Menikah Dengan Duda (Winter X Jeno Ft Jisung)

Menikah Dengan Duda (Winter X Jeno Ft Jisung)
4. Jeno


__ADS_3

Gadis yang tadinya bertabrakan dengan si pria tak mengedipkan matanya, seolah pandangannya itu sudah terkunci pada satu objek.


Berbeda dengan si gadis yang sangat mengagumi sosok di depannya itu. Malah si pria hanya memandang datar dan jengah melihat perilakunya. Memang ini bukanlah hal pertama kali menjumpai seseorang yang terpesona terhadapnya, bahkan ratusan hingga ribuan orang yang melihatnya akan langsung terhipnotis akan ketampanan wajahnya itu. Lee Jeno.


"Gila..gila. Ganteng banget nih orang. Bahkan Jaemin, cowok populer di kelas gue aja kalah. Wahh fiks nih, dia jodoh gue. Pokoknya gue harus dapatin nih, si tampan," batinnya dengan pipi yang merona merah.


"Ekmm!" Jeno berbatuk untuk membuyarkan lamununannya. Sungguh Jeno merasa tak nyaman dengan tatapan gadis itu. Tatapannya berbeda dari gadis-gadis yang pernah ia temui.


Gadis itu tersadar, dan dengan canggung membungkuk sedikit, guna meminta maaf. Setidaknya apa yang ia lakukan cukup sopan, sebagai pertemuan pertama.


"Maafkan saya..mmm kak," memanggil kata 'kak' membuat pipi gadis itu tambah bersemu merah. Padahal si pria hanya memandang datar tak peduli dengan perilaku sang gadis yang justru bertingkah malu-malu kucing.


"Hmm."


Jeno sudah akan melangkahkan kakinya ke mobil, namun tiba-tiba gadis itu menarik tangannya. Sembari memperlihatkan ice cream si pria yang sudah hancur itu.


"Maaf kak, ice creamnya jatuh gara-gara saya. Tunggu sebentar saya akan menggantinya," lalu gadis berambut sepunggung itu langsung berlari masuk ke toko.


Sebenarnya Jeno bisa saja pergi saat gadis itu sudah menghilangkan di balik pintu toko. Tetapi entah karena apa, ia memilih menunggu. Menunggu orang asing yang sama sekali tak ia kenal.


Tidak berselang lama, gadis itu datang. Dan langsung memberikan ice cream Jeno dengan yang baru.


"Ini kak. Kakak suka ice cream ya? nanti kalau ketemu lagi, saya belikan ice cream deh," entah sadar atau tidak, gadis itu malah berbicara untuk menarik perhatian si pria.


Karena tak mendapat jawaban, gadis itu jadi canggung sendiri. Dengan sebuah kekehan singkat, "kakak masih SMA atau udah Kuliah?"


Tak ada jawaban dari si pria. Gadis itu menggaruk rambutnya yang tak gatal karena di abaikan. Akhirnya dengan sebuah cengiran untuk menguatkan hatinya, ia kembali berkata sembari menjulurkan tangannya di depan sang pria.

__ADS_1


"Kenalin kak, nama saya Winter gadis paling cantik di kota ini," ucapnya dengan sedikit kepedean. Sebenarnya Winter bukanlah orang yang seperti itu, tetapi pria di depannya ini mampu membuatnya menjadi orang yang berbeda.


"Thanks," pria itu akhirnya membawa dengan singkat. Lalu meninggalkan Winter yang terdiam di tempatnya.


"Anjirrr.... Suaranya itu loh...OMG dia harus jadi milik gue," bati. Winter berteriak kesenangan.


Mobil yang si kendarai oleh si supir pribadi Irene kini melanjutkan perjalanan untuk sampai di kediaman keluarga Kim. Jeno sejak masuk ke mobil tak berbicara, mengabaikan Irene yang mengajaknya mengobrol.


Hingga sampailah mereka di mansion keluarga Kim. Rumah luas dan megah itu berdiri kokoh di tengah kota. Halamannya yang terdapat taman kecil nan indah. Itu karena Irene sangat menyukai bunga, makanya ia sengaja membangunnya untuk menikmati keindahan alam yang tercipta.


Jisung masih tertidur. Wajahnya yang polos menggemaskan membuat Irene tersenyum simpul.


