
Mata Naura terbelalak, ia terkejut karena ia telah salah bicara di depan kedua sahabatnya.
"Lo beneran orang yang dibonceng Arlan?" tanya Mia menatap Naura dengan lekat sedangkan Naura tidak bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan Mia.
Ditengah ketegangan Naura tiba-tiba Seli tertawa terbahak membuat Naura dan Mia kebingungan sambil menatap Seli.
"Kenapa lo ketawa?" tanya Mia.
"Lo nuduh Naura yang dibonceng Arlan, 'kan? Gak akan mungkin Mia, lo sendiri tau gimana Arlan sama Naura, mereka ibarat dua kutub magnet yang saling bertolak belakang," jelas Seli.
"Oh iya gue sampai lupa," ucap Mia menggaruk kepalanya yang terasa tidak gatal sama sekali.
Sekarang Naura bisa bernapas dengan lega setelah mendengar ucapan Mia. Dalam hati ia hanya bisa bersyukur.
"Tapi kira-kira siapa ya cewek yang dibonceng sama Arlan, gue penasaran banget," ucap Mia.
"Please deh jangan bahas Arlan bisa, 'kan? Gue males banget," ucap Naura.
"Yaelah Ra, gue bingung deh kenapa lo gak suka sama Arlan padahal di sekolah ini cuma dia cowok yang paling keren dan sempurna, semua cowok lewat dan gak terlihat kalau ada Arlan," ucap Seli.
"Gue yang heran sama lo, daripada suka sama Iblis jahat dan playboy kayak Arlan gue lebih tertarik sama Roby, udah pintar, keren dan yang pasti baik banget," jelas Naura tersenyum mendefinisikan Roby di depan kedua sahabatnya.
Seli dan Mia tersenyum pada Naura karena ia tahu kalau Naura sangat tertarik dengan Roby. Mereka berdua pun mendukung Naura untuk mendapatkan Roby apalagi Naura juga cewek yang pintar di kelas meskipun memang ia tidak bisa menyaingi kepintaran Roby.
"Lo sama Roby serasi sih Ra, sama-sama pintar," ucap Mia membuat wajah Naura bersemu merah.
"Gue juga setuju, lo sama Roby emang serasi banget, biar gue yang sama Arlan," celetuk Seli.
Saat mereka bertiga mulai membicarakan tentang Arlan terlihat Arlan masuk ke dalam kantin bersama dengan dua sahabatnya yaitu Raka dan Rio.
Mereka bertiga sama-sama keren, kece dan yang pasti tampan tapi tentu saja Raka dan Rio belum bisa menyaingi ketampanan Arlan.
Rio adalah salah satu sahabat Arlan yang paling slengean, kocak dan rada ngawur sedangkan Raka adalah orang yang sama-sama cool seperti Arlan cuma bedanya Raka bukan pria kulkas seperti Arlan. Raka ramah dengan semua cewek yang ada di sekolah. Sayangnya, ia masih jomblo sampai sekarang.
Saat memasuki kantin semua mata tertuju pada Arlan, para cewek mulai menatap Arlan dengan tatapan berbinar. Ada yang menumpahkan minuman dan bahkan ada yang sampai tersedak karena melihat pangeran sekolah memasuki kantin.
"Pesan makanan gih!" pinta Raka pada Rio saat mereka bertiga duduk di meja kantin.
"Kok gue sih? Berdualah Bray!" ucap Rio.
"Gue nyuruh lo karena gue malas jalan, sana ah kita lapar nih!" pinta Raka membuat Rio mau tidak mau berjalan memesan makanan untuk Raka dan Arlan.
Arlan menatap ke segala arah. Tatapannya berhenti tepat di wajah Naura yang sedang berbicara dengan Mia.
"Guys liat Arlan natap gue," ucap Seli membuat Naura dan Mia menatap ke arah Arlan.
Tatapan mata Naura dan Arlan bertemu, Naura tahu kalau saat ini Arlan sedang menatapnya. Sedangkan Seli masih senyam-senyum sendiri karena merasa Arlan menatapnya.
Saat keduanya saling menatap satu sama lain entah darimana Monica datang dan duduk di samping Arlan.
"Beib, udah makan?" tanya Monica tersenyum manis di depan Arlan.
"Ngapain sih lo ke sini? Ganggu aja!" tanya Arlan pada Monica membuat Monica kesal.
"Kok kamu ngomongnya gitu sih? Aku akan pacar kamu jadi wajar kalau aku ada di dekat kamu," ucap Monica.
"Pacar? Sejak kapan? Gue gak pernah anggap lo pacar gue, mending pergi deh dari sini!" pinta Arlan.
