
Hutan desa Mangga dihiasi dengan pepohonan yang tinggi dan lebat, menciptakan lapisan teduh yang membatasi sinar matahari untuk masuk. Cahaya berayun-ayun di antara dedaunan, menciptakan permainan bayangan yang misterius di atas tanah berlumut.
Suara daun-daun yang ditiup angin dan nyanyian burung-burung hutan menciptakan suasana yang alami dan tenang, seolah-olah dunia di luar hutan tidak lagi ada apa-apanya.
Tepat di tengah hutan, terdapat lapangan terbuka yang dikelilingi oleh pepohonan yang lebih rendah. Tanah lapangannya terdiri dari rumput-rumput hijau yang rapat, memberikan ruang yang cukup untuk pergerakan dan perkelahian. Beberapa akar-akar pohon mengintip di permukaan tanah, menciptakan hambatan alami yang dapat dimanfaatkan oleh para pejuang sebagai perlindungan atau pijakan.
Bugh! Tagh! Dugh!
"Ahhh, sial!"
"Awas! Seharusnya kamu, tidak ikut campur!"
Brakkk!
"Arghhhh ..."
Suasana di hutan desa ini penuh dengan ketegangan, terutama karena tempat ini menjadi saksi dari pertarungan yang berlangsung.
Suara langkah-langkah hati-hati dan napas berat memenuhi udara ketika para pejuang berjalan masuk ke dalam hutan. Semua elemen alam di sekitar tampaknya bersiap untuk menyaksikan perkelahian yang akan terjadi menciptakan atmosfer yang terasa hening tetapi juga penuh antisipasi.
Situasi sangat tegang dan penuh ketegangan. Orang-orang asing itu sepertinya baru saja akan memulai acara ritual yang penting bagi mereka, dan Radit dengan tegas berusaha untuk menggagalkannya.
Radit bernapas berat, mengontrol dirinya agar tidak semakin emosi.
"Kalian tidak bisa melanjutkan acara ini! Ini adalah tindakan yang salah dan harus dihentikan! Apa tujuan kalian?" tanyanya ingin tahu, sebab orang-orang itu tidak dikenalnya.
Begitu juga dengan orang-orang desa Mangga, yang ikut bersama dengan Radit.
Mereka, tidak ada yang mengenal orang-orang asing itu. Bahkan mereka juga tidak tahu apa tujuan ritual ini.
"Kita telah menunggu begitu lama untuk ini, dan kamu datang menghancurkannya! Apa urusanmu dengan ini?" tanya satu dari orang asing tersebut, dengan mengusap sudut bibirnya yang berdarah.
Radit menatap dan menghadapi mereka dengan tegas. Dia sudah terbiasa dalam keadaan seperti ini.
"Aku tidak peduli dengan apa yang kalian lakukan. Tapi kalian melakukannya di desa Mangga, yaitu desa kami."
Ketika Radit mencoba berbicara dengan sopan, mereka justru merespons dengan kemarahan dan bahkan tindakan kasar. Ini mengakibatkan situasi yang sulit dihindari.
Dalam suasana tegang tersebut, Radit mencoba menjelaskan keberatannya kepada beberapa orang dari kelompok asing tersebut. Dia berbicara dengan keras dan penuh tekad, mencoba untuk membuat mereka mengerti alasan di balik tindakannya.
__ADS_1
Meskipun tegang, perbincangan tersebut melibatkan pertukaran argumen dan pandangan antara Radit dan orang-orang tersebut. Tidak ada tindakan fisik yang terjadi selama perbincangan, tetapi atmosfernya tetap dipenuhi dengan ketidaksetujuan dan kecemasan.
"Ah, jadi kamu ingin menjadi pahlawan yang menyelamatkan desa, ya? Kamu tidak mengerti apa pun!" sahut orang tersebut sarkas, dan diangguki orang- orang di kelompoknya.
Radit memandang mereka dengan mata menyipit, tidak mengerti apa maksud perkataan mereka.
"Aku tidak mengerti apa maksud kalian. Tapi jika ingin melakukan sesuatu yang tidak benar jangan di sini." Radit memberikan peringatan lagi.
"Hahaha ... Kamu pikir kamu bisa mengubah apa pun dengan kata-kata kosongmu? Kami tidak akan berhenti!"
Sayangnya, awal dengan niatan baik disambut mereka dengan tindakan kekerasan yang akhirnya disambut juga oleh Radit dan teman-temannya.
