Mertuaku Cerewet

Mertuaku Cerewet
5


__ADS_3

"Kamu tadi bareng siapa Her? Kok tadi mbak lihat kamu turun dari mobil? Kok ga lngsung sja turun di depan rumah? Kenapa di jalan?" Tanyaku spontan,ketika Hera memasuki rumah.


"Eh bareng temen mbak." jawab nya gelagapan.


"Ooo,lain kali suruh anter sampai rumah aja. Ga enak kalau di lihat tetangga. Masa turun nya di pinggir jalan." Ucap ku menasehati.


"Iya mbak." Ucap Hera sambil berlalu ke kamar nya.


Iseng iseng aku mendaftar jadi penulis di salah satu platform menulis. Yah lebih baik aku menulis tentang Ibu Mertua Jahat saja kali ya. Hehehe.


Pertama tama aku hanya membaca baca. Memahami,cerita seperti apa yang di gemari. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat,sudah sore saja. Ku tunai kan kewajiban ku. Lalu bersiap menyambut suami pulang.


Ketika hendak membuat teh hangat,aku celingukan. Gula nya mana ya batinku? Kok ga ada. Perasaan tadi pagi masih ada satu toples penuh.


"Bu,lihat toples gula ga?" Tanya ku pada Ibu yang sedang asyik menonton televisi.


" Kamu ngerasa beli gula ga? " Tanya Ibu balik.

__ADS_1


"Ya aku ga beli gula Bu,kan semua gaji Bang Hasan Ibu yang pegang." Jawabku malas.


"Itu uang Hasan,bukan uang kamu. Kan dia yang kerja. Wajar saja kalau Ibu yang pegang." Ibu menjawab tanpa memalingkan wajah nya dari televisi.


"Aku istri nya Bang Hasan Bu,seharusnya aku yang pegang gaji Bang Hasan. Tapi aku mengalah,aku tidak mempermasalahkan,kalau Ibu yang pegang. Ibu sendiri juga bilang kalau perlu apa apa aku tinggal bilang Ibu." Kali ini emosi ku benar benar sudah di ubun ubun.


"Aku Ibu nya,aku lebih berhak. Enak di kamu,ga kerja dapet duit. Kasihan anak ku dong,kamu manfaatin." Ucap Ibu santai.


Astaghfirullah,aku hanya bisa mengelus dada,lalu pergi daripada gila ngadepin Ibu. Ku buatkan teh Bang Hasan,walau tanpa gula. Ku buka tudung saji,niat ku ingin menghangatkan opor ayam yang aku masak tadi pagi. Tapi yang ada cuma sambel nya saja. Opor nya mana? Mangkuk nya saja raib. Apalagi opor nya. Ingin ku tanya Ibu,tapi malas berdebat. Aku buka kulkas,hendak mengambil telur. Tapi nihil,perasaan tadi masih ada 5 biji kalau tidak salah. Ya sudah aku menyerah,nanti kalau Bang Hasan pulang,ku ajak makan di luar saja batinku.


Tak berselang lama Bang Hasan pun pulang.


Bang Hasan hanya mengernyitkan alis nya. Lalu meminum teh nya dengan sedikit cemberut.


"Ga ada lauk juga Bang,habis. Padahal tadi pagi adek masak opor ayam Bang. Beli di luar aja yuk bang." Aku mengajak Bang Hasan untuk makan di luar.


"Kok bisa sih dek habis? Emang kamu ga sisihkan buat Abang?" Tanya Bang Hasan agak kesal.

__ADS_1


"Sudah Bang,udah adek pisahin yang buat Abang. Tapi pas Adek liat udah ga ad Bang. Masa makanan aja adek tanyain ke Ibu." Jawabku membela diri.


"Ish suami pulang kerja,capek,laper. Ga ada makanan,teh pahit. Ga becus emang kamu dek." Ucap Bang Hasan marah.


"Ya kan adek ga tau Bang kalau semua habis Bang." Mata ku mulai mengembun.


"Alah alesan aja kamu." Bang Hasan berdecak berlalu menyusul Ibu menonton televisi.


Aku hanya bisa bengong,lalu melangkah gontai ke kamar.


Aku terbangun,karena suara berisik diluar kamar. Ternyata aku ketiduran.


Ku buka pintu perlahan,ku lihat Bapak,Ibu,Hera dan Bang Hasan asyik menonton televisi. Di meja terhidang kopi panas mengebul. Lalu Bang Hasan? Makan? Itu sepertinya lauk opor ayam yang ku buat tadi pagi. Bukannya habis ya?


"Tadi Ibu sengaja ngumpetin gula,sama telor di kamar San." Ibu berkata sambil terkikik.


"Bener tu Bu,biar ga boros." timpal Hera.

__ADS_1


"Terus opor ayam Ibu taruh di atas lemari. Biar istri kamu itu tau diri. Biar dia itu kerja. Ga bisa nya cuma di rumah aja."


Ku lihat Bang Hasan diam saja. Tak membela ku sedikit pun. Sesak dada ini. Sampai gula,telur di sembunyikan di dalam kamar. Opor ayam,aku yang masak juga di sembunyikan. Seperti nya aku tidak tahan lagi diperlakukan seperti ini. Harus kah aku mengakhiri semua ini?


__ADS_2