Missing Link

Missing Link
Chapter 2


__ADS_3

Missing Link


Chapter 2


-20 November 2008-


Tiga hari telah berlalu sejak aku menyatakan perasaanku pada Reina, kini aku berada dikamar kos ku sembari terus memikirkan apa yang telah terjadi karena biar bagaimanapun ini adalah sesuatu yang sukar untuk dipercaya.


Namaku Juna, mungkin ini sedikit terlambat untuk memperkenalkan diri tapi bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali?


3 hari yang lalu aku menyatakan perasaanku pada gadis yang kusukai namun tidak berakhir seperti yang diharapkan karena tanpa disangka ia tidak mengenalku atau bisa dibilang melupakanku.


Selama tiga hari ini aku telah mencari tahu beberapa hal seperti menanyai semua orang yang kukenal dan respon mereka semua sama seperti Reina... mereka bilang bahwa mereka tidak mengenaliku.


Hari-hari normal bahagiaku yang selalu ku habiskan lebih banyak bersama Reina tiba-tiba berputar ke arah yang sangat tidak terduga. Hingga semua orang yang kukenal di kota ini melupakanku. (Yahh... Kecuali ibu kos ku dan anggota keluargaku 😅)


Aku juga mendapati bahwa seluruh seragam sekolah di kamarku bahkan bukan seragam sekolah milik SMAN 8 tapi SMA 13. Aku tidak menyadarinya pada 3 hari yang lalu karena terburu-buru. Dan tidak ada perbedaan yang terlalu jauh dari seragam putih Abu-Abu antara kedua sekolah.


Ketika kutanya orang tuaku via telepon aku juga mendapati bahwa aku di kota ini bersekolah di SMAN 8. Dan alasannya sederhana bahwa karena aku sudah memiliki banyak teman dekat disini. kata mereka.


Kemarin aku juga sudah menyelinap ke SMAN 8 dan kulihat tidak ada tanda-tanda aku adalah murid di sekolah tersebut seperti tidak ada namaku di daftar murid atau daftar absen. bangku yang seharusnya menjadi tempat duduk ku juga di isi oleh orang lain.


Di kos tempat tinggal ku ini ada satu murid SMAN 8, dia menjadi satu-satunya teman dekatku di kos ini yang kukenal.


Tentu sudah aku tanyakan padanya dan dia pun ikut melupakan ku. Segala jenis teori aneh dan nyeleneh mulai bermunculan di kepalaku selama tiga hari ini mengenai penyebab hal ini.


Seperti "apakah ini prank, tapi mana kameranya?", "Serangan Alien untuk merubah isi ingatan manusia?" atau "tindakan ilmuan bodoh yang berusaha membuat ujicoba dengan memanfaatkan murid SMA? " Semakin kupikir nampaknya aku semakin berpikir kalau aku akan gila.


Sambil tidur terkapar dilantai aku teringat hari pertama aku bertemu dengan Reina. Itu adalah hari yang tak terlupakan.


-3 tahun lalu-


-28 Agustus 2005-


Kala itu aku masih merasa kesal pada orang tuaku karena aku harus ikut mereka ke kota kecil seperti ini dan meninggalkan teman-teman dekatku di kota besar. Di kota ini benar-benar tidak ada apa-apa, tidak ada landmark, taman, atau waterpark. Yang ada cuma alam, sawah, perkebunan dan bangunan-bangunan kecil.


Sore itu aku tidak langsung pulang ke rumah sepulang dari sekolah dan memutuskan untuk memasuki jalan setapak yang berada dekat dengan sekolahku. Ketika ku masuki dan ku ikuti lebih dalam, aku mendapati sebuah pemandangan yang membuatku terkejut... Sebuah pemandangan yang sangat indah, Sebuah danau yang amat jernih dengan pantulan cahaya dari matahari senja terpampang di depan wajahku.


Sangking indahnya aku bahkan merasa ini tidak mungkin nyata atau semacam efek komputer atau CGI.


Ada seorang gadis berpakaian SMP dengan pakaian yang sama denganku, dia adalah Reina. Saat itu aku masih belum mengenalnya, begitupun dia. Gadis yang duduk di rumput dengan alas sepatu dengan menghadap ke arah danau.

__ADS_1


Dengan pantulan cahaya oranye dari langit senja, gadis tersebut menoleh kearah ku. Angin datang pada saat itu menerbangkan dedaunan dan rambutnya ikut menari sembari menoleh ke arahku. Tatapannya benar-benar membuatku terpaku dan segera melupakanku atas segala hal yang membuatku jengkel beberapa menit yang lalu.


Itu adalah mata yang indah, dengan rambut yang melambai-lambai ditiup oleh angin sepoi. Sangat cantik bagai bidadari, aku tak tahu ada gadis secantik dan semanis ini di kota kecil ini. Saat itu aku langsung jatuh hati padanya sejak pada pandangan pertama.


Keberadaan danau ini sendiri saja sudah membuatku terkesan akan keindahannya ditambah seorang malaikat ada di sana benar-benar perpaduan tiada tara bagi siapapun yang melihatnya.


Usai menoleh kebelakang ke arahku ia kembali melihat kearah danau tanpa mengucapkan satu patah katapun. Apa yang dilakukannya disini sendirian?


Aku berjalan mendekatinya dan berniat menyapanya.


"Bukankah tempat ini indah?" Dia berkata padaku sambil tetap memandang kearah danau


"Ya, ini benar-benar sangat indah" Sahut ku reflek.


