Mertuaku Cerewet

Mertuaku Cerewet
Bab 2


__ADS_3

Semua kulakukan dengan sabar,semoga saja pintu hati Ibu dan Hera yang sering memerintah ku dengan semena mena berubah.


Setelah mengantar Bang Hasan ke depan rumah,untuk berangkat kerja. Aku sibuk beberes di dapur. Ibu entah kemana. Biasanya si ngrumpi sama ibu ibu di depan rumah nya Bu Ida. Heran sama Ibu,sudah tua tapi hobinya bergosip. Pasti lagi gosipin aku lagi tuh. Seperti kemarin tak sengaja aku mendengar ibu sedang bergosip.


"Punya mantu satu aja,kok ga kerja. Bisa nya di kamar,ga pernah bantuin beberes rumah. Kalau Hasan pulang,baru deh sibuk bersih bersih. Cari muka sama Hasan." ucap ibu sambil bibirnya merot merot. Ibu tidak sadar aku sedang memperhatikannya di balik pagar. Aku hanya bisa ngelus dada. Sambil berlalu ke dalam rumah.


Sakit sekali hati ini,semua sudah aku kerjakan. Mulai dari beberes rumah,masak,mencuci semua aku yang mengerjakan. Hanya karena aku tidak bekerja,Ibu merendahkan ku. Aku hanya bisa terisak di pojok kamar. Kuatkan hamba Ya allah batinku kala itu.


Setelah selesai semua urusan dapur,giliran mencuci pakaian. Mumpung masih pagi. Aku mencuci sambil bersenandung untuk menghilangkan penat,karena kerjaan rumah yang tidak ada habis habis nya.


Setelah selesai mencuci dan menjemur pakaian,aku menyalakan televisi. Sedang asyik menonton,tiba tiba ibu datang.


"Asyik ya nonton tv. Punya uang ga buat bayar listrik? Ibu berkata tajam .


"Alah Bu,cuman nonton tv pakai dipermasalahkan." jawabku tak enak hati.


"Kalau mau nonton tv,beli token listrik. Kalau ga punya duit ga usah nonton!" Ibu berkata sambil duduk di sofa.


Aku yang tak enak hati menyingkir. Punya mertua begini amat Ya Allah. Lalu aku masuk kamar,tempat ternyaman. Rasa nya aku sudah tidak betah di rumah ini. Ingin mengontrak rumah,tapi Bang Hasan tidak mau katanya sayang uang nya kalau untuk membayar kontrakan. Sedangkan di rumah ini terus,bisa bisa aku gila. Punya mertua sama adik ipar model begitu.


Tiba tiba ponsel ku bergetar,Ibu ku menelfon.


(Assalamu'alaikum)


(Waalaikumsalam,bagaimana kabar mu cah ayu)


(Baik Bu, Alhamdulillah)


(Kamu betah kan di sana nduk? Mertua mu baik to nduk?)


(Alhamdulillah Bu,Lastri betah disini)


(Gini lo nduk, Ibu pengen kamu sama suami mu kesini. Ada yang pengen Ibu sampaikan ke kamu nduk.)


(Apa to Bu? Ga bisa lewat telepon saja Bu?


( Kalau bisa kamu kesini nduk. Sekalian main tempat Ibu,terakhir kesini kamu masih SMA dulu to nduk.)


(Iya deh Bu,nanti Lastri bicara sama Bang Hasan)

__ADS_1


(Iya nduk,kalau bisa secepatnya ya nduk.)


(Ibu sehat sehat kan Bu?)


(Alhamdulillah sehat nduk,ga usah khawatir.)


(Syukurlah Bu,nanti Lastri kabarin lagi.)


(Ya sudah nduk,gitu saja. Jaga diri baik baik nduk,sering sering cerita sama Ibu. Walaupun Ibu jauh,doa Ibu selalu ada buat kamu nduk.)


(Iya Bu,Lastri bakal sering sering cerita sama Ibu.)


Setelah mematikan saluran telepon,aku termenung. Tumben Ibu nyuruh aku ke tempat Ibu. Biasanya juga Ibu yang datang kesini menengok ku. Kalau alasannya kangen,belum juga 1 bulan lalu kami bersama waktu acara pernikahan ku. Ibu menemani ku seminggu lebih. Mulai dari catering, WO, Make-up, semua Ibu yang membayar. Aku hanya terima bersih. Suami Ibu, yang aku panggil Ayah,orang berada. Ladang sawit nya di mana mana.


Aku dikejutkan suara ketukan di pintu kamar ku.


"Ada apa Hera?" ternyata Hera yang mengetuk pintu.


