
Missing Link
Chapter 4
Beberapa minggu telah berlalu sejak semua orang di kota ini melupakanku, kini aku telah terbiasa dan telah beradaptasi dengan lingkungan dan teman-teman baru.
Jreng!! Jreng!!
Saat ini aku telah berada didepan kos tempat Linda tinggal bersama dua pentol korek Rendi dan Yoga. Apa yang sedang kami lakukan disini?
-2 hari yang lalu, di kelas-
Kali ini kami mendapat tugas kelompok untuk menyusun laporan untuk pelajaran biologi. yap!!, seperti yang di duga anggota kelompok kami dihuni oleh aku, Rendi, Yoga, Linda dan bintang tamu spesial pada chapter kali ini yaitu teman sekelas kami bernama Ririn.
"Nah dimana nih kita sebaiknya ngerjain tugas kita kali ini. please jangan di kosan Juna lagi. gw udah eneg sama tempatnya. kita butuh tempat yang fresh" Kata Yoga sembari memasang muka mesem-mesem sambil melirik Ririn.
Ya, aku sudah pernah mengatakannya pada chapter sebelumnya bahwa Yoga menyukai seseorang di kelas kami dan itu adalah Ririn. Meski semua orang di kelas sudah tahu kalau Yoga menaruh hati pada Ririn namun sepertinya Ririn tidak peduli sama sekali.
Yoga menyolak-nyolek diriku dan Rendi.
"Bener, gimana kalau kita ngerjainnya dirumah Ririn aja?" respon spontan yang diberikan oleh rendi dengan muka bangga
Mendengar itu Yoga langsung merespon dengan menunjukan jempol seperti memberi isyarat yang berbunyi "(Nice bro! Lu emang yang terbaik. gak sia-sia kemarin gua nraktir lu di kantin)".
langsung dibales dengan kedipan mata sebelah oleh Rendi yang berbunyi "(hehe... besok jangan lupa beliin aku porsi besar nasi goreng yang lebih besar di kantin ya? )"
Eh, bentar... kok aku malah seperti mengerti isi percakapan mereka hanya dengan gesture memberi jempol dan ngedipin mata sebelah. EMANGNYA AKU SEORANG ESPER!?
(Info: Esper mengacu pada individu yang mampu telepati dan kemampuan paranormal serupa lainnya.)
Oh iya... aku sampai lupa memberikan Yoga dukungan tempur. aku kemudian berdiri dan mengajukan sebuah saran.
"bagaimana kalau kita melakukan voting saja?"
Tentu saja dalam kasus ini aku akan memberikan dukungan untuk Yoga dengan membantunya membuat rumah Ririn sebagai tempat yang dipilih untuk mengerjakan tugas kali ini. Kemenangan ada ditangan kami!
Hingga akhirnya... hasil voting dengan suara mayoritas menunjuk nama... LINDA!!??
"(Eh, bentar... KOK MALAH LINDA!? )" kenapa ini kok 3 orang milih rumah Linda dan 2 orang memilih rumah Ririn. "(Kemana perginya kerjasama epic tadi!?) "
Sekejap langsung kuseret si dua pentol korek ke toilet sekolah.
"Ini kenapa kok malah Linda!? " tanyaku di dalam kamar mandi sempit berisi tiga orang cowok.
Rendi: "lah emang kenapa? "
Juna: "dimana mesem-mesem, jempol dan gesture-gesture aneh tadi? bukannya kalian mau ngerjainnya di rumah Ririn? "
Yoga: "Emang sih, tapi setelah gua pikir-pikir lagi di rumah Ririn bapaknya galak mantan TNI dan gua pernah gak sengaja mecahin vas bunga bapaknya, yah demi keamanan bersama lah..."
Juna: "bilang aja loe mau lari dari tanggung jawab buat ganti rugi kan -_-"
__ADS_1
Yoga: "kagak kok, gua cuma penasaran gimana kamar kosnya Linda, kita kan belum pernah masuk kesana"
Benar juga, Linda sama sepertiku, ia juga tinggal ngekos berbeda dengan si dua pentol korek ini yang emang warga sini.
Rendi: "Yap, terlebih itu kos terkenal akan banyak cewek cakepnya loh"
Yoga: "hahaha... sudah gua duga loe adalah Man of Culture"
mereka lalu saling memberi jempol dengan memasang muka ngeselin bin mesum yang ingin rasanya ku lempar sendal jepit beserta pabriknya ke muka mereka.
(Info: Man of Culture berarti seseorang dengan pengalaman duniawi dan selera yang halus)
Yoga: hahaha
Rendi: hahaHahahaHaha
Yoga: HahahaHAHAHAHAHA
mereka berduapun tertawa layaknya villain (arti\=penjahat) ala-ala film holywood.
