
Triiing.... Tring....
Suara handphone Varo yang berdering karena panggilan masuk. Tertulis nama "Miss Demir" di layar HP nya. Varo segera mengangkat telpon yang tak lain adalah dari Davina.
"Halo sayang, ada apa?" Ucap Varo.
"Kamu bisa datang ke rumah sekarang? Baba ingin bicara dengan mu." Tanya Davina.
"Baiklah aku menuju ke sana sekarang." Jawab Varo.
"Segera ya, aku menunggu mu." Ucap Davina sambil mengakhiri panggilan dengan Varo.
Tanpa basa basi Varo segera menuju kediaman Davina. Ia merasa sedikit khawatir, karena tidak biasanya Davina menelpon dengan tergesa-gesa seperti itu. Varo memiliki firasat buruk, akan tetapi ia tetap mencoba untuk berfikiran positif.
__ADS_1
Tak lama mengemudi, Varo akhirnya sampai di kediaman Davina. Ia tidak melihat siapapun menyambut dirinya yang membuat Varo memutuskan untuk langsung masuk kedalam rumah. Saat melangkahkan kaki nya ke dalam rumah pandangannya tertuju pada kamar paman Davina. Varo melihat dokter dan seorang perawat di depan kamar Aslan. Tanpa pikir panjang Varo melangkah menuju kamar itu. Varo sudah menduga apa yang terjadi tapi pikiran nya masih berusaha memikirkan hal yang baik baik.
Sampai di depan kamar dokter menyuruh Varo untuk langsung masuk saja ke dalam kamar dan memberitahu bahwa Davina juga ada di dalam. Varo bergegas masuk kedalam dan melihat Davina menangis dan tampak kebingungan di sebelah pamannya. Ia menghampiri Davina yang membuat Davina menoleh ke arahnya.
"Kau sudah datang rupanya. Baba ingin bicara dengan mu." Ucap Davina.
Davina memberikan tempat nya pada Varo, agar Varo bisa berbicara dengan pamannya itu.
"Varo kamu adalah pilihan putri ku untuk dijadikan suami dan putri ku sangat mencintaimu. Aku percaya pada pilihannya." Ucap Aslan.
"Kau tau kan bahwa penyakit ku ini sudah sangat parah, umur ku juga tidak akan lama. Sebelum aku pergi, aku ingin kau berjanji untuk selalu menjaga putri ku. Jaga dia seperti aku menjaga nya, bahkan harus lebih baik dari itu. Maukah kau melakukan itu? " Jelas Aslan pada Varo.
"Tuan akan baik baik saja. Saya akan menjaga Davina karena dia adalah bagian dari hidup saya." Ucap Varo.
__ADS_1
"Aku percaya padamu. Setidaknya setelah ini aku bisa pergi dengan tenang, karena sudah menemukan seseorang yang bisa menjaga putri ku." Ucap Aslan sambil nafas nya perlahan mulai memendek.
"Tuan jangan bicara seperti itu." Sahut Varo.
Perlahan kesadaran Aslan mulai menurun, nafas nya juga sudah terengah-engah. Varo yang panik berteriak memanggil dokter. Davina menjadi histeris karena ia tau yang ia takuti selama ini akhirnya datang juga. Dokter berusaha menyelamatkan Aslan dengan berbagai cara. Sampai akhirnya jantung dan nadi Aslan tidak berdenyut lagi. Davina semakin histeris melihat paman yang sudah ia jadikan ayah sudah tidak menghembuskan nafas lagi. Detik detik ini menjadi saat yang paling menyedihkan bagi Davina, ia tahu bahwa ia akan mulai hidup sendiri tanpa orang tua dan keluarga. Varo berusaha menenangkan nya dan tak lama davina pun pingsan di pelukan Varo. Situasi semakin tidak kondusif. Varo membawa Davina kekamar nya dan meminta dokter untuk memastikan kondisi Davina, karena ia tahu Davina pasti mengalami guncangan hebat dalam dirinya. Kehilangan figur yang paling ia sayang dan hormati sangat tidak mudah bagi Davina.
.
.
.
jangan lupa vote dan follow
__ADS_1
thank you