Mendadak Nikah!!

Mendadak Nikah!!
Gosip Hangat


__ADS_3

Arlan mencoba untuk menyingkirkan tangan Naura dari tubuhnya dan mencoba mendorong tubuh Naura menjauh darinya.


"Berat banget sih, makan batu kali ini anak!" batin Arlan.


Arlan terus mendorong tubuh Naura membuat piyama yang Naura pakai sedikit tersingkap ke atas memperlihatkan perut Naura yang mulus.


"****!" umpat Arlan saat melihat perut Naura yang mulus dan putih.


Dengan perlahan Arlan mencoba menurunkan piyama Naura dan di detik itu juga Naura terbangun karena merasa ada yang menyentuh tubuhnya. Mata Arlan dan Naura bertemu membuat Naura bangkit dari ranjang dan langsung memukul kepala Arlan dengan bantal.


"Sialan lo, lo apain gue Arlan," teriak Naura sambil terus memukul kepala Arlan dengan kencang.


"Tunggu, gue gak ngapa-ngapain lo," ucap Arlan sambil melindungi kepalanya dari pukulan Naura.


"Bohong, dasar iblis mes*m!!" kesal Naura.


Naura terus memukul Arlan dan Arlan memegang tangan Naura dengan cepat hingga kini tidak bisa memukul Arlan lagi.


Beruntung kamar Arlan kedap suara jika tidak semua orang pasti terbangun karena teriakan Naura yang begitu kencang.


"Dengerin gue dulu, gila lo siapa juga yang mau ngapa-ngapain lo," kesal Arlan.


"Lo yang gila, itu tadi apa namanya? Lo ngangkat baju gue, sialan lo!" Kemarahan Naura semakin menjadi ketika mengingat bagaimana ekspresi wajah Arlan yang sedang memegang piyamanya.


"Gue jelasin ya, mau lo gak gak pakai baju sekalipun gue gak bakalan tertarik sama lo, tadi lo meluk gue jadi gue dorong menjauh dan gak senagaja baju lo kebuka, gue cuma mau nutupin perut lo yang terekspos," jelas Arlan.


"Bohong! Lo tukang bohong dan playboy, lo pasti mau macam-macam sama gue karena gue tidur," sanggah Naura.


"Gila lo!" kesal Arlan.


"Lo yang gila, dasar mes*m! Sekarang lo tidur di bawah!" bentak Naura.


"Ogah, ini kamar gue dan kalau lo gak mau tidur di ranjang bareng gue ya lo tidur di bawah sendiri!" tegas Arlan.


Naura merasa sangat kesal pada Arlan dan hanya bisa menghembuskan napas kasar. Mau tidak mau ia harus tidur seranjang lagi bersama Arlan.


Arlan berbaring di ranjang dan membelakangi Naura sedangkan Naura hanya bisa menatap langit-langit kamar dan bergadang semalaman karena takut Arlan akan berbuat macam-macam padanya.


***


Pagi telah tiba, sinar matahari mulai perlahan merambat masuk ke dalam kamar, Arlan masih tertidur nyenyak di atas ranjang sedangkan Naura saat ini sedang berada di dalam kamar mandi, menatap wajah cantiknya dengan lekat, ia mendengus kesal saat melihat matanya penuhi dengan lingkaran hitam.


"Ini semua karena Iblis jahat," kesal Naura.


Dengan cepat Naura membersihkan tubuhnya sebelum Arlan terbangun, setelah selesai mandi ia keluar dari kamar mandi dan mengambil pakaian sekolahnya. Kamar Arlan memang luas bercat abu khas kamar anak cowok pada umumnya berbeda dengan kamar Naura yang bertema pink khas gadis manis dan feminim.


Arlan menggeliat di atas ranjang, wajahnya yang tampan masih terlihat sangat tampan meski baru bangun tidur, matanya melirik ke tempat Naura tidur namun tak menemukan Naura di sana.


"Ra," panggil Arlan membuat Naura keluar dari ruang ganti dengan pakaian sekolah lengkap.


"Apa?" tanya Naura ketus.


"Udah siap aja, lo!" ucap Arlan yang berjalan ke kamar mandi.


