
"Dia beneran kakak lo?" tanya Winter yang membahas Jeno. Jisung sebenarnya tak ingin membahas Jeno saat ini, ia merasa tak nyaman jika membicarakan Jeno pada orang asing. Yang bahkan sangat berhati baik di depannya ini. Namun, ada keraguan dihatinya ia ingin menghindar dari pertanyaan Winter, yang tampak gadis itu sangat penasaran pada ayahnya.
"Bener. Emangnya kenapa?" Jisung bertanya balik. Rona merah di pipi Winter membuat Jisung paham. Jisung berfikir jika Winter tertarik pada Jeno, ia tak bisa mengelak jika pesona ayahnya memang sangat menggoda, apalagi untuk gadis seperti Winter ini. Namun sayangnya, Winter belum tahu bagaimana Jeno yang sebenarnya.
Jisung hanya tak ingin Winter merasa sakit. Sakit karena sifat dan perlakukan Jeno. Ketertarikan seharusnya tak membuat Winter jadi buta, jika Jeno itu tidaklah sesempurna pikiran orang-orang di luar sana. Apalagi Winter ini orang asing, Jisung hanya tidak ingin jika ia akan bernasib sama dengan dirinya, yaitu disakiti.
Jisung tak marah kok, jika seandainya Winter menyukai Jeno. Sedari tadi, ia memang diam-diam memerhatikan tatapan Winter yang berbeda kepada Jeno, gadis itu menatap dalam dan bahkan tak berniat untuk berpaling sedikitpun. Ia juga sempat melihat, ketika Jeno beranjak pergi, ada rasa kekecewaan dari Winter. Namun yang menjadi masalahnya adalah, Jaemin juga melihat hal itu. Mungkin juga berpikiran sama dengan yang Jisung pikirkan.
Jisung dan Jeno adalah orang asing di hidup Jaemin dan Winter. Jisung hanya takut, jika mereka lah yang menjadi penghancur hubungan yang sudah terjalin lama itu. Hubungan bisa saja retak karena suatu masalah kecil, dan saat ini Jisung sangat takut, jika terjadi sesuatu dengan hubungan antara keduanya. Apalagi Jaemin memilih diam, tak bersuara lagi. Sepertinya ia sedang cemburu, namun tak ia tunjukkan.
"Tidak. Aku hanya ingin tahu," jawaban Winter membuat Jisung sebenarnya tak percaya. Namun, ia juga tak ingin kembali bertanya jika pada akhirnya akan menimbulkan suatu masalah. Akhirnya Jisung memilih diam sambil menundukkan kepalanya.
Ia bingung harus mengajak mereka mengobrol dengan pembahasan apa. Karena di pikiran Jisung sedang bercabang, banyak hal yang ia pikirkan sehingga tidak bisa fokus di sini. Terutama ia belum melihat keadaan ibunya. Perasaannya belum tenang jika belum melihat Irene secara langsung.
"Jisung," setelah beberapa saat hening. Winter kembali memanggil Jisung. Rasa penasarannya tak bisa menghentikan ia untuk tidak bertanya. Karena ia sudah tahu status mereka, jadi ia bisa jadikan Jisung sebagai perantara untuk mendekatkan diri pada Jeno. Dan untuk Jaemin, biarlah nanti Winter pikirkan bagaimana baiknya.
Anak yang di panggil itu, mendongak. Menatap Winter yang tampak ragu untuk mengeluarkan suaranya. Pertanyaaan yang telah ia rangkum, mendadak tak bisa ia katakan. Saat Jaemin ternyata juga menunggu apa yang akan ia katakan.
"Apakah d-dia sudah memiliki-"
"Memiliki apa?" potong Jaemin menatap Winter dalam. Winter yang ditatap seperti itu menjadi gugup. Ia mengalihkan tatapannya pada hal lain, ia cuma tak mau jika Jaemin tau jika dirinya sedang gugup.
"Aku tanya.. Itu- apakah dia sudah memiliki pekerjaan," ulang Winter asal. Ia hampir saja menanyakan hal lain, untung saja kalimatnya tak sampai. Kalau sampai hal itu terjadi, entahlah bagaimana reaksi Jaemin nanti. Bukan hanya Jaemin, Jisung pun pasti akan terkejut.
"Iya. A- Kak Jeno ia bekerja sebagai CEO di perusahaan yang ia bangun dan kembangkan sendiri, tanpa bantuan dari orang tua kami," jawab Jisung.
Winter tanpa sadar semakin melebarkan senyumnya. Entah apa yang gadis itu pikirkan, membuatnya senyum-senyum sendiri, membuat yang lain merasa heran.
__ADS_1
"J-jadi namanya Jeno, Ya?" tanyanya lagi. Jisung menganggukkan kepalanya. Jaemin masih memilih diam. Ia bukan tipe orang yang mudah marah, namun sangat mudah untuk merasa cemburu.
"Yes. Akhirnya udah tau namanya. Berarti tinggal minta nomor dan buat rencana selanjutnya deh," batin Winter bahagia.