"Aku sering datang kesini kalau aku sedang merasa sedih"


"Mengapa kau bersedih? " tanyaku sambil ikut duduk di sebelahnya.


"Hmm... teman dekatku akan pindah ke luar kota"


"oh iya...apakah kau murid pindahan itu?"


"ah iya kenapa kamu tahu?" tanyaku bingung.


"Eh!? kaya orang asing gitu? bule? "


"hahaha... bukan lah, maksudnya tuh aku hampir hafal betul sama muka-muka murid disekolah kita"


"Eh!? hebat dong kalau gak salah murid di SMP kita ada sekitar 400 murid."


Dari situlah kami mulai saling mengenal, dan kemudian menjadi sangat akrab. dia menjadi teman perempuan paling dekat denganku di kota ini (aku harap lebih sih 😅 hiks hiks hiks).


Sebelum aku mengingat lebih jauh, aku mendengar suara pintu diketuk.


- Saat ini-


-20 November 2008-


"Iya sebentar...!! " Sahut ku.


Aku penasaran siapa yang mengetuk pintu kamar kos ku ketika semua orang bahkan melupakanku.

__ADS_1


Kubuka pintu kamar kos ku.


Ada seorang gadis yang pertama kali kulihat berdiri diposisi paling kiri dengan 2 orang lainnya seorang cowok. Tapi aku tak mengenalnya, tak satupun dari mereka.


"(Siapa mereka?)" tanyaku dalam hati.


Pria-1: "ini dia anaknya... "


Wanita: "sakit ya, kok 3 hari gak masuk sekolah? "


Pria-2: "padahal tiga hari yang lalu sehat bener gua liat lari-lari pakai seragam sekolah, eh tau nya malah gak masuk sekolah."


Selagi mereka berbicara aku memperhatikan seragam mereka dan mereka adalah murid SMA 13. Aku juga masih sempat memperhatikan nama masing-masing dari mereka dari baju seragam yang mereka kenakan dan mengetahui bahwa nama mereka adalah Linda, Rendi, dan Yoga.


Secara cepat aku terpikir bahwa, jika semua orang di SMAN 8 melupakanku dan tak mengenaliku bukankah berarti beberapa orang di SMA 13 yang sebaliknya justru mengenaliku?


Setelah kuingat Rendi dan Yoga adalah murid SMA sebelah yang sering berpapasan kearah sekolah denganku karena mereka bersekolah di SMA 13 yang kebetulan lewat depan kos ku dari rumah mereka.


Tanpa kusadari aku membuat mereka mengoceh sendiri tanpa menyuruh mereka masuk. "Silahkan masuk dulu... " Kata ku sebelum kusadari ternyata si 2 cowok pentol korek memang sudah masuk duluan sebelum disuruh, mereka tampaknya familiar dengan kamarku dan begitu dekat denganku.


"Oke kalau gitu, permisi... " Kata cewek bernama Linda sambil melepas sepatu buat ikutan nyelonong masuk.


"Ya ampun, ini kamarmu kok jadi kayak kapal pecah begini Jun? " Kata Rendi.


"Terus 3 hari lalu kenapa lari-lari pakai baju sekolah tapi ujung-ujungnya malah ga ke sekolah? " Yoga menambahkan.


Benar, rupanya Yoga dan Rendi adalah 2 orang yang melihatku lari terburu-buru keluar dari kos kosan 3 hari yang lalu. Dan mereka ini apakah memang mengenalku? Pantas saja mereka begitu memperhatikanku kemarin... Kupikir mereka hanya heran karena aku berlari-lari macam di kejar-kerjar penagih hutang.


"Sebelum sempat gua panggil lu sudah jauh dan gak denger" Kata Yoga.


Yoga adalah cowok yang terlihat santai dengan badan yang cukup kurus dan tinggi, Rendi sendiri lebih pendek dari yoga dan kurang lebih sama denganku sementara Linda adalah cewek yang yang memiliki rambut sebahu dengan poni depan dan terlihat trendi.


Mengenai kedatangan mereka rupanya mereka khawatir karena aku 3 hari tak masuk sekolah, tak mengirim surat dan tak menjawab satupun SMS dari mereka. Setelah ku periksa laci, memang benar ada segunung SMS dari mereka dengan beberapa missed call. Wajar saja kalau aku tak menyadarinya, karena selama ini tak ada nomor siapa-siapa di hapeku selain orang tuaku. Reina tak memiliki ponsel.


Akupun segera meminta maaf pada mereka dan beralasan kalau aku kemarin tidak enak badan dan besok sudah akan masuk ke sekolah lagi. Beruntungnya, mereka terlihat percaya dan bersiap-siap pulang dulu.


"Ya udah, lain kali ngirim surat kek.. Kan bisa nitip di gua sama rendi" Kata yoga sembari memakai sepatu.


Mereka pun pulang setelah sekitar 2 jam dan kamarku menjadi sepi kembali, meski begitu rupanya mereka membantu membereskan beberapa pakaian ku yang berserakan sejak kemarin.


Meski canggung, aku berpura-pura sebagai Juna yang mereka kenal dan bukan Juna yang berasal dari ingatanku. Aku berpikir mungkin aku hanya perlu mengikuti arus sedikit untuk bisa mencari tahu sedikit informasi dan kebenaran dibalik ingatanku yang berbeda dari yang orang lain...

__ADS_1


~Bersambung ke chapter berikutnya~


__ADS_2