Mendadak Nikah!!

Mendadak Nikah!!
Hari Sakral


__ADS_3

Tatapan mata Arlan dan Naura bertemu, wajah Naura terlihat memerah karena menahan amarahnya. Ia tak tahu maksud dari Papa dan Mamanya ingin menjodohkan dirinya dengan Arlan tanpa memberitahunya terlebih dahulu.


Melihat wajah Naura memerah sontak membuat Arlan tersenyum menyeringai.


"Iya, kalian berdua akan kami jodohkan, tanggal pernikahan kalian juga sudah kami tentukan," ucap Ratna.


Seluruh tubuh Naura merasa lemas mendengar apa yang dikatakan oleh Ratna. Jelas Naura merasa lemas karena Papa dan Mamanya sudah mengatur tanggal pernikahan mereka padahal mereka masih remaja.


"Ma, tapi aku masih di bawah umur, kami masih sekolah bagaimana bisa menikah?" tanya Naura.


"Tidak apa-apa semuanya sudah diatur jadi kalian berdua tenang saja," ucap Bara.


"Tapi tetap saja—"


"Aku akan menjaga Naura dengan baik Tante, Om!" tegas Arlan membuat Naura menatap tajam ke arah Arlan.


"Apa? Menjagaku dengan baik? Kamu adalah orang yang paling ingin aku hindari, iblis jahat!" batin Naura.


Terlihat Bara dan Intan mengangguk menanggapi ucapan Arlan.


"Aku gak mau menikah, Ma! Aku masih pengen sekolah tinggi dan juga menentukan apa yang aku inginkan, Mama dan Papa tidak bisa seenaknya mengatakan ingin menikahkan aku," ucap Naura kesal.


Semua orang yang ada di sana menatap ke arah Naura. Memang benar apa yang dikatakan oleh Naura bahwa gadis seusia dirinya memang seharusnya belajar dan sekolah saat ini bukan menikah bahkan dengan orang yang sangat tidak ia inginkan.


"Kami tidak akan menghalangi impian kalian, apalagi kalian sekarang masih sekolah, kami justru akan mendukung kalian untuk menuju ke jenjang yang lebih tinggi lagi," ucap Ratna.


"Tante dan keluarga janji tidak akan melarangmu melakukan apapun, kalian berdua sudah dijodohkan sejak kecil jadi kalian tidak bisa menolak perjodohan," ucap Ratna lagi.


Naura terdiam dan menatap Papa dan Mamanya. Naura sama sekali tidak tahu kalau anak dari Ratna dan Wisnu itu adalah Arlan. Ia memang mengenal Ratna dan Wisnu karena keduanya sahabat dari Papa dan Mamanya.


"Naura ke toilet dulu," ucap Naura pamit pada semua orang.


Melihat Naura berjalan ke belakang membuat Arlan ikut ke belakang menyusul Naura. Ia yakin Naura tak akan pergi ke toilet dan dugaan Arlan benar saat ini Naura berjalan ke pintu belakang dan duduk di sofa. Wajahnya masih sangat kesal.


Saat ini Naura sangat marah apalagi saat tahu kalau Arlan yang akan menjadi suaminya. Sedikit pun tidak pernah terlintas di dalam benaknya untuk menikah dengan Arlan, jangankan menikah memiliki perasaan pada Arlan saja rasanya tidak sudi.

__ADS_1


"Lo gak suka nikah sama gue?" tanya Arlan yang tiba-tiba ada di belakang Naura membuat Naura menatap tajam ke arah Arlan.


"Sampai kapanpun gue gak bakalan sudi!" kesal Naura dengan tatapan tajam namun Arlan justru tertawa terbahak di depan Naura membuat Naura bingung.


"Ngapain lo ketawa? Lo kira ini semua lucu?" tanya Naura kesal.


"Lo pikir gue juga sudi nikah sama lo? Di sekolah banyak cewek cantik dan seksi yang mau sama gue, gak kayak lo yang di bawah standar!" ejek Arlan.


Naura mengepalkan tangannya saat Arlan mengatai dirinya tapi saat ini Naura hanya bisa memendam kemarahannya. Ia juga malas berdebat dengan Arlan seperti biasanya.