-Saat ini, Hari-H. di depan kosku menuju kosan Linda-
Yoga: "Sabuk"
Rendi: "Sabuk ready"
yoga: "buku"
yoga: "sepatu"
Rendi: "sepatu ready"
yoga: "parfu-"
Juna: "WOIII!!! STOP! STOP! KELAMAAN INI KITA UDAH TELAT *******""
(percayalah kawan-kawan aku adalah orang yang sabar aku tidak mengatakan kata-kata kasar)
Yoga: "Ok, maaf! "
Yoga: "parfu-"
Juna: "OIII... AKU TINGGAL BENERAN NIH!! "
Nah, jadi itulah singkat cerita mengapa kami kini berada di depan kosan putri tempat tinggal Linda.
"oke guys, bismillah dulu" ucap Rendi sembari memejamkan mata didepan gerbang kos.
"(ini apaan dah kagak jelas banget nih duo pentol korek) " sebuah kata yang terlintas dalam benakku sembari melihat muka mereka dengan pandangan jijik.
Namun, baru selangah kami melangkah melewati gerbang sebuah rentetan serangan pemandangan beberapa cewek cantik berpakaian olahraga minim sedang bermain badminton di halaman kos.
__ADS_1
Oh my god, demage-nya nggak ada obat! bagai melihat sebuah bom nuklir dijatuhkan tepat didepan wajah kami. sebuah cahaya silau dengan getaran yang sangat besar memberi tekanan yang melontarkan segala macam benda ke belakang.
"Tenang teman-teman, cukup jalan lurus aja kamar Linda ada dilantai 2 nomor dua belas-" Kataku untuk mengalihkan perhatian sambil menoleh kerah mereka.
"EH- RENDIII!!" teriakku kaget melihat Rendi sudah terkulai tak berdaya dan terlempar beberapa meter kebelakang.
"woi.. ren. bertahanlah, kemana kepercayaan dirimu tadi perginya? " tanyaku setelah berlari kebelakang sembari memangku kepalanya di paha.
"uh,... uhuk uhuk... "
"Jangan pedulikan aku, kalian majulah duluan tanpaku... aku akan menyusul" kata terakhir Rendi sebelum benar-benar pingsan.
Aku dan Yoga kemudian saling mengangguk satu sama lain, "(jangan khawatir ren, pengorbananmu tidak akan kami sia-siakan) ".
Tapi sebelum itu, kami menyeret tubuh Rendi yang tergeletak di jalan raya ke tempat yang aman karena takut akan mengakibatkan kemacetan.
" Ok! kali ini pokoknya jangan sekalipun melirik kearah kiri. kita hanya cukup lurus saja ke depan dan naik tangga ke lantai dua" kataku ke Yoga.
Tapi apa ini!?? sebuah serangan aroma bertubi tubi bagai tembakan machine-gun memberondongi indera penciuman kami.
(Info: Machine Gun adalah nama senjata api)
Tidak!! ini kos kosan atau kuburan bahkan segala macam aroma melati ikut tercium? kulihat Yoga sudah terlihat lemah dengan pakaian terkoyak-koyak.
"bertahanlah ga, jika kita gagal disini semuanya akan sia-sia" aku memberi motivasi Yoga
kami berjalan bagai melewati badai salju yang sangat lebat dan sangat kuat. dingin, lemas... inikah akhir perjalanan kami?
pandanganku mulai kabur, namun kemudian muncul sosok Rendi yang telah gugur dipikiranku memberi semangat. Munculah soundtrack anime populer di kepalaku "(Aku tak boleh menyerah disini) " kubuka kedua kelopak mataku. "Ahhhh!!! "
aku menerjang ke depan apa pemain rugby tidak mempedulikan segala macam hal di belakang dan sekeliling.
"(Ah ini dia kamar Linda)"
Belum sempat ku ketuk pintu kamarnya yang punya kamar sudah membuka pintu duluan keluar dari kamar bareng ririn.
"Loh jun, kamu kirain lupa sama kerja kelompok kita" kata Linda
"Ah, enggak. ayo kita kerjakan" jawabku sudah lemas layaknya tentara perang yang sudah tertembak beberapa kali dibagian perut.
"aku pikir kamu gak akan dateng"
"Tapi gak usah repot-repot kita udah selesaiin tugasnya, kalian para cowok kan gak terlalu ngaruh juga meskipun dateng" kata Ririn sambil nunjukin hasil kerjasama mereka.
Kalau dipikir pikir iya juga sih meski kami dateng kami palingan cuma mainan dan ujung-ujungnya yang ngerjain para cewek. tapi... KAMI SUDAH BERKORBAN SEJAUH INI, RENDI DAN YOGA BAHKAN SUDAH GUGUR DALAM PERJALANAN KEMARI.
Alhasil kami bertiga pulang tanpa ngapa-ngapain.
"Ah, indahnya langit senja" kata Rendi sembari dipapah oleh aku dan Yoga.
Dan hari itu berakhir tanpa kami melakukan apapun pada akhirnya. hmm~ PERASAAN APA INI, KOK AKU GAK SENENG SEDIKITPUN!?
__ADS_1
~ bersambung ke chapter berikutnya~