
Annisa dan Ayu berdiri dipojokan, hingga Bayu baru bisa dengan jelas melihat wajah Annisa, gadis yang dia tolong kemarin. Bayu sempat kaget karena bisa bertemu dengannya lagi, tanpa sadar Bayu menyungging kan bibirnya.
Cewe itu- teringat dengan gadis yang ia temui di gang simpangan kemarin.
"Siapa yang bisa menyelesaikan soal no 1." Tanya bu Riska pada semuanya.
"Saya bu" Ujar Rafa sambil mengangkat tangannya.
"Ouh bagus KM cepat selesaikan no 1." Ujar bu Riska, Rafa berjalan menuju meja depan untuk mengambil spidolnya.
Bayu melihat Annisa yang wajahnya sangat pucat, Bayu takut jika dia akan jatuh pingsan jika berlama-lama berdiri disana. "Anjas, hei." Seraya mencolek Anjas dengan bolpennya.
"Ada apa." Ujar Anjas hanya menoleh sidikit karena takut bu Riska akan menyuruhnya maju kedepan seperti Ayu dan Annisa .
"Pelajaran bu Riska selesai sampai jam berapa?." Tanya Bayu, bersuara pelan.
"Jam 12 siang. Hmm- mungkin akan lebih lama kalo tidak ada satupun anak yang mau menyelesaikan soal di papan tulis itu, mungkin bisa jadi sampai jam setengah 1 siang baru selesai." Ujar Anjas.
"Wah, bisa selama itu yah. Hampir tiga jam dong! Apakah dia mampuh berdiri selama itu, aku harus melakukan sesuatu" dumal Bayu.
"Eh, apa maksud mu melakukan sesuatu? kamu mau melakukan apa?" tanya Anjas.
"Nggak apa-apa, udah kamu fokus lagi kedepan gih. Nanti Bu Riska bisa marah lagi, bisa-bisa kita semua gak bisa pulang, gara-gara dihukum" ujar Bayu.
"Iiiiih bisa seram begitu yah," ujar Anjas.
Membuka buku catatannya, lalu dengan cepat Bayu mencatat soal dan jawaban. Mencoret-coret bukunya dengan cepat, saat Rafa sedang ada di depan mengisi soal itu, setelah Rafa selesai dan duduk kembali barulah Bayu menyuguhkan dirinya.
"Siapa lagi yang bisa menyelesaikan soal no 2." Tanya kembali bu Riska, pada anak-anak yang hadir, tapi semua hanya diam. Ada yang pura-pura tidak dengar, sok alim dan lain sebagainya ada pula yang mencoba mengerjakan di buku milik mereka masing-masing.
Bayu menatap sekeliling teman-temen kelasnya tapi semua seakan ketakutan dengan guru pengajar ini, apa lagi mata pelajarannya.
"Saya." Seraya mengangkat tangannya keatas sangat tinggi.
"Wah~ tidak ku sangka ternyata anak baru rupanya, contoh nih buat kalian walau baru masuk hari ini dia berani untuk maju menyelesaikan soal." Puji bu Riska pada Bayu.
__ADS_1
Bayu berdiri. "Bu mohon maaf jika saya lancang sama ibu dan tidak sopan menurut ibu, saya punya permintaan sebelum saya maju dan menyelesaikannya." Ujar Bayu dengan tatapan ke pada bu Riska.
"Baiklah apa itu." Ujar bu Riska ingin mendengarnya.
"Saya akan jawab semua soal-soal di papan itu, asalkan ibu mau menerima permintaan saya, jika jawaban saya semua benar. Bolehkah mereka duduk, gimana mereka mau faham dan mengerti sama pelajaran ibu, kalo harus berdiri membelakangi papan tulis begitu." Ujar Bayu membela Annisa dan Ayu.
Semua yang hadir semakin terkesima sama ucapan Bayu yang bagaikan penyelamat itu.
"Baiklah. Silakan maju, jadi kau ingin jadi kesatria baja hitam yang kesiangan" Sesaat Bayu ingin menulis di papan tulis.
Tanpa melirik pada bu Riska fokus pada soal. "Bukan, saya hanya manusia biasa. Asal ibu tahu, jika ingin jadi Guru dan pengajar yang mau di hormati saat mengajar, maka turunkan ego ibu. Karena saat ibu mengajar materi pada kami, seketika tempat ini berubah menjadi rumah horor. Bagaimana pelajaran ini akan disukai, jika pengajarnya seperti anda ibu Riska, ibu juga langsung memberikan soal tanpa contoh penyelesaian dulu. Lalu bagaimana anak-anak akan mengerti, bagaimana akan tahu, jika caranya pengajaran ibu seperti ini, seperti tidak niat" Ujar Bayu sambil mengerjakan soal di papan tulis.
"Banyak bicara, cepat selesaikan saja dulu soalnya, baru menceramahi orang. Sok-sok jadi anak yang bijak, menyesal sudah ku puji" ucap Riska yang tidak terima.
