
Kini Naura dan Arlan sudah sah menjadi sepasang suami istri, semua orang terlihat bahagia kecuali Naura yang menunjukkan wajah lesu. Entah apakah Arlan juga menunjukkan wajah lesu atau bahagia Naura tidak tahu kerena ia tidak mau menatap ke arah Arlan.
Intan mendekati Naura dan mengelus pipi Naura dengan pelan, sebelum Naura di bawa ke kediaman Ratna dan Wisnu, Intan ingin berbicara dengan Naura terlebih dahulu.
"Sayang," panggil Intan membuat Naura menatap ke arah Mamanya.
"Mama mau bicara denganmu," ucap Intan.
Intan dan Naura menjauh dari kerumunan sedangkan Arlan masih duduk santai di tempatnya tadi. Naura dan Intan duduk di kursi. Intan mendekati Naura dan mengelus tangan Naura.
"Sayang, Mama tahu kau pasti belum menerima semua ini, tapi Naura ini semua sudah Mama dan Papa rencanakan sejak dulu, kau tahu Tante Ratna dan Om Wisnu orang yang baik, mereka akan menyayangimu seperti anak kandungnya," ucap Intan.
"Aku tahu, Ma!" ucap Naura.
"Hanya saja ini sulit bagiku, tapi aku akan berusaha menerima semua ini," ucap Naura.
Mendengar ucapan Naura membuat Intan tersenyum hangat, ia memeluk tubuh Naura dan Naura pun membalas pelukan Intan.
"Seminggu lagi Mama dan Papa akan pergi ke Amerika karena Papa ada urusan bisnis di sana, kau baik-baik di rumah Tante Ratna dan Om Wisnu," ucap Intan.
Naura semakin mengeratkan pelukannya, ia sudah tahu kalau kedua orang tuanya akan pindah tapi ia tidak menyangka kalau mereka akan pindah ke luar negeri dan jauh darinya. Meskipun dirinya ingin ikut tapi sekarang ia sudah menikah dengan Arlan.
"Apa kepindahan Papa dan Mama juga menjadi alasan Papa dan Mama menikahkan aku dengan Arlan begitu cepat?" tanya Naura yang dijawab anggukan oleh Intan.
"Mama dan Papa tidak ingin kau ikut ke luar negeri, kau masih remaja Ra dan pergaulan di sana tidak sesuai dengan budaya kita di sini, kau mengerti, 'kan apa yang Mama dan Papa maksud?" tanya Intan.
Naura hanya bisa mengangguk pasrah, keduanya kini sudah selesai bicara, Bara datang menghampiri Naura dan istrinya.
"Kalian berdua membicarakan apa?" tanya Bara.
"Hanya saling melepas rindu Pa, kan sekarang Naura sudah menjadi istri Arlan dan akan jauh dari kita," ucap Intan.
Bara tersenyum dan memeluk kedua wanita yang sangat dicintainya, mereka bertiga berpelukan hingga tiba saatnya mereka akan berpisah.
Naura pamit pada kedua orang tuanya dengan perasaan sedih setelah itu ia masuk ke dalam mobil yang dikendarai oleh Wisnu. Sepanjang jalan Naura hanya diam dan menatap ke luar jendela, melihat pemandangan jalanan yang padat dengan lalu lintas.
"Ra," panggil Ratna.
"Iya Tante," jawab Naura.
"Kok Tante sih Ra, Mama dong sayang kan kau sekarang sudah jadi anak Mama dan Papa," ucap Ratna.
"Eh i-iya Ma," ucap Naura gugup.
"Gitu dong, sekarang Papa punya anak cewek," ucap Wisnu.
Naura tersenyum mendengar ucapan Wisnu, tak terasa perjalanan sudah cukup lama dan mereka sudah sampai di depan rumah megah milik keluarga Arlan.
Semua orang turun dari mobil termasuk Naura, Naura cukup takjub dengan kediaman Atmaja, rumah megah dan ada taman di depan rumah dengan bermacam-macam bunga yang bermekaran.
"Ayo masuk sayang," ucap Ratna menggandeng tangan Naura masuk ke dalam rumah.
Saat masuk ke dalam rumah Naura kembali dibuat takjub, rumah Arlan benar-benar mewah dan megah, rumah dengan tiga lantai itu terlihat seperti istana, sangat berbeda dengan rumah yang ditinggali Naura meskipun keluarganya termasuk orang kaya.
"Ajak Naura ke kamar, pasti ia merasa lelah," ucap Wisnu.
"Oke Pa!" jawab Arlan.
"Ayo Naik Ra!" ajak Arlan.
Mendengar Arlan memanggilnya dengan sopan membuat Naura terkejut pasalnya di sekolah Arlan selalu menyebutnya dengan panggilan Ratu Alien karena menurutnya wajah Naura mirip Alien.