"Mbak buatin mie ya. Ga pedes." Hera berkata sambil berlalu.


" Buat sendiri kenapa si Her?" Tanyaku pada Hera yang sudah menjauh.


" Sana aduin aja. Ga takut." Kataku emosi.


"Bu sini deh." Hera berteriak. Ga main main ini bocah.


"Ada apa sih Her? Pulang sekolah teriak teriak gini." Ibu datang tergopoh-gopoh.


"Itu Mbak Lastri ga mau bikinin Mie." jawab Hera sambil memainkan bola matanya.


"Ooo jadi kamu sudah berani menolak permintaan adik kamu?" Tanya ibu sambil melotot.


"Ya kan Hera bisa bikin sendiri Bu. Masak mie saja harus Lastri buatin?" Tanyaku lelah.


"Hera itu capek pulang sekolah,kamu kan dari tadi ga ngapa ngapain. Dikamar aja,wajar lah kalau Hera suruh kamu." Ibu mulai naik pitam


" Aku udah masak itu Bu,makan yang ada di meja makan saja." Jawabku lagi.


"Aku mau nya Mie males makan yang lain." Hera berkata sambil melirik ku. Masih bocah ga ada sopan sopan nya sama orang tua batinku.

__ADS_1


"Sudah sana bikin Mie buat Hera." Ibu mengacungkan telunjuknya.


" Ga mau Bu,bikin saja sendiri. Dari tadi aku juga capek beberes rumah." Jawabku sambil menutup pintu kamar.


"Kurang ajar kamu ya. Berani kamu ya sama mertua sendiri." Ibu mencak mencak.


Ku tutup telinga dengan bantal. Biarlah sekali kali melawan seperti ini. Memangnya aku babu.


Tak lama aku pun tertidur.


Jam menunjukan pukul 4 sore,lumayan lama juga aku tertidur. Gegas ku tunaikan shalat ashar. Setelah itu aku pun mandi. Bersiap menyambut suami tercinta. Yang sebentar lagi pulang. Aku tidak keluar kamar sedari tadi,palingan diomeli oleh Ibu. Untung kamar ku di lengkapi kamar mandi juga. Tapi perut ku lapar sekali mau keluar malas,ga keluar laper. Untung Bang Hasan sebentar lagi pulang. Akhirnya aku hanya membaca di aplimasi Noveltoon. Lumayan lah menghilangkan penat.


Tak berselang lama suara motor Bang Hasan terdengar,buru baru aku merapikan diri. Lalu bergegas keluar kamar. Untuk menyambut suami tercinta.


Baru juga kaki ini melangkah keluar kamar,Ibu sudah menyindir.


"Bagus bener kelakuan mantu tersayang ini. Dari tadi kerjanya cuman di kamar saja. Giliran suami pulang cepat sekali keluar kamar."


Tak ku pedulikan apa kata Ibu. Aku bergegas ke depan. Lalu mencium punggung tangan suami ku takzim.


"Ini pesenan kamu dek." ucap Bang Hasan sambil memberikan bungkusan sate ke tangan ku.


"Terima kasih Bang,adek laper banget nih." jawabku sambil mengusap perut yang keroncongan minta di isi.


"Enak bener,yang di rumah cuman ongkang ongkang kaki. Suami pulang dapet jatah sate." tiba tiba saja ibu sudah berdiri di belakangku.


"Aku ga ongkang ongkang kaki ya Bu,dari pagi aku juga beberes rumah." jawabku membela. Bosan juga selalu di sudutkan.


" Alah tadi kamu juga ga mau waktu disuruh bikin mie sama Hera." ucap ibu sewot.


" Lah Hera kan punya tangan,buat apa coba fungsi tangan? Bikin mie aja kok pake nyuruh Lastri." Jawabku mulai emosi.


"Dek kamu tu kok kaya gitu bicara sama Ibu? Abang tuh capek,malah kalian berdua ribut. Kamu juga jawab aja dari tadi." Bang Hasan malah membela Ibu nya.


"Mas kamu kok membela Ibu sih? Mas kan harusnya bertanya dulu,bagaimana cerita sebenarnya." Aku benar benar tidak percaya. Bang Hasan malah membela Ibu.


"Terus Abang harus membela kamu gitu? Kamu kan istri Abang. La Ibu? Beliau yang sudah melahirkan Abang. Jelas Abang bela ibu lah. Aneh kamu tu." Jawab Bang Hasan penuh penekanan.


Bagai di sayat sembilu hati ini. Bang Hasan membela Ibu nya. Tanpa tau titik permasalahan nya apa. Aku pergi begitu saja ke kamar,kulirik Ibu sekilas. Dia sedang tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


__ADS_2