
Kedua mata itu bertemu, saling menatap dalam diam. Namun, sang pria yang lebih dewasa segera memutus pandangan, dan mengalihkan pandangannya pada objek lain. Seakan di balik mata sang remaja tersirat suatu luka tak kasat mata, bagi si pria dewasa. Luka yang tak akan pernah sembuh, dan akan terus membekas hingga selamanya.
Setiap kali ia melihat mata itu, ia akan teringat dengan seseorang dimasa lalunya. Mata yang sangat mirip dengan seorang wanita yang telah melahirkan Jisung, namun wanita itu memilih pergi dan membuatnya harus terjebak dalam pertanggungjawaban. Merelakan masa depannya, dan membiarkan wanita itu terbebas dari perannya sebagai seorang ibu, bagi Jisung.
Namun, ketika ditanya apakah Jeno pernah memerankan diri sebagai seorang ayah bagi Jisung? Jawabannya tidak. Lebih tepatnya belum, karena sejak Jisung lahir hingga tumbuh seperti sekarang, Irene lah merawat dan membesarkan anak itu. Jeno memang turut andil dalam merawat Jisung, namun tidak benar-benar tulus, dan menginginkan hal itu, hanya karena keterpaksaan. Irene yang memaksa, karena tak ingin Jisung tumbuh tak mengenal Jeno, sebagai seorang ayah.
Saat ini suasana menjadi sangat canggung. Banyak hal yang ingin Jisung katakan pada Jeno, namun lidahnya seakan kelu hanya untuk mengeluarkan satu katapun. Ia hanya berdiam diri dengan kaku, Jeno melayangkan tatapan ketidaksukaannya atas kehadiran Jisung disini.
"Kenapa?!" hingga suara pria dewasa itu terdengar. Membuat lamunan Jisung menjadi buyar dan kembali kepada tujuan utamanya untuk mendapatkan kunci kamar itu.
"Saya mau minta kunci kamar, ibu," ujar Jisung dengan nada sopan. Matanya masih berkaca-kaca, hitung nya juga ikut memerah, karena efek menangis tadi. Pada kondisi saat ini, Jisung sangatlah membenci dirinya sendiri. Dirinya yang berubah tegar namun sejujurnya begitu rapuh. Hanya air mata yang bisa ia keluarkan tanpa sepengatahuan siapapun. Ia hanya tak ingin di anggap cengeng, dan semakin menjadi beban di keluarga ini.
__ADS_1
Diliriknya Jeno yang tak menjawab pertanyaan Jisung. Namun, pria itu berdiri dari duduknya dan berjalan ke sebuah laci di samping kasur. Tangannya langsung membuka laci itu dan mengambil kunci, yang kiranya itu adalah kunci kamar Irene. Memang, Suho yang menyuruh Jeno untuk membuka pintu itu, namun Jeno kelupaan karena mendadak Jisung datang dengan tamu-tamu asing. Ia tak suka jika ada yang datang kerumah ini, selain anggota keluarganya dan seseorang yang ia kenal lama.
Mendapatkan kesempatan untuk masuk ke kamar sang ayah, Jisung tak menyia-nyiakan kesempatan ini, diliriknya kamar yang baru pertama kali ia lihat dan pertama kali ia masuki. Bukan kamar yang cocok untuk Jeno sekarang, karena kamar ini begitu identik dengan seorang remaja yang berjiwa ceria. Dari sini, Jisung dapat menyimpulkan jika Jeno dulu adalah seorang yang ceria bukan sekarang yang berhati dingin. Meski pun kamar ini di dominasi dengan warna hitam dan abu-abu, namun kamar ini masih berkesan sebagai untuk remaja yang ceria.
Hal itu, menambah rasa bersalah di hati Jisung. Ia benar-benar telah merebut segalanya dari Jeno. Termasuk mengambil kebahagiaan nya dan merubahnya menjadi karakter lain. Andai Jisung dapat mengubah waktu, ia tak ingin kejadian ini terjadi. Ia tak mau menghancurkan hidup kedua orangtuanya, menjadi beban yang selalu di landa rasa bersalah.
