![Misteri Gelombang Dunia Lain: Blood Moon [Volume 1] [END]](https://asset.asean.biz.id/misteri-gelombang-dunia-lain--blood-moon--volume-1---end-.webp)
...Chapter 3 : Terpikat ke dalam Perangkap...
...[Lured into the Trap]...
...•...
Sebelumnya, sosok pria misterius muncul, terbungkus selubung kegelapan, dan ia menjadi penyelamat Yuka. Berselubung jubah hitam, wajahnya dikaburkan oleh bayang-bayang, pria itu memancarkan aura teka-teki. Namun, begitu ia mengalahkan minotaur itu, ia larut ke dalam kabut di sekitarnya, tanpa meninggalkan jejak.
Dengan jantung berdebar kencang di dadanya, Satoruu bergegas untuk memeriksa Yuka yang tengkurap saat melihat minotaur yang mengancam. Untungnya, ia hanya terpeleset dan tidak menderita luka serius.
Saat Satoruu dengan lembut membangunkan Yuka dari tidurnya, ia melirik Shelina, memperhatikan sikapnya yang menakutkan. Sesuatu tampak salah, tersembunyi di bawah permukaan, seolah-olah dia menyembunyikan rahasia yang berkaitan dengan tubuh tak bernyawa minotaur itu.
Tangannya bergetar saat dia secara naluriah melindungi matanya, melangkah mundur perlahan dengan gaya berjalan yang kaku.
Bereaksi dengan cepat, Yuka menyelimuti Shelina dalam pelukan pelindung, secara intuitif merasakan kegelisahan bersama di antara mereka.
Sadar akan bahaya yang mengintai, Satoruu memerintahkan Yuka untuk mengawal Shelina kembali ke rumah, menyadari bahwa berbahaya baginya untuk tetap berada di sekitar itu.
Setelah Yuka dengan aman memandu Shelina pulang, Satoruu mulai memeriksa tubuh tak bernyawa minotaur itu. Meskipun pertahanan Yuka sebelumnya, makhluk itu tidak membawa senjata.
Bentuknya tidak memiliki keanehan—hanya wajah manusia yang menyatu dengan kepala dan tanduk banteng, mengingatkan pada mitos minotaur dari pengetahuan dunianya.
"Apa Shelina mengalami trauma? Mengingat tingkah lakunya itu, ditambah dengan hancurnya desa asalnya setahun yang lalu, itu mungkin saja terjadi. Tapi separah itukah traumanya sampai-sampai dia tidak ingin melihat bangkai minotaur?" gumam Satoruu, kekhawatirannya pada Shelina semakin dalam.
Di kegelapan malam, Satoruu dengan rajin mendokumentasikan penemuannya yang luar biasa di alam asing ini. Dari Gelombang Kematian yang penuh teka-teki hingga ras half-demon yang luar biasa, diberkati dengan sihir elemen bawaan sejak lahir.
Setelah selesai mencatat, Satoruu bersandar di pagar balkon kamar lantai dua, mengamati desa di bawah. Udara malam yang dingin menyelimutinya, dipertegas oleh pesona abadi pemandangan kota abad pertengahan.
Di dunia yang menarik ini, tahun berdiri di 564 Silloe, sistem penanggalan yang mirip dengan Masehi. Referensi ratu ke tahun sebelumnya sebagai 563 Silloe menegaskan gagasan ini, memberikan gambaran sekilas tentang jalinan temporal dari dunia yang penuh teka-teki ini.
Pandangan Satoruu teralihkan ke Shelina yang memanggilnya dengan suara keluhnya. Shelina datang ke balkon dan menceritakan semuanya.
Ternyata benar saja, dia mempunyai trauma terhadap kehancuran desanya 1 tahun yang lalu. Namun bukan itu yang menyebabkannya trauma, melainkan dia kehilangan kedua orang tuanya karena terbunuh oleh monster.
Shelina menceritakan masa lalunya kepada Satoruu di mana orang tuanya mengorbankan diri mereka untuk membiarkan dia hidup.
Saat itu, Gelombang Kematian terjadi tepat di desa Fironne. Seperti virus, bulan darah muncul menggantikan bulan purnama dengan merambat ke segala area hingga tidak terlihat lagi bulan purnama.
