
*Namaku Lastri. Aku baru satu minggu dipersunting Bang Hasan. Setelah menikah aku langsung di boyong ke rumah orang tua Bang Hasan. Ku menggantungkan asa kepada Bang Hasan dan keluarga nya. Tapi apa? Baru satu minggu aku di sana. Aku di perlakukan semacam pembantu.
"Lastri bangun. Jam segini kamu belum bangun. Mau kamu kasih makan apa suami mu nanti? " Teriak ibu menggedor pintu kamar ku,dihari pertama aku menjadi menantunya.
Lekas ku beranjak dari tempat tidur. Sambil membatin. Ibu ini seperti tidak pernah merasakan jadi pengantin baru saja. Pengantin baru itu kan identik dengan bangun siang. Aihhh nasib nasib. Punya mertua cerewet. Aku lekas keluar kamar. Ku dapati ibu sedang berkacak pinggang.
" Maaf Bu, Lastri kesiangan tadi habis sholat Lastri tidur lagi"
Ibu hanya melotot. Bu bu tidak perlu melotot mata mu itu sudah sebesar jengkol. Tentu saja aku hanya membatin. Mana berani aku mengucapkannya. Maklum masih menantu baru. Masih malu malu untuk menunjukan taringnya. Tunggu lah saatnya. Nanti akan ku tunjukan siapa Lastri sesungguhnya. Sekarang ku ikuti saja mau nya ibu.
"Cepat bikin sarapan. Bahan bahan ada di kulkas. Hari ini senin. Hera akan berangkat sekolah lebih pagi" ibu berkata sambil membentak. Ibu lalu pergi entah kemana. Begitulah Ibu selesai menyuruh langsung raib. Ku bergegas memasak. Menyeduh teh. Dan menghidangkan makanan di meja. Pukul setengah 7 tugasku selesai.
Ku bangunkan Bang Hasan dengan kecupan sayang. Ahai maklum lah. Pengantin baru. Sedang hangat hangatnya. Bangunin tidur saja pakai kecupan.
Ketika kembali ke meja makan dengan Bang Hasan. Kulihat sudah ada Ibu, Hera dan Bapak. Mereka sedang menikmati masakan ku. Ibu makan tanpa menawariku. Weladalah. Yang masak siapa. Yang makan siapa. Aku hanya bisa mengelus dada. Perbanyak istighfar.
"Ayo sarapan Lastri jangan bengong saja." Bapak menawariku sarapan.
" Iya pak" Jawabku.
Lekas ku ambilkan Bang Hasan sarapan. Tentunya aku juga dong. Kan aku yang masak.
Selesai sarapan Bapak dan Hera berangkat. Bang Hasan masih cuti. Hari Rabu baru bekerja lagi seperti biasa. Bang Hasan kerja di pabrik sebagai mandor. Semenjak menikah. Aku tidak bekerja lagi. Itu perintah dari suamiku. Katanya " Biar abang yang kerja. Adek di rumah saja. Jangan capek capek. Biar cepat jadi. Hehe"
__ADS_1
"Lastri kalau sudah selesai. Langsung di cuci ya piring piring kotornya. Biar ga numpuk" kata Ibu seraya dia pergi keluar rumah. Iya ibu itu selesai sarapan. Langsung keluar rumah. Nge ghibah. Ada saja yang di omongin ke tetangga. Soulmate ibu itu bu Nuning. Dimana ada ibu,di situ pula ada bu Nuning. Cocok lah mereka itu. Yang satu ngomong tak henti henti. Yang satu menyimak. Pasti tau lah siapa yang ngomong tak henti henti itu.
Selesai beberes dapur aku langsung mencuci baju. Semua baju tanpa terkecuali ku cuci. Termasuk punya Hera. Anak gadis ibu. Yang seharusnya bisa mencuci sendiri. Aku pulalah yang mencucikan nya. Pernah aku menolak mencuci baju Hera. Ibu malah mencak mencak.
"Kamu itu sama adik sendiri perhitungan. Kamu itu cuma numpang disini. Memang kamu istri Hasan. Tapi bukan berarti kamu bisa leha leha di rumah. Kamu bukan ratu. Karena aku ratunya. Apa yang aku perintah. Harus di lakukan Tanpa banyak alasan dan pertanyaan." ucap Ibu sambil berkacak pinggang.
