![Misteri Gelombang Dunia Lain: Blood Moon [Volume 1] [END]](https://asset.asean.biz.id/misteri-gelombang-dunia-lain--blood-moon--volume-1---end-.webp)
...Chapter 4 : Dia Bukanlah Musuh, Satoruu!...
...[He's Not the Enemy, Satoruu!]...
...•...
Sebelumnya, Satoruu dan Yuka kehilangan kesadaran mereka karena kabut tebal yang dihasilkan oleh sesosok pria misterius itu. Dengan mata kabur di pandangannya, Satoruu seakan melihat pria misterius yang pernah ditemui saat seekor minotaur menghebohkan warga di taman kota.
Di sisi lain, Viona dan Shelina tidak menemukan jalan lain untuk menuju ke tempat mereka. Yang di mana membuat mereka harus membuka paksa gerbang itu.
Namun, tampaknya mereka tidak akan bisa membuka gerbang itu tanpa perlawanan. Seekor chimera muncul di belakang mereka dan langsung memojokkan Shelina. Chimera yang entah dari mana datangnya itu pun siap melahap sang gadis kecil itu.
Dengan memberanikan diri, Viona menghalau chimera agar menjauhi Shelina dengan sihir tanahnya yang memukul chimera hingga terpental ke kiri sisi dinding ruang bawah tanah.
"Mereka bukanlah musuh kita, idiot," sergah seseorang dengan suara beratnya dari gerbang yang tertutup.
Seketika, chimera yang tadi menyerang mereka pun menjadi jinak seolah menuruti perintah seseorang itu.
Gerbang yang tertutup itu perlahan terbuka, lalu menampakkan sesosok pria berjubah hitam, itu adalah orang yang sama dengan pria misterius yang menyelamatkan Yuka.
"Kan sudah kubilang, jangan menyerang jika aku tidak menyuruhmu." Ia membuka penutup kepala pada jubahnya.
Ketika ia melepas penutup kepalanya, pria berambut putih katun dan mata merah kirmizi terlihat. Wajahnya yang keriput dengan luka di pipi kirinya tanpa ekspresi, tanpa emosi saat ia memandang Viona dan Shelina dengan tatapan dingin. Ketika ia berbicara, suaranya dalam dan serak, dicampur dengan sedikit kegelapan yang membuat mereka merinding.
Setiap gerakan yang ia lakukan disengaja dan diperhitungkan, seakan ia sudah menguasai seni sihir kegelapan. Aura kegelapan yang mengelilinginya hampir bisa diraba, seolah-olah itu adalah perpanjangan dari keberadaannya.
Ilustrasi visual pria misterius yang dibuat dari Picrew. Credit to the owner.
Dengan ragu, Viona mengeluarkan kapak seakan ingin menyerangnya.
Pria itu berhenti dan menghela nafas selagi menutup matanya. "Apa kau tuli? Aku sudah bilang kalau kalian bukanlah musuh kami."
"Aku tidak akan segan-segan membunuhmu!" bentak Viona. "Di mana Satoruu dan Yuka?!"
Seraya berjalan balik masuk ke dalam gerbang, pria itu mengatakan bahwa Satoruu dan Yuka sedang berada di dalam ruangannya, pingsan tak sadarkan diri. Begitu terdengar oleh mereka, Viona dan Shelina mengikuti pria itu.
Lalu di ruangan pria itu, Satoruu telah mendapatkan kesadarannya kembali, membuatnya membuka mata dengan perlahan.
"Plafon yang asing," gumam Satoruu dengan suaranya yang lemah.
Dengan perlahan tapi pasti, Satoruu mengangkat tubuhnya sehingga dalam posisi duduk di sebuah kasur. Lalu ia meletakkan tangan kiri ke kepalanya, memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.
Satoruu terkejut dan melihat tangan kirinya, lalu berbalik ke kanan melihat siapa yang berada tepat di samping kanannya. Benar saja seperti yang Satoruu bayangkan, Yuka berbaring pingsan di dekatnya.
Berbaring tak berdaya, Yuka tak sadarkan diri bersama Satoruu di sebuah kasur yang berada di dalam sebuah ruangan.
Saat Satoruu menatap wajah Yuka, ia merasakan dorongan kuat untuk menyentuh rambutnya. Rambut hitam panjangnya terbentang di atas bantal, membingkai wajahnya sedemikian rupa sehingga membuatnya tampak damai dan rentan.
