
"Tiket kelas pertama ke Indonesia atas nama Devano Demir" Ucap Vano pada petugas bandara sambil menunjukkan data dirinya.
"Baik pak silakan menuju jalur 4 pak, pesawat akan berangkat 30 menit lagi." Jawab petugas bandara.
"Aku akan membuat kejutan untuk mu kak." Gumam Vano.
Vano bergegas menuju ke jalur pesawat yang ia akan tumpangi menuju ke Indonesia. Ia sudah memikirkan apa yang akan ia lakukan ketika tiba di Indonesia dan sangat exited melihat reaksi kakaknya saat ia datang lebih awal dari dugaannya.
Selama perjalanan Vano hanya memikirkan tentang hal itu saja tanpa peduli apapun disekitarnya. Tiba tiba seorang gadis menjatuhkan barang ke tubuh Vano saat ia hendak meletakkan barang itu di bagasi pesawat.
Brak...
"Eh, maaf tuan saya tidak sengaja menjatuhkan kearah tuan." Ucap gadis itu pada Vano.
Melihat kearah gadis itu sontak jiwa playboy Vano mulai bergelora ketika menatap wajah cantik gadis itu.
"Tidak apa, ini bukan salahmu. Bagasi ini terlalu tinggi untuk gadis cantik seperti mu." Ucapan gombal dari mulut Vano.
"Sekali lagi maaf tuan." Ucap gadis itu yang kemudian kembali ke tempat duduknya yang berada dia seberang tempat duduk Vano.
Vano tetap menatap gadis itu tanpa disadari nya. Ia tidak pernah melihat gadis secantik itu sebelumnya. Walau ia sudah bermain dengan banyak gadis tapi ia tidak pernah bertemu yang seperti ini sebelumnya.
__ADS_1
Vano tetap memandang gadis itu tanpa bicara atau melakukan apapun. Tanpa ia sadari pesawat akan mendarat. Ketika gadis itu berdiri, lamunan Vano menjadi buyar seketika. Ia baru sadar bahwa pesawat yang biasa tumpangi sudah sampai di tujuan. Setelah membereskan barang miliknya Vano menyadari bahwa gadis itu sudah pergi. Ia cukup menyesal karena belum sempat berkenalan dengan gadis itu.
Setelah perjalanan panjang akhirnya ia sampai di Indonesia. Tiba tiba perutnya terasa lapar dan ia ingin pergi ke restoran untuk mengisi perutnya. Selama perjalanan pulang ke Indonesia, ia tidak menghubungi Alvaro sama sekali. Karena ia berpikir akan memberi kejutan ini padanya.
Sesampainya di restoran ia duduk dan memesan makanan favoritnya yaitu udang asam manis. Ia tampak menikmati hidangan itu dengan lahap.
Diwaktu yang sama Davina juga ingin makan siang bersama teman-teman nya di restoran itu. Ia melihat Vano duduk menyantap makanan nya itu.
"Varo! " Panggil Devina pada Vano
"Varo, hei Varo!" Devina coba memanggil dan menghampiri Vano. Tapi langkahnya terhenti saat handphone nya berdering.
"Halo, ada apa dok?" Tanya Davina.
"Nona bisa pulang sekarang, kondisi tuan Aslan makin memburuk nona." Ucap Dokter.
"Baik dok, saya sampai sesegera mungkin." Sahut Davina sambil menutup telpon dan bergegas pulang.
Sesampai nya di rumah ia langsung menuju kamar pamannya. Ia melihat kondisi pamannya yang semakin memburuk, ia tidak tahu harus bagaimana lagi karena dokter pun tidak bisa membantu nya. Ia memeluk pamannya dengan erat dan mencium tangannya sambil menangis.
"Baba mau bicara dengan Varo, tolong minta dia kemari." Ucap Aslan.
__ADS_1
"Baik ba, Vina akan menelponnya."
.....
Di rumah Varo ia terkejut dengan kedatangan sang adik Vano. Ia tidak menduga adiknya akan datang lebih cepat dari dugaannya.
"Kenapa tidak mengabari ku kalau datang hari ini." Ucap Varo sedikit kesal
"Ayolah kak, ini kan kejutan untuk kakak." Jawab Vano sambil membujuk kakaknya.
"Yasudah, aku sangat senang melihat mu disini. Bagaimana kabarmu?" Tanya Varo.
"Menurutmu apakah bisa orang sakit bepergian dari Amerika ke Indonesia?" Jawab Vano dengan pertanyaan juga.
"Dasar kau ini." Timpal Varo.
Mereka saling mengobrol dan tukar cerita satu sama lain. Walau lama tidak bertemu mereka tetap akrab seperti adik kakak pada umumnya. Varo sangat sayang pada adiknya begitu pula sebaliknya.
Hai, Jangan lupa vote dan follow ya. Supaya author makin semangat bikin episode baru.
Thank you 💕
__ADS_1