Naura mengikuti Arlan dari belakang, mereka berdua masuk ke dalam lift dan menekan tombol menuju lantai tiga.
Area lantai tiga adalah kamar Arlan dan semua ruangan yang ada di sana milik Arlan seorang sedangkan lantai dua khusus untuk kedua orang tua Arlan.
Di dalam lift Arlan maupun Naura sama-sama terdiam, keduanya tidak berbincang satu sama lain meskipun berada di dalam lift.
Ting..
Lift terbuka dan Arlan berjalan menuju ke kamarnya.
__ADS_1
"Ini kamar kita," jelas Arlan.
"Hah? Kita?" tanya Naura terkejut.
"Iya, lo sama gue!" jelas Arlan membuat Naura menelan salivanya dengan susah payah.
"Gue gak mau sekamar sama lo, Arlan!" tegas Naura sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Terus lo mau tidur dimana? Lo mau kedua orang tua gue curiga?" tanya Arlan kesal.
Naura menghembuskan napas dengan kasar, ia tidak mau tidur sekamar dengan Arlan tapi ia juga tidak bisa tidur di luar.
Arlan berjalan dengan langkah cepat dan menutup pintu kamar membuat Naura terkejut dan memicingkan matanya sambil menutupi bagian depan tubuhnya.
Arlan yang melihat Naura memicingkan matanya langsung menatap Naura dengan tatapan aneh.
"Lo ngapain kayak gitu? Lo pikir gue bakalan macam-macamin lo?" tanya Arlan.
"Gue waspada," jelas Naura ketus.
"Gue udah bilang gue gak mungkin tertarik sama lo, lagian tampang lo di bawah standar!" ucap Arlan membuat Naura kesal.
Naura mencoba meredam emosinya meskipun ia merasa sangat kesal dan marah pada Arlan. Arlan kembali berjalan, kali ini ia berjalan ke arah meja, mengambil selembar kertas dan bolpoin lalu menyerahkan kertas dan bolpoin itu pada Naura.
"Ini surat perjanjian pernikahan gue sama lo, semua yang gue mau udah gue tulis sekarang giliran lo!" ucap Arlan.
Naura mengambil kertas yang diberikan oleh Arlan, ia membaca apa yang ditulis Arlan di atas kertas itu.
Poin pertama, Arlan menegaskan kalau Naura tidak boleh ikut campur dengan urusan pribadi Arlan, poin kedua menegaskan kalau Naura tidak boleh jatuh cinta pada Arlan.
Membaca poin kedua membuat Naura sedikit terkejut dan menatap Arlan dengan julid.
"Cih! Siapa juga yang sudi jatuh cinta sama lo, kalau pun gak ada cowok di dunia ini tetap gue gak bakalan jatuh cinta sama iblis jahat kayak lo," batin Naura.
Naura kembali membaca poin yang ditulis Arlan dan ia setuju dengan semuanya. Dengan cepat Naura pun menulis keinginannya yang tak jauh berbeda dengan yang Arlan inginkan.
Setelah selesai Naura memberikan kertas itu lagi pada Arlan dan mereka berdua menandatangani surat perjanjian itu.
"Oke, kalau lo yang membocorkan semua ini maka gue yang kasi lo hukuman," jelas Naura.
"Setuju! Satu lagi, di depan orang tua gue lo gak boleh ngomong lo-gue, kita pakai aku-kamu aja! Lo ngerti kan?" tanya Arlan.
"Iya." Naura menjawab dengan singkat.
***
Hari sudah berganti malam Naura merasa sangat gelisah karena ia dan Arlan akan tidur sekamar, pikirannya terus saja terbayang kalau Arlan akan berbuat macam-macam padanya pasalnya di sekolah Arlan terkenal sebagai cowok playboy yang sering gonta-ganti pasangan. Korbannya saja mungkin sudah lebih dari seratus cewek.
Saat Naura sedang duduk di ranjang, pintu kamar terbuka dan Arlan masuk ke dalam dengan keadaan telanjang dada sontak membuat Naura menjerit dan memejamkan matanya.
Mendengar Naura menjerit membuat Arlan terkejut dan menatap Naura dengan bingung.
"Ngapain lo gak pakai baju, Arlan?" teriak Naura masih memejamkan matanya.
"Lo lebay banget sih jadi orang, lo gak pernah liat orang telanjang dada kek gini?" tanya Arlan.
"Arlan pakai baju lo sekarang juga! Gue gak mau mata gue ternodai oleh tubuh iblis lo!" pinta Naura.
Melihat Naura masih memejamkan matanya membuat Arlan tersenyum jahil, bukannya menuruti apa yang Naura inginkan Arlan justru mendekat ke arah Naura dan berdiri tepat di depan Naura.
"Arlan, lo udah pergi, 'kan?" tanya Naura masih memejamkan matanya.
"Arlan!" panggil Naura.