"Ini," Jeno menyerahkan kunci itu di atas kasur. Alih-alih untuk menyerahkan langsung di tangan Jisung, Jeno malah meletakkan kunci itu di tempat tidur. Lalu setelahnya, Jisung segera berbalik dan duduk di kursih tempatnya semula.
Ada rasa bersalah di hatinya ketika melihat mata yang selalu berbinar itu menjadi memerah, karena tangis. Namun, Jeno akan memilih tetap diam, mengabaikan. Itu keinginan hatinya, ia bersedia di kenal sebagai seorang ayah, namun tak seratus persen harus berperan sebagai seorang ayah seperti kebanyakan orangtua di luar sana. Cukup status saja, itulah perjanjian yang pernah Jeno berikan pada Irene. Perjanjian itu terjadi sehari setelah perginya ibu kandung Jisung.
Di samping itupun, ada foto dimana Jeno sedang bermain dengan si bayi, tampak ceria dan begitu bahagia. Melihat hal itu, Jisung hanya bisa tersenyum samar, membayangkan jika dirinya tak pernah tercipta, mungkin Jeno dan si bayi sudah berbahagia sekarang. Namun, mereka tak pernah lagi mendengar kabar dari si bayi, seolah putus hubungan.
__ADS_1
Baik Irene dan Suho tak pernah lagi berhubungan dengan Chanyeol dan Wendy. Suho dan Irene memilih bungkam dan menghilang tanpa kabar. Hingga detik ini mereka tak pernah tahu dimana keberadaan keluarga Chanyeol. Mereka pindah ke china dalam beberapa tahun, hingga akhirnya Suho dan Irene kembali ke korea, namun saat berniat berkunjung kerumah Chanyeol, pria itu ternyata sudah berpindah, membawa keluarganya menjauh dari keluarga Suho.
"Dia Begitu Beruntung Karena Ada Di Hati Appa. Tidak Seperti Ku, Yang Hanya Akan Menjadi Beban Untukmu, Appa," batin Jisung menatap lekat foto itu.
Ayahnya begitu bahagia bermain bersama si bayi perempuan, namun saat mengingat kembali moment mereka waktu Jisung kecil, Jeno tak pernah mau meluangkan waktu untuk bermain bersama dirinya. Ia disibukkan dengan sekolah, hingga pulang setelah malam tiba. Namun, meski Jisung sudah merelakan waktu tidurnya untuk menunggu Jeno, berharap ayahnya itu mau menemaninya bermain. Jeno masih saja menolak dan lebih memilih masuk kemar untuk tidur, dan mengabaikan suara tangis Jisung kecil.
"Kapan aku juga bisa berada di posisinya? Kapan appa mau melihatku sebagai seorang anak bagi appa? Aku selalu berharap appa cepat bertemu dengannya dan berbahagia. Namun aku juga merasa takut jika nanti appa sudah bahagia appa tambah tak peduli dan mungkin akan mengusir Jisung di hati appa," batinnya.
Karena tak ingin berlama-lama disini, Jisung langsung mengambil kunci itu dan kembali berlari menuju kamar Irene, tentu mengabaikan rasa sakit di hatinya.
Setelah sampai, Jisung lalu membukanya. Dan melihat Irene yang duduk di kasur dengan mata panda nya. Mungkin Irene tak tidur dan terus menangis karena mengkhawatirkan Jisung.
__ADS_1
Maka ia langsung memeluk Irene dan menangis disana. Irene tentu membalas pelukan Jisung tak kalah erat. Mereka berdua melepas rindu karena kejadian tak terduga semalam. Irene tahu Jisung nya tak akan pernah meninggalkan dirinya, ia akan terus bertahan disisinya meski luka terus ia rasakan seorang diri.
Irene selalu berharap pada Tuhan, suatu hari nanti penderitaan bagi Jeno maupun Jisung segera berganti dengan kebahagiaan.