Menikah Dengan Duda (Winter X Jeno Ft Jisung)

Menikah Dengan Duda (Winter X Jeno Ft Jisung)
19. Tangisan Jisung


__ADS_3

Saat tangisan Jisung menggema. Tak ada yang berniat untuk menenangkan anak itu. Para maid yang melihat pun, seakan tak ingin menolong Jisung yang sedang bersimpuh di atas lantai. Kakinya memang tidak terluka parah, hanya sedikit memar. Namun rasa sakit akibat perbuatan Jeno masih membekas di hati Jisung.


Sebelumnya, meski Jeno tak menyukainya, tak peduli terhadapnya. Namun ayahnya itu tak pernah berbuat kasar padanya. Ia hanya bersikap acuh terhadap apa yang dilakukan Jisung. Namun untuk pertama kalinya, Jeno melakukan hal itu dengan sengaja. Dan kata-katanya yang diakhir pun sebelum meninggalkannya itu sangatlah menyakiti Jisung. Sadar atau tidak, Jeno telah menyakiti hati seorang anak yang sama sekali tak mengerti tentang hidupnya sendiri.


Para maid yang berada di ruang tamu itupun, hanya berdiri menatap Jisung tanpa berniat untuk membantunya. Hanya melihat, seakan Jisung bukanlah cucu dari pemilik rumah ini. Melihat perlakuan Jeno pun tak ada satupun yang iba terhadapnya. Saat ini, Jisung merasa berada du situasi dimana dirinya hanya di anggap patung yang tak penting.


Percuma ia kaya, percuma ia menjadi cucu dari konglomerat jika hanya satu orang yang benar-benar menginginkannya, hanya satu orang yang menyayanginya, peduli dan mau membelanya. Hidup Jisung rasanya tak berarti, mungkin jika saja bukan karena Irene, sang nenek. Jisung sudah menyerah sejak dulu.


Maka dengan perlahan, ia bangkit. Ia tertatih berjalan menuju kamar Irene dan Suho, yang katanya sedang tidur itu. Ia melangkah dengan menahan sakit pada lututnya. Senyuman simpul terukir di bibirnya saat ia sudah dekat dengan kamar Irene, ia dengan sangat susah berjalan hingga saat ini ia sudah tepat berada di depan pintu.


Jisung memegang knop pintu kamar berwarna putih itu, namun tak bisa terbuka. Pintunya terkunci, Jisung membulatkan mata, ternyata Irene tidaklah tidur hingga sore menjelang, namun ia di kurung dalam kamar ini. Ia dapat menebak jika mungkin yang melakukan hal ini adalah Suho.


"Ibu.." ucap Jisung lirih di depan kamar. Air matanya sudah mengalir cukup deras, meski Jisung mencoba untuk menahannya, namun tetap saja air matanya jatuh tanpa ia inginkan. Mendapati sang nenek yang terjebak di dalam.kamar, atas kesalahannya. Jisung terlalu bodoh karena lebih mengutamakan keegoisannya tanpa memikirkan keadaan sang nenek, di rumah.


"IBU!" teriak Jisung sambil menggedor-gedor pintu, ingin memastikan ibunya baik-baik saja di dalam.


"IBU! INI JISUNG, APA IBU BAIK-BAIK AJA?!" teriaknya. Jisung memukul pintu itu keras, karena tak mendapat jawaban apa-apa dari dalam. Rasa khawatir dan takut menjadi satu, ia sangat menghawatirkan keadaan Irene di dalam sana. Namun ia juga tak bisa membukanya. Mendobrak pintu, tak bisa ia lakukan.


Secara perlahan, Jisung mendudukkan dirinya di lantai. Ia menangis di depan kamar Irene, bagaikan seorang anak kecil yang di tinggal oleh ibunya pergi. Jisung hanya ingin melampiaskan emosinya yang tak bisa ia lampiaskan. Ia hanya mampu menangis, mencoba merasakan kesedihannya seorang diri.

__ADS_1


"IBU... TOLONG JAWAB PERTANYAAN JISUNG. APAKAH JISUNG BAIK-BAIK SAJA!"


Masih tak mendapat balasan dari seseorang yang sangat ia sayangi, Jisung memilih diam dan hanya suara tangisannya lah yang terdengar.


