
Pak Lurah, dengan tangannya yang sudah terangkat, tiba-tiba memotong perkataan Radit dengan tajam. Wajahnya menunjukkan raut keseriusan dan kekuasaan, mencerminkan dominasinya.
Tatapan matanya menyiratkan superioritas yang ingin ia tekankan. Namun, sebelum ia dapat melanjutkan kata-katanya, tatapan dan nada bicaranya terhenti mendadak karena kehadiran anaknya yang tak terduga.
Ryan tiba-tiba muncul, memanggilnya dengan ragu. Melihat dengan tidak percaya, dengan apa yang dilihatnya kali ini.
"Nopo niki, Yah? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Radit, minta penjelasan kepada ayahnya yang tidak melanjutkan aksinya.
"Ayah, jawab!" teriak Ryan, membuat orang-orang terdiam tak berani bergerak.
Pak Lurah, yang tadi sedang memancarkan amarah, langsung berubah ekspresi. Terkejut dan kaget tampak menghiasi wajahnya. Ia menatap anaknya dengan pandangan campuran antara cemas dan tidak percaya. Namun, ia segera mengatasi kejutan tersebut dengan pandangan yang tajam, mengalihkan emosinya dari Radit ke anaknya.
Lalu, dalam suara yang lebih tegas dan keras, Pak Lurah menghardik anaknya yang baru datang. Kata-kata keras itu terlontar dari bibirnya dengan nada marah yang terasa menusuk. Ia merasa anaknya mengganggu momen pentingnya dan berusaha menunjukkan dominasinya dengan lebih keras kepada anaknya yang datang tak diundang.
"Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa kau datang mengganggu?" hardik Pak Lurah sambil menatap anaknya dengan pandangan tajam.
"Maaf, tapi aku tidak bisa diam lihat semua ini. Ayah harus memberikan penjelasan," pinta pemuda yang masih terkejut atas tindakan ayahnya yang diluar dugaan.
Pak Lurah kembali berteriak dengan suara lebih keras, meminta agar Ryan tidak perlu ikut campur dalam urusannya.
"Pergi dari sini, Ryan! Apa yang kau inginkan dengan melihat ayahmu? Apakah kau tak puas dengan semua yang ayah berikan padamu, hahhh?!"
"Mboten, Yah. Tapi tindakan ayah ini tidak benar, dan Ryan tidak suka."
Tegas Ryan mengatakan jika tidak setuju dengan kelakuan ayahnya, tapi sayangnya semua itu tidak mempengaruhi apapun.
Pak Lurah justru menertawakan anaknya, berpikir jika anaknya sedang melucu.
"Tentang apa? Apa yang membuatmu begitu terburu-buru hingga harus mengganggu saat seperti ini?" tanya Pak Lurah lagi, dengan mengernyitkan dahinya.
"A-ku … A-ku hanya ingin tanya, apakah ayah yang merencanakan semua ini?"
Pak Lurah mencibir. Doa terlihat tidak senang atas tuduhan yang dialamatkan padanya. Dan itu datang dari anaknya sendiri.
__ADS_1
Pria penuh kuasa itu membuang nafas kasar, bertanya sekali lagi kepada anaknya.
"Jadi kau datang hanya untuk bertanya tentang ini? Mengapa aku, merasa ada sesuatu yang ingin kau tanyakan?"
Orang-orang hanya diam memperhatikan mereka yang sedang berdebat, tanpa melakukan apapun.
Begitu juga dengan Zahra dan Radit, yang sama-sama memperhatikan keduanya dengan memberikan penilaian masing-masing sebagaimana biasa mereka yang setel menghadapi permasalahan.
"Hai, kau sudah sehat?" tanya Radit berbisik, titip that Zahra yang tadi datang bersama dengan Ryan.
"Hm," gumam Zahra, sebagai jawaban dibarengi dengan anggukan kepalanya.
"Tapi ..."
"Diam Radit, dan perhatikan yang perlu kamu perhatikan!" potong Zahra mengingatkan, membuat Radit langsung terdiam dan tidak lagi bertanya-tanya.
Di tempat yang sama, dalam keadaan yang sama seperti tadi, Ryan masih saja berdebat dengan ayahnya.
Mereka--termasuk Zahra dan Radit beserta orang-orang yang ada di tempat tersebut, tidak menyadari dengan apa yang akan terjadi setelah ini.