Naura duduk di depan meja, menyiapkan semua buku yang akan ia bawa ke sekolah sambil menunggu Arlan selesai mandi, tak lama Arlan sudah selesai mandi dan bersiap.

__ADS_1


Keduanya turun dari lantai tiga menuju ke lantai satu untuk sarapan bersama. Terlihat para pelayan di rumah ini menyiapkan serapan untuk mereka. Tak lama Ratna dan Wisnu muncul dari pintu dan tersenyum manis pada Arlan dan Naura.


Ratna duduk di samping Naura dan memperhatikan wajah Naura yang terlihat lesu, pandangannya langsung tertuju pada lingkaran hitam di bawah mata Naura.


"Kalian begadang semalaman?" tanya Ratna membuat Wisnu menatap ke arah Naura dan Arlan.


Naura dan Arlan yang ditanya seperti itu oleh Mamanya tampak tak bisa menjawab.


"Sudahlah Ma, namanya juga pengantin baru," ucap Wisnu membuat Naura tersedak.


Dengan cepat Arlan memberikan segelas air putih untuk Naura, mendapatkan air putih dari Arlan tanpa pikir panjang Naura langsung meneguknya tanpa sisa.


"Mama sama Papa jangan gitu dong, aku dan Naura, 'kan masih malu kalau harus membahas hal seperti itu," ucap Arlan sambil merangkul pundak Naura.


Mata Naura melotot tapi ia berusaha tersenyum di depan Ratna dan Wisnu, tidak mungkin ia menepis tangan Arlan di depan kedua orang tuanya.


"Baiklah, ayo sekarang makan," ucap Ratna dan mereka berempat mulai serapan.


Selesai sarapan mereka berdua pamit pada Ratna dan Wisnu untuk berangkat ke sekolah.


"Sayang, kau dan Naura kan mulai sekarang bakalan berangkat bersama, apa sebaiknya pakai mobil saja?" tanya Ratna.


"Gak perlu, Ma! Aku dan Naura naik motor saja lebih romantis," ucap Arlan membuat Ratna tersenyum sedangkan Naura memutar bola matanya jengah.


"Baiklah kalau begitu," ucap Ratna.


"Kami pamit dulu, Ma!" ucap Naura pada Ratna.


Arlan dan Naura berjalan keluar dari rumah, langkah Arlan sangat cepat membuat Naura kesulitan mengejarnya.


"Nih pakai helm!"


"Kenapa gak pakai mobil sih? Kalau pakai motor gini anak-anak bisa liat kita nanti," ucap Naura.


"Lo mau berangkat bareng gue apa gak? Kalau mau pakai mobil mending lo cari taksi sana!" cerca Arlan.


"Lo turunin gue agak jauh dari sekolah, gue gak mau sampai fans lo yang matanya buta itu nyerang gue!" tegas Naura.


Dengan malas Naura memakai helm dan naik ke motor Arlan, ditunggu pun ditunggu Arlan tidak juga melajukan motornya membuat Naura kesal.


"Gue udah naik, lo sampai kapan mau diam di sini, kita bisa telat!" omel Naura.


"Makaknya pegangan, lo mau jatuh?" tanya Arlan.


"Ogah banget pegangan sama lo, dasar iblis jahat, playboy cap jempol, tukang mesu—"


Belum sempat menyelesaikan ucapannya Arlan sudah melajukan motornya dengan kecepatan tinggi membuat Naura terkejut dan hampir terjatuh, dengan cepat Naura memeluk tubuh Arlan dari belakang membuat Arlan tersenyum puas.


Sepanjang jalan Naura terus memeluk tubuh Arlan karena Arlan melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan kota yang penuh dengan kendaraan berlalu-lalang.


Arlan menghentikan motor yang ia kendarai 500 meter dari gerbang sekolah, setelah itu meminta Naura turun. Dengan cepat Naura turun dari motor Arlan dan tanpa pikir panjang Arlan melajukan motornya meninggalkan Naura.


"Dasar menyebalkan!"


Naura berjalan dengan cepat menuju ke gerbang sekolah karena tidak mau terlambat, ia setengah berlari mendengar bunyi lonceng yang menandakan kalau semua siswa sudah harus masuk ke dalam kelas untuk memulai proses pembelajaran.