Kegelapan menyertai bulan darah itu, semua monster pun ikut bermunculan dari segala penjuru arah dan bersiap memangsa semua ras yang ditemuinya.
Semua warga yang ada di sana panik dan beberapa dari mereka mencoba mengalahkan monster yang menyerang desa mereka. Kehancuran, kebakaran, serta kematian menyertai desa itu seketika.
Namun, keadaan semakin memburuk dengan kemunculan sang penghancur. Shelina tidak mengetahui siapa sang penghancur itu, tapi yang pasti dia adalah sesosok pria yang menggunakan kemeja hijau. Sang penghancur itu membawa seekor naga berkepala tiga dan mulai menghancurkan desa membantu para monster.
Kedua orang tuanya yang tidak sanggup melawan semua itu harus melarikan diri, membawanya bersama mereka. Mereka melarikan diri hingga ke sungai di dekat perbatasan kerajaan, lalu melihat jurang yang di bawahnya adalah sungai tersebut.
Naga itu pun bisa menyusul mereka dengan mudah, disusul oleh seekor minotaur yang berada di belakang naga itu.
Lalu, tangan ayahnya menghalangi Shelina seperti melindunginya, sedangkan ibunya memegang pundak Shelina. Di sinilah momen tragis itu terjadi.
Keduanya berkata kepada Shelina bahwa dia pasti akan menemui orang-orang dari dunia lain itu dan pasti akan menyelamatkan dunia ini, termasuk dia yang akan diselamatkan oleh mereka.
Lalu setelah itu, kedua orang tuanya mengangkat Shelina dan melemparkannya ke dalam sungai yang cukup dalam itu. Saat dia dilempar dan melihat ke atas, darah orang tuanya mengucur keluar yang bisa terlihat dari bawah jurang itu.
Kematian yang mengenaskan itu sangatlah berat untuk diterima oleh gadis kecil polos ini, bahkan hingga sekarang Satoruu masih bisa melihat trauma, ketakutan, dan kesedihan di dalam dirinya.
Satoruu melihat tangan Shelina yang gemetar serta mendengar suaranya yang gagap saat menceritakan semua itu. Matanya seolah ingin meneteskan air mata kesedihan.
Salah satu tangannya mencengkram tangan lain yang sedang gemetar itu dengan erat seakan dia menahan semua kesedihannya itu.
Karena tidak tega melihatnya menangis, Satoruu memeluknya dengan erat hingga dia memberhentikan kesedihannya.
Kemudian, ia menyuruh Shelina untuk tidur dengan suara lembutnya agar Shelina tidak lagi memikirkan kejadian tragis itu. Sebelum tidur, Satoruu menanyakan apakah dia tahu di mana Yuka berada.
Dengan suara lemahnya, Shelina berkata, "Kak Yuka ada di halaman belakang rumah, di bawah pohon zaitun."
Setelah membaringkan Shelina di tempat tidur, Satoruu berkelana ke halaman belakang, mencari Yuka. Sesuai dengan apa yang Shelina katakan, ia menemukannya duduk di bawah pelukan nyaman dari pohon zaitun (olive tree).
Mendekati Yuka dan pohon, perasaan tenang menyapu hati Satoruu. Yuka, memancarkan ketenangan yang baru ditemukan, menyapanya dengan senyum cerah saat ia mendekat.
Satoruu berbagi dengannya masa lalu Shelina yang telah diceritakan sebelumnya. Wajah Yuka menjadi gelap setelah mendengar berita itu, namun ia memutuskan bahwa mereka tidak akan membiarkan Shelina mengalami kesedihan dan kekecewaan lebih lanjut. Mereka bersumpah dengan sungguh-sungguh untuk memberi Shelina kehidupan yang sesuai dengan anak seusianya, bebas dari rasa sakit dan ketakutan.
Berbeda sekali dengan peristiwa malam itu, Satoruu menemukan penghiburan dan kehangatan lembut di bawah naungan dahan pohon zaitun.
"Aku sudah mengambil keputusan, Satoruu," kata Yuka. "Kita memang harus menyelamatkan dunia ini dan membawa kedamaian kembali, karena jika kita gagal, u—"
"Umat manusia, termasuk kita, akan dalam keadaan kritis," sela Satoruu, tekadnya kuat.