Ketegangan dalam situasi ini semakin meningkat seiring waktu, dan walaupun Radit berusaha untuk mempertahankan pendiriannya, tetap terdapat risiko perkelahian yang dapat meletus setiap saat.
"Saya akan berdiri di sini dan menghalangi setiap langkah kalian!" sahut Radit tanpa ragu. Dia akan mengambil langkah tegas.
"Hahh, banyak bacot!"
Tagh bugh
"Ahhh ..."
Pepohonan yang lebat seakan merespons kehadirannya dengan angin yang berhembus lebih kuat.
Ketika pria itu muncul, semua pandangan mata tertuju padanya.
"Si-iapa yang datang?" tanya satu dari teman Radit, melihat ke arah suara.
Pak Lurah, pemimpin desa yang dihormati, berdiri di sana dengan pakaian tradisionalnya yang khas. Wajahnya menampakkan senyuman tulus, tetapi tatapannya penuh dengan ketidakpastian. Seolah-olah dia datang untuk menemukan penyelesaian damai, tetapi ada keanehan di belakang ekspresinya yang tersenyum penuh misteri.
"Ayahnya, Ryan?" tanya Radit pelan.
"Ya, itu pak Lurah." Satu temannya menyahut.
Mereka semua diam sejenak, semua perhatian terfokus pada pak Lurah. Termasuk orang-orang asing tadi.
Radit dan yang lainnya menghentikan perkelahian dan menunggu Pak Lurah yang berjalan mendekati dengan waspada.
Pak Lurah terus melangkah maju dengan langkah pasti, memberikan isyarat kepada orang-orang asing untuk berhenti. Ketika dia berbicara, suaranya seolah-olah memenuhi hutan dengan keputusasaan yang tersembunyi.
__ADS_1
"Kalian, warga desa Mangga. Ini bukan jalan yang harus diambil. Kita bisa mencari jalan tengah," ucapnya penuh wibawa.
Radit terlihat kebingungan mendengar ucapan pak lurah.
"Tapi pak Lurah, ini tentang nilai-nilai kita, tentang …"
Pak Lurah memotong dengan tegas. Tangannya diangkat, meminta Radit untuk diam dan tidak bicara lagi.
"Itu sudah cukup, Radit. Kita harus mengikuti mereka. Apa yang mereka lakukan untuk kebaikan dan keamanan desa Mangga."
Wajah terkejut Radit dan orang-orang lainnya, sangat jelas terlihat. Tatapan kaget dan bingung tersebar di antara mereka, karena Pak Lurah yang dihormati ini tiba-tiba berbalik arah, berjalan menuju kelompok asing dengan senyuman yang membingungkan.
Orang-orang asing itu menyambutnya dengan penghormatan, membungkukkan badan untuk mengungkapkan bahwa ada kesepakatan rahasia yang terjadi di balik "layar" yang tak pernah diketahui oleh orang lain.
"Pak Lurah ..."
"Ini_"
Tidak ada yang melanjutkan kalimatnya. Semua tergangga dengan cara Pak Lurah menyambut orang-orang asing itu.
Ini adalah kejutan besar, karena pak Lurah yang seharusnya menjadi pemimpin yang melindungi warga desanya, tiba-tiba terlibat dalam perjanjian dengan orang-orang asing tersebut.
Kesimpulan tragisnya adalah bahwa tampaknya ada agenda tersembunyi yang telah mengarahkan mereka menuju konfrontasi ini, mengubah situasi dari sekadar perkelahian menjadi permainan politik yang lebih kompleks.
"Pak, apa ..."
"Hahaha ... anak muda, jangan terlalu berambisi untuk menjadi pahlawan. Tidak ada pahlawan di desa Mangga ini kecuali, aku!"
Pak Lurah memotong perkataan Radit yang belum selesai diucapkan. Seakan-akan memberi tahu bahwa ia adalah satu-satunya orang berkuasa.
"Aku tidak pernah tahu, jika Pak Lurah ada dibalik semua ini. Atau_"
"Hahaha ... Radit. Kamu adalah abdi negara yang seharusnya peka. Ternyata didikan militer yang kamu lalui tidak bisa kamu praktekkan di sini. Hahaha ..."
Lagi, Pak Lurah merendahkan Radit dengan segala arogansinya sebagai seorang yang berkuasa.
"Ayah?"
Cepat Pak Lurah menoleh ke arah suara yang sangat dikenalnya.
__ADS_1