"Jisungiee, bangun dulu. Ini sudah sampai nak," Irene menggoyang goyangkan bahu Jisung dan menepuk-nepuk pipinya. Namun ia masih saja terlelap.


Melihat Jeno yang akan turun dari mobil, Irene langsung menghentikannya. Jeno berbalik, "ada apa eomma?"


Namun bukaannya menurut, Jeno langsung menolak permintaan ibunya.


"Gak ibu. Jeno juga lelah, Jeno gak mau melakukan itu."


"Jeno, eomma cuma ingin kamu memperlakukan Jisung sewajarnya, eomma cuma pengen kamu lebih dekat dengan Jisung." Irene berkata dengan nada marah.


"Apakah menggendongnya sampai ke dalam, itu sangat sulit?!"


Jeno memutar matanya malas, selalu saja begini. Selalu saja Jeno yang di salahkan, di marahi. Itu semua karena Jisung, Hanya Karena Jisung.


"Eomma aku sudah memberikan segalanya untuk anak itu, aku bahkan sudah memberikan hidupku, aku menanggung semuanya. Dan apakah itu masih kurang?!" Jeno berbalik menuntut marah. Tujuannya datang ke korea bukan untuk bertengkar dengan ibunya, ia ingin berdamai. Namun entah siapa yang egois keduanya sama-sama tak ingin mengalah.

__ADS_1


"Jeno kamu-"


"Eomma maafkan Jeno. Tapi dia sudah besar, dia sudah bisa mengurus dirinya sendiri. Eomma jangan terus-terusan memanjakannya, karena anak itu akan melunjak dan terus keras kepala. Lagi pula dia pasti akan senang karena akan selalu mendapatkan pembelaan dari Eomma."


Tanpa di sadari oleh keduanya, seseorang di antara mereka ternyata telah terbangun dari tidurnya. Ia memilih diam dan berpura-pura tidur untuk mengetahui percakapan antara keduanya.


"Jeno! Kamu sangat keterlaluan. Jisung masih kecil, masih membutuhkan kamu!"


"Maaf eomma tapi Jeno juga butuh istirahat, Jeno capek. Biarkan Jeno istirahat setidaknya untuk lima menit," Setelah mengatakan itu, Jeno segera beranjak dari mobil.


Meninggalkan Irene yang serba salah, dirinya tahu Irene tahu jika Jeno sudah melalui hidup yang sulit, di paksa menjadi dewasa dan bertanggungjawab sebelum waktunya. Tetapi sikap egois dan Jeno yang sepertinya tak menginginkan Jisung, membuat Irene marah karena anaknya tak pernah bisa menerima takdir.


****


Jeno memasuki mansion itu dengan perasaan kesal. Sambutan dari para maid ia abaikan. Dan dengan langkah cepat, ia memasuki kamarnya. Kamar yang terkahir kali ia tinggali saat usia remajanya yaitu ketika ia masih 16 tahun, sudah harus meninggalkan rumah dan seluruh kenangan indah dimas kecilnya.


Ia menatap kamarnya yang sama sekali tak berubah. Kamar ini masih bernuansa remaja, yang di desain sendiri olehnya.


Ia jadi teringat, saat berusia 10 tahun itu bersikeras untuk membuat kamar ini sesuai dengan keinginannya. Hitam dan abu-abu, itulah yang ke mendominasinya.


Pandangan Jeno jatuh tertuju pada fotonya saat kelulusan SD, ia begitu bahagia di samping ibu dan ayahnya. Kebahagiaan masa kecilnya yang ia rindukan kini hanya menjadi sebuah kenangan.


Jika saja kejadian kelam itu tak terjadi mungkin Jeno tak harus menanggung semuanya sendiri. Segala hal ia pertaruhkan karena kejadian semalam itu.


Kelulusan SMP nya berakhir menyedihkan, membawa fakta yang merubahnya menjadi sosok yang dingin tak tersentuh. Egois itu bukanlah sifat asli seorang Jeno, namun itulah yang selalu ia tunjukkan untuk tetap bersikap tegar, seolah ia baik-baik saja.


"Takdir memanglah tak terduga. Andai waktu bisa di ulang, apakah mungkin semua ini tidak akan terjadi? Dan apakah aku bisa menjalani masa remaja seperti anak-anak lain?"

__ADS_1


Jeno memejamkan matanya, untuk menghilangkan sedikit beban pikiran di kepalanya.


__ADS_2