Menikahi Kembaran Suamiku

Menikahi Kembaran Suamiku
Hubungan Lebih Serius


__ADS_3

Di sebuah meja restoran tampak seorang pria yang mengeluarkan cincin berlian dari sakunya. Di depannya duduk seorang wanita cantik dengan gaun merah menatap pria itu dengan tatapan penuh cinta.


"Sudah saatnya kita melanjutkan hubungan ini ke arah yang lebih serius. Aku ingin kau menjadi teman dan bagian dari hidup ku." Ucap pria itu terhadap wanita di hadapannya.


"Aku akan selalu menemani mu di waktu kau susah dan senang, bersama mu untuk melengkapi perjalanan yang akan datang bersama sama." Jawab wanita itu.


"Davina Riskya Almira, maukah kau menjadi istriku?" Tanya pria itu kepada wanita yang ia cintai di hadapannya.


"Menikah dengan mu adalah salah satu impian terbesar ku saat ini, menjadi istri Alvaro Demir . Aku bersedia menikah dengan mu." Jawab Davina dengan rasa haru dan bahagia karena ia akan menjadi istri dari pria yang sangat ia cintai.


Varo memasangkan cintai permata yang telah ia siapkan di jari manis cantik milik Davina.


Alvaro dan Davina saling mencintai satu sama lain, mereka telah menjalin hubungan selama 5 tahun. Suka dan duka mereka lewati bersama. Mereka adalah pasangan yang serasi. Varo adalah pria mapan dan sukses, ia juga memiliki wajah yang tampan dan tubuh yang bagus. Demikian juga dengan Davina, ia gadis berpendidikan, mandiri dan berparas cantik. Kedua insan manusia itu sangat cocok jika disandingkan bersama.


"Aku akan berbicara pada paman mu secepatnya tentang pernikahan kita." Ucap Varo.


"Paman sedang tidak sehat saat ini, aku khawatir dengan kondisinya yang semakin hari kian memburuk. Aku harap dengan berita ini, ia akan membaik karena keinginan terbesar dia adalah melihat ku menikah dan hidup bahagia" Jawab Davina.


"Aku akan menghubungi saudara ku, dia sedang di Amerika saat ini. Aku ingin dia menghadiri semua acara pernikahan kita. Aku akan mengantarkan mu pulang dan besok aku akan menemui paman mu." Ujar Varo.

__ADS_1


............................


Davina sampai dirumah dan langsung berjalan menuju kamar pamannya berniat untuk memberikan kabar baik tentang pernikahannya. Saat sampai di depan kamar ia dihampiri oleh dokter yang merawat pamannya. Dokter menyampaikan sesuatu yang serius tentang kondisi paman Davina.


"Nona Davina, kondisi tuan Aslan semakin hari kian memburuk. Sel kanker di otaknya menjalar semakin cepat." Ucap dokter.


"Apakah tidak ada upaya yang lain untuk menyelamatkan nya, seperti oprasi atau pengangkatan sel kanker?" Tanya Davina.


"Usaha itu mungkin bisa membuat hidup nya lebih lama, tapi sebagian otaknya tidak berfungsi. Sel kanker sudah sangat ganas. Melakukan operasi juga beresiko, saya sudah pernah mengatakan ini sebelumnya." Jelas dokter pada Davina.


"Anda kan dokter, seharusnya anda punya banyak cara untuk menyelamatkan pasien! saya akan bayar berapapun itu." Ucap Davina dengan nada tinggi.


"Tapi dalam kasus ini upaya yang bisa dilakukan tidak banyak, ditambah dengan usia tuan Aslan membuat kita harus berpikir berkali-kali dalam mengambil keputusan." Jelas Dokter.


"Vina kamu sudah kembali?" Tanya pamannya yang membuat Davina terkejut.


"eh, Baba kebangun karena kepala Vina ya?" Tanya Davina.


"Bagaimana pertemuan kamu dengan Varo, nak?" Tanya paman Davina.

__ADS_1


"Varo melamar Vina, Ba. Ia memberikan cincin ini sebagai tanda ikatan." Jawab Davina sambil menunjukkan cincin di jari manisnya pada sang paman.


"Cantik sekali, apalagi putri kesayangan ku yang pake." Ucap paman Davina.


"Ba, Varo akan menemui Baba besok. Tapi Vina khawatir dengan kondisi Baba." Ucap Davina.


"Kenapa khawatir pada ku, aku baik baik saja. Justru aku ingin segera melihat putri cantik ini menikah dengan pangeran yang ia pilih." Jawab paman Davina.


"Apakah Baba tidak sedih. Jika Vina menikah dan ikut suami Vina, Baba dengan siapa?" Tanya Davina.


"Baba disini dengan orang-orang ini, menunggu mu mengunjungi ku di akhir pekan." Jawab paman Davina.


"Kalau Baba ikut Vina bagimana? bukankah itu lebih baik?" Tanya Davina.


"Baba akan menjaga rumah ini dan kenangan kita agar tetap ada." Jawab paman Davina.


Davina meneteskan air mata mendengar ucapan pamannya. Ia memeluk pamannya dengan sangat erat, seakan tahu bahwa waktu yang mereka miliki tidak lama lagi. Davina sangat menyayangi pamannya begitu pun sebaliknya. Mereka sangat dekat karena mereka hanya memiliki satu sama lain.


Semenjak kepergian kedua orang tuanya pada kecelakaan tragis saat usia Davina 8 tahun, ia diasuh oleh pamannya. Paman Davina merawatnya dengan sangat baik, ia memberikan kasih sayang dan pendidikan terbaik untuk Davina. Kasih sayang seperti ayah dan anak, bahkan Davina memanggil pamannya dengan julukan Baba. Karena itu, ia tidak bisa jauh dari pamannya. Hingga Davina mengetahui bahwa usia pamannya tidak lama lagi, ia menjadi sangat terpukul.

__ADS_1


Hai, Jangan lupa vote dan follow ya. Supaya author makin semangat bikin episode baru.


Thank you 💕


__ADS_2