Satoruu merasa kasihan pada Yuka dan berharap ia bisa melakukan sesuatu untuk membantunya.
Ia perlahan mengulurkan tangan dan menyentuh rambutnya dengan ujung jarinya. Itu lembut dan halus, dan Satoruu tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuhnya.
Ketika melakukannya, ia memperhatikan bahwa detak jantungnya berdebar sangat kencang sehingga ia tidak bisa membangunkannya.
Satoruu duduk di sana, melamun, saat ia melihat Yuka tidur. Kecantikan, keanggunan, dan kebaikannya telah memikat hatinya.
Saat mengulurkan tangannya untuk menyentuhnya, ia mendengar pintu terbuka. Satoruu dengan cepat menoleh dan melihat pria misterius itu, Viona, dan Shelina memasuki ruangan.
"Apa yang kau lakukan?" tanya pria itu, terkejut melihat Satoruu mencondongkan tubuh ke arah Yuka.
"Aku baru saja memeriksanya," kata Satoruu, berusaha menyembunyikan rasa malunya.
Viona berjalan ke tempat tidur dan menatap Yuka. "Apa dia baik-baik saja?"
Satoruu mengangguk. "Dia baru saja pingsan. Aku baru ingin menyentuh tangannya, tapi kalian malah masuk."
Pria itu mengangkat alis. "Kau ingin menyentuh tangannya? Kenapa?"
Satoruu merasakan wajahnya memerah. Ia tidak bisa menjelaskan perasaannya tentang Yuka, bahkan kepada teman terdekatnya. Ia tahu mereka tidak akan mengerti.
"Aku hanya ingin lihat apa dia masih bernapas," katanya, berharap mereka menghentikan topik pembicaraan.
"Terserah apa katamu," kata pria itu. "Kita tunggu saja dia bangun."
"Ngomong-ngomong, baguslah jika kau sudah sadar, Satoruu," ujar pria itu.
Mata Yuka terbuka lebar, mengerang pelan saat ia mencoba untuk duduk. Satoruu segera berada di sisinya, tangannya di bahunya, dengan lembut mendesaknya untuk berbaring diam.
"Tenang saja, Yuka," kata Satoruu lembut. "Kau pingsan. Santai saja sebentar."
__ADS_1
"Apa yang terjadi?" Yuka bertanya, suaranya nyaris berbisik.
Satoru menghela nafas. "Kau menghirup kabut itu, sama sepertiku. Tenang, kabut itu hanya membuatmu pingsan. Tapi jangan langsung duduk, biarkan tubuhmu beradaptasi dengan ruangan ini dalam keadaan berbaring."
Yuka mengangguk, dan Satoruu duduk di sampingnya di tempat tidur, tangannya masih di bahunya. Ia bisa merasakan kehangatannya memancar melalui dirinya, dan ia tidak bisa menahan perasaan terhibur dengan kehadirannya.
Saat mereka diam, Yuka merasakan sensasi aneh di tangannya. Ia melihat ke bawah dan melihat tangan Satoruu bertumpu pada tangannya, jari-jarinya terjalin dengan lembut dengan miliknya.
Yuka menatapnya, dan ia bisa melihat kekhawatiran terukir di wajahnya. Ia tahu bahwa ia hanya berusaha membantu, dan ia membiarkannya memegang tangannya.
Saat mereka bergandengan tangan, Yuka merasakan kehangatan aneh menjalari dirinya. Ia tidak bisa menjelaskannya, tapi ia merasa aman dan terlindungi dengan Satoruu di sisinya.
"Ngomong-ngomong, orang misterius itu …," ujar Yuka.
Lalu pria misterius itu mengenalkan dirinya selagi duduk di kursi dekat meja yang terlihat berantakan. "Namaku Kurayami Saishira, kau bisa memanggilku Saishira atau apa pun yang mirip dengan itu."
"Maaf soal sebelumnya, aku hanya ingin mengetes kemampuanmu karena kudengar kau adalah salah satu orang ditakdirkan jadi penyelamat itu." Saishira mencontreng salah satu kertas yang terpaku di dinding dengan spidol merah.