Setelah mendengar kata-kata tegas ini, senyum menghiasi bibir Yuka saat ia mengangguk setuju. Satoruu menegaskan, dengan keyakinan tak tergoyahkan, bahwa ia juga telah mencapai tekad kuat untuk menyelamatkan dunia ini dan mengantarkan era ketenangan abadi.
Selanjutnya, Satoruu menanyakan keberadaan Yuka di halaman belakang. Namun, saat pertanyaan itu keluar dari bibirnya, pipi Yuka memerah, dan ia dengan malu-malu mengutak-atik tangannya, membiarkan rambutnya menutupi sebagian wajahnya.
__ADS_1
Tatapan Yuka beralih ke dedaunan pohon zaitun yang menghijau. "Aku sangat suka pohon zaitun," ungkapnya mengakui dengan lembut.
Dalam pandangannya, pohon zaitun itu memiliki ketenangan yang mendalam, bukan hanya karena kesejukannya, tapi mungkin karena cahaya redup yang menghiasi cabang-cabangnya. Satoruu menyimpulkan bahwa pohon zaitun tampak memancarkan luminositas yang lebih besar dibandingkan tanaman lain pada malam hari.
"Yuka Olivia dan olive tree, namamu benar-benar melambangkan hubunganmu dengan pohon ini," puji Satoruu dengan hangat.
Tawa mereka terjalin, karena mereka menikmati kemudahan dan ketenangan percakapan mereka.
Yuka akhirnya kembali ke dalam rumah, sementara Satoruu tetap berada di halaman belakang, berjemur dalam keheningan malam.
Satoruu membawa pedang dari rumah ke halaman belakang, berniat untuk berlatih. Ia mulai mendemonstrasikan gerakan dasar berpedang.
"Pertama, menyerang," gumamnya.
Ia mulai menebas angin dengan kuat hingga menimbulkan suara angin yang berhembus terpotong oleh pedang. Terpotongnya angin itu membuatnya merasa semakin kuat dan yakin dengan apa yang akan mereka hadapi selanjutnya. Selain tebasan, ia melontarkan serangan tusukan ke depan dan belakang.
"Kedua, menghindar."
Setelah menyerang, ia menghindar meski tidak ada sesiapa pun. Hindaran itu semakin lama semakin seirama dengan arah angin berada.
"Terakhir, menangkis."
Dengan cekatan, ia melawan arah angin dan seakan memblokir serangan dari angin tersebut. Melawan arah seperti maju di badai salju, ia menangkis dengan mengubah caranya memegang pedang berkali-kali.
Setelah itu, ia memberhentikan tangkisan dan mulai mencoba menggabungkan semua gerakan dasar itu menjadi gerakan yang baru.
"Pertama, ambil langkah siap," batinnya.
Satoruu memasang kuda-kuda dan menyiapkan pedang dalam posisi siap bertarung. Angin malam hari tidak terlalu kencang, melainkan dingin. Namun, semua kedinginan itu tak bisa mematahkan semangatnya, tubuhnya, maupun jiwanya.
Ia membuka mata saat sudah mengambil langkah siap. "Kedua, tidak perlu buru-buru menyerang lawan, melainkan perhatikanlah gerakan yang diambil lawan."
Namun, belum saja mengambil langkah ketiga, ia menghela nafas dan meninggalkan langkah siap.
Ia bergumam, "Bukan seperti ini caranya."
Satoruu mengulangi latihannya lagi.
"Yang paling pertama bukan langkah siap saja, tapi menghela nafas dan tenang, ya?" tanya Satoruu di dalam hati.
Ia berdiam diri, lalu memandangi apa yang ada di depan. Hanya sebuah dinding rumah kayu yang berada di belakang rumah, tidak ada sesiapa pun.
Satoruu telah berpikir, ia tidak perlu khawatir apakah ia bisa menjadi seorang penyelamat atau tidak, bahkan seorang pahlawan atau tidak. Ia hanya perlu menjadi dirinya sendiri, lalu berusaha menyelamatkan semua orang dan dunia dengan dirinya itu tanpa harus bersikap mulia seperti seorang penyelamat maupun pahlawan sejati.