"Kalau lo emang gak mau nikah sama gue kenapa tadi lo gak tolak perjodohan ini, lo justru senang, 'kan biar bisa memperbudak gue?" tanya Naura.


"Maskipun gue nolak kayak lo pernikahan akan tetap berlangsung Naura, lo pikir kedua orang tua kita gak memikirkan semua ini matang-matang?" tanya Arlan membuat Naura terdiam.


Naura membenarkan apa yang dikatakan oleh Arlan. Kedua orang tua mereka tidak akan mungkin tidak memikirkan semua ini dengan matang tapi tetap saja bagi Naura pernikahan sangatlah keterlaluan apalagi menikah dengan Arlan.


"Gue ada satu cara agar kita bisa tenang tanpa membatalkan pernikahan ini," ucap Arlan.


"Cara apa?" tanya Naura.


"Kita akan tetap menikah seperti yang kedua orang tua kita inginkan tapi kita menikah di atas kertas, bagaimana?" tanya Arlan.


"Yap, kita menikah kontrak dengan perjanjian tertentu, lo boleh menambahkan apapun yang lo inginkan begitu pula dengan gue, bagaimana menurut lo?" tanya Arlan sambil menatap Naura yang sedang berpikir.


Naura menatap Arlan dengan tatapan selidik, takut Arlan merencanakan sesuatu padanya namun tawaran menikah kontrak cukup menarik bagi Naura apalagi ia bisa menambahkan poin penting agar Arlan tidak dapat mengganggunya lagi.


"Lama banget mikirnya," sindir Arlan membuat Naura menatap Arlan dengan tajam.


"Oke gue setuju," ucap Naura.


Melihat Naura setuju membuat Arlan tersenyum puas. Entah apa maksud dari senyuman yang Arlan tunjukkan Naura sama sekali tidak tahu.


"Kalau gitu ayo balik ke meja makan, semua orang udah nungguin kita," ucap Arlan.


Naura dan Arlan pun berjalan menuju ke meja makan dan benar saja para orang tua mereka terlihat khawatir pada mereka berdua.

__ADS_1


"Kalian berdua kemana sih? Katanya mau ke toilet kok lama banget?" tanya Intan.


"Maaf Ma," ucap Naura.


"Ya udah sekarang kita makan dulu, nanti kita lanjutkan pembicaraan yang tertunda," ucap Intan.


Mereka semua memutuskan untuk makan malam bersama sebelum membahas lebih jauh mengenai rencana perjodohan Naura dan Arlan.


Setalah selesai makan mereka kembali membahas tentang perjodohan Arlan dan Naura serta rencana pernikahan yang akan digelar lusa. Wajah Naura tampak kurang bersemangat meskipun ia dan Arlan sudah memutuskan menikah kontrak.


***


Hari yang ditunggu sudah tiba, tampak di dalam kamar Naura memakai kebaya putih dengan riasan yang natural karena pernikahannya dan Arlan akan berlangsung beberapa menit lagi.


Dengan wajah yang cukup lesu Naura menatap pantulan bayangannya di depan cermin.


"Kenapa gue harus nikah sama orang yang pengen gue hindari?"


"Naura," panggil Intan sambil membuka pintu kamar. Ia terlihat tersenyum hangat di depan Naura.


"Sayang, penghulunya sudah datang, ayo keluar!" pinta Intan menggandeng tangan Naura dan keluar dari ruangan.


Di luar penghulu sudah datang dan tak banyak orang yang menyaksikan pernikahan mereka, hanya beberapa orang saja yang bisa dihitung dengan jari.


Naura duduk di samping Arlan dan penghulu pun mulai menikahkan mereka berdua.


"Arlan Atmaja aku nikahkan engkau dengan Naura Ayu dengan maskawin 50 gram emas dibayar tunai!"


"Aku terima nikahnya Naura Ayu dengan maskawin tersebut di bayar tunai!"


"Bagiamana para saksi? Sah?"


"Sah!!"


Kini Naura dan Arlan resmi menjadi sepasang suami istri, Arlan menatap wajah Naura yang menatapnya dengan sendu sedangkan orang tua Naura ataupun orang tua Arlan tampak sangat bahagia melihat kedua anaknya menikah.

__ADS_1


Arlan masih menatap wajah Naura dengan lekat dan mencium kening Naura di depan semua saksi.


Bersambung...


__ADS_2