Kertas itu bertuliskan "dua penyelamat lainnya" yang di mana itu berkaitan dengan Satoruu dan Yuka yang terjebak di dalam dunia ini.
Dengan sedikit terkejut, Satoruu bertanya, "Tunggu, jadi kau adalah orang yang satunya lagi?"
"Lebih tepatnya yang pertama dalam segi waktu, aku sudah berada di dunia ini sekitar 1 tahun lebih." Saishira mendekati lalu membaca kertas yang berada di ujung kanan meja.
Dengan artian, Saishiralah yang pertama kali dilemparkan ke dunia ini sebelum mereka.
"Artinya kau berasal dari dunia yang sama dengan kami, kan?"
"Tepat." Saishira membuka lemari di bawah meja dan mengambil sebuah buku dari dalam lemari itu.
Lalu Satoruu beranjak dari kasur dan mendekati Saishira. "Jadi, apa sebenarnya tujuanmu dan kenapa kau berlindung di balik identitasmu sebagai si penyelamat misterius?"
Kegelapan, salah satu elemen alam yang mengundang sifat misteri, kejahatan, rahasia, serta kekejaman. Di dunia ini, kegelapan adalah salah satu kekuatan supernatural, sihir, pada elemen alam terkuat selain cahaya. Tidak semua orang bisa mendapatkan sihir ini, bahkan orang yang terpilih saja belum tentu bisa mengendalikannya.
Kegelapan bisa mengakibatkan hal-hal yang buruk, namun tak jarang juga kegelapan dapat dikendalikan sehingga bisa digunakan untuk hal-hal yang baik.
"Manusia selalu saja menganggap kegelapan itu selalu buruk, padahal belum tentu," ungkap Saishira. "Sebenarnya sihir itu tergantung pada penggunanya."
Sihir adalah kekuatan supernatural yang tak bisa dijelaskan. Namun sihir tak mengenal baik dan jahat, mereka hanyalah diciptakan oleh keduanya.
Memang ada sihir yang mendorong penggunanya ke dalam keduanya, namun selama penggunanya tak jatuh ke dalam emosi mereka, sihir tidak akan bisa memanipulasi mereka.
"Aku seperti mengenali suaramu." Yuka bangun dan duduk dari tempat tidur. "Siapa kamu?"
Saishira membaca buku itu. "20 tahun. Aku tidak pernah menemui kalian, bahkan aku masih merasa asing dengan wajah kalian."
Satoruu mendekati Saishira. "Baiklah, jadi tujuanmu hanya untuk menghapus stereotipe itu?"
"Justru dengan menghapus stereotipe itu, kegelapan tidak akan dianggap sebagai ancaman buruk." Saishira menatap Satoruu dingin.
Namun saat mereka tengah berdiskusi, suara auman seekor minotaur terdengar dari atas, menggetarkan ruangan Saishira.
Sampai di atas dan melihat ke arah gerbang masuk kerajaan, memang benar ada seekor minotaur yang masuk dan menghancurkan kerajaan.
Warga-warga panik dan histeris melihat minotaur yang mengacau kerajaan. Sementara itu para kesatria mengevakuasi warga agar ke tempat yang jauh lebih aman untuk mencegah adanya korban jiwa.
Melihat dari jauh, sesosok pria berambut biru arktik dan seorang pria berambut biru langit sedang melawan minotaur itu dengan pedangnya.
"Itu kan, kak Ryan dan kak Rayvin!" Shelina menunjuk mereka, mengenali mereka.
Ternyata, nama mereka adalah Aska Ryan, si rambut biru arktik, dan Geoffrey Vinnii, dikenal dengan panggilan Rayvin, si rambut biru langit.
Mereka pun membantu keduanya, berlari hingga masuk ke dalam gerbang.
Dengan ketangkasannya, Satoruu menusuk minotaur dari belakang, menyebabkan minotaur itu terluka meski tidak seberapa besar.
"Kami akan membantu kalian!" sergah Satoruu.
Yuka, Shelina, dan Viona juga membantu mereka. Tepat dari belakang Satoruu, Viona membangkitkan sihir tanahnya dan mendorong minotaur hingga terjatuh.
Tak mau kalah, Yuka dan Shelina menggunakan sihir gabungan, sihir pedang api. Dengan panasnya api yang membara di baja pedang, tebasan yang memotong tangan minotaur pun berhasil dilakukan oleh Yuka.