Dengan ketenangan di dalam diri itu, ia memasang kuda-kuda. Lalu ia menutup mata, membayangkan seseorang sedang bertarung dengannya.
Satoruu masih bisa memikirkan siapa pria misterius yang menyelamatkan Yuka tadi. Sihirnya, pria itu mempunyai kekuatan besar yang kemungkinan bisa menghancurkan banyak musuh sekaligus bahkan mungkin hingga satu bangunan.
Namun, bukannya memedulikan siapa pria itu, justru Satoruu mengubah rasa penasaran itu menjadi rasa keingintahuan akan kekuatan pria itu jika ia bertarung dengannya. Jika ia bisa melampauinya, maka ia juga bisa melindungi Yuka dan Shelina tanpa harus takut terluka.
Dengan berpikir kemudian, ia membuka mata kembali dan melihat sosok pria misterius itu. Memang, ia bisa mengetahuinya jika itu hanyalah khayalan, tapi dengan membayangkan sosok pria itu menyerangnya, mungkin akan bisa membuatnya menjadi lebih kuat.
Gerakan yang kedua adalah tidak menyerang duluan, justru melihat cara lawan bergerak.
Manusia memiliki gerakan refleks yang sangat berguna bagi manusia itu sendiri. Karena refleks itulah yang membuatnya memanfaatkan gerakan itu menjadi caranya untuk menghindari dan menangkis serangan-serangan yang datang.
Memang membutuhkan waktu yang sangat tepat untuk semua itu, salah sedikit bisa terluka bahkan mati, tapi jika sudah terbiasa, manusia bisa menghindari maupun menangkis serangan sebanyak apa pun jika serangan itu tidak secepat kilat. Namun tetap saja, menurutnya, serangan jarak jauh ataupun kekuatan supernatural tidak akan bisa dihindari jika hanya mengandalkan gerakan refleks.
Tepat di sini, Satoruu mendemonstrasikan gerakan ketiga, menghindari semua serangan lawan. Matanya masih bisa membayangkan sosok pria itu, namun semua tusukan dan tebasan tidak ada yang mengenainya.
Gerakan ketiga telah terlaksanakan, muncullah gerakan keempat. Satoruu menangkis tebasan dari sosok pria itu.
Gerakan kelima, menangkis dengan sedikit menggeserkan pedang. Satoruu kembali menangkis tapi dengan menggeserkan ujung pedang, membuat gesekan antara kedua pedang. Mengecoh dengan cara sedikit menghindar, ia membuat sosok pria itu terdorong karena berpikir ia hanya akan menangkis seperti biasa.
Lalu di sinilah, gerakan keenam atau terakhir, yaitu tipulah lawan dengan membuka celah lalu ke belakang. Dengan tersenyum licik, Satoruu membuat celah yang memungkinkan untuk ke belakang punggung pria itu dengan cara gerakan kelima tadi.
Setelah celah itu terbuka lebar, Satoruu memanfaatkan celah itu dan berhasil ke belakang punggung pria itu. Tanpa memberikan waktu, ia menebas sosok pria itu tepat di punggung.
Tebasan itu sangat kuat sehingga membuat sosok pria itu menghilang seperti kabut gelap yang menciut. Pria itu hanyalah hasil dari imajinasi Satoruu, namun sepertinya Satoruu telah bertambah kuat karenanya.
Keesokan harinya, Satoruu bangun dan melakukan aktivitas yang bisa dilakukan di dalam dunia abad pertengahan ini.
Saat ia membuka pintu, sebuah surat tergeletak di depan pintu. Surat itu tidak dikenali oleh siapa, bahkan tidak ada nama pengirim di sana.
Surat itu berbunyi, "Kau ingin tahu siapa aku, Dreyl Satoruu? Jika begitu, pergilah ke utara di luar kerajaan yang hanya berjarak puluhan meter dari dinding kerajaan, lalu masuklah ke dalam rumah tua, di ruangan bawah tanahnya. Kau akan mengetahuinya di sana."
Orang itu mengetahui namanya bahkan termasuk rasa penasarannya, yang memungkinkan pengirim surat itu adalah pria misterius yang mengalahkan minotaur itu.
