Missing Link

Missing Link
Chapter 6


__ADS_3

Missing Link


Chapter 6


Hari ini hujan rintik-rintik, sayangnya aku tidak membawa payung. Hujan ini cukup tidak terduga karena sebelumnya tidak terlihat mendung.


Setelah keluar dari minimarket yang berjarak 5 menit jalan kaki dari kosan ku, aku memutuskan berdiri sebentar diluar minimarket tersebut berharap hujan segera reda karena sudah pasti bakalan basah kuyup ini sih kalau diterobos.


Sekarang sekitar pukul 16.30, tadinya aku cuma keluar sebentar untuk membeli beberapa peralatan mandi tapi tidak disangka hujan turun lebat secara tidak terduga.


Meski hujannya tidak terlalu deras aku memutuskan untuk menunggunya reda. Lagipula tidak ada hal mendesak yang perlu aku lakukan dalam waktu dekat. Selagi berdiri diluar sambil melihat seberapa deras hujan pada sore ini aku melirik ke arah kanan dan melihat...


"(T-Tunggu sebentar, itu kan...) "


"(Reina!?) "


Kulihat Reina, gadis yang sangat kusukai juga sedang berteduh di depan minimarket ini seorang diri sedang melihat kearah langit.


Ingin sekali sebenarnya aku mengobrol dengannya. namun, segera niatan tersebut aku urungkan mengingat dia kan tidak mengenaliku sama sekali saat ini. Meski jarak kami cuma sekitar 3 meter tapi terasa bagai ada jurang yang memisah.


Tapi kesempatan dan kebetulan seperti ini kan tidak mungkin datang dua kali "Kamisama , tasukete KUDASAI!! (Bahasa Jepang, artinya: Tuhan tolonglah hamba)" tolong diabaikan soalnya saya wibu 😅.


"(Oiii... apa ini, apakah doaku langsung terkabul?)" kulihat salah satu barang bawaannya terjatuh ke lantai. Ini bisa jadi alasan untuk ku memulai obrolan dengannya. Meski dia tidak mengenalku kini, tapi mungkin kita justru membuat perkenalan baru disini?


Masalahnya dia kan punya pacar, itu loh lelaki yang nongol di chapter 1. pria asing yang terlihat sangat akrab dan dekat dengan Reina. Tanpa pikir panjang aku mengambil benda yang terjatuh tersebut untuk kemudian ingin kuberikan padanya.


"Anu, ini kau menjatuh-"


"BUAHHH!!"


"(I-ini kan...)"

__ADS_1


Ketika mengatakan itu sambil menyodorkan benda itu aku baru sadar kalau itu adalah sebuah ****** *****!!!. dia menoleh kearahku...


[Hening~]


Keheningan yang sungguh menciptakan momen paling awkward dalam hidup gue. posisi ini bertahan hampir 3 menit.


"(BWAH!!, SAY SOMETHIN'!!) "


"i-ini gak seperti yang kamu pikirkan"


Sambil memasang muka yang memperlihatkan ekspresi jijik setengah tidak peduli. ia menghampiriku, merampas ****** ***** itu dariku, kemudian berbalik seolah-olah tidak ada yang terjad-


"Plaaakk!!! "


Bwah!! Apa ini, kok tiba-tiba? kenapa sensasi perih macam di oles cabe ada di pipiku..!?


Bersusah payah aku berusaha menghilangkan kesahpahaman ini. Namun, setelah kujelaskan dengan sejelas-jelasnya, dia mulai mempercayaiku.


"Ini didalamnya ada beberapa pakaian yang baru aku ambil dari tempat laundry" lanjutnya sembari menunjukan kantong kresek yang dibawanya ditangan kirinya.


"ah tidak apa-apa kok" jawabku singkat


Aku yakin pasti dia tadi mengira kalau aku orang mesum. kemudian setelah percakapan pendek itu suasana kembali hening...


-Lima menit kemudian-


.... (masih hening)


"(Oiiii!!!... situasi canggung macam apa ini?)"


"Anu, a-aku adalah orang yang waktu itu. kamu ingat?" tanyaku padanya

__ADS_1


(anjiirrr, kenapa suara gua sampai kayak robot akibat grogi?)


"Waktu itu? "


"Iya, aku yang sempat salah orang mengira kau orang lain jadi menembak mu tanpa sebab. maaf"


Aku harus mengatakan ini untuk membuat dia berpikir kalau aku bukan orang aneh dan mencurigakan sehingga ia bisa mengobrol dengan lebih nyaman.


"Ah, yang waktu itu aku ingat sekarang. gak apa-apa kok"


"Apa kau membeli beberapa alat sekolah? "


"......" (dia bingung karena tebakanmu benar)


"itu gak sengaja keliatan isi dalam plastik"


"oh iya, plastiknya cukup transparan sih ☺"


Hujan mulai mereda sebelum banyaknya percakapan tercipta diantara kami.


"(yah, setidaknya aku sudah memberikan kesan bahwa diriku ini bukanlah orang aneh atau semacamnya) " pikirku.


"Ah! hujan nya sepertinya sudah reda." Reina mengatakannya usai melihat ke langit sebentar.


"Duluan ya?" ia mengatakannya sambil menoleh kebelakang setelah berjalan beberapa langkah ke depan.


"Ah iya, hati-hati" sahutku spontan


Bersama hujan yang mulai reda, Reina kembali berada diluar jangkauanku. "ah,,, andai saja hujannya bisa sedikit lebih lama"


~To be continued~

__ADS_1


__ADS_2