
Pada pukul 1 dini hari aku terbangun dari tidur ku yang memang tak nyenyak, karena menanti dia pulang. Ya, aku sedang menunggu seseorang, tepatnya suamiku Dion Putra Diantara. Hari ini tepat satu minggu kami menikah tapi dia, tidak sekalipun pulang tepat waktu, jika tidak tengah malam itu akan jadi pagi hari.
tok tok tok
Aku mendengar suara pintu diketuk saat hendak melangkah dari tempat tidur, belum sempat aku menuju untuk membukanya aku terkejut karena mendengar teriakan Dion suamiku dari balik pintu 'menyingkir' ucapannya terdengar keras hampir malah seperti berteriak. Belum lepas rasa terkejut barusan, aku kembali terkaget oleh pintu yang terbuka dengan kasar.
Brak...
Aku elus dadaku sambil memandang Dion yang masuk dan langsung menendang pintu hingga tertutup, menambah heran diriku atas apa yang terjadi. Aku bertanya dalam hati ada apa lagi dengan dia, kenapa selalu pulang dalam keadaan seperti ini. Bau alkohol serta penampilan yang berantakan, aku makin risih saat menyadari bau parfum wanita di tubuhnya. Ini benar-benar keterlaluan dan aku merasa apa aku salah menilai ia selama ini, kenapa ia berubah setelah kami menikah? apa yang salah? kenapa berakhir seperti ini? jika memang tidak mungkin, kenapa dia tidak menolak saja menikah denganku? kenapa sekarang? kenapa harus setelah semua terjadi? kenapa? pikiranku bingung berkelana dalam banyak pertanyaan, yang aku sungguh sulit untuk mengerti.
Saat aku sibuk dengan pertanyaan dalam kepala, tiba-tiba aku tersadar ketika aku merasakan Dion menarik tangan kananku dengan keras hingga aku tak siap dan terjatuh di atas tempat tidur yang memang belum sempat aku tinggalkan. Kejadian itu sangat cepat, aku bahkan tak tau apa dan bagaimana, Dion suamiku sudah mengunci tubuhku di bawah dengan tangan yang erat menggenggam kedua pergelangan tanganku di atas kepala. Belum sempat berpikir apa yang terjadi aku sudah merasakan ciuman kasar Dion di bibirku, saat kebingungan itu menguasaiku aku merasakan sesak nafas sampai akhirnya bisa bernafas kembali saat dia sedikit memberi jarak bibirnya dariku, namun saat hendak melayangkan tanya ia kembali menciumku kasar. Tidak sempat berkelid darinya aku masih tak mengerti, entah kapan tubuh bagian atasku sudah tak berbusana hingga seketika Dion membalik tubuhku hingga terkurap di bawanya, menarik tanganku kebelakang dan kurasakan dia sedang mengikatnya satu dengan sesuatu seperti kain.
Seperti sebelumnya belum sempat aku bereaksi dia membalik kembali diriku yang telah terikat, saat aku sadar apa yang terjadi itu adalah rasa sakit yang luar biasa karena dia menyentuhku dengan paksa. Tidak ada kelembutan apa lagi kata penghiburan hanya ada rasa sakit, aku menyadari satu hal saat itu ketika otak manusia tidak siap dengan rasa sakit yang berlebihan, tubuh manusia bahkan tidak bisa berteriak dan hanya bisa menahan dengan gigi terkatup. Air mataku mengalir terjun bebas tanpa permisi, rasa sakit yang tumpul meremukkan sekujur tubuhku. Segalanya terjadi begitu saja penantianku atas sentuhan lembut yang aku telah jaga untuk yang terkasih selama lebih dari 23tahun hanya sebuah kesia-sia'an, saat rasa sakit yang aku rasa makin intense tiba-tiba saja tangan kanan Dion terulur ke arahku. Bukan elusan atau usapan lembut yang aku rasa tapi cekikan erat pada leher yang menyakitkan, aku dengar dia tertawa atas ketidakberdayaanku sambil bergumam 'kau milikku, hanya milikku Ica' aku terus mendengar gumaman yang sama seiring mengeratnya cengkraman tangannya. Kaki yang kini sudah mati rasa mengejang di atas kasur lembut, tangan yang terikat di belakang punggung meremas atas seprai erat, dada terasa ditekan benda berat hingga aku tak bisa menarik nafas, kepala mulai berat dan sakit diiringi telinga yang berdengung keras mengaburkan segalanya, mataku mulai berkunang dengan banyak titik bagai glitter yang berkelip, membawa perasaan tak menyenagkan serta rasa mual yang sulit dijelaskan.
