
Missing Link
Chapter 5
Ah~ Hujan turun hari ini, sayangnya aku tidak membawa payung. Hujan ini cukup tidak terduga karena sebelumnya tidak terlihat mendung.
Setelah keluar dari minimarket yang berjarak 5-8 menit jalan kaki dari kosan ku, aku memutuskan berdiri sebentar diluar minimarket tersebut berharap hujan segera mereda atau setidaknya menjadi tidak terlalu deras karena sudah pasti bakalan basah kuyup ini sih kalau diterobos.
Sekarang sekitar pukul 16.30, tadinya aku cuma keluar sebentar untuk membeli beberapa peralatan mandi tapi tidak disangka hujan turun lebat secara tidak terduga.
Sembari berdiri diluar sambil melihat seberapa deras hujan pada sore ini aku menoleh ke arah kanan dan melihat...
"(Tunggu sebentar, itu kan...) "
"(Reina!?) "
Kulihat Reina, gadis yang sangat kusukai juga sedang berteduh di depan minimarket ini seorang diri sedang melihat kearah langit.
Ingin sekali sebenarnya aku menyapanya. namun, segera niatan tersebut aku urungkan mengingat ia kan tidak mengenaliku saat ini. Meski jarak kami cuma sekitar 3 meter tapi terasa bagai ada jurang yang memisah.
Tapi kesempatan dan kebetulan seperti ini kan tidak mungkin datang dua kali "Kami-sama , tasukete KUDASAI!! (Bahasa Jepang, artinya: Tuhan tolonglah hamba!!)" tolong diabaikan soalnya saya wibu 😅.
"(Eiittt... apa ini, apakah doaku langsung terkabul secara instan?)" kulihat salah satu barang belanjaannya terjatuh ke lantai. Ini bisa jadi alasan untuk mulai ngobrol dengannya. Jika aku tak bisa membuatnya mengingatku atau kembali ke masa lalu mungkin ada baiknya aku membuat ingatan yang baru?
Masalah dia punya pacar sih sama sekali bukan urusan belakangan, selama belum ada janur kuning melengkung. Apalagi status mereka masih pacaran.
(info: Janur kuning melengkung berarti tengah berlangsung sebuah pesta pernikahan di tempat sekitar)
Aku berjongkok mengambil benda yang terjatuh tersebut untuk kemudian berniat kuberikan padanya.
"Anu, ini kau menjatuh-"
"BUAHHH!!"
"(I-ini kan...)"
Ketika mengatakan itu sambil menyodorkan benda itu aku baru sadar kalau itu adalah sebuah pembalut. dia menoleh kearahku...
__ADS_1
"PLAK!!!"
Aduh!! sebuah tamparan mentah mendarat di pipiku. (ah elah, apaan dah ga tau apa-apa dapat tamparan mentah).
- Kemudian -
"Maaf... Aku salah paham tidak tahu kalau kau mencoba mengembalikan benda jatuh, terima kasih ya" Ucap Reina sambil menunjukan muka menyesal.
"ah tidak apa-apa" jawabku.
Aku yakin pasti dia tadi mengira aku orang mesum. kemudian setelah percakapan pendek itu suasana kembali hening...
-Lima menit kemudian-
.... (masih hening)
"(Oiiii!!!... situasi canggung macam apa ini?)"
"Anu, a-aku adalah orang yang waktu itu. k-kamu ingat?" tanyaku padanya
"Iya, aku yang sempat salah orang mengira kau orang lain jadi menembak mu tanpa sebab. maaf"
Aku harus mengatakan ini untuk membuat dia berpikir kalau aku bukan orang aneh dan mencurigakan yang membuatnya merasa tidak nyaman sehingga ia bisa mengobrol dengan lebih nyaman.
"Ah, yang waktu itu... aku ingat sekarang. gak apa-apa kok"
"Apa kau membeli beberapa alat sekolah? "
"......" (dia bingung karena tebakanmu benar)
"itu gak sengaja keliatan isi dalam plastik"
"oh iya, plastiknya cukup transparan sih ☺"
Hujan mulai mereda sebelum banyaknya percakapan tercipta diantara kami. Yah, setidaknya aku sudah memberikan kesan bahwa diriku ini bukanlah orang aneh atau semacamnya
"Ah! hujan nya sepertinya sudah reda." Reina mengatakannya usai melihat kelangit sebentar.
__ADS_1
"Duluan ya" ia mengatakannya sambil menoleh kebelakang setelah berjalan beberapa langkah ke depan.
"Ah iya, hati-hati" sahutku spontan
Ia pun pergi meninggalkanku dibelakang dan hanya meninggalkan aroma parfumnya dibelakang. Walau hanya sebentar aku senang dapat mendengar suaranya lagi setelah beberapa bulan.
"(membeli alat tulis ya? ")
-1 tahun yang lalu-
Pagi itu aku berangkat ke sekolah seperti biasa, namun aku cukup bingung mengapa Reina tidak terlihat selama dalam perjalanan ke sekolah padahal biasanya dia sudah berada dibawah pohon ini sembari memandangi sawah.
" Ayo tebak siapa ini? " Seseorang menutup mataku dari belakang memberi pertanyaan yang sudah jelas jawabannya..
"Emang siapa lagi coba? lagipula tidak banyak orang yang aku kenal di kota ini" jawabku sembari berusaha melepas tangannya dari mataku.
"Nih! hadiah" dia menyodorkan sebuah kotak kado untukku sambil memasang muka malu-malu.
"Ah, Terima kasih ya... kamu inget hari ulang tahunku? "
"Ya, gapapa... lagian kamu juga selalu inget hari ulang tahunku kan? "
"Terima kasih ya, aku seneng banget boleh aku buka? "
"Tentu, tapi maaf ya hadiahnya biasa aja"
Setelah kubuka, kotak tersebut berisi beberapa alat tulis dengan sebuah ucapan selamat ulang tahun dari Reina. Aku masih menyimpan hadiah pemberian darinya di kosku dan menyimpannya baik-baik meski pada akhirnya hadiah pemberiannya itu hilang bersama dengan semua kenangan semua orang yang kukenal tentangku.
Kini tidak ada satu pun kenangan atau tanda bahwa kami saling mengenal sangat dekat bahkan hingga tiga tahun. Semuanya telah hilang~
-Saat ini-
Sambil berjalan santai menuju kosan ku dengan melihat langit senja aku mengingat hal itu hingga tanpa kusadari air mataku menetes tanpa kusadari.
Tiga tahun ini... mana mungkin itu tak nyata. kami telah melewati banyak momen bersama. Aku sudah sangat mencintainya bahkan sejak awal kami berjumpa. Lantas apa ini sebenarnya?
~Bersambung ke chapter berikutnya~
__ADS_1