"Baiklah." Ujar Bayu fokus pada papan tulis dan mulai mengisi jawabannya saja, karena cara penyelesaian soal ada di buku catatannya.
"Sudah selesai." Tanya bu Riska karena melihat Bayu sudah menutup spidolnya.
"Sudah." Jawab singkat.
"Apa ini.?" Kaget karena tidak ada penyelesaiannya langsung jawaban yang terlihat.
"Namaku Riska bukan Rizka. Pake huruf S bukan Z"
"Aku tahu, tapi anda sudah semarah ini padahal aku baru sekali menyebutkan nama anda salah, lalu bagaimana dengan anak yang anda di pojok sana yang selalu anda panggil bukan namanya, selama 2 tahun ini." Ujar Bayu yang menujuk pada Malik. Tapi selalu dipanggil dengan buluk oleh bu Riska.
"Apakah itu namanya seorang berpendidikan, apakah benar anda seorang pengajar yang baik, menyebut seorang murid dengan sebutan itu, dia juga seorang pelajar, jangan pernah menghina seseorang karena penampilannya, itu salah satu yang saya tidak suka dengan sikap pengajar yang selalu merendahkan orang lain seperti anda bu Riska. Aku tidak tahu sekolah macam apa ini, banyak pengajar yang tidak profesional dan terdidik dengan baik sopan santunnya, sepertinya aku harus melaporkannya pada kepsek dengan sikap ini, ah satu lagi, soal dan jawaban sudah ada di catatanku ini, jika anda tidak tahu cara menyelesaikannya. bisa anda cek sendiri." Ujar Bayu memperlihatkan catatan penyelesaian di buku catatannya.
Saking kesalnya bu Riska langsung keluar dari ruangan, dan menyuruh KM
Mengerjakan hal 47 soal semua disana.
Cih, saking kesalnya dia langsung memberikan soal. Dia beneran lulus perguruan tinggi tidak si. Ujar Annisa yang kesal.
Jam bel pulang semua anak-anak membludak dari pintu-pintu ruang kelas mereka masing-masing, besok jadwal piketnya Annisa karena takut besok telat masuk jadi ia selalu piket sepulang sekolah.
__ADS_1
"Annisa." Panggil Selly yang baru keluar dari kelasnya.
"Tunggu ya sell, bentar lagi nih!" ujar Annisa yang sedang sibuk menyapu ruang kelas.
"Oke."
Bayu yang melihat Annisa sedang sibuk merapikan kursi-kursi dan menyapu hanya berdua saja dengan Lely teman piketnya, karena semua anak cowo janjian untuk futsal makanya tak ada anak cowo yang ada dikelas selain Bayu, karena itu Bayu membantu Annisa dan Lely untuk mengangkati kursi-kursi agar mereka lebih mudah menyapu membersikan bawa meja dan kursi.
"Makasih Bayu, atas bantuannya seharian ini. Kamu nggak pulang?" Ucapan Annisa bergantian dengan pertanyaan dari Annisa.
"Belum di jemput." Jawab Bayu sambil tangannya sibuk mengangkat kursi ke atas meja.
"Ouh, jadi sambil nunggu jemputan kamu ngankutin kursi, bantuin kita gitu." Sambung Lely yang ingin ngobrol dengan Bayu juga.
"Kenapa emang nggak boleh." Jawab Bayu sambil menatap Lely, dan langsung gelagapan karena tatapan heroik Bayu yang memancarkan aura seperti musim semi bagi Lely.
"Ya boleh aja." Sambil tersipu malu.
Annisa melihat Lely juga sepertinya menyukai Bayu yang saat ini sibuk mengangkat kursi itu, setelah selesai Annisa ingin membuang sampah, karena Lely selesai menyapu langsung pulang, kedatangan Malik yang melihat Bayu sibuk merapikan sampah-sampah yang jatuh dari tongnya.
"Annisa, biar saya saja yang ngakutin ini berat." Ujar Bayu.
"Tapi hari ini, jadwal piketku."
"Nggak apa-apa sekalian kotornya, sini minjem sapu lidinya." Ujar Bayu.
"Ouh yaudah makasih."
"Mendingan kamu segera pulang, biar ini aku yang beresin."
"Annisa maafnya, tadi aku di panggil ke ruang BK jadi ngga bantuin kamu piket, Bayu ini tugas saya." Ujar Malik yang baru datang.
"Ngga apa-apa ayo kita angkatin sama-sama, kalo dikerjakan bersama akan lebih ringan." Ujar Bayu.
Bersambung...
__ADS_1
TERIMAKASIH BUANYAK, jangan lupa untuk like jempolnya dan tinggalkan komentarmu, jika menyukai karyaku ini bisa di simpan di perpus galeri kalian, seeyou.
Rabu, 16 Agustus 2022.