Menghapus Jejakmu

Menghapus Jejakmu
MJ - 2. Bulan Desember (2)


__ADS_3

Usai melaksanakan hukumannya, Anin bergegas pergi ke kelasnya untuk mengikuti pelajaran seperti biasa. Sesampainya di kelas, Anin langsung duduk di kursinya yang sudah ada teman baiknya disana dan langsung menenggelamkan kepalanya diatas meja. Kebetulan guru pelajaran pertama belum ke kelas.


“Kenapa lo telat, biasanya mepet tapi nggak sampai telat." Tanya Nindy -teman sebangku dan juga teman akrab Anin sejak SMP-.


Tak ada jawaban dari temannya, Nindy kembali fokus ke handphone miliknya menengok sosial media idolanya. Nindy selalu bisa menjadi pendengar yang baik, tapi tidak pernah memaksakan temannya untuk bercerita.


“Pagi anak-anak" Sapa ibu guru saat memasuki kelas Anin untuk mengajar pelajaran pertama.


Mendengar sapaan dari sang guru, Anin berusaha membuka mata dan mendengarkan apa yang diucapkan sang guru.


...****************...


Jam istirahat berbunyi dan semua guru mengakhiri kelas, tak terkecuali kelas Anin.


Usai sang guru keluar, Anin langsung berdiri dan mengajak sahabatnya ke kantin untuk sarapan karena Anin belum sempat sarapan tadi pagi.


“Semalem wayangan lagi, Nin ?" Tanya Nindy dalam perjalanan ke kantin.


“Iya, gue baru beli novel baru." Jawab Anin antusias dengan mengubah posisi berjalannya yang semula disamping Nindy kini sudah ada di depan Nindy dan berjalan mundur.


“Anin, jangan mundur jalannya nanti nabrak orang." Peringat Nindy ke sahabatnya.


“Enggaklah, lorongnya sepi ini." Elak Anin dengan terus bercerita pasal novel yang telah tamat dibacanya semalaman ini.


Dan tiba-tiba..


BRUUKKK !!!


Anin terjatuh bersamaan dengan buku hingga menimbulkan suara.


“Aduh.." Ringis Anin karena pantatnya berhasil mencium dinginnya keramik sekolah. “Kalo jalan tuh pake mata." Protes Anin kepada pemilik buku karena telah membuatnya terjatuh.


“Sorry ya, lo yang jalannya mundur. Makanya kalo jalan itu liat depan jangan liat belakang." Protes Alex-ketua kelas 12 IPS 1-.


“Ya, kalo lo tau harusnya lo ngehindar bukannya malah nabrak gue,"


Karena harus mengumpulkan buku tugas teman satu kelasnya, Alex bergegas membereskan bukunya dan segera ke ruang guru.

__ADS_1


“Awas ya lo, urusan kita belom kelar." Ancam Alex.


“OK, urusan kita belom kelar. Awas aja lo." Anin mengancam balik.


“Nin, lo kenapa sih, kenapa nyari urusan sama kak Alex, dia kan badboy. Hati-hati sama dia." Tegur Nindy yang semula hanya terdiam kepada Anin.


“Enggak peduli gue. Pokoknya gue harus bikin perhitungan sama itu orang." Ya, Anin memang keras kepala dan susah dibilangin.


Setelah terhambat karena kejadian tadi, kini Anin dan Nindy melanjutkan perjalanannya ke kantin untuk mengisi perut mereka, lebih tepatnya Anin yang sudah kelaparan.


...****************...


Selesai mengumpulkan buku di meja guru, Alex pergi ke kantin menemui teman mainnya, Nino dan Steven. Sesampainya di kantin, Nino tidak sengaja melihat orang yang menabraknya tadi.


Setelah menemukan keberadaan dua sohibnya, dia berjalan ke meja dimana keberadaan mereka.


DUUAAAARRRR !!!


Suara gebrakan meja mampu membuat dua sohibnya tersedak hingga terbatuk-batuk.


“Lebay lo."


“Bisa enggak sih loh kalo dateng itu Assalamualaikum, atau seenggaknya gausah ngagetin." Kali ini giliran Nino yang mengungkapkan protesnya.


“Ya, sorry. Abis gue kesel sama anak kelas 11. Ngeselin banget, dia yang jalan kagak pake mata, eh malah dia yang marah-marah kayak emak-emak kurang jatah bulanan." Pembelaan Alex.


“Daripada lo yang gantian kayak emak-emak, mending sana pesen makan." Suruh Nino, karena dia tau kalo Alex udah kelaparan pasti ngomel enggak jelas.


Tanpa menjawab sepatah katapun, Alex balik badan berjalan menuju kantin Bu Wati, tempat makan favorit mereka bertiga.


...****************...


Bel masuk pelajaran selanjutnya menjadi pengingat bagi semua siswa untuk segera masuk ke dalam kelas, tak ketinggalan bagi Anin dan Nindy.


Saat baru berdiri, Nindy menyapa seseorang saat ada tiga orang siswa hampir melewatinya karena posisi duduknya dekat jalan keluar masuk kantin.


“Bang Nino."

__ADS_1


“Kenapa, Nin ?" Tanya Nino setelah menghentikan langkahnya untuk ke kelas.


“Nanti gue nebeng ya hehe"


“Bukannya udah dapet ongkos dari papa lo ?" Heran Nino, pasalnya Nindy selalu dapat uang saku lebih banyak dari dirinya.


“Boleh ya, biar ngirit ongkos." Mohon Nindy sekali lagi.


“Iya."


“Thank you abang Nino." Jawab Nindy senang dengan memberikan jari telunjuk dan ibu jarinya membentuk love.


Selesai berbicara, Nindy dan Anin melanjutkan jalannya menuju kelas. Begitupun dengan Nino dan sohibnya.


Di tengah perjalanan, Alex memulai perbincangan.


“Dia siapa lo ? Mau aja lo dijadiin tukang ojek." Tanya Alex kepada Nino.


“Sepupu gue." Jawab Nino santai.


“Cantik juga sepupu lo Nin, bisa kali buat gue, ya ya.." Ucap Steven kepada Nino dengan menaik turunkan alisnya.


Plakk !


Satu keplakan tepat sasaran di kepala Steven, sedangkan si empunya kepala hanya bisa meringis kesakitan.


Tanpa memperhatikan kedua sohibnya, Alex tersenyum miring, senyum kelicikan khas Alex.


***


Kira-kira apa yang sedang dipikirin sama Alex ?


...


Gimana di BAB 2 ini gais ? Udah muncul sedikit konflik nih. Seru ga ? Jangan lupa komentar dan tinggalkan jejak ya gais.


Selalu aku tunggu Like, Vote dan Comment dari kalian. Virtual hug 🤗

__ADS_1


__ADS_2