Wajah Monica sangat kesal karena Arlan mengusirnya namun ia tetap enggan pergi dari kursi dan terus menempel pada Arlan.
Rio datang membawa nampan berisi bakso di tangannya dan matanya langsung berbinar menetap Monica sedangkan Arlan hanya memasang wajah datar.
"Eh ada Monica juga, ngapain Mon?" tanya Rio.
"Lo gak liat gue duduk dekat Arlan, ya pasti cari Arlan lah soalnya gak level cari lo!" celetuk Monica.
"Dih pedes banget mulutnya, gak apa-apa juga sih cari gue soalnya, 'kan Arlan gak suka tuh sama lo," ucap Rio membuat mata Monica melotot.
__ADS_1
"Bisa pergi gak sih? Gue risih sama lo, kalau lo gak pergi gue bakalan umumin semua kelakuan lo di depan semua orang!" ancam Arlan membuat Monica mau tidak mau harus pergi dari samping Arlan.
Monica dengan perasan kesal berjalan meninggalkan kantin dan menabrak tubuh Naura membuat Naura terjatuh.
"Jalan pakai mata," kesal Monica padahal dirinya yang menabrak Naura.
"Lo yang pakai mata sialan!" teriak Mia namun Monica tetap berjalan meninggalkan mereka bertiga.
"Sialan tuh cewek!" ucap Mia lagi.
"Udah gak usah dipeduliin, lagian gue juga gak apa-apa," ucap Naura.
Dari kejauhan Arlan menatap ke arah Naura yang bangkit dari lantai. Mia, Naura dan Seli langsung keluar dari kantin sekolah dan masuk ke dalam kelas.
"Lan, gue dengar gosip lo tadi pagi boncengan sama cewek, siapa tuh?" tanya Raka.
"Gila? Beneran Lan? Siapa ceweknya?" tanya Rio.
"Tau darimana lo?" tanya Arlan mengernyitkan dahi.
"Lo gak sadar satu sekolah lagi ngebahas lo, katanya ada yang liat lo boncengan sama cewek dari sekolah kita, semua cewek di sini histeris dan gosip itu sedang hangat dibicarakan," ujar Raka.
"Gila Bray, siapa sih ceweknya? Adek kelas? Apa kita kenal?" tanya Rio yang sangat penasaran.
"Udah makan aja jangan dibahas!" ucap Arlan.
"Gini Bray daripada lo PHP-in cewek lagi mending lo kasi ke gue aja, gue siap kok menerima," tambah Rio.
"Gue ke toilet dulu!" ucap Arlan bangkit dari kursi dan berjalan meninggalkan kantin.
Kini hanya tinggal Raka dan Rio yang masih makan bakso.
"Arlan gak kayak biasanya ya," ucap Raka membuat Rio menatap Raka.
"Gila sih, gue penasaran banget sama ceweknya, cantik gak sih?" celoteh Rio.
"Maksud lo apa? Sembunyiin gimana?" tanya Rio.
"Biasanya Arlan bakalan dengan gamblang menceritakan cewek yang nempel padanya meskipun dengan wajah dingin tapi tadi lo bisa lihat sendiri, 'kan Arlan lebih milih gak bahas itu?" tanya Raka membuat Rio sadar.
"Gue baru ngeh Brey!"
"Apa jangan-jangan Arlan benaran deket sama cewek itu?" tanya Rio.
Raka hanya terdiam sambil tersenyum aneh.
***
Bel pulang sekolah sudah berbunyi, semua siswa dan siswi bersorak gembira, Seli dan Mia pamit lebih dulu pada Naura karena mereka akan pergi berbelanja, mereka berdua sudah mengajak Naura ikut tetapi Naura menolak.
Naura melihat ke sekeliling sekolah, tampak sangat sepi karena semua orang yang sudah pulang, dengan langkah pelan ia berjalan keluar gerbang dan melihat Arlan sedang menunggunya.
"Lo kemana aja, lama banget sih?" tanya Arlan.
"Gue liat kondisi dulu Arlan, gue gak mau nama baik gue jelek karena boncengan sama lo!" ucap Naura.
"Lo pikir gue kriminal? Gila lo ya!" kesal Arlan.
"Emang kriminal sekolah, 'kan?" tanya Naura membuat Arlan melotot di depan Naura.
"Naik sekarang! Lo udah buat gue nunggu! Bentar lagi hujan gue gak mau kena hujan!" ucap Arlan.
Naura mengambil helm yang diberikan oleh Arlan dan langsung naik, tanpa berlama-lama Arlan melajukan motornya dengan kecepatan tinggi agar tidak terkena hujan.