Tebasan pun dilanjutkan oleh Rayvin, dengan pedangnya yang menebas dan memotong kaki kiri minotaur, membuat minotaur itu tak bisa bergerak.
"Biar kuakhiri!" serang Ryan.
Dengan pedangnya, dia bersiap untuk menyerang sang minotaur. Lalu dengan ancang-ancang, Ryan berhasil menebas tubuh minotaur hingga terbelah dua, memisahkan jantung minotaur menjadi dua juga.
Lalu setelah mengalahkan minotaur itu, Ryan berterima kasih kepada mereka yang telah membantunya mengalahkan minotaur dengan lebih mudah. Dilanjutkan dengan perkenalan.
Pria yang berambut biru arktik, Aska Ryan, sang Royal Knight dengan gelar "Intermediary of the Royal Family" yang sangat dipercaya oleh semua orang. Dan pria yang berambut biru langit, Geoffrey Vinnii yang mempunyai panggilan Rayvin, sang Elite Knight yang ramah terhadap semua orang. Mereka dikenal sebagai "Duo Blue Knight" karena identik dengan rambut mereka yang mirip, yaitu biru arktik dan biru langit. Viona pun bisa mengenali mereka karena mereka adalah kesatria paling aktif di kerajaan.
__ADS_1
...Ilustrasi visual Aska Ryan yang dibuat dari Picrew. Credit to the owner....
...Ilustrasi visual Geoffrey Vinnii atau Rayvin yang dibuat dari Picrew. Credit to the owner....
"Hmm? Ngomong-ngomong, di mana Saishira?" Viona menolehkan kepalanya ke kiri dan kanan mencari keberadaan Saishira.
Di lorong remang-remang, sesosok pria muncul dari bayang-bayang, jubah hitam panjangnya bergoyang di belakangnya. Pria itu berjalan mendekati sesosok wanita berambut pendek.
Wanita itu berdiri dan bersandar di dinding lorong itu, setengah tubuhnya tertutupi oleh tiang yang berada di dekat dinding, membuat pria itu tak bisa melihatnya lebih jelas. Kegelapan menyelimuti mereka, dan udara dingin merembes menembus tulang mereka.
Pria itu bertanya, "Kenapa kau ada di sini? Kau bisa saja tertangkap."
Suara pria itu tidak asing untuk didengar, suaranya berat dan serak.
Pria itu melepas tudungnya, memperlihatkan wajahnya yang dipahat dan mata merah kirmizinya yang tajam. Itu adalah Saishira, sosok yang dikenal sebagai penyelamat misterius.
"Tempat ini adalah rumahku, oke?" Wanita itu memainkan kukunya yang tajam. "Pembatas pulau demon itu sudah ada semenjak aku belum lahir, jadi mau tidak mau aku harus tinggal di sini meski aku seorang demon."
Setiap suara yang mereka keluarkan, mengundang aura kegelapan yang akan membuat sesiapa pun merinding.
Lalu wanita itu maju dan menampakkan dirinya. Namun percuma saja, saking gelapnya lorong itu membuat wajahnya masih tak bisa terlihat. Yang hanya bisa dilihat oleh Saishira adalah rambut pendek, violet tua dari wanita itu.
"Tapi tenang saja, aku tidak akan tertangkap. Aku sudah mendapatkan izin dari mereka." Wanita itu menghelai rambut pendeknya dengan tangan kanannya.
Saat menghelai rambutnya, telapak tangan kanan wanita itu terlihat menampakkan sebuah simbol demon yang tercoret dan sedikit bersinar di dalam kegelapan lorong itu. Saishira yang telah mengetahuinya hanya menatap wanita itu dengan wajah dinginnya.
...****************...
Di sebuah kedai minuman, Satoruu beserta yang lainnya, termasuk Ryan dan Rayvin, sedang mengobrol.
"Jadi yang kalian maksud Saishira itu adalah si penyelamat misterius itu, ya?" Rayvin mengelap pedangnya dengan tisu.
"Ya begitulah." Satoruu meminum air putih yang tepat di depan mejanya. "Ngomong-ngomong, bagaimana kau mengenal Lina, Ryan?"
Dengan begitu, Ryan menceritakan tentang pertemuannya dengan Shelina.
