
"Hehehee maaf mbak, aku lupa, tak usahain lusa ya mbak, please, mbak baik dehhh"
"Ya udah, lusa loh yaa,, soalnya Pak Basuki udah nanyain tuh, pencairannya, nanti kalau Pak Basuki, nanya ke unit sales, tak bilang dalam proses yaa".
"Hehehe makasih ya mbak"
Sebenarnya, Carmelia tau apa yang mereka bicarakan, tapi dia mencoba untuk diam.
Tak terasa sore haripun tiba, datanglah Fajar dari survey di luar kantor.
"Hayyy mbak lia,, tadi sukses pertemuanku sama nasabah baru dan pengembang perumahan, kita dapat potensi bulan ini 3 Miliar"
"Wowww hebat banget nih kamu,, coba bentar lagi buatkan laporannya, mau tak kasihkan pak Basuki"
"Iyaa dong mbak, kerja aja hebat, apa lagi di ranjang hahahaha, tak buatkan laporannya, setelah itu pulang yaa, kan nanti sudah janjian"
"Aihhh kata katamu, iyaa iyaaa, pasti nanti ketemuan kita"
Waktu jam pulang telah tiba, Fajar bergegas ke meja Carmelia untuk pamitan pulang dan mengingatkan ketemuan untuk nanti malam.
Waktupun berlalu tiba saatnya mereka bertemu, dikontrakan Carmelia yang tidak jauh dari kantor mereka.
"Wahhh luas juga kontrakannya mbak, disini sendirian mbak?"
"Yaa beginilah, sendirian aku disini, kadang jam 8 malam sudah sepi dilingkungan ini:
"Hehehee aku menginap boleh nggak yaa"
"Wooo kalau kamu nginep bisa di grebek kita nanti sama pak RT, udah jangan basa basi, kamu mau ngomongin apa sama mbak, dari tadi siang nih mbak penasaran sama kata katamu"
"Mbak dulu deh, katanya mbak lia mau ada yang disampaikan"
Ditengah perdebatan siapa yang menyampaikan terlebih dahulu, Mbak lia pun bersedia menyampaikannya.
"Sebenernya gini Fajar, aku tuh sudah mulai suka sama kamu, bahkan sejak kamu masuk ke kantor kita, aku sudah tertarik padamu, namun aku sadar aku lebih tua darimu, jadi aku sadar diri, aku tak mau mempermalukanmu di depan teman temanmu nantinya"
"Halahh mbak, gak lah, gak seperti ituu aku tuu...."
"Sebentar mbak belum selesai bicara, jangan dipotong"
"Oh iyaa maaf lalu mbak?"
__ADS_1
"Gimana yaa ngomongnya, aku bingung"
"Lahh kok bingung mbak, gpp sampaikan aja apa adanya".
"Sebenernya, aku mau di lamar minggu besok sama orang di kampungku, karena aku tidak segera menikah, ibuku sudah mengabariku, mau tidak mau aku harus menerimanya, jadi maksudku ngomong begini biar kamu tahu, kalau aku tak mungkin sama kamu"
Sambil terdiam menunduk, Fajar mendapatkan berita yang membuatnya terkejut, marah, tapi tak bisa berbuat apapun, mau melamarpun tidak mungkin karena orang tuanya tidak setuju.
"Kamu mau ngomong apa Fajar?"
"Anu mbak, aku mau pulang dulu, kayaknya tidak ada yang perlu kusampaikan".
Carmelia melihat air mata Fajar, namun belum sampai bertanya Fajar sudah buru buru pulang.
Malam itupun handphone mereka tidak saling kabar, sunyi sepi. Hanya di antara rintik hujan dan suara sunyi, semalam mereka berdua tidak bisa tidur. Ke esokan harinya, Fajar tidak masuk kantor.
Carmelia mencoba menghubunginya, namun tidak di respon sama sekali, akhirnya dia menanyakan ke bagian back office untuk menanyakan alasan Fajar tidak masuk.
"Pak Rama, ini kenapa Fajar tidak masuk yaa?"
"Loh dia gak ngabarin mbak lia, ini dia tadi pagi konfirmasi, katanya sakit, tapi dia pulang kampung, ini suratnya di kirim ke saya fotonya".
disisi lain, Fajar pulang ke kampung halamannya, meyakinkan orang tuanya, bahwa pilihannya benar.
