Mertuaku Cerewet

Mertuaku Cerewet
Bab 4


__ADS_3

 


*Aku teringat ketika keluarga Bang Hasan kerumah untuk melamarku. Ketika itu,Bapak Bang Hasan mengucapkan nominal mahar yang akan di berikan kepadaku.


 


"Ini maharnya,5juta Rupiah. Mau silahkan. Tidak mau ya silahkan. Hatiku bagai di iris sembilu. Sakit. Namun tak berdarah. Padahal sebelum keluarga Bang Hasan kerumah. Aku sudah membicarakan perihal berapa mahar yang aku minta ke Bang Hasan. Dan bang Hasan sudah menyanggupi. Tapi kenapa hanya separuhnya yang di berikan kepadaku? Apa kah mereka tidak punya uang? Pikirku. Tapi kenapa Bang Hasan menyanggupi ketika aku meminta mahar 10juta Rupiah. Entahlah. Sampai sekarang pun aku tidak tau alasannya.


Sebenarnya Uwak Udin tidak mengizinkan aku menikah dengan Bang Hasan. Bukan karena jumlah maharnya. Tapi lebih ke perkataan Bapak. Yang mengucapkan,mau ya silahkan,tidak mau ya silahkan. Seperti menawar baju di pasar. Tapi waktu itu aku tetap membela keluarga Bang Hasan.


"Mungkin Bapak Bang Hasan grogi,Wak. Jadi bicaranya seperti itu." Padahal aku tau Bapak tidak grogi sama sekali. Tapi aku berusaha menutupi semua itu. Agar pernikahan ku dengan Bang Hasan tetap terlaksana. Toh tidak baik mempersulit pihak lelaki dengan mahar yang besar. Setelah aku membujuk Uwak. Akhirnya Uwak pun memberi restu.


Semenjak umur 10 tahun aku tinggal dengan Uwak Udin dan Uwak Ida. Dulu Ibu ku menikah dengan Bapak. Ketika aku belum lahir,Bapak pergi dari rumah. Dan tak pernah kembali. Aku tidak tau alasannya. Kenapa sampai bapak pergi dari rumah. Karena sampai hari ini ibu tidak pernah membahasnya. Aku pun tak berani bertanya. Mungkin hati ibu terlalu sakit. Aku tau pengorbanan ibu membesarkanku hingga umur 10 tahun,tidaklah mudah. Dan aku tidak ingin menambah beban pikiran ibu dengan bertanya tentang Bapak. Biarlah itu menjadi rahasia ibu. Mungkin suatu saat ibu mau dengan sendirinya bercerita tentang Bapak.


Di umur 10 tahun. Aku dititipkan ke Uwak Udin. Uwak adalah kakak Ibu. Ketika itu ibu akan menikah lagi. Dengan banyak pertimbangan akhirnya aku di titipkan Ke Uwak Udin. Sebenarnya ibu ingin aku tinggal bersamanya. Tapi di larang oleh Nenekku. Nenek takut calon Bapak tiri ku akan menggangguku. Atau menghajar ku. Jadilah aku dititipkan ke Uwak Udin. Yang pada saat itu belum juga di karuniai anak. Aku sangat di manja oleh Uwak. Semua kebutuhanku di cukupi oleh Uwak. Aku sudah dianggap seperti anak sendiri oleh Uwak. Hingga akhirnya istri Uwak hamil. Dan melahirkan bayi mungil perempuan. Yang di beri nama Wulandari.


Walaupun Uwak sudah memiliki anak. Tapi Uwak tetap sayang ke padaku. Tidak berkurang sedikitpun kasih sayang Uwak. Aku bersyukur memiliki mereka di hidupku. Sedangkan Ibu,sudah memiliki anak. Lelaki dan perempuan. Namanya Bagus dan Ayu.Kami sering bertukar kabar lewat video call. Lantaran Ibu ada di seberang pulau. Hubungan kami baik. Selayaknya anak dan orang tua.

__ADS_1


"Heiiiiii ngelamun saja" Ibu menepuk pundaku dengan cukup keras. Membuatku terkejut.


"Memangnya kalau kamu ngelamun gitu kerjaan bakal selesai?" Oceh Ibu lagi.


"Iya bu" sahutku. Dasar Maemunah. Hobinya marah marah. Ya allah kenapa mertuaku segalak ini? Tolong stok kesabaran ku di tambah Ya Allah. Batinku dalam hati.