Sekitar kurang dari 1 tahun, Ryan sedang berkeliling kota seperti biasa untuk membantu masyarakat. Namun di saat dia melewati sebuah lorong kecil nan gelap di dekat taman kota, dia melihat Shelina.
Terdiam dan kepala menghadap ke bawah, Shelina duduk di lorong itu dengan memeluk lututnya. Rambutnya terlihat acak-acakan dan kusam. Matanya seakan tak memandang apa pun meskipun menghadap ke bawah.
Lalu di sanalah Ryan menemuinya. Dia memberikan Shelina sebuah roti, dengan berharap dia mendapatkan kehidupan yang lebih layak.
Namun, Ryan tidak bisa membawa Shelina, begitu pun Rayvin. Ini karena mereka adalah kesatria, akan berbahaya bagi Shelina jika mereka merawatnya.
Mereka adalah kesatria yang mempunyai guild bernama "Ryindiviall", dengan pemimpin mereka adalah Ryan. Kesatria guild mempunyai rumah untuk guild mereka sendiri, yang di mana senjata-senjata tajam berada di sana.
Tak hanya itu, seorang kesatria dituntut untuk berlatih dengan senjata mereka dan menjaga warga dari serangan monster, yang di mana ini akan berbahaya bagi seorang gadis kecil.
Tak lama, Saishira datang ke kedai minuman itu, bertemu dengan yang lainnya. Satoruu bertanya kenapa ia tak membantu mereka, namun Saishira mengelak kenyataan dan menjawab karena adanya urusan lain yang harus ia selesaikan.
Mengingat Saishira itu sibuk, bahkan saat berdiskusi pun ia masih sempat-sempatnya menulis, Satoruu hanya mengiyakan jawabannya.
Di malam hari, Satoruu menemukan penghiburan di balkonnya, tenggelam ke kursi saat ia berendam di malam yang mempesona. Meskipun dingin menggigit, ia menyambutnya seperti seorang teman lama.
Kegelapan malam tampaknya menyerah pada bulan purnama yang bercahaya, memancarkan cahaya lembutnya ke kota-kota dan desa-desa kerajaan, menciptakan permadani yang memesona.
Langkah kaki Yuka mendekat, memecah kesunyian.
"Tidak bisa tidur, Satoruu?" ia bertanya, bergabung dengannya di balkon.
"Belum dulu. Mataku masih belum mengantuk," jawab Satoruu, tatapannya tertuju pada bulan yang menawan.
Yuka duduk di kursi terdekat dan tersenyum, matanya mencerminkan kecemerlangan bulan. "Menakjubkan, bukan?"
Daya pikat bulan purnama memiliki tempat khusus di hati Satoruu. Itu berdiri sebagai simbol malam yang tak lekang oleh waktu, memancarkan cahaya gemilang yang dilengkapi dengan bintang-bintang, meningkatkan panorama nokturnal dengan tarian surgawi mereka.
Saat tatapan Satoruu terpaku pada bulan purnama, kegelisahan halus merayapi dirinya, perasaan bahwa ada sesuatu yang salah.
Matanya melebar saat ia melihat titik merah tua yang aneh merusak permukaan bulan. Dengan setiap momen yang berlalu, titik itu membesar, sulur merahnya menyebar seperti tanaman merambat yang berbahaya, memakan bola bercahaya itu hingga berubah menjadi bulan darah yang ditakuti.
Menggigil di tulang punggung Satoruu saat tontonan tak menyenangkan itu terbentang di hadapannya. Tidak dapat memahami gawatnya situasi, ia bangkit dari kursinya dan melangkah keluar, jantungnya berdebar kencang di dadanya. Yuka, merasakan urgensinya, mengikutinya dari dekat.
Melangkah ke halaman, mata mereka tertuju pada Shelina, yang berdiri gemetar, wajahnya tergores ketakutan. Tanpa ragu, dia bergegas ke pelukan Satoruu, mencari penghiburan dan perlindungan.
Lengan Satoruu menyelimuti Shelina, menawarkan kenyamanan yang ia bisa di tengah kekacauan yang terjadi. Tatapannya tetap terpaku pada bulan darah, suaranya diwarnai dengan ketakutan dan penerimaan.
"Sudah dimulai, ya?"
__ADS_1
...~Bersambung~...