Karena tidak mendapatkan jawaban dari Arlan dengan perlahan Naura membuka matanya. Namun, baru saja ia membuka matanya ia kembali menutup matanya sambil berteriak kencang. "Arlan sialan!"
Arlan tertawa terbahak melihat reaksi Naura dan masuk ke dalam kamar mandi sambil menutup pintu. Wajah Naura memerah menahan kesal, sehari ia menjadi istri dari Arlan sudah membuatnya kesal setengah mati.
Tok..
Tok..
__ADS_1
Tok..
Baru saja Naura mencoba meredam segala kekesalannya terdengar pintu kamar diketuk membuat Naura berjalan ke arah pintu.
Saat membuka pintu Naura melihat Ratna berdiri di depannya sambil tersenyum manis.
"Mama," panggil Naura.
"Ayo turun makan malam sayang, Arlan mana?" tanya Ratna.
"Arlan lagi mandi Ma, soalnya tadi dia berkeringat banyak habis olahraga," jawab Naura membuat Ratna tersenyum geli.
Ia berpikir kalau Arlan dan Naura sudah olahraga bersama apalagi rambut Naura terlihat masih sedikit basah.
"Ayo turun makan malam dulu, kalian pasti lelah dan menghabiskan banyak tenaga, biar nanti Arlan menyusul," ucap Ratna.
Naura pun mengangguk dan turun ke bawah bersama dengan Ratna. Mereka berjalan menuju ke ruang makan dimana Wisnu sedang menunggu mereka berdua.
"Arlan mana?" tanya Wisnu karena tak melihat Arlan turun bersama dengan Naura dan Ratna.
"Sudah Pa jangan ditanya nanti mereka malu," ucap Ratna membuat Wisnu paham dengan apa yang dikatakan Ratna.
Wisnu menahan senyum di depan Naura membuat Naura bingung dengan apa yang dibicarakan Papa dan Mama mertuanya.
"Ayo sayang duduk!" pinta Ratna sambil menggeser kursi dan Naura duduk di samping Ratna.
Tak lama terlihat Arlan keluar dari lift dan berjalan santai menuju ke meja makan. Mereka berempat pun mulai makan dalam diam.
Selesai makan Ratna dan Wisnu ada kegiatan di luar membuat Arlan dan Naura tinggal berdua di dalam rumah.
"Arlan gue ngantuk," ucap Naura.
"Terus apa hubungannya sama gue?" tanya Arlan.
"Gue tidur di mana? Gue gak mau tidur seranjang sama lo!" jelas Naura.
"Kalau gitu ya udah tidur di lantai," jawab Arlan asal membuat Naura menatapnya tajam.
"Aish Arlan gue serius!"
"Gue juga serius, kalau lo gak mau tidur di ranjang bareng gue ya udah tidur di lantai aja!"
Setelah mengatakan itu Arlan langsung berjalan ke ranjang dan merebahkan tubuhnya di ranjang yang empuk sedangkan Naura masih mematung melihat Arlan yang sudah memejamkan matanya.
Naura mendengus kesal, ia tidak terbiasa tidur di lantai jadi mau tidak mau ia tidur di samping Arlan.
"Inget ya, ini batasan kita!" tegas Naura sambil membatasi tubuhnya dan tubuh Arlan dengan guling.
Arlan membuka matanya dan menatap guling yang menjadi pembatas tubuh mereka berdua.
"Terserah lo tapi kalau lo sendiri yang datang ke wilayah gue bakalan gue tendang sampai lo jatuh," ucap Arlan cuek.
"Gak akan! Gak sudi juga!"
Naura membetulkan posisi tidurnya dan membelakangi Arlan, tak lupa memakai selimut dan mulai tertidur dengan lelap karena sedari tadi ia sudah mengantuk.
Arlan belum bisa tertidur meskipun jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari, ia tidak terbiasa tidur dengan orang lain.
"Dasar Alien! Bagaimana dia bisa tidur nyenyak padahal ada cowok keren di sampingnya," batin Arlan.
Arlan menatap ke arah Naura yang kini sudah tertidur lelap di sampingnya, tadinya posisi tidur Naura membelakangi Arlan tapi kini posisi Naura sudah berganti menghadap Arlan.
Karena jarak wajah keduanya terlalu dekat Arlan bisa melihat wajah Naura dengan sangat detail, wajah oval dengan bulu mata lentik, alis rapi, hidung mancung dan bibir yang merah dapat membuat Arlan gugup.
"Ternyata Ratu Alien polos dan cantik juga kalau tidur," ucap Arlan pelan tanpa sadar sudah mengakui kecantikan Naura.
Baru saja Arlan memuji Naura, tiba-tiba tubuh Naura mendekat dan tangannya melingkar di perut Arlan membuat Arlan terkejut dan mematung.
"Sial!"
Bersambung...
__ADS_1