Sudah jadi rutinitas. Semua pekerjaan aku yang mengerjakan. Tidak ada yang namanya bantu membantu. Ya inilah aku. Menantu rasa pembantu. Gratis pula. Semua kulakukan dengan sabar. Tapi entah sabar ku ini sampai kapan. Bang hasan terlalu nurut dengan ibu. Tak pernah sekalipun Bang Hasan membela ku. Ketika ibu mengomel tentang kerjaan ku yang tidak becus. Katanya aku mencuci tidak bersih lah. Piring masih berminyak lah. Masakan tidak enak lah. Lantai kayak tidak di sapu lah. Dan masih banyak lagi yang lainnya. Bang Hasan hanya diam. Tak bersuara sedikitpun.


Sebenarnya aku ingin sekali pergi. Pergi menjauh. Tapi aku takut. Takut menjadi janda. Padahal usia pernikahan ku belum genap 1 bulan. Apa kata orang nantinya. Aku takut seperti Ibu. Dulu orang orang menghina ibu. Karena ditinggalkan bapak. Dan menjadi janda. Begitu buruknya predikat janda dimata orang orang. Aku takut sekali. Orang orang akan menghinaku. Ku akan sebisa mungkin mempertahankan pernikahan ini. Di setiap sepertiga malam. Selalu ku meminta pada Allah. Agar di lembutkan hati mertua ku dan suamiku. Agar dapat memperlakukan ku dengan baik.


"Mbak tempat Mas Yuda,ada lowongan kerja ga Mbak? Tanyaku pada Mbak Tika tetangga sebelah.


"Yah harus boleh,sekarang yang pegang gaji Bang Hasan,Ibu mbak. Ini aku hanya di beri uang segini buat sebulan." Jawabku sambil menunjukan lembaran merah ke Mbak Tika.


"Itu 200ribu buat sebulan? Yang bener aja Lastri?" ucap Mbak Tika tidak percaya.


"Ish ngapain juga aku bohong." Kataku meyakinkan.

__ADS_1


"Daripada kamu kerja keluar rumah gitu,mending jadi penulis saja. Cuman modal Handphone sama kuota. Yang penting ceritanya dibikin seru. Ya mudah mudahan yang suka dan baca banyak. Jadi kamu dapet penghasilan gitu." ucap Mbak Tika menjelaskan panjang lebar.


"Memang bisa ya mbak dapet uang dari menulis gitu?" tanyaku bingung.


"Ya bisa lah,tinggal download aplikasinya. Daftar jadi penulis. Tinggal nulis aja. Setelah itu serahin semuanya sama Allah. Yang penting kamu sudah usaha." Mbak Tika menjawab sambil menyuapi Kayla anaknya.


"Iya deh nanti aku coba mbak." Jawabku masih ragu.


"Jangan nanti nanti sekarang saja. Kamu kan sudah ga ada kerjaan rumah yang menanti. Kali saja jalan rejeki mu dari situ,ya kan kita berdoa nya yang baik baik."


"Ga punya kuota mbak. Nanti lah aku beli." aku masih ragu juga. Memangnya bisa aku menulis. Kalau baca si hoby tapi kalau menulis? Entah lah.


"Sudah sana beli kuota,Mbak Tika saja sudah dapet bayaran lo. Lumayan,dapet 500 ribu sebulan. Padahal,baru daftar tiga bulan yang lalu lo. Itu juga dikasih tau sama temen mbak. Awal nya mbak juga ragu. Tapi keadaan mendesak. Masa pandemi begini harus pintar pintar cari celah. Supaya dapur tetap ngebul." Mbak tika memaksaku.


"Iya deh,aku beli kuota dulu mbak. Semoga menjadi jalan rejeki ku ya mbak." jawabku sambil berdiri hendak pergi ke counter ujung gang.


"Amin. Yang penting kamu itu rajin nulis. Nanti lama lama ada juga yang baca. Semangat pokok nya." Mbak Tika memberi semangat. Ah beruntung nya aku memiliki tetangga seperti Mbak Tika.

__ADS_1


Aku berjalan ke ujung gang,menuju counter langganan. Untung ada uang dua ratus ribu yang di kasih Ibu kemaren. Jadi aku tidak perlu ambil uang tabungan ku semasa lajang dulu. Aman batinku.


Sesampainya di counter,aku langsung membeli kuota yang aku butuhkan. Ketika hendak berjalan pulang. Ku mendapati Hera turun dari mobil,di persimpangan jalan. Lo Hera bareng siapa ya? Kok ga langsung ke rumah saja. Kenapa harus turun di jalan?


__ADS_2