Satoruu memberikan surat itu kepada mereka berdua—Yuka dan Shelina—yang sedang berada di dalam rumah.
Yuka bertanya, "Utara di dekat gerbang masuk kerajaan?"
__ADS_1
Berkemungkinan jika di utara sana ada rumah atau apa pun itu, karena jaraknya cukup dekat dengan gerbang kerajaan. Dengan sepakat, mereka berangkat ke utara, bersama dengan Viona yang mereka temui saat dalam perjalanan.
Saat mereka berkelana lebih jauh ke utara, mereka disambut oleh pemandangan sebuah rumah kuno berdiri dengan khidmat di kejauhan. Satoruu memimpin, dengan Shelina dan Viona di belakang, sementara Yuka tetap di sisinya.
Setelah mencapai tujuan mereka, mereka menemukan pintu masuk yang tersembunyi di bawah tanah. Turun ke kedalaman, mereka menemukan diri mereka di sebuah ruangan yang luas, diselimuti kegelapan meskipun banyak obor menghiasi dinding.
Bersemangat untuk melanjutkan, mereka berusaha untuk mendekati pintu tepat di depan, hanya untuk menemukan sebuah gerbang megah yang menghalangi jalan mereka, secara efektif memisahkan mereka dari Shelina dan Viona.
Satoruu dan Yuka tetap bersama, tetapi semburan api yang tak dapat dijelaskan tiba-tiba muncul, mengelilingi Satoruu dan membentuk penghalang yang memisahkannya dari Yuka. Ia menemukan dirinya terjebak dalam lingkaran api, sementara Yuka berdiri tak berdaya di luar.
Menyadari sifat berbahaya dari situasi tersebut, Satoruu secara naluriah menghunus pedangnya, mengambil posisi bertahan, siap untuk menghadapi apa pun yang menunggu mereka selanjutnya.
Satoruu menarik napas dalam-dalam, menguatkan dirinya untuk bahaya yang akan datang.
"It's now or never. Face me!" Ia menyatakan dengan tekad, siap sepenuhnya untuk menghadapi apa pun yang ada di depan.
Sesuai dengan harapannya, kabut gelap yang menyeramkan muncul di tengah api yang berputar-putar. Perlahan-lahan, kabut menyebar, memperlihatkan minotaur besar yang memegang kapak yang mengancam, siap untuk menjatuhkan Satoruu. Minotaur ini tidak seperti yang pernah ia temui sebelumnya, dengan perawakan yang menjulang tinggi dan senjata besar di tangan.
Mempertahankan ketenangannya, Satoruu memusatkan perhatiannya pada medan pertempuran yang berapi-api, siap untuk terlibat dalam pertempuran.
Sementara itu, Yuka berdiri dengan cemas di balik lingkaran api, ekspresinya dipenuhi teror saat melihat minotaur yang menakutkan. Satoruu tidak dapat menyangkal bahwa ia juga belum pernah bertemu dengan minotaur bersenjatakan kapak.
Dengan cepat, minotaur melancarkan serangan pertamanya, namun Satoruu berhasil menghindarinya. Serangan kedua juga dengan cekatan dihindari. Namun, ia tahu bahwa hanya menghindari serangan minotaur akan menjadi usaha yang sia-sia.
Bertekad untuk tidak menyia-nyiakan waktu, Satoruu memanfaatkan kesempatan itu dan menusukkan pedangnya ke arah minotaur, bertujuan untuk melakukan serangan yang menentukan.
Yang membuat Satoruu kecewa, tikamannya tampaknya tidak banyak berpengaruh pada minotaur yang tangguh itu. Makhluk itu hanya menderita luka ringan, membuatnya tidak yakin bagaimana ia bisa mengatasi musuh yang tampaknya tak terkalahkan ini.
Namun, konsep menyerah telah hilang dari dirinya, dan ia menolak untuk menyerah.
Tidak terpengaruh, ia menggunakan teknik yang diperolehnya, memilih untuk tidak mengandalkan menangkis dan malah mengeksekusi serangkaian manuver yang dipelajari.
Tanpa membuang waktu, Satoruu dengan cepat bergerak ke langkah ketiganya, dengan anggun menghindari setiap serangan minotaur yang masuk.