"Kalau begitu, boleh minta-"
"Ekhm!"
Suara deheman seseorang membuat kalimat Winter terhenti. Ia melihat salah satu maid menghampiri mereka dengan membungkuk hormat. Winter memamerkan senyumannya, namun tidak dengan hatinya yang justru mengumpat.
"Anjir nih, mbak. Malah datang saat gue lagi mau minta nomornya. Kenapa gak datang saat gue sudah dapat nomornya aja sih. Kan kesel jadinya."
"Maaf menganggu waktunya. Makanannya sudah jadi. Silahkan ke ruang makan," ujar mbak itu.
"Baik. Terimakasih bi," jawab Jisung dengan ramah.
"Sebelumnya, kalian mengatakan jika kalian lah yang telah menolong dan membawanya datang kesini," suara Jeno menggema di ruang tamu yang hening ini.
"Iya. Benar!" Winter segera menjawab dengan cepat. Sebelum ke duluan oleh Jaemin.
"Baiklah terima ini," Jeno menyerahkan sebuah koper/tas yang bisa di tebak itu berisi uang. Ia menaikkan tas itu di atas meja lalu menyodorkan dihadapan Jaemin dan Winter. Ketiganya sama-sama melongo tak paham maksud dengan maksud Jeno.
"Maksud anda?" tanya Jaemin. Ia memandang tatapan dingin pria di depannya ini.
"Kalian telah membawanya pulang. Jadi sebagai imbalan, ambil bayaran ini. Tapi jangan pernah datang dan temui Jisung lagi. Anggap kalian tidak pernah bertemu dengan dia sebelumnya," ujar Jeno yang tanpa sadar membuat hati Jisung sakit. Tujuan ia melakukan itu bukan karena peduli pada Jisung melainkan ada hal lain.
Jaemin tersenyum sinis. Lalu dengan cepat pula ia menyerahkan kembali uang itu. Winter sih masih diam di tempat. Merasa janggal dengan perkataan Jeno barusan. Meski awalnya Winter berniat untuk mengambil uang itu, tapi melihat Jaemin menolak, maka ia juga akan menolaknya. Ia hanya sedikit tersinggung dengan ucapan Jeno.
__ADS_1
"Saya tidak perlu uang itu."
"Tak perlu munafik. Setiap bantuan tak ada yang gratis. Dan sebagai balasan ambil uang itu dan masalah selesai sehingga Kalian bisa pergi."
Ucapan Jeno tak di tanggapi oleh keduanya. Winter terkejut dengan akhir kalimat yang diucapkan Jeno. Secara tak langsung mereka diusir.
"Ataukah uangnya kurang? Sebutkan nominal berapa yang kalian inginkan. Saya akan transfer," dengan angkuhnya Jeno kembali berucap.
Jisung sudah tak tahan lagi, ia merasa muak dengan sikap Jeno yang tidak bisa menghargai tamu. Apa lagi mereka berdua ini orang baik, ia merasa bersalah. Karena di rumah Winter kemarin, ia sangat dijaga dengan sangat baik. Namun disini, Winter malah mendapat perlakukan tak mengenakkan dari Jeno. Namun kembali lagi, ia tak bisa bersuara, membantah yang dikatakan Jeno.
"Kami menolong Jisung dengan ikhlas. Tanpa ada niat sedikitpun untuk mendapatkan suatu imbalan dari anda. Karena pertolongan tidak pernah mengharapkan balasan. Kami sangat ikhlas, sebagai manusia tolong menolong itu sudah menjadi kewajiban. Dan anda harus tahu, uang tidaklah selamanya berguna. Tidak selamanya bisa menyelesaikan suatu permasalahan.
Meskipun kami tak sekaya anda. Tapi kami memiliki hati yang mungkin anda tak miliki. Dan tolong jaga Jisung dengan baik. Kami permisi," ucapan Jaemin membuat Jeno terdiam. Namun sama sekali tak merasa bersalah.
Jaemin segera menarik Winter. Meski Winter sempat menolak untuk pergi. Namun tak ada alasan ia tinggal, Jeno juga sudah mengusir mereka.
Melihat kepergian keduanya. Jisung dengan refleks berdiri hendak mengejar.
"Kak.. Tolong tunggu seben-"
Bruk!
Jisung terjatuh akibat kaki Jeno yang mungkin di sengaja di majukan. Hingga Jisung terjatuh dengan lutut yang mengenai lantai dengan cukup keras. Sakit. Sakit itu yang dirasakan Jisung. Bukan hanya fisik namun hatinya pun.
Dengan berlinang air mata, ia menatap Jeno yang hanya diam duduk santai di sofa. Tanpa ada belas kasihan dan ia sama sekali tak ada niatan untuk menolong Jisung. Lagi dan lagi, Jeno tak peduli.
"Dasar menyusahkan," Jeno berucap lalu bangkit dari tempatnya duduk. Berjalan tanpa peduli dengan tangisan Jisung yang sangat menyedihkan.
__ADS_1
"Tuhan.. Kapan kau mengambil ku. Aku lelah."