"Pelan Arlan!" pinta Naura tapi bukannya mendengar ucapan Naura, Arlan semakin melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
Naura merasa sedikit takut karena Arlan terus mengebut apalagi langit terlihat sangat mendung. Karena terus dipukuli oleh Naura membuat Arlan mengehentikan motornya dengan mendadak.
__ADS_1
"Lo apaan sih mukul terus? Sakit tau!" kesal Arlan.
"Habisnya lo ngebut banget, lo mau gue mati jantungan?" tanya Naura kesal.
"Lo gak liat langit mendung? Bentar lagi hujan deras dan gue gak mau kehujanan," ucap Arlan.
"Tapi gue takut kalau lo bawa ngebut, gue gak biasa naik motor Arlan!" tegas Naura.
"Ya Udah kalau emang lo gak mau naik motor naik taksi aja sendiri," ucap Arlan.
"Sekarang turun!" pinta Arlan.
"Gak mau!" tolak Naura.
"Gue bilang turun! Kalau lo gak mau turun gue jatuhin lo!" ancam Arlan.
Dengan cepat Naura turun dari motor Arlan, Arlan mengambil helm dan langsung meninggalkan Naura di jalanan tanpa menoleh sedikit pun. Melihat kepergian Arlan membuat Naura kesal dan sedih.
Tiba-tiba saja air mata Naura jatuh membasahi pipinya. Ia tidak menyangka kalau Arlan akan meninggalkan dirinya di tengah jalan seperti ini. Ingin naik taksi cukup susah karena gerimis sudah mulai turun.
Naura menghapus air matanya dan berjalan menyusuri jalanan, perasananya bercampur antara marah, kesal dan sedih.
Hujan turun semakin deras membuat tubuh Naura basah di guyur hujan, Naura terus melangkahkan kakinya menyusuri jalanan tak lama mobil warna putih berhenti di depannya membuat Naura sedikit takut.
Seorang keluar dari dalam mobil sambil membawa payung dan mendekati Naura. Rupanya orang itu adalah Roby, ia mendekati Naura dan menatap Naura dengan lekat.
"Lo kenapa hujan-hujanan gini, Ra?" tanya Roby membuat Naura menggeleng pelan.
"Ayo masuk!" pinta Roby sambil menarik tangan Naura masuk ke dalam mobilnya.
Naura kini sudah ada di dalam mobil, ia merasa sangat bersyukur karena Roby menemukan dirinya dan memberikan tumpangan padanya.
"Lo gak apa-apa, 'kan? Kenapa lo hujan-hujanan sih kalau sakit gimana?" tanya Roby penuh perhatian sambil memberikan jaket untuk Naura.
"Makasih Rob," ucap Naura pelan.
"Gue antar pulang, ya!" ucap Roby dan Naura mengangguk.
"Rumah lo dimana?" tanya Roby membuat Naura terkejut.
"Hah? Oh itu,"
"Gimana ini, gimana gue ngomong ke Roby, gak mungkin, 'kan gue bilang tinggal sama Arlan," batin Naura.
"Ra, rumah lo dimana?" tanya Roby.
Naura bingung harus menjawab apa, ia menggigit bibirnya sendiri karena merasa panik.
"Kok lo diem? Lo kedinginan?" tanya Roby dan Naura menggeleng pelan.
"Gue mau ke rumah Arlan, soalnya mau ambil buku gue yang dibawa sama dia, boleh, 'kan lo nganter gue ke sana?" tanya Naura.
"Arlan emang brengsek banget, dia udah kelewatan banget sama lo," kesal Roby.
Melihat Roby perhatian padanya seperti ini membuat hati Naura berbunga, bahkan kekesalannya pada Arlan tadi sudah terlupakan saat Roby memperhatikan dirinya.
"Ya udah sekarang kita ke rumah Arlan dulu habis itu gue anterin pulang," ucap Roby.
"Gak usah Rob, gue gak mau ngerepotin lo, nanti gue minta supir buat jemput gue ke sana, gue juga gak mau libatin lo untuk masalah gue sama Arlan," ucap Naura.
Roby pun mengangguk karena ia juga tidak mau membuat Naura berpikir kalau dirinya mendekati Naura. Meskipun sebetulnya ia tertarik dengan Naura.
Cukup lama di dalam perjalanan akhirnya mobil yang dikendarai oleh Roby sampai di depan rumah Arlan yang megah.
Arlan yang saat ini berada di ruang gym melihat mobil putih terparkir di halaman rumah, Naura turun dari mobil dan melambaikan tangan pada Roby.
"Sialan! Beraninya dia bawa cowok ke rumah gue!"
__ADS_1
Bersambung...