"Ayah, Ibu, Fajar mohon sekali, sekali ini aja seumur hidup Fajar, tolong izinkan aku untuk melamar Carmelia, tidak ada pandangan wanita manapun yang bisa meluluhkan hatiku, kumohon yah, aku tidak akan mengecewakan, lagi pula pada zaman sekarang ini sudah tidak mengemukakan tradisi, tapi lebih mengutamakan isi hati dan perbuatan, Percuma jika Fajar menikah dengan orang lain tapi tidak bisa menghormati ayah dan ibu. Carmelia merupakan wanita dewasa yang sangat menghargai orang tua".
"Hhhaaahhh, baiklah, demi kebahagiaanmu, aku izinkan, tapi langsung antarkan aku besok ke rumah orang tuanya"
"Lahhh,, sungguhan pak, mendadak sekali, aku belum persiapan apa apa".
"Besok atau tidak sama sekali?".
"Ahhh iyaa, akan ku usahakan mendapatkan alamatnya Yah".
Fajar bingung sekaligus senang, tapi tidak ada waktu untuk berpikir lagi, dia segera menghubungi pak Rama untuk menanyakan alamat rumah Carmelia, namun pak Rama tidak tahu alamatmya dimana, cuma dia mengingat pernah di telfon oleh Ibunya Carmelia, dan akhirnya dia diberi nomor telpon Ibunya.
Setelah mendapat nomor telpon itu, Fajar hanya melihat, memandangi, dan berpikir, mau telfon tidak berani, dikiranya lancang. Tapi Dia ingat kata kata Carmelia, jika Carmelia tidak mendapatkan orang yang segera dinikahi maka dia akan dijodohkan.
Dengan modal hal itu, dia memberanikan diri untuk menelponnya, sangat nekat sekali, Fajar menelpon Ibunya Carmelia.
"Hallo, Assalamualaikum, benar ini dengan Ibunya Bu Carmelia?"
__ADS_1
"Iya benar, boleh tau ini dengan siapa yaa, ada yang bisa di bantu?".
"Ini saya Fajar, Teman dekatnya sekaligus teman sekantor Bu Carmelia"
"Ada apa nak Fajar?, apa terjadi sesuatu pada Lia?"
"Begini bu, saya telfon Ibu bermaksud mau silaturahmi ke rumah ibu, sambil membawa orang tua saya".
"Maksudnya gimana nak?"
"Maksudnya saya mau melamar Mbak Lia besok bu"
Bagaikan ada petir di siang bolong, Ibunya kaget sekaligus senang dan bingung, mendadak anaknya di lamar orang, dan spontan dia teriak
"Bapak bapak, akhirnya Lia ada yang mau ngelamar, ini gimana Pak",
terdengar dari telfon teriakan ibunya Carmelia
"Boleh nak, silahkan, silahkan gpp"
"Kalau begitu boleh minta alamat rumahnya Bu"
"Boleh, alamatnya di Jl Sriwijaya nomor 123"
"Alhamdulillah, terima kasih buu".
Dengan modal nekat, akhirnya ada jalan keluar dari masalahnya. Fajar segera memberikan info ke ayah dan ibunya, sehingga besok mereka ke rumah Carmelia, namun disini Carmelia tidak di hubungi sama sekali, sehingga dia tidak tau apa yang terjadi.
Tiba lah hari esok, hari dimana Fajar melamar Carmelia, dengan deg degan dan hati senang keluarga Fajar berangkat ke rumah Carmelia.
"Gimana Fajar sudah siap kamu?",
"Insya Allah sudah siap yah"
Perjalanan selama satu jam, akhirnya sampailah ke rumah Carmelia, disana mereka disambut dengan ramah, pembicaraan antara kedua orang tua pun dimulai, maksud untuk melamar sudah tersampaikan, semua keluarga bahagia, tidak mau buru buru menentukan akad pernikahan, dipasrahkan hari kepada Fajar dan Carmelia.
Setelah acara selesai, Fajarpun langsung berangkat ke kota tempat dia bekerja dengan hati bahagia. Namun dia masih tidak menghubungi Carmelia, sampai ke esokan paginya di kantor, Bu Carmelia sudah berada di Mejanya, terlihat matanya sembab karena menangis, dan Fajar memberanikam diri untuk menyapanya.
"pagiii sayanggg.....:)"
BERSAMBUNG....
__ADS_1