"Seharusnya ayah tahu betul, tidak ada maksud tersembunyi. Aku hanya khawatir melihat ayah yang berbeda dari biasanya."
Pak Lurah, merasa sedikit curiga dengan perkataan Ryan barusan. Dia memang tidak pernah setuju dengan lingkungan pertemanan anaknya, dengan Zahra dan almarhum Bunga.
Pria dominan itu merasa jika anaknya menjadi pembangkang, tidak mau menurut perintahnya!
"Kau merasa pintar mengamati perasaan orang? Jangan berpura-pura peduli padaku, anak muda. Aku tahu apa yang lebih baik dari yang kau katakan."
Ryan, dengan pandangan yang penuh pertimbangan, tidak tergoyahkan oleh tatapan tajam ayahnya. Dia tahu benar bahwa di balik jasad wibawa ayahnya sebagai lurah terdapat sejarah kelam yang telah lama disembunyikan.
Perasaan campur aduk antara rasa hormat kepada ayahnya dan tanggung jawab untuk membongkar kebenaran membuat wajah Ryan tampak tegang namun mantap.
Di tengah-tengah hutan desa yang hampir masuk waktu malam, suasana menjadi lebih tegang dari sebelumnya. Terasa seperti beku dan kaku.
__ADS_1
Pemuda yang biasanya ramah dan ceria, merasakan beban berat yang menggantung mengingat segala rahasia kelam yang ia ketahui tentang masa lalu ayahnya. Latar belakang sebagai calo TKW yang tidak jujur adalah beban besar yang menyatu dalam kepribadian ayahnya yang tampak tegas dengan segala wibawanya selama ini.
"Ayah, bolehkah aku bicara denganmu sebentar?" tanya Ryan melunak.
Pemuda itu akan bicara pelan dan hati-hati, supaya ayahnya tidak marah.
Pak Lurah mengernyitkan kening mendengar permintaan anak tunggalnya itu. "Tentu, apa yang ingin kau bicarakan, hahhh?!"
Ryan menarik nafas dalam-dalam, berusaha menahan diri.
Dalam diam, Ryan merenungkan pilihan-pilihan sulit yang harus diambil. Keterbukaan mengenai rahasia ini bisa menghancurkan citra ayahnya sebagai lurah dan mempengaruhi reputasi keluarga. Namun, ketidakjujuran yang berlarut-larut juga tidak bisa dibiarkan begitu saja.
Dengan berat hati, Ryan memutuskan untuk mengambil langkah-langkah yang bijaksana. Ia tahu bahwa menghadapi ayahnya dengan rasa hormat dan membantu mengubah jalan hidupnya adalah tindakan yang benar. Mungkin, dengan kejujuran dan pengakuan, mereka bisa menjalani kehidupan mereka kedepannya menjadi lebih baik.
"Aku tahu tentang masa muda ayah, tentang rahasia yang selama ini disembunyikan."
"Apa yang kau katakan? Apa yang kau tahu?" tanya Pak Lurah terkejut.
"Aku tahu tentang masa ketika ayah bekerja sebagai calo TKW yang tidak jujur. Aku menemukan bukti-bukti dan cerita dari beberapa orang," ungkap Ryan dengan sorot mata kecewa.
Pak Lurah terdiam, wajahnya terlihat bingung dan terkejut. Begitu juga dengan Radit dan beberapa orang yang ada di sana.
Tapi itu tidak terjadi pada orang-orang asing, yang tentunya mengenal Pak Lurah dengan lebih baik.
"Hehh, kau pikir kau adalah anak yang hebat? Ck, tidak sama sekali!" decih Pak Lurah mengejek anaknya sendiri.
Zahra, yang sedari tadi diam mulai gelisah. Dia seperti melihat bayangan Bunga di balik pepohonan tak jauh dari tempatnya berdiri!
Dengan mencoba mengirim kode pada Radit, Zahra memainkan gerak alis dan wajahnya. Tapi sepertinya Radit tidak paham, dan justru berpikir bahwa gadis itu sedang kesemutan.
"Kamu kenapa, Zahra? Kamu kesemutan atau pegal?" bisik Radit bertanya.
"Hehh, bodoh! Lihat itu, ikuti arah jam delapan dari tempat kita berdiri."
__ADS_1
Suara Zahra uang berbisik penuh penekanan, membuat Radit melirik ke arah yang dijelaskan Zahra.
"B-unga ... ini tidak mungkin!"