'inikah akhir hidupku, akankah aku betemu denganmu dengan cara ini' .
__ADS_1
Disela semua rasa saat itu ada sedikit kebahagiaan dalam benakku, tanpa sadar aku rasa aku tersenyum namun aku tak yakin. perlahan kegelapan menyambutku dalam rangkulannya, dan segalanya sunyi benar sungguh sepi, tenang seperti apa yang aku sukai.
Ica...
Siapa itu? aku menoleh kanan dan kiri hanya ada kehampaan, lalu siapa yang memanggil namaku?
Ica...
Panggilan itu terdengar akrab di telinga itu... seperti suaranya, apa dia disini? aahhh.. tidak mungkin, aku pasti berkhayal lagi. Tapi...
Ketika sekali lagi aku mendengar suara itu dengan jelah beriring dengan tanya beruntun darinya, aku berbalik hanya untuk melihat dia berdiri di belakangku dengan tanda tanya yang lucu di wajah tampan itu. Saat itu juga kaki ini melangkah menuju dia, tangan ini merangkul erat tubuh tegapnya. "hick.. hick.. kakak.. kak Frans kau di sini ? dan aku sedang memelukmu kak?". Dalam rasa yang tak terucapakan aku menangis tersedu, mengadukan segala rasa lewat isakan, melepas luka dalam pelukannya.
Ica.. kau belum menjawab tanya dariku, apa yang kau lakukan di sini sendirian, dimana suamimu dan kenapa sekarang kau menangis ica? apa yang terjadi pada gadis tercintaku?
"kakak... aku.. aku.. tak apa kak biarkan begini sebentar saja, jangan tinggalkan aku lagi kak! aku takut, aku kesepian, aku sudah tak bisa bertahan tanpamu. Biarkan aku di sini bersamamu kak, aku mohon. hick..hick.." Aku menggenggam erat tubuh Frans dalam tangisku yang tidak jua mereda, segalanya tampak nyata namun, sekali lagi aku tau ini hanya mimpi, jadi aku memutuskan tak akan bangun lagi.
__ADS_1
Ica.. lihat kakak, apa yang terjadi dengan gadis manis'ku?? aku tau kau kuat sayang, jangan begini, meski aku pun ingin dengan dirimu, tapi tidak sekarang. Masih banyak hal yang belum kau raih bukan?? Bangkitlah Ica.. gadis manis'ku, cinta'ku, kesayangan'ku, teruslah hidup dan kenang aku dalam hatimu. Aku mencintai dirimu Lisandrina Felicia.❤️
"Tidak, kak tidak. Jangan pergi jangan tinggalkan aku, di dunia ini aku merasa sendiri tanpamu kak". Perlahan aku merasakan pelukan mulai melonggar, dia mulai memudar dalam cahaya yang berkelip indah dimata dia menghilang menyisaka luka yang tak ada obatnya. 'atau mungkin ada obatnya hanya saja belum aku temukan'.
Akhirnya aku sendiri lagi, dalam gelap sunyi tempat ini yang aku tidak tau dimana.
Ica... sayang, bangun sayang aku mohon jangan tinggalkan aku.
"eehh.. suara siapa itu?"
Ica... sayang maafkan suamimu yang bodoh ini, Ica aku mohon bangunlah.
"Suami, apa itu Dion? Tidak aku tidak mau bertemu lagi denganya". setelah itu aku baringkan tubuhku dan mulai terpejam, berharap semua suara itu menghilang dan aku tertidur. Aku tidak ingin membuka mata, tidak ingin berjumpa apa lagi mengingatnya. Aku Lisandrina Felicia ingin menghapus dia dari ingatanku selamanya, dengan begitu rasa sakitku akan hilang.
oh, hay hello readers setia mangatoon ini cerita kedua anemone, meski ga ada yang baca ga apa juga kan ya, asal nulis. harap ada yang mau ikut ngehalu bareng anemone..❤️😘
__ADS_1