Hingga akhirnya, setelah ia menghabiskan waktu selama beberapa menit lamanya. Akhirnya, Irene mengeluarkan suaranya.


"JISUNG, APAKAH ITU KAMU NAK?!" Irene berteriak tepat di pintu, meski suaranya sudah sangat serak efek menangis. Namun, ketika ia samar-samar mendengar suara Jisung, Irene bangkit dan langsung berteriak untuk mempertanyakan yang di dengernya memang lah benar. Bukan halusinasinya.


Mendapat respon, Jisung langsung berdiri. Dan dengan senyuman yang lebar ia mengetuk pintu itu lagi, "IBU INI JISUNG!"


"JISUNG.. KAMU UDAH PULANG NAK, KAMU GAK PAPA? GAK ADA YANG LUKA, IBU TAKUT KAMU KENAPA-NAPA?!" Irene langsung memberikan sebuah pertanyaan beruntun. Ia begitu merasa senang karena Jisung telah kembali. Mungkin jika saja ia tak di kunci di dalam kamar, Irene pasti langsung memeluk tubuh sang cucu. Untuk meredakan rasa takut dan khawatirnya semalam dengan keadaan Jisung.


"Syukurlah nak.. Ibu sangat ingin memelukmu, tapi ibu tak bisa melakukannya sekarang nak," ujar Irene menahan tangisnya.


"Ibu dimana kunci kamarnya? Jisung mau membukanya," ujar Jisung bertanya.


Irene terdiam sebentar, lalu menjawab pertanyaan Jisung, "Ada sama Jeno, Jisung."


Jisung yang mendengar itu mendadak ragu, ia tentu tak ingin bertemu Jeno saat ini. Setelah kejadian barusan, ia tak bisa menyembunyikan jika ia kecewa pada Jeno. Namun, ia juga tak bisa melihat Irene masih berada di dalam kamar, sendirian. Terkunci tak bisa keluar.

__ADS_1


"IBU TUNGGU SEBENTAR, JISUNG AKAN MEMINTA KUNCINYA.


Setelah mengatakan hal itu, Jisung segera berlari, rasa sakit pada lututnya sudah reda. Ia harus segera meminta kunci itu pada Jeno, agar Irene bisa keluar.


Irene yang mendengar suara langkah kaki Jisung yang berlari dengan tergesa-gesa, hanya bisa berdiam diri dengan pasrah. Memohon agar Jisung baik-baik saja, Jeno tak menyakiti Jisung.


"Hati-hati nak," gumam Irene dengan lirih.


Jisung sampai di depan kamar Jeno, ia mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal akibat berlari. Jisung menarik nafas panjang, sebelum tangannya itu memegang knop pintu yang ternyata tak di kunci. Sebenarnya Jisung ragu untuk masuk, ia tak ingin bertemu Jeno dulu, setidaknya untuk beberapa saat.


Meskipun, semalam Jeno tak ikut andil memarahinya. Namun, ia juga merasa kecewa karena Jeno yang hanya diam, tak peduli. Satu hal yang sangat ingin ia tahu dari Jeno. Apakah jika kelak ia berada di antara hidup dan mati, apakah Jeno masih bersikap tak peduli, masih bersikap seolah-olah tak mengerti dengan keadaan sekitar?


Jisung hanya ingin sekali saja, ia di anggap berarti di hidup Jeno, setidaknya ia bisa merasakan kasih sayang seorang ayah, sekali dalam seumur hidupnya.


Namun, itu hanyalah menjadi angan-angan Jisung saja, nyatanya Jeno akan tetap bersikap seperti biasanya. Menganggap Jisung hal yang tak penting di dalam hidup pria itu.


Ceklek!


Dengan keberanian entah darimana, Jisung perlahan membuka pintu itu. Bola matanya melebar saat ia mendapati atensi sang ayah duduk di depan komputer yang sedang menyala. Menandakan jika Jeno sedang sibuk dengan pekerjaannya.

__ADS_1


Jeno perlahan berbalik, menatap dengan pandangan tajam pada keberadaan Jisung. Jelas sekali dalam tatapannya itu, tersirat ketidaksukaan.


__ADS_2