
Ku lalui hari hari dengan lesu. Semua serba salah,di mata semua anggota keluarga aku salah. Hanya bapak yang tidak pernah menyalahkan ku. Tapi Bapak,tidak pernah membela ku ketika aku dimarahi oleh Ibu. Bapak hanya diam memperhatikan,lalu pergi.
*Hari ini Bang Hasan gajian. Aku ingin mengajak nya jalan jalan. Beli cilok kek,martabak kek. Yang penting jalan jalan keluar. Suntuk juga di rumah trus trus an. Senep liat muka nya ibu. Hadehhhh
"Assalamualaikum" Suara Bang Hasan.
Pucuk di cinta,ulam pun tiba. Panjang umur dah Bang Hasan. Baru juga di rasan rasani. Sudaah pulang aja.
"Waalaikumsalam" Ku langsung mencium punggung tangannya takzim.
"Cepet banget Bang pulangnya?"
"Iya dek. Ga lembur."
"Buruan gih Abang mandi trus makan. Mau jalan jalan adek Bang. Suntuk di rumah. Mumpung Abang gajian kan? " Kataku sambil bergelayut manja di pundaknya.
"Emang adek mau kemana? Tanya Bang Hasan.
"Ke Alf* kek,ke Alun alun kek. Yang penting jalan bang" Kataku sambil memonyongkan bibir.
"Iya,sebentar ya. Abang bersih bersih dulu." Lalu Bang Hasan pun berlalu. Ke kamar mandi.
Ku lihat Bang Hasan sudah selesai. Ya allah. Ganteng bgt yak suamiku. Rambutnya lurus. Badan nya atletis. Bahunya bidang. Ga kalah lah sama artis Bollywod.
" Yuk bang capcussss." Sambil menggandeng tangannya.
" Eeeee mau kemana kalian?"Kata ibu. Ampun deh wanita satu ini entah datangnya dari mana tiba tiba saja sudah berdiri di hadapan kami.
__ADS_1
"Mau keluar sebentar Bu. Lastri mau jalan jalan. Pengen cilok katanya,mumpung Hasan baru gajian Bu." jelas Bang hasan.
"Suami baru pulang. Langsung ngajak keluar. Ga mikir apa suamimu itu capek. Mentang mentang baru gajian. Langsung mau keluar foya foya gitu? Enak aja kamu. Kamu di rumah aja. Sedangkan anak saya kerja. Banting tulang. Se enak udel mau ngabisin duit anak saya." Omel ibu panjang kali lebar.
Aku hanya bisa ngelus dada. Ya allah.
"Kan sekali kali bu. Tidak tiap hari." Ujarku.
"Alah kamu itu kalo dibilangin nyaut aj." Oceh ibu lagi.
Yaiyah nyaut,orang punya mulut. Batinku.
" Kalian ga usah pergi. Dirumah saja. Duit Hasan ibu yang pegang."
Aku mendelik. Kaget.
"Kalian kan masih numpang disini. Ya sewajarnya uang Hasan ibu yang pegang."
"Tapi aku kan istri Bang hasan bu ."
"Iya Ibu tau kamu istri Hasan. Tapi kamu masih numpang disini. Kalau yang pegang uang kamu. Bisa bisa habis tidak karuan." Jawab Ibu. Sambil memainkan bola matanya.
Bang Hasan hanya menunduk. Tak menjawab sedikitpun.
"Trus kalau aku butuh apa apa bagaimana Bu? Tanya ku lagi.
"Ya kamu tinggal minta sama Ibu. Memang nya kamu mau beli apa sih? Kamu kan tinggal di rumah ini. Makan tinggal makan. Mandi tinggal mandi. Ga perlu bingung beli beras. Ga bingung bayar Pdam." Jawab Ibu panjang lebar.
"Misal aku mau beli skincare bagaimana bu?"
__ADS_1
"Kalau itu kamu pikir sendiri." Jawab ibu sambil tersenyum sinis.
"Bang?" Tanyaku pada Bang hasan,meminta kejelasan darinya.
Bang Hasan hanya menatapku dan menggelengkan kepalanya. Pertanda dia tak berani membantah ibu.
Aku hanya bisa menitikan air mata. Dan berlari kekamar. Dosa apa aku Ya allah. Sehingga mempunyai mertua semacam itu. Aku tau surga suamiku ada di telapak kaki ibunya. Trus denganku Bagaimana? Aku istrinya. Aku juga berhak mendapat nafkah darinya. Aku bingung. Baru satu bulan berumah tangga. Kenapa cobaan begini besar Ya allah. Tolong kuatkan hati hamba. Dan lembutkan lah hati mertua hamba Ya Allah.
"Dek" Bang Hasan mengelus punggungku.
"Maafkan abang,tapi apa yang dikatakan ibu benar dek. Kita memang masih menumpang disini. Dan sudah sepatutnya kita membantu kebutuhan rumah."
"Tapi tidak harus semua gaji abang kasih ke ibu bang. Adek kan juga butuh pegangan bang. paling tidak separuh lah untuk adek. Adek juga mau mengatur keuangan rumah tangga kita."
"Ini ibu kasih buat adek." Bang Hasan menyodorkan uang Lembaran biru 4 buah.
" 200 ribu bang? Buat sehari?" Tanyaku penuh selidik.
"Ga dek. Buat sebulan. Uang bensin dan rokok abang akan dikasih tiap hari sama Ibu ke Abang."
"Ya Allah bang. 200 ribu sebulan? Buat beli cilok aja kurang bang."
"Ya daripada ga sama sekali." Jelas Bang Hasan dengan santuy nya. Iya santuy banget. Dan tidak memikirkan perasaanku.
Ya allah. Kenapa begini? Padahal dulu sebelum menikah. Bang Hasan begitu royal kepadaku. Aku tidak meminta pun dia akan memberikan uang. Sering kali aku di belikan baju tas bahkan skincare ku pun di belikan. Tanpa aku minta. Tapi sekarang? Entahlah kepalaku pusing memikirkannya. Kalau tau seperti ini.
Ahhh sudahlah. Nasi sudah jadi bubur. Kepalang tanggung. Tak mungkin waktu diputar kembali. Semoga ibu dan Bang Hasan segera sadar. Kuatkan aku Ya Allah. Lembutkan lah hati mereka Ya Allah.
Aku pun tidur memeluk guling membelakangi Bang Hasan. Hatiku masih terasa panas. Sebaiknya aku bekerja saja. Besok aku akan meminta izin Bang Hasan**
__ADS_1