuka terlihat kamar Naura sangat cantik, dengan cat warna pink ala anak gadis yang feminim. Terdapat rak buku dan komputer warna pink juga di atas mejanya.


Naura masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu setalah itu ia berbaring di ranjang.


"Apa aku bilang saja sama Mama kalau aku ingin pindah sekolah? Toh Papa juga akan dipindah tugas bulan depan," batin Naura.


"Tidak tahan rasanya aku duduk sebangku dengan pembuat onar dan cowok menyebalkan seperti Arlan," batin Naura.


Entah mengapa mengingat Arlan membuat Naura merasa sangat kesal. Ia mencengkram guling yang ada di depannya dengan keras sambil membayangkan kalau guling itu adalah Arlan.


"Mampus kau! Rasakan ini!" teriak Naura terus memukul guling dengan kencang, meluapkan semua amarahnya pada Arlan.


Saat sedang asik memukul guling yang ada di depannya tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk membuat aktivitas Naura berhenti.


"Sayang, kau di dalam? Sudah tidur?" tanya Intan.


"Belum, Ma!" teriak Naura dari dalam dan dengan cepat berjalan menuju ke pintu membuka pintu untuk Mamanya.


Intan tersenyum manis di depan Naura dan masuk ke dalam sambil membawa paper bag yang ada di tangannya.


"Nanti malam keluarga kita akan kedatangan tamu, ada Om Wisnu dan Tante Ratna yang akan datang berkunjung dan makan malam di sini jadi pakai dress ini ya sayang dan berdandan yang cantik!" pinta Intan.


"Baik, Ma!" jawab Naura.


"Kalau begitu istirahat saja dulu, Mama turun ke bawah lagi," ucap Intan sambil mengelus rambut Naura.


Kini Naura tahu alasan kenapa Mamanya memasak dan bebersih rumah karena sahabat Mama dan Papa akan datang berkunjung tapi Naura sedikit bingung kenapa Mamanya memintanya untuk berdandan cantik.


***


Naura menggeliat di balik selimut warna pink, matanya terbuka dan menatap ke arah jam yang tepat berada di atas pintu kamarnya. Jam sudah menunjukkan pukul 19.00 dan Naura baru terbangun.


Ia bangkit dari ranjang dan sayup-sayup terdengar suara ribut di bawah. Seketika matanya langsung membulat dan ia sadar kalau malam ini ada tamu di rumahnya.


"Astaga Tante Ratna dan Om Wisnu pasti sudah datang, aku harus segera mandi!" Naura berlari ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.

__ADS_1


Setelah selesai mandi ia mulai berpakaian dan sedikit memoles wajahnya agar ia terlihat jauh lebih cantik. Tapi, meski tidak memakai make up wajahnya memang sangat cantik.


"Sayang, Om sama Tante sudah datang, ayo turun makan malam," teriak Intan dari bawah.


"Iya Ma, sebentar!"


Naura merasa kesal pada dirinya yang ketiduran hingga malam membuat ia yakin kalau semua orang sudah menunggunya di bawah.


Dengan cepat Naura menyelesaikan riasannya dan berjalan menuju ke bawah. Ia turun dari tangga dan semua orang menatap ke arah Naura yang baru saja turun dari tangga tak terkecuali cowok dengan kemeja coklat yang mirip dengan warna dress yang Naura kenakan.


Naura tersenyum pada semua orang hingga tatapannya tertuju pada cowok berbaju coklat yang duduk di samping Tante Ratna. Mata Naura membulat sempurna saat melihat wajah tak asing di depannya.


"Tidak mungkin! Apa aku berhalusinasi karena aku sangat kesal padanya? Aish, kenapa di momen seperti ini aku harus berhalusinasi tentang dia?" batin Naura.


Naura memutar bola matanya sambil tersenyum sendiri membuat semua orang menatapnya.


"Sayang, apa yang kau lakukan di situ? Kemarilah!" pinta Bara.


Kembali Naura menatap ke arah cowok yang berbaju coklat dan ia sedang tersenyum menyeringai ke arah Naura membuat senyum yang Naura perlihatkan langsung menghilang.


"Arlan," lirih Naura hampir tak terdengar.


Benar, cowok yang duduk di samping Tante Ratna itu memang benar Arlan dan saat ini ia tahu kalau dirinya tidak berhalusinasi.


"Kemarilah sayang!" pinta Intan membuat Naura melangkah dengan pelan sambil memikirkan kenapa bisa ada Arlan di rumahnya. Naura kini sudah ada di samping Mama dan Papanya tapi tatapannya masih tertuju pada Arlan.


Arlan tersenyum seperti iblis jahat, tapi Naura masih bingung dan memikirkan keberadaan Arlan yang tiba-tiba di sini.


"Naura, sangat cantik kalau memakai riasan seperti ini," puji Ratna.


"Rasanya makin tidak sabar," tambah Ratna girang.


"Sayang, jadi tujuan Om Wisnu dan Tante Ratna datang kemari untuk menjodohkanmu dengan Arlan!" ucap Intan membuat Naura terkejut setengah mati.


Mata Naura melotot seolah ingin melompat mendengar perkataan Mamanya. Bukan hanya Naura saja yang terkejut tapi Arlan juga tak kalah terkejut dari Naura.


"Apa? Dijodohkan?" tanya keduanya bersamaan sambil saling menatap satu sama lain.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2