Dalam tampilan kelincahan dan presisi, Satoruu berhasil menghindari setiap ayunan kapak minotaur. Memanfaatkan momen yang tepat, ia meninggalkan taktik sebelumnya, memilih manuver yang berani.
Dengan lompatan, ia mendorong dirinya ke kapak minotaur, memanfaatkan jarak yang dekat untuk melancarkan serangan yang menentukan. Pedangnya menemukan sasarannya, menusuk salah satu mata minotaur, menimbulkan raungan kesakitan dari binatang yang menjulang tinggi itu.
Saat minotaur menggeliat kesakitan, pikiran Satoruu berpacu, mencari metode alternatif untuk semakin melemahkan makhluk itu dan mendapatkan keuntungan. Panas terik yang memancar dari api yang melingkar membuatnya sulit berpikir jernih.
Tenggelam dalam kontemplasi, tatapan Satoruu terpaku pada api. Tiba-tiba, sebuah kesadaran menghantamnya. "Tunggu, panasnya … itu dia!"
Menyadari bahwa besi dan baja adalah penghantar panas yang sangat baik, ia dengan cepat menyusun rencana.
Dengan terampil, ia membenamkan pedangnya ke dalam api yang berkobar, membiarkan baja menyerap suhu yang membakar. Setelah puas dengan keadaan pedang yang panas, ia mengayunkan sisi datar pedang itu dengan paksa ke punggung minotaur.
Bunyi gedebuk bergema di seluruh ruangan saat pedang melakukan kontak. Minotaur itu meraung kesakitan, tangisannya yang tersiksa bercampur dengan rasa sakit yang terus-menerus dari matanya yang terluka.
"Tetap di situ, Yuka," perintah Satoruu dengan tegas, suaranya penuh tekad. "Ini akan segera berakhir, atau setidaknya aku harap begitu."
Setelah banyak serangan terhadap minotaur, Satoruu akhirnya mengeksekusi pukulan yang menentukan. Mendorong dirinya sendiri dari tepi cincin api ke arah binatang itu, tusukannya yang tepat menusuk jantungnya, menyebabkan kematian seketika.
Saat kekuatan hidup terkuras dari minotaur, api yang pernah mengelilingi Satoruu menghilang, menghilang bersama makhluk yang dikalahkan.
Hebatnya, meski panas, pedang Satoruu tetap utuh, pantang menyerah dari meleleh. Ternyata kobaran api tidak cukup kuat untuk mencairkan baja tahan banting. Namun demikian, panas yang membakar telah membuat keberadaannya diketahui, bahkan oleh minotaur raksasa.
Namun, yang mengejutkan mereka, menjadi jelas bahwa cobaan mereka masih jauh dari selesai karena kabut gelap yang menyeramkan menyelimuti ruangan itu.
Yuka, tertangkap basah oleh kabut yang tiba-tiba, terbatuk tak terkendali saat itu menyusup ke paru-parunya.
"Kabut apa ini?" tanya Yuka di tengah batuknya.
Kedatangan kabut mengganggu konsentrasi Satoruu, menyebabkan pikiran dan penglihatannya goyah, membuatnya dalam keadaan kesadaran halus.
Berjuang untuk mendapatkan kembali kendali atas tubuhnya, ia menegangkan indranya dan melihat sekilas sosok yang dikenalnya di dalam kabut.
"K–kau …." Satoruu tergagap.
Ia berusaha untuk memfokuskan wujudnya yang goyah, namun menganggapnya sebagai tugas yang sulit di luar kemampuannya saat ini.
Di saat-saat terakhir …
...BRAKK!!!...
Tubuh Satoruu bergemuruh di tanah, suara dentingan pedang mengiringi penurunannya. Indranya kacau, tubuhnya tengkurap, dan matanya yang tidak fokus hanya bisa melihat garis kabur dari pria misterius itu.
Perlahan-lahan, penglihatannya meredup, membuatnya tidak bisa fokus lebih lama lagi, dan kelopak matanya menyerah karena kelelahan, menutup.
"Luar biasa, bahkan tidak terluka sedikit pun."
...~Bersambung~...
__ADS_1