Rasanya mulai jengah. Ibu memperlakukanku layaknya pembantu. Lastri kerjakan ini,Lastri kerjakan itu. Belum lagi Hera,bisa cuma menyuruh nyuruh. Dikerjakan aku ga ikhlas,ga dikerjakan Hera pasti ngadu ke Ibu. Seperti siang ini.
"Mbak cuciin baju yang ini ya. Mau aku pakai nanti" ucap Hera sembari berlalu.
Belum juga aku jawab mau apa enggak sudah ngeloyor aja itu bocah. Memang dia pikir aku ini apa? Sabar sabar batinku.
Aku kesal kenapa harus aku yang mengerjakan ini dan itu. Semua aku. Apa apa aku. Lelah hayati adek bang. Pernah ku adukan sikap ibu dan adiknya Ke Bang Hasan.
Malas malasan gundulmu bang. Enak saja Bang Hasan ngomong seperti itu.
"Lastri ini baju yang kemarin sudah kering langsung di setrika ya. Langsung di kerjakan. Jangan nanti nanti. Biar ga numpuk. Kalau numpuk kamu juga yang repot." Ibu kalau nyuruh ga kira kira. Belum juga selesai nyuci baju. Sudah nyuruh nyetrika pula. Ingin ku teriak. Ingin ku menangis.
Beres semua kerjaan. Tinggal rebahan sebentar sambil baca baca cerbung di noveltoon. Belum juga satu bab Hera berteriak.
"Mbak lastri baju yang tadi sudah di cuci? "
"Sudah,tuh masih di jemuran" jawabku tanpa berpaling dari layar Hp ku.
__ADS_1
"Oh ambilin ya mbak. Di setrika juga ya. Sebentar lagi mau aku pakai. Aku mau keluar." Dan Hera pergi gitu aja. Dan aku bengong dong. Aku kan menantu bukan pembantu. Aku gagal paham ni gaes.
Aku belum beranjak dari kasur. Malas sekali rasanya. Toh si Hera bukan anak kecil lagi. Dia bisa mengerjakannya sendiri pikirku.
"Mbak mana bajunya? Aku mau pakek. Bawa kesini ya" Teriak Hera dari kamarnya.
"Kerjain aja sendiri. Mbak capek." Teriak ku tidak kalah nyaring. Memang dia nyonya apa.
"Mbak ini di setrika. Aku nyuruh mbak lo. Kenapa ga di kerjain? Ucapnya sambil melemparkan baju itu ke arah ku.
"Tadi mbak sudah nyetrika baju yang kering kemarin. Kamu itu kan sudah besar. Bukan anak kecil lagi. Setrika sendiri dong. Masa apa apa harus mbak. Kamu kan ga ngapa ngapain dari tadi." Ucapku masih berusaha bersabar.
"Heh Lastri berani beraninya kamu nyuruh anak saya nyetrika. Saya saja tidak pernah. Kamu itu cuma numpang di rumah ini. Kamu kan ga kerja. Sudah sepatut nya kamu bantu bantu beberes rumah. Cuma baju selembar saja kamu permasalahkan." Ucap ibu di depan pintu kamar ku sambil berkacak pinggang. Tiba tiba saja ibu sudah berdiri di sana.
"Tapi Bu, Hera bisa melakukan itu semua. Masa apa apa harus aku bu. Masa menyetrika baju selembar saja harus aku bu. Kataku dengan sabar. Padahal emosi sudah di ubun ubun.
"Ku bilang setrika ya setrika. Tak perlu kau banyak alasan." Tunjuk ibu di depan wajahku.
Aku beranjak mengambil baju itu. Ketika ku melewati mereka untuk menuju tempat menyetrika. Ku lihat Hera menatapku. Dan tersenyum sinis penuh kemenangan.
Bukan aku tak berani membantah ibu lagi. Cuma aku tidak mau ribut. Itu saja. Malu bila sampai tetangga mendengar. Biarlah. Stok sabar ku masih lumayan banyak. Ku sabar sabarin. Kali aja jadi subur. Eeehh sadar maksudnya*
__ADS_1