__ADS_1


Saat berjalan dengan terburu-buru, Naura tidak sengaja menabrak Roby yang membawa setumpuk buku hingga membuat setumpuk buku itu berjatuhan di lantai.


"Aduh maaf," ucap Naura merasa bersalah.


Roby dan Naura berjongkok sambil menyusun semua buku yang berjatuhan di lantai, setelah semua buku sudah rapi kembali Naura menatap Roby.


"Maaf banget Rob, gue tadi gak sengaja," ucap Naura.


"Gak apa-apa Ra, gue juga salah karena gak terlalu memperhatikan jalan, lo gak perlu merasa bersalah," ucap Roby sambil tersenyum.


Melihat Roby tersenyum padanya membuat wajah Naura memerah. Roby adalah ketua kelas yang sangat pintar, tampan dan sangat sopan. Sejak awal bersekolah Naura sudah sangat mengidolakan Roby. Roby adalah tipe pria yang ia idamkan bukan seperti Arlan yang menyandang status playboy cap jempol.


"Ayo ke kelas bareng," ajak Roby dan Naura berjalan beriringan dengan Roby.


Sesampainya di depan kelas kedua sahabat Naura mengedipkan mata pada Naura kerena masuk kelas bersama dengan Roby, mereka berdua tahu kalau Naura tertarik pada Roby.


Naura dengan cepat berjalan ke mejanya dan kedua sahabatnya yang duduk di belakanganya langsung tersenyum menggoda Naura.


"Hari ini Bu guru memberikan tugas pada kita karena sedang ada rapat di ruang kepala sekolah, kerjakan sampai jam istirahat dan jangan berisik!" ucap Roby mengumumkan apa yang diminta guru padanya.


Semua siswa dan siswi yang ada di dalam kelas sontak bersorak sedangkan Arlan tertidur di meja dengan kedua tangannya sebagai bantal.


Setiap hari kegiatan Arlan di sekolah hanya tidur, tak heran ia menjadi siswa dengan nilai terendah di sekolah meskipun begitu banyak cewek yang ingin menempel padanya dan memperebutkan cintanya.


Bunyi bel istirahat terdengar, semua siswa dan siswi berhamburan keluar kelas, ada yang sekedar nongkrong di belakang kelas, ada yang belajar di perpustakaan dan sebagian besar masuk ke kantin untuk mengisi perut.


Naura, Mia dan Seli langsung menuju ke kantin karena merasa cukup lapar. Mereka bertiga duduk di meja paling pojok menatap semua murid yang ada di kantin.


"Gue punya gosip hangat," ucap Mia pada Naura dan Seli membuat keduanya menatap ke arah Mia.


"Gosip apa?" tanya Seli penasaran.


"Tapi lo gak akan patah hati, 'kan?" tanya Mia tersenyum pada Seli.


"Tentang pangeran gue (Arlan)?" tanya Seli.


"Pangeran? Cih, iblis sih iya," balas Naura.


"Ra, Arlan itu pangeran, tampan, kaya dan sempurna!" jelas Seli.


Maklum jika Seli memuji ketampanan Arlan karena ia salah satu fans garis keras Arlan di sekolah.


"Dengerin gue dong!" pinta Mia membuat Seli menatap ke arah Mia dengan wajah penasaran.


"Gosip hangat apa?" tanya Seli.


"Tadi saat aku tiba di sekolah semua orang sedang membicarakan Arlan, termasuk mantannya Arlan, katanya ada yang liat Arlan boncengan sama cewek sekolah kita dan saling berpelukan!" ucap Mia sontak membuat Naura tersedak.


"Lo kenapa?" tanya Seli.


"Gak ada," jawab Naura.


"Kayaknya cewek itu pacar barunya Arlan yang akan dijadikan target ke seratus lima belas," ucap Mia.


"Gila lo ya! Ke seratus lima belas? Gak sudi gue?" jawab Naura menatap Mia sontak membuat Mia dan Seli menatap Naura bingung.

__ADS_1


"Maksud lo apa Ra? Apa jangan-jangan cewek yang dibonceng Arlan itu lo?"


Bersambung...


__ADS_2